Sore harinya Nadia dan Endah sedang mengisi bakul dengan cucian kotor untuk ke kolam, tetapi Nadia merasa ada seseorang yang memperhatikan dari jauh atau hanya perasaannya saja. Tanpa menghiraukan semua Nadia berjalan menuju kolam.
Semuanya di kolam nampak seperti biasa Nadia mencuci baju dan mandi, setelah selesai mereka semua menggunakan kain batik setengah dada dengan rambut hitam basah terurai sambil berbincang ringan.
Nadia lebih menonjol dari gadis-gadis yang lain meskipun tubuhnya gemuk dan bisa dibilang tidak ideal, tapi wajahnya cukup cantik dan manis.
Nadia menggunakan kain batik setengah dada setelah dari kolam kulitnya nampak indah terawat di bandingkan gadis-gadis yang lain.
Gadis yang lain masih dengan kulit alami, sendari tadi Nadia di awasi oleh seseorang matanya warna biru setajam elang sambil tersenyum kecil tanda ingin mencecap setiap inci dari kulit terawat milik Nadia.
Pria bermata biru itu terus melihat siluet Nadia yang sedang berjalan menuju gubuk Bersama gadis yang membawa bakul berisi cucian.
“Kenapa Papa tidak memberitahu ik bahwa ada gadis cantik disini,” gumamnya saat Nadia dan Endah.
Dua gadis itu memakai kebaya dan rok batik tak berapa lama ada yang mengetuk pintu gubuk mereka, sontak Endah dan Nadia langsung terkejut dan dua gadis itu saling memandang sejenak karena Nadia sudah selesai berpakaian Nadia mengintip dari jendela. Ternyata ada prajurit belanda yang mengetuk pintu.
“Kak Endah ada Belanda,” kata Nadia dengan suara ketakutan.
“Apa!! mau apa mereka?” Endah yang sudah berpakaian membuka pintu lalu di suguhi pemandangan dua serdadu berwajah sanggar, sedangkan satunya lagi berwajah khas Eropa dan yang satunya berwajah campuran itu langsung berbicara ke intinya.
“Kami mendapatkan perintah dari Mayor Jendral.” JEDA serdadu itu menghentikan kalimatnya sejenak, “kalian besok tidak ke ladang, tetapi ada tugas di rumah Mayor Jendral.” Sambung salah satu serdadu.
“Hanya itu. Apa ada lagi?” tanya Endah tanpa ada rasa takut, tanpa aba-aba lagi dua serdadu itu langsung pergi.
Nadia dan Endah saling berpandangan heran ada apa sebenarnya ini. Endah dan Nadia masuk kembali ke dalam gubuk, dan langsung bertanya-tanya.
“Kak Endah, berarti besok kita tidak bekerja di ladang seperti biasa?” tanya Nadia yang polos.
“Sepertinya tidak, berarti besok kita langsung aja ke rumah itu.” Endah menunjuk rumah mewah, yang di maksud samping dapur dan tempat makan para serdadu terdapat rumah mewah yang cukup besar.
“Kak Endah saya mau tanya?” kata Nadia yang duduk di samping Endah, tangan Endah sibuk belajar menulis dengan kapur dan papan.
“Tanya apa?” ucap Endah yang masih ke papan.
“Begini mereka ke sini hanya berdua saja, yang saya maksud Mayor Jendral Willem dan Sinyo Hanson.” Endah langsung menghentikan belajar menulis lalu melihat ke arah Nadia.
“Pernah saya dengar Sinyo Hanson sekarang menyandang pangkat Letnan dua.” Nadia langsung terkesan dengan pujaan hatinya, sudah sukses di usia yang begitu muda.
Tak heran Nadia mulai mengangumi Hanson, tapi benaknya mengatakan ia takut kalau nanti ia hanya akan di permainkan Hanson dan akal sehat-nya juga mengatakan ia dan Hanson tak mungkin bisa Bersama mungkin karena perbedaan iman (ngerti kan maksudnya).
Jadi Nadia mencari ide agar Hanson jatuh cinta dengannya mungkin ini juga taktik Nadia untuk membebaskan negerinya yang terjajah, tapi apa rencana gadis itu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi harinya gadis-gadis mulai di bangunkan bukan dengan Alarm, tapi dengan suara tembakan peluru sudah terdengar teriakan suara serdadu dengan bahasa asing berteriak sambil menembakan peluru ke atas.
Nadia dan Endah juga ke luar gubuk, mereka semua di suruh membersihkan diri dan mempersiapkan sarapan.
Setelah para serdadu itu kenyang para gadis baru di perbolehkan makan dengan makanan sisa, tapi apa boleh buat Nadia juga makan apa adanya saja karena ketakutan ia lupa menyiapkan sepiring nasi dan lauk untuk dirinya.
Setelah makan mereka semua di giring ke dalam mobil dengan paksa saat Nadia dan Endah ingin masuk ke dalam mobil, salah satu serdadu memanggil mereka berdua.
“Kalian berdua tunggu dulu!!! cepat kesini!!” teriak salah satu serdadu berwajah Indo-Belanda.
“Dan kalian semua cepat masuk ke mobil.” Semuanya di giring masuk tidak ada yang berani menolak.
“Ada apa Tuan?” tanya Endah, sedangkan Nadia menggenggam tangan Endah sambil menunduk.
“Kalian sudah di beritahu kemarin. Kalo kalian bekerja di rumah Menner Willem mari biar ku antar sampai depan pintu,” ujar serdadu bermata biru muda dan berkumis lebat.
Sesampainya di depan rumah mewah itu Nadia tertegun rumahnya sangat antik dengan pilar dan pintu bergaya khas Eropa, mata Nadia melihat serdadu itu mengarah ke seorang pria paruh baya yang ia lihat kemarin sedang duduk melihat lembaran kertas sambil menghisap cerutu.
Serdadu Belanda yang mengantar Nadia dan Endah memberi hormat dan bicara dengan bahasa asing yang sama sekali mereka berdua tidak mengerti.
Pria paruh baya yang pagi ini memakai seragam di penuhi lencana seperti biasa berdiri dan menyuruh serdadu itu pergi meskipun bahasanya sulit di mengerti, tapi Nadia tahu dengan gerakan badan.
“Je berdua kemari!!” panggil pria paruh baya itu. “Iya Menner,” sahut Endah sambil mengandeng Nadia mendekati Menner.
“Tugas je berdua, disini membersihkan rumah ini kalian mengerti!!” katanya dengan nada yang ketus.
“Kami mengerti Menner,” kata Endah mewakili Nadia bicara.
“Je gadis kecil apa mengerti?” dengan kurang ngajar Willem berani memegang dagu Nadia.
Nadia hanya menjawab dengan suara bergetar ketakutan, “mengerti Menner.” Mayor Jendral tersenyum sambil berkata, “gadis pintar.” Komentarnya. Mereka berdua membersihkan rumah sebesar ini hanya berdua dengan di bantu Baboe di rumah itu.
Setelah semuanya beres di lantai bawah, mereka berdua ke lantai atas kemudian berpencar untuk membersihkan rumah tersebut. Nadia di sebelah kanan dan Endah bagian kiri itu pun ide nya Nadia agar pekerjaan cepat selesai.
Saat Nadia selesai membersihkan ruang kerja Sang Menner Willem ia keluar ruangan melewati Lorong menuju ke ruangan berikutnya, tanpa di sadari sebuah tangan membekap mulutnya dan menyeretnya ke sebuah ruangan yaitu tempat favorite si pirang.
“Ik mohon Lieve tolong jangan berteriak.” Nadia langsung membulatkan mata, dia menghirup aroma buah mint dari tubuh pria itu, Nadia menyadari bahwa pria ini memakai baju militer atau tentara.
“EHHMM!!” tangan Nadia berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu memojokkan tubuh kecil itu ke tembok lalu menyeringai.
“Sudah lama ik memperhatikan je, lieve.” Katanya. Nadia merasa kurang nyaman bagaimana tidak seolah tubuh mereka menyatu.
Tetapi Nadia bisa merasakan dekapan yang selama ini dia impikan pelukan hangat dari pria yang amat ia cintai.
Nadia mulai lupa bahwa ini alam bawah sadarnya sampai ia melupakan ibu dan adiknya saat menatap mata biru setajam elang itu seolah dunia mendukungnya.
“Sinyo…maksud saya Tuan…. saya masih banyak pekerjaan.” Kata Nadia gugup. Wajah Nadia semerah tomat sambil menunduk, tetapi Hanson mengangkat dagu Nadia dengan tangannya.
“Je cantik pantas saja je kemarin di kejar anak buah ik sampai ke dapur.” Ujar Hanson.
Nadia merasa ia dipuji dan di lain sisi ia merasa di sindir oleh si Hanson ini.
Hanson melihat gadis di hadapannya sambil tersenyum sumringah, ternyata sangat cantik berbeda dengan gadis-gadis inlander lainnya yang pernah ia temui tidak secantik ini.
“Saya dari kemarin memperhatikan je saat di kolam kulit je sangat menawan dari gadis-gadis yang lain.” Kata Hanson sambil berbisik di telinga Nadia kemudian turun menciumi leher gadis itu.
Nadia hanya bergidik ngeri berharap ada yang bisa membantunya, karena dekapan pria ini sangat erat membuat tubuhnya seakan membeku.
“Nadia!!” suara Endah berteriak memanggilnya.
“Shitt!! gadis inlander itu menyebalkan," Katanya Hanson di sertai dengusan sebal karena merusak momennya Bersama gadis ini.
“Iya Kak!!” Nadia segera melepaskan diri dari dekapan Hanson saat lengah agar bisa keluar menuju pintu ruangan, Endah berdiri sambil bernafas lega melihat Nadia.
“Untung kamu disini, udah selesai?” tanya Endah.
“Belum Kak masih dikit lagi,” ucap Nadia dengan perasaan bersalah karena harus merepotkan Endah.
“Ya udah saya bantuin bersihin ayo.” Endah menarik tangan Nadia lalu gadis berumur lima belas tahun itu hanya mengangguk.
Nadia dan Endah membersihkan rumah setelah selesai Nadia terus bungkam dan menahan senyum tentang apa yang terjadi tadi.
“Selesai juga ayo ke dapur udah siang kita harus siapin makanan untuk para serdadu.” Nadia menyetujui ajakan Endah.
Mereka keluar dari rumah itu, tetapi seorang bendide laki-laki seperti tukang kebun menghampiri mereka, pria itu memakai ikat kepala dan sarung batik disertai baju tanpa lengan pria itu adalah inlander yang bekerja sebagai tukang kebun.
“Tunggu, Nak!!” Nadia dan Endah menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah pria itu.
“Ada apa, Pak?” tanya Nadia.
“Sebaiknya kalian berdua jangan pergi dulu sebelum Menner kembali ke rumah ini.” Bendide itu ketakutan seolah hendak ingin di penggal.
“Maaf Pak kami masih banyak tugas lain, yaitu menyiapkan makanan para serdadu.” Ujar Nadia yang berbicara sesopan mungkin.
“Tapi saya takut di----” belum sempat Bapak tua itu menyelesaikan kalimatnya lalu seseorang dengan logat asing bicara dengan keras dari ambang pintu.
“Biarkan mereka berdua pergi Marno,” sontak ketiganya melihat ke arah suara itu.
Ternyata dari ambang pintu seorang pria dengan kaos dan celana militer berjalan menghampiri ketiganya.
Nadia melihat Endah menatap Hanson dengan penuh kekaguman sambil tersenyum malu, tapi hatinya juga sakit karena Hanson menatap Nadia dengan cinta. Endah yang malang hanya memasang ekspresi wajah biasa saja.
“Maaf Sinyo, tapi saya hanya menjalankan perintah Menner.” Kata kacung itu sambil menunduk.
“Marno je cepat kembali bekerja!” perintah Hanson.
“Baik Sinyo saya permisi.” Kacung itu berjalan tergopoh-gopoh pergi menuju kebun.
“Sinyo kami----” Endah belum selesai bicara. “Je berdua ingin memasak untuk anak buah ik dan Papa ik! cepatlah pergi nanti ik beritahu Papa ik,” kata Hanson.
Saat Nadia dan Endah ingin membuka gerbang, tiba-tiba Hanson menghampiri mereka.
“Tunggu!” Endah dan Nadia langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh.
“Ada apa Sinyo? wpa ada pekerjaan yang harus kami lakukan lagi?” tanya Endah.
“Nee…ik hanya ingin tahu siapa nama je?” Hanson memegang tangan Nadia.
Endah langsung terperangah begitu juga Nadia, “nama saya Nadia, Sinyo.” Nadia amat canggung gadis itu hanya menundukkan kepalanya, berbeda dengan Hanson yang langsung tersenyum kecil.
Endah malah mengerutkan kedua alisnya, Nadia langsung menatap Endah lalu beralih ke arah si pirang.
“Sinyo maaf udah siang kita siang kita harus segera ke area gubuk,” sanggah Nadia.
“Ayo Kak Endah,” ajak Nadia sambil menarik tangan kanan Endah.
“Kami permisi Sinyo,” pamit keduanya.
Sesampainya di dapur Endah dan Nadia melihat ada mobil pengangkut para pekerja yang berisi gadis-gadis itu tiba di lapangan, keadaan gadis-gadis itu sangat kotor karena sehabis dari ladang.
Para gadis segera membersihkan diri mereka di kolam, Nadia dan Endah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak di Gudang rempah.
“Nadia kamu tadi kemana?” tanya Endah yang membuka pembicaraan lebih dulu, tangan Endah sibuk menata barang-barang untuk memasak.
“Kemana? maksudnya Kak Endah apa sih?” tanya Nadia yang pura-pura tidak tahu.
“Maksud saya saat di rumahnya Menner Willem.” Pertanyaan Endah langsung membuat Nadia berfikir keras, alasan apa yang tepat untuk di utarakan kepada Endah.
“Tadi saya di suruh sama Sinyo buat beresin baju dia.” Alasan yang cukup klasik, tapi Endah percaya.
Pantas saja tadi Sinyo Hanson menanyakan nama Nadia, karena tadi Nadia sehabis disuruh oleh Hanson.
Gadis-gadis yang lain sudah siap dan ada di ambang pintu mereka semua mulai menanyai Nadia dan juga Endah.
Tetapi Nadia maupun Endah menjawab dengan santai sambil memasak.
“Tadi kami hanya melakukan membersihkan rumah hanya berdua saja,” jelas Endah dengan santai.
Sontak gadis-gadis yang lain mengerubuti Endah yang sibuk mengolah bumbu, dan Nadia yang sedang menyiapkan sayuran.
“Bagaimana rumahnya?” tanya salah satu gadis yang sangat muda.
“Biasa saja,” jawab Nadia yang nampak tidak terkesan.
“Sebaiknya cepat memasak, sebelum serdadu itu mengamuk.” Nadia dengan suara yang tidak suka dengan tindakan mereka yang ingin tahu.
Para gadis langsung membenarkan ucapan Nadia lalu mereka melanjutkan memasak, Endah heran dengan sikap Nadia yang terlihat ketus sebenarnya ia ingin bertanya pada Nadia, tapi pekerjaan nya belum selesai jadi dia bekerja saja.
Setelah para serdadu selesai makan gadis-gadis menyatap makanan sisa seperti aktivitas biasa, saat sedang makan seorang pria yang tak lain tukang kebun yang tadi siang bicara dengan Endah dan Nadia, menghampiri meja makan tempat Nadia dan Endah dengan tergopoh-gopoh, sontak para gadis pribumi yang lain melihatnya heran.
“Pak Marno ada apa?” tanya Nadia langsung berdiri disusul Endah dan Lasmi.
“Kalian berdua kenal Bapak ini?” tunjuk Lasmi.
“Ini Pak Marno tukang kebun di rumah Menner Willem,” jelas Endah.
“Ada apa Bapak kemari?” tanya Endah.
“Saya membawa pesan dari Sinyo untuk memberitahu, Nak Nadia.” Marno dengan nafas tersengal.
“Memberitahu saya? Apa saya besok ditugaskan membersihkan rumah lagi?” tanya Nadia yang berdiri sambil mengernyitkan dahinya keheranan.
“Iya Nak, dan Sinyo meminta agar Nadia besok pagi langsung menemui Sinyo tidak usah memasak untuk para prajurit.”
“Iya makasih Pak infonya, besok saya menemui Sinyo sama Kak Endah,” ujar Nadia mengambil air minum dan di serahkan kepada Marno yang nampak kelelahan.
“Jangan Nadia,” cegah Marno dengan rasa takut. Endah, Lasmi, dan Nadia langsung membelalak mata di wajah mereka langsung tampak terkejut.
“Sebaiknya, Nak Nadia menemui Sinyo sendiri saja.” Endah merasa akan ada hal buruk yang terjadi, disisi lain Lasmi sangat tidak suka dengan hal ini. Sudah terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu tergambar ketakutan.
“Iya, Pak besok abis subuh saya langsung menemui Sinyo di rumahnya.” Nadia langsung duduk kembali ke tempat duduknya disusul Endah dan Lasmi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments