BAB 16 : Masa lalu Raisa

Nadia menyiapkan semuanya untuk alat tempur hari senin depan yakni ujian, ia sudah menyiapkan rumus matematika di kertas serta lainnya, bahasa Inggris, IPA, dan bahasa Indonesia.

Nadia sedang makan malam bersama Ibu dan Adiknya, di luar ujan deras sangat cocok untuk tidur tetapi belakangan ini ia merasa ada masalah lebih besar akan menimpanya karena tempo hari saat ia baru pulang sekolah dari rumah temannya ia di dekati oleh Kakek tua membawa cangkul dengan topi anyaman rotan.

“Bersiaplah Nak, jangan lari dari masalah sudah waktunya hadapi masalah dan jalani proses pendewasaan.” Nadia yang saat itu sedang meminum es cendol sambil berjalan langsung terkejut dan ia malah mempercepat langkah kakinya untuk menuju rumah tetapi rasa penasaran membuatnya menoleh ke belakang ia melihat Kakek itu diantara kerumunan banyak orang menjadi hilang. Tentu hal itu membuat gadis berseragam putih-biru semakin mempercepat langkahnya.

DERT...DERT

Suara panggilan masuk membuatnya terbuyar dari lamunannya, dan selalu siap membuka ponselnya ternyata itu Ananda yang ingin bicara lewat video call, Nadia langsung mengakatnya.

“Nan napa?” tanya Nadia.

“Eh Nad, abis ujian jalan yuk, suntuk gua nih di rumah mulu.” Ucap Ananda.

“Ya udah nonton.” Ucap Nadia.

“Ajakin bocah-bocah.” Katanya Nadia.

“Ya udah,” ucapnya Nanda. Akhirnya mereka berdua memutuskan sambungan lantaran sudah selesai bicara, suara pintu terbuka memperlihatkan sang Ibu yang menyuruhnya istirahat dan minum obat.

“Iya Bu. Nanggung ini mau ke bawah ambil obat.” Ujar Nadia.

“Jangan kemalaman, Nak.” Kata sang Ibu yang hanya di jawab anggukan oleh Nadia.

Setelah merapikan buku dan memilah jadwal untuk besok gadis itu minum obat lalu menyikat gigi dan mencuci wajah kemudian tidur di kasurnya.

Nadia memejamkan matanya perlahan rasa kantuk mulai menyerang dan mulai tertidur, gadis itu menatap ke depan seperti layar film yang mulai memperlihatkan kehidupan Raisa.

Seorang pria berjas hitam sedang menulis di sebuah kantor perusahaan Tetapi pria yang berusia sekitar 28 tahunan tersebut. Langsung menghentikan pekerjaannya tatkala ia menerima sebuah telephone.

“Hallo, ada kabar apa tentang anak saya?” pria itu masih setia duduk di kursi putarnya. Nadia tidak mendengar lebih rinci percakapan Ayahnya Raisa dengan orang suruhannya.

Tetapi tak beberapa lama pria tersebut mendebrak kaget dan panik yang membuat Nadia menaikan tubuhnya tanda terkejut.

“Apa!!” Jeda. “Aku akan segera ke rumah sakit permata hati!!” Ujar pria tersebut lalu segera bergegas keluar kantor yang membuat semua karyawan kaget disertai bingung.

Sontak pria itu langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit yang dituju untuk melihat keadaan putrinya, sesampainya di rumah sakit permata hati ia segera ke ruangan resepsionis untuk bertanya, beruntung ada seorang perawat yang memberitahu bahwa pasien yang bernama Raisa masih di ruang UGD karena belum melunasi semua administrasi rumah sakit.

Ya, Raisa belum mendapatkan kamar rawat inap karena Ibunya tak punya cukup uang untuk membiayai administrasinya. Kemudian pria berjas hitam itu segera ke ruang UGD untuk menemui putrinya.

 “Hallo.” Jeda ia berjalan untuk menuju UGD sebelum masuk.

“Saya ingin kamu bayar administrasi rumah sakit atas nama Raisa Renanta.” Setelah itu ia memasukan handponenya ke sakunya.

Raisa hanya diam berkali-kali Ibunya menawarkan makanan dan minuman serta diajak bermain, Nadia yang sedang menonton berasumsi bahwa Raisa sedang mengalami trauma.

 “Sinta!!” Panggil pria itu.

“Mas Darren!!” Ujar Sinta yang menoleh.

“Bagaimana keadaan putri kita.” Sinta malah menjawabnya dengan ketus Raisa heran kenapa Ibunya memarahi pria ini kalo benar adalah Ayahnya itu mungkin hanya asumsi Raisa saja.

Perdebatan mereka terhenti tatkala 3 orang perawat mendatangi mereka, Raisa akan mendapatkan kamar rawat inap VVIP karena Darren yang telah melunasi segala administrasi rumah sakit.

Setelah di pindahkan Darren melihat putrinya sekilas ia langsung tahu putrinya sedang mengalami trauma karena ulah Ibunya Sinta.

 “Sinta aku ingin bicara sama kamu!” Darren menarik lengan sinta ke luar kamar agar Raisa tidak mendengar.

“Apa yang udah di lakuin Ibumu pada putriku!!” Katanya.

“Apa maksudnya, Mas?” tanya sinta masa bodo.

 “Dengar Sinta kalo sampai Ibumu yang membuat Raisa trauma akan saya laporkan Ibumu dengan tuntutan penganiyayaan anak!!” Ujar Darren setelah itu berlalu ke kamar Raisa.

“Raisa.” Ucap Darren dengan lembut lalu anak itu menoleh ke arah pria asing yang sama sekali tak diketahui sambil mengerutkan dahinya.

“Om siapa?” Raisa bertanya dengan polos.

“Om Ayah kamu sayang, sekarang panggil Papa.” Ujar Darren yang amat menyanyangi anaknya. Darren sebenarnya sudah punya istri tapi setelah tahu wanita itu mandul, Ibu Darren terpaksa menyuruh putranya menceraikan istrinya dan menikah lagi.

Tapi sepertinya Darren baru ingat bahwa ia pernah memperdayai juniornya untuk melakukan hal yang tak baik yang membuat hamil.

Tanpa perasaan Darren meninggalkan Sinta karena ia anak orang tak mampu sedangkan Darren adalah anak keluarga yang kaya raya, terpaksa Sinta kuliah hanya sampai D3 lalu bekerja.

Tapi hukum karma berlaku setelah itu bertahun-tahun Darren mulai mencari anak dan mantan kekasihnya.

Dia sudah menceritakan semuanya kepada Ibunya awalnya sang Ibu amat marah karena kelakuan bejat anaknya tapi wanita itu sudah lama mendambakan seorang cucu jadi terpaksa ia mau menerima Raisa dan Sinta.

Setelah tes DNA ternyata Darren dan Raisa cocok terbukti dari sampel rambut yang diambil keduanya.

“Ibu...” Raisa memanggil Ibunya yang menghampiri keduanya.

“Panggil Mama.” Kata Darren dengan panik.

Raisa hanya mengangguk lemah. Tak lama Ibunya Sinta sekaligus Neneknya Raisa datang sambil tersenyum hangat kepada Raisa.

Raisa merasa senyum yang dilontarkan Neneknya adalah senyum kekejamannya, baru di ambang pintu kedatangan Neneknya anak itu melompat dari tempat tidur rumah sakit dan berteriak ketakutan.

Anak tersebut langsung berlari kepelukan Ayahnya tanpa peduli selang infus yang sudah terlepas dari tangannya dan mengeluarkan banyak darah, tapi Neneknya Raisa tetap melakukan pendekatan terpaksa Raisa berlari ke arah Sinta Ibunya.

Darren sangat terkejut ia tahu bahwa terjadi sesuatu dengan putrinya dan apa yang telah dilakukan wanita baya itu sudah jelas dilihat dari mengusir Raisa malam hari.

 “LEBIH BAIK ANDA KELUAR!!” Darren menggentak yang membuat wanita baya itu keluar kamar Raisa dengan takut.

 Segera perawat datang untuk membersihkan darah yang tegenang di lantai dan memasang kembali infus di tangan gadis kecil itu, setelah kepergian Ibu Sinta.

 Darren menggendong putrinya lalu mendekapnya agar lebih tenang. Sinta langsung terdiam memikirkan perkataan Darren yang sepertinya tak main-main untuk menuntut Ibunya.

Nadia melihat keadaan Raisa sepertinya sudah lebih tenang dan baik, Raisa sudah terlelap di pelukan sang Ayah dan perawat bisa memasangkan kembali selang infus di tangan satunya lagi.

Darren Ayahnya Raisa juga tak peduli kemeja putihnya kena darah anaknya sendiri, Darren segera keluar kamar dan menelepon Ibunya untuk segera ke rumah sakit.

“Halo Mah.” Ujar Darren yang berbicara kepada ibunya lewat sambungan telepone.

 “Iya, Mama sekarang ke rumah sakit permata hati.” Ucap Darren lalu menutup panggilan telleponenya dan memasukan handpone ke dalam sakunya, Di dalam ruangan Sinta membelai surai hitam anaknya sungguh malang nasibnya ini semua bukan salah anak ini melainkan salah dirinya dan Darren Tetapi yang kena imbasnya adalah Raisa.

Seorang anak kecil yang tidak tahu-menahu masalah orang dewasa Tetapi harus terkena jeratnya.

Ibunya Sinta memang salah karena telah membuat anak yang tak berdosa menjadi korban amrahannya. 

Nadia yang menonton tentang kisah hidup Raisa menjadi terbawa suasana, Neneknya Raisa sudah melakukan tindakan benar untuk menjaga nama baik keluarga tapi cara menerapkannya yang salah, juga salah sasaran untuk kemarahannya. Darren mendekat dan menepuk pundak Sinta.

 “Sinta!” Darren dengan sedikit pelan agar Raisa tak bangun karena baru saja anak itu terlelap.

“Mas Darren…” Ucap Sinta dengan pelan.

“Mamaku mau kesini nanti sore. Aku ada urusan kantor jadi tolong jangan biarkan Ibumu kesini, saya gak mau ambil resiko lagi.” Ujar Darren Panjang lebar.

“Mas Darren tolong jangan tuntut Ibu aku Mas,” ucap Sinta dengan permohonan.

Darren segera memeluk tubuh Sinta dan mengatakan bahwa ia tidak akan menuntutnya asal Raisa tidak bertemu Neneknya selama masih keadaan trauma.

 Sinta merasa nyaman di pelukan pria yang masih ia cintai ini meski sudah bertahun-tahun lamanya, Raisa yang menyaksikan kedua orang tuanya berpelukan dengan mata sedikit terbuka menjadi tersenyum.

“Darren!” Ibunya Darren muncul membuka pintu rumah sakit dengan membawa buah-buahan dan boneka beruang berwarna biru muda, lalu menghampiri putranya dan Sinta.

 “Mama katanya datang sore.” Ucap Darren, “iya Mama gak sabar pengin ketemu cucu dan calon mantu baru.” Ucap Ibunya Darren antusias kemudian matanya beralih ke Sinta berdiri tepat di samping putranya.

“Kamu pasti Sinta!” Ujar Ibunya Darren mendekati Sinta sambil menarik-nya duduk di sofa lalu menaruh barang bawaannya di nakas.

“Iya Tante…” Ujar Sinta dengan malu-malu.

“Sekarang jangan panggil saya Tante, panggil Mama sama kaya Darren.” Ujar wanita paru baya dengan pakaian elegan itu.

“Iya Mama.” Ucap Sinta.

“Apa dia cucuku yang bernama Raisa?” tanya wanita paruh baya dengan pakaian elegan tersebut.

“Iya Ma.” Sambung Darren yang masih berdiri lalu menyusul Ibunya untuk duduk di sofa.

Wanita tersebut berdiri untuk mendekati Raisa yang sedang terbaring dengan kedua tangan yang di bawah dada.

“Oh cucuku, akhirnya aku punya cucu.” Ujar wanita tersebut. Raisa terbangun sekaligus terkejut.

“Nenek ini siapa?” tanya Raisa.

“Dia Nenek kamu sayang.” Jawab Darren yang masih duduk.

“Nenek!” Raisa langsung menyambar dengan pelukan hangat.

Tiga minggu kemudian Raisa sudah diperbolehkan untuk pulang, yang pasti ke rumah mewah milik Ayahnya sepertinya Raisa mulai bahagia.

Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!