Nadia menyiapkan semuanya untuk alat tempur hari senin depan yakni ujian, ia sudah menyiapkan rumus matematika di kertas serta lainnya, bahasa Inggris, IPA, dan bahasa Indonesia.
Nadia sedang makan malam bersama Ibu dan Adiknya, di luar ujan deras sangat cocok untuk tidur tetapi belakangan ini ia merasa ada masalah lebih besar akan menimpanya karena tempo hari saat ia baru pulang sekolah dari rumah temannya ia di dekati oleh Kakek tua membawa cangkul dengan topi anyaman rotan.
“Bersiaplah Nak, jangan lari dari masalah sudah waktunya hadapi masalah dan jalani proses pendewasaan.” Nadia yang saat itu sedang meminum es cendol sambil berjalan langsung terkejut dan ia malah mempercepat langkah kakinya untuk menuju rumah tetapi rasa penasaran membuatnya menoleh ke belakang ia melihat Kakek itu diantara kerumunan banyak orang menjadi hilang. Tentu hal itu membuat gadis berseragam putih-biru semakin mempercepat langkahnya.
DERT...DERT
Suara panggilan masuk membuatnya terbuyar dari lamunannya, dan selalu siap membuka ponselnya ternyata itu Ananda yang ingin bicara lewat video call, Nadia langsung mengakatnya.
“Nan napa?” tanya Nadia.
“Eh Nad, abis ujian jalan yuk, suntuk gua nih di rumah mulu.” Ucap Ananda.
“Ya udah nonton.” Ucap Nadia.
“Ajakin bocah-bocah.” Katanya Nadia.
“Ya udah,” ucapnya Nanda. Akhirnya mereka berdua memutuskan sambungan lantaran sudah selesai bicara, suara pintu terbuka memperlihatkan sang Ibu yang menyuruhnya istirahat dan minum obat.
“Iya Bu. Nanggung ini mau ke bawah ambil obat.” Ujar Nadia.
“Jangan kemalaman, Nak.” Kata sang Ibu yang hanya di jawab anggukan oleh Nadia.
Setelah merapikan buku dan memilah jadwal untuk besok gadis itu minum obat lalu menyikat gigi dan mencuci wajah kemudian tidur di kasurnya.
Nadia memejamkan matanya perlahan rasa kantuk mulai menyerang dan mulai tertidur, gadis itu menatap ke depan seperti layar film yang mulai memperlihatkan kehidupan Raisa.
Seorang pria berjas hitam sedang menulis di sebuah kantor perusahaan Tetapi pria yang berusia sekitar 28 tahunan tersebut. Langsung menghentikan pekerjaannya tatkala ia menerima sebuah telephone.
“Hallo, ada kabar apa tentang anak saya?” pria itu masih setia duduk di kursi putarnya. Nadia tidak mendengar lebih rinci percakapan Ayahnya Raisa dengan orang suruhannya.
Tetapi tak beberapa lama pria tersebut mendebrak kaget dan panik yang membuat Nadia menaikan tubuhnya tanda terkejut.
“Apa!!” Jeda. “Aku akan segera ke rumah sakit permata hati!!” Ujar pria tersebut lalu segera bergegas keluar kantor yang membuat semua karyawan kaget disertai bingung.
Sontak pria itu langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit yang dituju untuk melihat keadaan putrinya, sesampainya di rumah sakit permata hati ia segera ke ruangan resepsionis untuk bertanya, beruntung ada seorang perawat yang memberitahu bahwa pasien yang bernama Raisa masih di ruang UGD karena belum melunasi semua administrasi rumah sakit.
Ya, Raisa belum mendapatkan kamar rawat inap karena Ibunya tak punya cukup uang untuk membiayai administrasinya. Kemudian pria berjas hitam itu segera ke ruang UGD untuk menemui putrinya.
“Hallo.” Jeda ia berjalan untuk menuju UGD sebelum masuk.
“Saya ingin kamu bayar administrasi rumah sakit atas nama Raisa Renanta.” Setelah itu ia memasukan handponenya ke sakunya.
Raisa hanya diam berkali-kali Ibunya menawarkan makanan dan minuman serta diajak bermain, Nadia yang sedang menonton berasumsi bahwa Raisa sedang mengalami trauma.
“Sinta!!” Panggil pria itu.
“Mas Darren!!” Ujar Sinta yang menoleh.
“Bagaimana keadaan putri kita.” Sinta malah menjawabnya dengan ketus Raisa heran kenapa Ibunya memarahi pria ini kalo benar adalah Ayahnya itu mungkin hanya asumsi Raisa saja.
Perdebatan mereka terhenti tatkala 3 orang perawat mendatangi mereka, Raisa akan mendapatkan kamar rawat inap VVIP karena Darren yang telah melunasi segala administrasi rumah sakit.
Setelah di pindahkan Darren melihat putrinya sekilas ia langsung tahu putrinya sedang mengalami trauma karena ulah Ibunya Sinta.
“Sinta aku ingin bicara sama kamu!” Darren menarik lengan sinta ke luar kamar agar Raisa tidak mendengar.
“Apa yang udah di lakuin Ibumu pada putriku!!” Katanya.
“Apa maksudnya, Mas?” tanya sinta masa bodo.
“Dengar Sinta kalo sampai Ibumu yang membuat Raisa trauma akan saya laporkan Ibumu dengan tuntutan penganiyayaan anak!!” Ujar Darren setelah itu berlalu ke kamar Raisa.
“Raisa.” Ucap Darren dengan lembut lalu anak itu menoleh ke arah pria asing yang sama sekali tak diketahui sambil mengerutkan dahinya.
“Om siapa?” Raisa bertanya dengan polos.
“Om Ayah kamu sayang, sekarang panggil Papa.” Ujar Darren yang amat menyanyangi anaknya. Darren sebenarnya sudah punya istri tapi setelah tahu wanita itu mandul, Ibu Darren terpaksa menyuruh putranya menceraikan istrinya dan menikah lagi.
Tapi sepertinya Darren baru ingat bahwa ia pernah memperdayai juniornya untuk melakukan hal yang tak baik yang membuat hamil.
Tanpa perasaan Darren meninggalkan Sinta karena ia anak orang tak mampu sedangkan Darren adalah anak keluarga yang kaya raya, terpaksa Sinta kuliah hanya sampai D3 lalu bekerja.
Tapi hukum karma berlaku setelah itu bertahun-tahun Darren mulai mencari anak dan mantan kekasihnya.
Dia sudah menceritakan semuanya kepada Ibunya awalnya sang Ibu amat marah karena kelakuan bejat anaknya tapi wanita itu sudah lama mendambakan seorang cucu jadi terpaksa ia mau menerima Raisa dan Sinta.
Setelah tes DNA ternyata Darren dan Raisa cocok terbukti dari sampel rambut yang diambil keduanya.
“Ibu...” Raisa memanggil Ibunya yang menghampiri keduanya.
“Panggil Mama.” Kata Darren dengan panik.
Raisa hanya mengangguk lemah. Tak lama Ibunya Sinta sekaligus Neneknya Raisa datang sambil tersenyum hangat kepada Raisa.
Raisa merasa senyum yang dilontarkan Neneknya adalah senyum kekejamannya, baru di ambang pintu kedatangan Neneknya anak itu melompat dari tempat tidur rumah sakit dan berteriak ketakutan.
Anak tersebut langsung berlari kepelukan Ayahnya tanpa peduli selang infus yang sudah terlepas dari tangannya dan mengeluarkan banyak darah, tapi Neneknya Raisa tetap melakukan pendekatan terpaksa Raisa berlari ke arah Sinta Ibunya.
Darren sangat terkejut ia tahu bahwa terjadi sesuatu dengan putrinya dan apa yang telah dilakukan wanita baya itu sudah jelas dilihat dari mengusir Raisa malam hari.
“LEBIH BAIK ANDA KELUAR!!” Darren menggentak yang membuat wanita baya itu keluar kamar Raisa dengan takut.
Segera perawat datang untuk membersihkan darah yang tegenang di lantai dan memasang kembali infus di tangan gadis kecil itu, setelah kepergian Ibu Sinta.
Darren menggendong putrinya lalu mendekapnya agar lebih tenang. Sinta langsung terdiam memikirkan perkataan Darren yang sepertinya tak main-main untuk menuntut Ibunya.
Nadia melihat keadaan Raisa sepertinya sudah lebih tenang dan baik, Raisa sudah terlelap di pelukan sang Ayah dan perawat bisa memasangkan kembali selang infus di tangan satunya lagi.
Darren Ayahnya Raisa juga tak peduli kemeja putihnya kena darah anaknya sendiri, Darren segera keluar kamar dan menelepon Ibunya untuk segera ke rumah sakit.
“Halo Mah.” Ujar Darren yang berbicara kepada ibunya lewat sambungan telepone.
“Iya, Mama sekarang ke rumah sakit permata hati.” Ucap Darren lalu menutup panggilan telleponenya dan memasukan handpone ke dalam sakunya, Di dalam ruangan Sinta membelai surai hitam anaknya sungguh malang nasibnya ini semua bukan salah anak ini melainkan salah dirinya dan Darren Tetapi yang kena imbasnya adalah Raisa.
Seorang anak kecil yang tidak tahu-menahu masalah orang dewasa Tetapi harus terkena jeratnya.
Ibunya Sinta memang salah karena telah membuat anak yang tak berdosa menjadi korban amrahannya.
Nadia yang menonton tentang kisah hidup Raisa menjadi terbawa suasana, Neneknya Raisa sudah melakukan tindakan benar untuk menjaga nama baik keluarga tapi cara menerapkannya yang salah, juga salah sasaran untuk kemarahannya. Darren mendekat dan menepuk pundak Sinta.
“Sinta!” Darren dengan sedikit pelan agar Raisa tak bangun karena baru saja anak itu terlelap.
“Mas Darren…” Ucap Sinta dengan pelan.
“Mamaku mau kesini nanti sore. Aku ada urusan kantor jadi tolong jangan biarkan Ibumu kesini, saya gak mau ambil resiko lagi.” Ujar Darren Panjang lebar.
“Mas Darren tolong jangan tuntut Ibu aku Mas,” ucap Sinta dengan permohonan.
Darren segera memeluk tubuh Sinta dan mengatakan bahwa ia tidak akan menuntutnya asal Raisa tidak bertemu Neneknya selama masih keadaan trauma.
Sinta merasa nyaman di pelukan pria yang masih ia cintai ini meski sudah bertahun-tahun lamanya, Raisa yang menyaksikan kedua orang tuanya berpelukan dengan mata sedikit terbuka menjadi tersenyum.
“Darren!” Ibunya Darren muncul membuka pintu rumah sakit dengan membawa buah-buahan dan boneka beruang berwarna biru muda, lalu menghampiri putranya dan Sinta.
“Mama katanya datang sore.” Ucap Darren, “iya Mama gak sabar pengin ketemu cucu dan calon mantu baru.” Ucap Ibunya Darren antusias kemudian matanya beralih ke Sinta berdiri tepat di samping putranya.
“Kamu pasti Sinta!” Ujar Ibunya Darren mendekati Sinta sambil menarik-nya duduk di sofa lalu menaruh barang bawaannya di nakas.
“Iya Tante…” Ujar Sinta dengan malu-malu.
“Sekarang jangan panggil saya Tante, panggil Mama sama kaya Darren.” Ujar wanita paru baya dengan pakaian elegan itu.
“Iya Mama.” Ucap Sinta.
“Apa dia cucuku yang bernama Raisa?” tanya wanita paruh baya dengan pakaian elegan tersebut.
“Iya Ma.” Sambung Darren yang masih berdiri lalu menyusul Ibunya untuk duduk di sofa.
Wanita tersebut berdiri untuk mendekati Raisa yang sedang terbaring dengan kedua tangan yang di bawah dada.
“Oh cucuku, akhirnya aku punya cucu.” Ujar wanita tersebut. Raisa terbangun sekaligus terkejut.
“Nenek ini siapa?” tanya Raisa.
“Dia Nenek kamu sayang.” Jawab Darren yang masih duduk.
“Nenek!” Raisa langsung menyambar dengan pelukan hangat.
Tiga minggu kemudian Raisa sudah diperbolehkan untuk pulang, yang pasti ke rumah mewah milik Ayahnya sepertinya Raisa mulai bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments