Keesokan harinya Nadia baru bangun jam tujuh pagi lantaran efek obat yang di berikan Ibunya kemarin. “Ibu mau keluar sebentar ada Paman Dani kesini nanti.” Nadia menganggukan kepala, saat kepergian Ibunya yang baru berselang datanglah perawat yang melepaskan infusnya.
“Nona Nadia Sabrina nanti siang sudah di perbolehkan pulang. Nadia senang akhirnya ia boleh pulang karena ia sudah tak betah di rumah sakit terus.
Siangnya barang-barang sudah dibawa Paman Dani Adik mendiang Ayahnya ke bawah sedangkan Nadia ke bawah menggunakan kursi roda di bantu perawat laki-laki.
Sesampainya di rumah Nadia melihat banyak keluarga Ayahnya saat sedang duduk di sofa Ibunya Nadia sedang memesan soto untuk para keluarga dengan sarkas sang Nenek.
Ibunya Nadia menyindirnya soal berteriak dan menangis seperti tak waras saat Nadia kehilangan Ayahnya dengan amat marah Nadia membentak wanita tua itu lantaran berani menyinggungya soal luka lama yang tergores yakni kehilangan Ayahnya, membuat Kakak sepupu, yaitu Mbak Desi Keponakan Ayahnya atau lebih tepatnya anak Kakak Ayahnya menenangkan Nadia.
“Nadia udahlah Namanya juga Nenek kalo ngomong emang suka nyeplos.” Ujar Mbak Desi.
“Ya udah kamu tiduran aja.” Nadia hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
Nadia membaca di aplikasi novel lewat ponselnya saat merebahkan diri di atas kasur bawah. Ia tak masuk sekolah terlebih dahulu lantaran luka operasinya masih basah dan empat belas hari lagi ia harus ke rumah sakit melepaskan benang kulitnya setelah itu ia baru di perbolehkan masuk sekolah mengingat waktu ujian nasional akhir akan di laksanakan sebagai syarat kelulusan.
Waktu ke rumah sakit pun siap Nadia menunggu di panggil dokter Ridwan yang kata tetangganya alias Ibu-Ibu ganteng tetapi Nadia tak terlalu memperhatikannya lantaran saat benang kulitnya di tarik meresakan sakit, pulang dari rumah sakit Nadia di ajak ibunya membeli soto bogor bersama Adiknya Defani, Nadia makan dengan lahap tak sadar handpone-nya berdering, saat sedang makan sambil memeriksa siapa penelpone-nya.
Ternyata itu adalah Ananda memanggilnya dengan menggunakan video cal di whattsap. “Kenapa Nan?” tanya Nadia sambil memakan soto bogor-nya dengan menggunakan nasi.
“Eh gua mau potocopy buku lu dong, yang UN itu.” Ujar-nya Ananda. Nadia mengerti tidak semua temannya kebutuhannya tercukupi seperti dirinya.
“Ya udah kapan mau senin besok, lagian senin besok pulang cepet.” Ucap Nadia sambil menyuapkan Nasi dan sotonya ke mulut-nya.
“Ya udah photocopy aja ya, deket buceng lagian biar gak jauh.” Ujar Ananda.
“Ya udah terus si Aprilia, ningrum, Dian, Nissa, Rika, Nita, dan Dini. Mau sekalian photocopy gak?” tanya Nadia lalu menyuapkan lagi makanan-nya.
“Coba gua undang obrolan, coba lu undang Ningrum, Nissa ama Aprilia, biar gua yang undang Rika, Nita, dan Dini.” Usul Ananda.
“Ya udah.” Ucap Nadia yang menyepakati usul Sahabatnya.
Nadia mengundang sahabatnya sambil menunggu, ia makan dengan lahap setelah selesai gadis itu menaruh piring kotornya di tempat cucian piring di dapur. Para gadis itu video call untuk menanyakan apa mereka mau untuk photocopy karena buku UN dan detik-detik harganya sangat lumayan, yakni 150 ribuan. Setelah semua-nya diangkat kecuali Ningrum, “Napa lu pada VC kita?” ucap Rika.
“Lu pada mau gak photocopy buku detik-detik?” kata Ananda yang mewakili Nadia bicara.
"Gua mau.” Sahut Dian.
“Gua udah ada, kemarin gua baru beli buku detik-detik.” Tolak Nissa dengan pelan. “Siapa lagi selain Ananda, Dian sama Rika.” Ucap Nadia.
“Ya udah segitu aja, berarti senin bukunya gua bawa.” Lanjut Nadia.
“Ya udah bye, nyokap gua manggil.” Ucap Ananda lalu menutup video call-nya.
Nadia menghabiskan siang ini Bersama sahabatnya lewat video call.
“Eh rencana pada mau masuk mana?” tanya Nadia.
“Gua mau SMK aja biar langsung kerja.” Ucap Rika.
“Gua mau di man empat belas.” Kata Aprilia.
“Nad!! Nadiaa!!” Panggil sang Ibu.
“Eh gua udahan ya nyokap gua manggil, bye.” Kali ini Nadia pamit.
“Ya udah.” Ucap para sahabatnya serempak.
“ETTTDAH APAAN SI?” gerutu Nadia.
“Iyyyaa Bu.” Sahut Nadia. Nadia menghampiri sang Ibu.
“Ada apa Bu?” tanya Nadia melihat sang Ibu yang asyik memainkan handpone-nya.
“Istirahat besok kamu udah mau masuk sekolah lagi.” Ucap sang Ibu. Nadia hanya menganggukan kepala, sehabis itu ia istirahat.
Keesokan harinya Nadia sudah bersiap hanya tinggal, memakai seragam hari ini kamis memakai seragam atasan batik hijau dan rok putih dipadukan dengan kerudung putih, saat Ibunya ingin membangunkannya.
“Nadia udah bangun ya udah kamu ke bawah udah Ibu siapin.” Ujar wanita tersebut lalu melenggang turun ke bawah. Nadia segera mengambil tas yang berwarna hitam datang.
Di sekolah tak mendengar gunjingan lagi lantaran mendengar ia habis operasi usus buntu membuat yang lain iba hanya anak laki-laki dari kelas 9B saja yang masih menghina dan mencacimaki dirinya.
“Eh Nadia gimana, keadaan lu?” tanya temannya meskipun bukan teman dekat.
“Baik, kok.” Ucap Nadia ramah.
Hari ini guru hanya memberikan jadwal pelajaran untuk UN hari senin, jam istirahat Nadia ke kelas 9D untuk bertemu dua sahabatnya yang saling beradu argument.
Nadia mengendap-ngendap saat keduanya sedang berbicang menghadap belakang Nadia malah mengejutkan keduanya.
“Bukannya salam, malah bikin gua sakit jantung. Tuman lu Nad.” Ujar Ananda.
“Hehehe iya maaf.” Nadia dengan cengiran tanpa rasa bersalah.
“Eh ya udah duduk, gimana keadaan lu? nih gua ama Nanda baru mau ke kelas lu negokin lu.” Sahut Ningrum. Nadia berbincang hangat bersama Ananda dan Ningrum sampai jam istirahat berakhir.
“YDH Gua cabut ke kelas dulu, bye.” Ucap Nadia. Saat di depan pintu kelas 9D Ia malah bertemu dengan Budi.
“Na-dia.” Ujarnya bersama geng-nya suaranya menyerupai raja dangdut roma irama.
“Bagaimana keadaanmu? Lu tahu gak gua tuh...ngersa gak becus menjagamu.” Nadia malah memutar bola matanya jengah lantaran harus mendengar ocehannya Budi, “aduh! drama banget lu, udah kaya telenovela!” ujar Nadia sambil melipat kedua tangannya.
“BUDI, ARYA, GAGAS, DAN YANG LAIN!! KENAPA BELUM MASUK KELAS!!” suara melengking itu dari Bu Fina. Yups guru killer itu mendapatkan beraneka ragam julukan dari seantero sekolah.
“Ya ampun Bu cantik bener hari ini, udah kaya tingkerbell.” Puji Budi.
“MASUK SEKARANG ATAU IBU MAU SURUH KALIAN BERSIIN TOILET!!” ancam Bu Fina, mendengar itu mereka semua bergidik ngeri termasuk Nadia.
“Ini baru mau masuk kelas Bu.” Ucap Gagas.
“AYO SEKARANG!!” para masa yang berkumpul langsung membubarkan diri.
“KAMU JUGA NADIA ATAU MAU KAMU IBU BAWA KE KUA!! IBU KAWININ AMA BUDI!!” ancam Bu Fina. “Eh jangan Bu, ini juga mau masuk.” Ucap Nadia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments