Raisa sedang di pangkuan Ayahnya sambil disuapi oleh Ibunya, tak lama Ayahnya Raisa menyuruh anaknya bermain Bersama Neneknya di kamar Ibunya Darren. Setelah ke pergian Raisa Darren mulai bicara serius kepada Sinta calon istrinya.
“Sinta ada sesuatu yang harus saya bicarakan denganmu?” ucap Darren dengan wajah serius, “apa yang ingin mas sampaikan?” tanya Sinta dengan penasaran.
“Saya berencana menjodohtan Raisa dengan anak teman bisnisku.” Sinta langsung terkejut.
“Darren setidaknya biarkan putri kita memilih calon suaminya kelak.” Ucap Sinta.
“Sinta keluargaku butuh aliansi bisnis. Lagi pula putra teman bisnisku ini masih ada darah banggsawan.” Ucap Darren yang langsung membuat sinta menelan salivanya.
“Apa…banggsawan,” ujar Sinta yang terkejut.
“Ya ia punya darah banggsawan asal jawa.” Ujar Darren. Sinta langsung tersenyum dan dalam hati sangat senang.
“Besok kita ketemu dengan dia sekarang kamu tidur sudah malam.” Darren menarik tangan Sinta menuju kamarnya tapi dengan lihai Sinta menolak dan memilih tidur Bersama Raisa.
Darren juga mengerti perasaan calon istrinya jadi ia biarkan saja tidur Bersama putrinya. Keesokan paginya Sinta dan Darren pergi menemui rekan bisnis yang putranya akan di jodohkan oleh Raisa putrinya.
Malam harinya hujan di luar nampak deras Ibunya Raisa sedang menyelimuti Raisa yang terbaring Tetapi masih belum menutup mata.
“Kamu tidur ya, sayang.” Ujar Sinta yang menyelimuti Raisa lalu mengusap lembut surai hitam putrinya, terakhir mencium keningnya.
“Mama!” Panggil Raisa, “Kenapa sayang, apa kamu butuh sesuatu.” Ucap Sinta yang tangannya tiba-tiba di gengam oleh Raisa.
“Papa sama Mama jangan berantem lagi, ya.” Ujar anak tersebut dengan polos. Sinta langsung terdiam lalu memeluk putrinya dengan erat.
Tak lama Darren memasuki pintu ruang rumah sakit ia belum berganti baju masih dengan pakaian kantornya, rambutnya yang sedikit berantakan, kemeja putih yang di gulung sampai siku, dan jas hitam di gantung di tangannya.
Pria tersebut langsung ke rumah sakit karena khawatir dengan keadaan anaknya, Darren melihat putrinya terbaring dengan keadaan rambutnya yang Panjang sedada, dengan tubuh kurus, dan lingkar hitam di bawah mata. Membuat anak tersebut terlihat memperihatinkan.
Raisa sangat menyukai boneka beruang berwarna biru muda yang dibelikan oleh Neneknya (Ibunya Darren) belakangan ini anak itu terlihat sangat dekat dengan sang Nenek berbeda jauh saat Bersama Ibunya Sinta baru dari jauh Raisa langsung berlari dan memeluk erat Ibu atau Ayahnya.
Saat Ibunya Sinta mendekati Raisa anak itu langsung berteriak dan berlari ketakutan, Nadia yang melihat kisah hidup Raisa langsung menitikan air mata sangat prihatin.
Menurut Nadia yang salah adalah Om Darren Ayahnya Raisa, karena ia menjadi akar semua masalah dan imbas dari kesalahannya ialah Raisa si anak manis yang amat malang.
Pagi harinya Sinta sedang membersihkan tubuh kurus Raisa dengan handuk basah, lalu mengganti pakaiannya.
Sebenarnya Darren dan Ibunya Darren sudah menyarankan agar sebagian tugas menjaga Raisa di rumah sakit di bebankan kepada sang pengasuh. Tentu Sinta menolak karena sudah tugasnya menjaga Raisa menjadi tanggung jawabnya.
Sinta sebenarnya bisa merawat Raisa sendiri tanpa pengasuh tapi Ibu Darren ingin Raisa memiliki pengasuh sendiri sekaligus diajari beberapa keahlian, seperti: bicara bahasa asing, bermain piano, dan melukis.
Kalau untuk kebaikan putrinya Sinta tidak akan menolak, pada awalnya Sinta sangat ketakutan karena sebelum Raisa masuk rumah sakit anak tersebut sempat bermain di taman belakang rumah sambil menaiki ayunan dan berlari di kejar pengasuhnya.
Saat itu Sinta sedang duduk sambil membaca majalah Bersama mertuanya kedua wanita tersebut langsung berteriak tatkala melihat Raisa tiba-tiba saja terjatuh dengan hidung yang mengeluarkan darah.
Awalnya Raisa dengan sangat riang berlari di kejar pengasuhnya dari belakang tapi tak lama anak tersebut terbatuk-batuk dan rasa pusing mulai menjalar di kepalanya setelahnya hidungnya mengeluarkan darah lalu anak tersebut tumbang di rerumputan.
Dan wanita yang paling tua berteriak memanggil supir untuk segera membawa Raisa ke rumah sakit, saat di perjalanan rumah sakit mobil berhenti karena lampu merah.
“Pak bisa buruan.” Ujar Neneknya Raisa. “Maaf Nyonya tapi di depan sedang lampu merah.” Ujar sang supir.
“Mah gimana nih, darah yang keluar makin tambah banyak.” Kata Sinta yang menggendong Raisa sambil menyeka hidung anak malang tersebut dengan tisu.
Flashback POV
pagi ini Raisa terbangun saat sedang di bersihkan tubuhnya oleh Sinta.
“Kamu sudah bangun sayang.” Ujar Sinta.
“Mama! Papa mana?” tanya anak tersebut.
“Papa sedang tidur.” Ucap Sinta.
Darren terbangun saat dirinya dibicarakan Raisa dan istrinya.
“Raisa.” Darren berjalan mendekati Raisa lalu menggendongnya. Sinta hanya tersenyum kecil.
“Papa kapan Adek bayi lahir?” ujar Raisa.
“Adek akan lahir kalo Kakak Raisa udah sembuh. Jadi kapan Kakak Raisa sembuh.” Ucap Darren yang menenangkan Raisa. Sedangkan Sinta mengelus perutnya yang sedikit buncit.
Raisa tesenyum dan tak lama Raisa mengucapkan kalimat yang amat menyedihkan.
“Sesuai harapan aku, Allah sangat baik.” Ucap Raisa.
“Semoga Papa dan Mama bahagia dengan Adik Raisa.” Setelah Raisa menyelesaikan kalimatnya anak tersebut langsung mengeluh dadanya nyeri dan sakit.
“Mama! Papa dada aku sakit…akh!!” Sontak Darren dan Sinta kalang kabut. Sinta segera memencet tombol yang berada di dekat ranjang pasien dan tak lama datanglah seorang perawat.
“Perawat tolong anak saya.” Ujar Darren dengan panik. Raisa terus memegang dadanya dengan nafas yang terputus-putus.
Perawat segera memanggil dokter, setelah di periksa oleh dokter Raisa menghembuskan nafas terakhirnya.
Sinta menangis di pelukan Darren, perawat menutupi tubuh mungil Raisa dengan selimut putih dari atas kepala hingga ujung kaki.
Darren gemetar memegang handponenya untuk memberitahu kabar duka ini kepada sang Ibu, “Mama. Raisa meninggal.” Setelah itu Darren mematikannya, Sinta terus-terusan menangis Darren menenangkan Sinta dan memberitahu bahwa ia harus memikirkan calon anaknya.
Raisa pergi dengan senyum yang terukir di bibir yang putih pucat dengan tangan yang bersedekap, tak lama seorang wanita baya bertubuh gempal berteriak histeris di ambang pintu, para perawat berusaha menenangkan wanita itu.
“Mama, Raisa udah bahagia di sana.” Ucap Sinta sambil memeluk mertuanya. Tiba-tiba Nadia melihat semuanya menjadi gelap tak lama gadis tersebut juga mendengar suara Raisa yang menyuruhnya tenang.
“Kak Nadia ini akhir kisah hidup aku, dan tinggal permintaan aku.” Ujar anak tersebut.
Nadia terbangun setelah Raisa mengucapkan kata-kata itu, dengan nafas tersengal seperti sehabis lari marathon dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
Setelah terduduk untuk menenangkan diri ia melihat jam yang terpampang di atas dinding. “Busset baru jam tiga malam, coba panggil Raisa aja deh.” Ucap Nadia.
“Raisa! Raisa! Kamu dimana?” panggil Nadia yang memejamkan matanya sambil memanggil nama sahabat kecilnya yang malang.
“Ada apa Kak?” kata Raisa yang tiba-tiba berdiri tepat dihadapannya.
“Raisa aku sekarang pengen tahu, apa permintaan kamu?” tanya Nadia. Raisa tersenyum lalu mengagguk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments