BAB 12 : Pulang dari rumah sakit

Keesokan harinya Nadia baru bangun jam tujuh pagi lantaran efek obat yang di berikan Ibunya kemarin. “Ibu mau keluar sebentar ada Paman Dani kesini nanti.” Nadia menganggukan kepala, saat kepergian Ibunya yang baru berselang datanglah perawat yang melepaskan infusnya.

“Nona Nadia Sabrina nanti siang sudah di perbolehkan pulang. Nadia senang akhirnya ia boleh pulang karena ia sudah tak betah di rumah sakit terus.

 Siangnya barang-barang sudah dibawa Paman Dani Adik mendiang Ayahnya ke bawah sedangkan Nadia ke bawah menggunakan kursi roda di bantu perawat laki-laki.

Sesampainya di rumah Nadia melihat banyak keluarga Ayahnya saat sedang duduk di sofa Ibunya Nadia sedang memesan soto untuk para keluarga dengan sarkas sang Nenek.

Ibunya Nadia menyindirnya soal berteriak dan menangis seperti tak waras saat Nadia kehilangan Ayahnya dengan amat marah Nadia membentak wanita tua itu lantaran berani menyinggungya soal luka lama yang tergores yakni kehilangan Ayahnya, membuat Kakak sepupu, yaitu Mbak Desi Keponakan Ayahnya atau lebih tepatnya anak Kakak Ayahnya menenangkan Nadia.

“Nadia udahlah Namanya juga Nenek kalo ngomong emang suka nyeplos.” Ujar Mbak Desi.

“Ya udah kamu tiduran aja.” Nadia hanya menganggukan kepala tanda mengerti.

 Nadia membaca di aplikasi novel lewat ponselnya saat merebahkan diri di atas kasur bawah. Ia tak masuk sekolah terlebih dahulu lantaran luka operasinya masih basah dan empat belas hari lagi ia harus ke rumah sakit melepaskan benang kulitnya setelah itu ia baru di perbolehkan masuk sekolah mengingat waktu ujian nasional akhir akan di laksanakan sebagai syarat kelulusan.

Waktu ke rumah sakit pun siap Nadia menunggu di panggil dokter Ridwan yang kata tetangganya alias Ibu-Ibu ganteng tetapi Nadia tak terlalu memperhatikannya lantaran saat benang kulitnya di tarik meresakan sakit, pulang dari rumah sakit Nadia di ajak ibunya membeli soto bogor bersama Adiknya Defani, Nadia makan dengan lahap tak sadar handpone-nya berdering, saat sedang makan sambil memeriksa siapa penelpone-nya.

Ternyata itu adalah Ananda memanggilnya dengan menggunakan video cal di whattsap. “Kenapa Nan?” tanya Nadia sambil memakan soto bogor-nya dengan menggunakan nasi.

“Eh gua mau potocopy buku lu dong, yang UN itu.” Ujar-nya Ananda. Nadia mengerti tidak semua temannya kebutuhannya tercukupi seperti dirinya.

“Ya udah kapan mau senin besok, lagian senin besok pulang cepet.” Ucap Nadia sambil menyuapkan Nasi dan sotonya ke mulut-nya.

“Ya udah photocopy aja ya, deket buceng lagian biar gak jauh.” Ujar Ananda.

“Ya udah terus si Aprilia, ningrum, Dian, Nissa, Rika, Nita, dan Dini. Mau sekalian photocopy gak?” tanya Nadia lalu menyuapkan lagi makanan-nya.

“Coba gua undang obrolan, coba lu undang Ningrum, Nissa ama Aprilia, biar gua yang undang Rika, Nita, dan Dini.” Usul Ananda.

“Ya udah.” Ucap Nadia yang menyepakati usul Sahabatnya.

Nadia mengundang sahabatnya sambil menunggu, ia makan dengan lahap setelah selesai gadis itu menaruh piring kotornya di tempat cucian piring di dapur. Para gadis itu video call untuk menanyakan apa mereka mau untuk photocopy karena buku UN dan detik-detik harganya sangat lumayan, yakni 150 ribuan. Setelah semua-nya diangkat kecuali Ningrum, “Napa lu pada VC kita?” ucap Rika.

“Lu pada mau gak photocopy buku detik-detik?” kata Ananda yang mewakili Nadia bicara.

"Gua mau.” Sahut Dian.

“Gua udah ada, kemarin gua baru beli buku detik-detik.” Tolak Nissa dengan pelan. “Siapa lagi selain Ananda, Dian sama Rika.” Ucap Nadia.

“Ya udah segitu aja, berarti senin bukunya gua bawa.” Lanjut Nadia.

“Ya udah bye, nyokap gua manggil.” Ucap Ananda lalu menutup video call-nya.

Nadia menghabiskan siang ini Bersama sahabatnya lewat video call.

“Eh rencana pada mau masuk mana?” tanya Nadia.

“Gua mau SMK aja biar langsung kerja.” Ucap Rika.

“Gua mau di man empat belas.” Kata Aprilia.

“Nad!! Nadiaa!!” Panggil sang Ibu.

“Eh gua udahan ya nyokap gua manggil, bye.” Kali ini Nadia pamit.

“Ya udah.” Ucap para sahabatnya serempak.

“ETTTDAH APAAN SI?” gerutu Nadia.

“Iyyyaa Bu.” Sahut Nadia. Nadia menghampiri sang Ibu.

 “Ada apa Bu?” tanya Nadia melihat sang Ibu yang asyik memainkan handpone-nya.

“Istirahat besok kamu udah mau masuk sekolah lagi.” Ucap sang Ibu. Nadia hanya menganggukan kepala, sehabis itu ia istirahat.

Keesokan harinya Nadia sudah bersiap hanya tinggal, memakai seragam hari ini kamis memakai seragam atasan batik hijau dan rok putih dipadukan dengan kerudung putih, saat Ibunya ingin membangunkannya.

“Nadia udah bangun ya udah kamu ke bawah udah Ibu siapin.” Ujar wanita tersebut lalu melenggang turun ke bawah. Nadia segera mengambil tas yang berwarna hitam datang.

Di sekolah tak mendengar gunjingan lagi lantaran mendengar ia habis operasi usus buntu membuat yang lain iba hanya anak laki-laki dari kelas 9B saja yang masih menghina dan mencacimaki dirinya.

“Eh Nadia gimana, keadaan lu?” tanya temannya meskipun bukan teman dekat.

“Baik, kok.” Ucap Nadia ramah.

Hari ini guru hanya memberikan jadwal pelajaran untuk UN hari senin, jam istirahat Nadia ke kelas 9D untuk bertemu dua sahabatnya yang saling beradu argument.

Nadia mengendap-ngendap saat keduanya sedang berbicang menghadap belakang Nadia malah mengejutkan keduanya.

“Bukannya salam, malah bikin gua sakit jantung. Tuman lu Nad.” Ujar Ananda.

 “Hehehe iya maaf.” Nadia dengan cengiran tanpa rasa bersalah.

“Eh ya udah duduk, gimana keadaan lu? nih gua ama Nanda baru mau ke kelas lu negokin lu.” Sahut Ningrum. Nadia berbincang hangat bersama Ananda dan Ningrum sampai jam istirahat berakhir.

“YDH Gua cabut ke kelas dulu, bye.” Ucap Nadia. Saat di depan pintu kelas 9D Ia malah bertemu dengan Budi.

“Na-dia.” Ujarnya bersama geng-nya suaranya menyerupai raja dangdut roma irama.

 “Bagaimana keadaanmu? Lu tahu gak gua tuh...ngersa gak becus menjagamu.” Nadia malah memutar bola matanya jengah lantaran harus mendengar ocehannya Budi, “aduh! drama banget lu, udah kaya telenovela!” ujar Nadia sambil melipat kedua tangannya.

 “BUDI, ARYA, GAGAS, DAN YANG LAIN!! KENAPA BELUM MASUK KELAS!!” suara melengking itu dari Bu Fina. Yups guru killer itu mendapatkan beraneka ragam julukan dari seantero sekolah.

“Ya ampun Bu cantik bener hari ini, udah kaya tingkerbell.” Puji Budi.

“MASUK SEKARANG ATAU IBU MAU SURUH KALIAN BERSIIN TOILET!!” ancam Bu Fina, mendengar itu mereka semua bergidik ngeri termasuk Nadia.

“Ini baru mau masuk kelas Bu.” Ucap Gagas.

 “AYO SEKARANG!!” para masa yang berkumpul langsung membubarkan diri.

“KAMU JUGA NADIA ATAU MAU KAMU IBU BAWA KE KUA!! IBU KAWININ AMA BUDI!!” ancam Bu Fina. “Eh jangan Bu, ini juga mau masuk.” Ucap Nadia.

Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!