Malam harinya karena besok libur Nadia menonton fim aplikasi di handphonenya, film yang berjudul “the white princess.
film asal Inggris yang menceritakan ratu wangsa tudor pertama Elizabeth of York. Sebelum jadi Ratu ada perang keluarga yang disebut perang mawar.
Sesaat sedang asyik menonton filmnya dengan sangat menyebalkan Ibunya mendatanginya dan merusak moodnya, pertama-tama Ibunya mengajak bercanda dan pada akhirnya Ibunya berceloteh tidak penting mengatakan.
"Dunia kamu dunia hayal!" begitu kritikan sang Ibu padanya.
Malam ini Nadia tidak mau berdebat dengan peri kembang tercintanya, jadi dia putuskan menonton film di kamarnya dengan menaiki tangga karena kamarnya berada di lantai atas.
“Apaan sih, gak jelas banget tuh kanjeng Mami!” gerutunya lagi sambil menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
Setelah selesai menonton film. ‘The white princess’ Nadia memutuskan untuk menulis diary (buku harian)
Diary, 6-januari-20XX
Bahagia kadang melingkupi hatiku
Akan, tetapi kesedihan lebih mendominasi di hati kecilku ini.
Kehilangan seseorang yang aku sayangi yaitu Ayahku,
tetapi ada Seseorang telah hadir dalam hidupku
Dia adalah pria di mimpiku semalam aku yakin
Suatu hari kelak pasti bertemu dengannya.
Nadia langsung menutup kembali buku diary-nya, lalu merebahkan diri di atas kasur sambil memeluk guling bibirnya selalu tersenyum dan hatinya selalu berharap bertemu dengannya.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═⌐╦╦═...
Pagi harinya adalah hari libur Nadia amat bosan di rumah, untung saja ada Kakak sepupu perempuannya yang bernama Alina tanpa di duga berkunjung ke rumahnya dan mengajak menonton serta jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran jadi Nadia tidak bosan lagi.
Setelah sampai di mall tempat bioskop Nadia serta Kakak sepupunya dan Adik kandungnya Defani mencari film untuk ditonton, Kakak sepupunya mengantri untuk membeli tiket.
“Kak Alin aku beli es-krim ya ama Fani di bawah, Kakak mau juga?” pinta Nadia, agar lebih akrab Nadia suka memanggil Adiknya Fani.
“Ya udah aku mau coklat langsung kesini!” perintah sang Kakak yang mengeluarkan uang lalu menyerahkannya kepada kedua Adik sepupunya.
Mereka menonton film sehabis itu sang Kakak sepupu mengajaknya makan burger. Nadia hanya memasang wajah senang, tapi hatinya masih terasa kesal karena belum juga bertemu dengannya.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─...
Keesokan harinya saat Nadia pulang dari sekolah mengeluh sakit, tatkala setiap pulang sekolah dia selalu mengeluhkan hal yang sama kepada sang Ibu sambil memegang bagian bawah perutnya dan setiap pulang sekolah selalu naik ojek biasanya ia memilih berjalan kaki.
“Aduh Bu sakit!!” adu Nadia sudah seminggu lebih Nadia mengeluh kesakitan sambil memegang perut bagian bawahnya di bawah pusar.
“Berobat ke dokter, yuk.”
Sang Ibu karena tak tega sudah hampir tiga minggu Nadia mengeluh kesakitan sambil memegangi perut bagian bawah pusar.
"Gak ah Bu, paling cuman sakit lambung kaya biasa minum promag langsung sembuh," ujar Nadia.
Sang Ibu hanya menggelengkan kepala tanda tak tega melihat anak gadisnya seperti itu. Nadia pergi ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Malam harinya Nadia memainkan game di handphone nya sambil merebahkan diri di atas kasurnya, tak lama ada seseorang yang menelponnya.
“Ya ampun Sarah, ngapain dia nelepon gua?” Nadia.
Sarah adalah anak teman mendiang Ayahnya Nadia, Ayah kedua gadis itu seorang anggota polisi. Mereka bertemu saat acara letingan di polres, keduanya di pertemukan waktu umur mereka kelas lima SD. Itulah awal dua gadis indigo di persatukan dalam jalinan kasih persahabatan.
“Hallo Sar, napa lu nelepon gua?” tanya Nadia.
"Emang lu sakit?” tanya Sarah.
“Oh, Ya udah. Woilah seolah lu peka dengan keadaan gua, iya emang gua lagi sakit biasalah paling lambung gua," Nadia sambil tersenyum bercanda.
“Ya udah nyokap gua manggil," kata Sarah menutup panggilan telephone.
“Ya udah, Bye.” Nadia mematikan sambungan telepon melalui via whatsaap.
“ARGH!! Anjay perut gua kaya di pelintir anjir.” Beruntung sang Ibu masuk kamar dan melihat Nadia mengeluh kesakitan pada akhirnya sang Ibu memaksa agar Nadia dibawa ke dokter.
Nadia akhirnya menuruti permintaan Ibunya untuk pergi ke rumah sakit, “ya udah aku ganti baju dulu.” Kata Nadia.
“Iya, Ibu juga ganti baju dulu.”
sang Ibu kemudian pergi berlalu dari kamar anaknya untuk turun ke bawah ke kamarnya agar berganti pakaian.
Sebelum ke rumah sakit menggunakan motor. Nadia memakai celana bahan warna hitam dan jacket baseball warna putih-merah, lalu menggunakan kerudung bergo atau langsung berwarna hitam.
Nadia bercermin untuk membetulkan kerudungnya sebelum turun ke bawah, gadis itu membulatkan matanya tatkala di pantulan cermin tepat di belakanganya terlihat seorang wanita berpakaian khas penari Jawa, wajahnya cantik, dengan kulit sawo matang, tak lama terdengar suara gamelan di mainkan dan wanita tersebut mulai menari.
Nadia langsung menoleh ke belakang dan tak mendapati siapapun, ia pun kembali menghadap ke cermin dan penari itu masih tetap di pantulan cermin sambil menggoyangkan tubuhnya seperti menari.
Ketiga kalinya Nadia menoleh ke belakang dan penari itu memang ada, wanita penari itu malah terbang sambil mendekat ke arahnya, Nadia mundur ke tembok perlahan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya tatkala penari itu terbang ke arahnya dan wajahnya pun hanya berjarak satu centimeter.
“AAAA!!!” Nadia menjerit kuat ia berlari meringkuk ke tembok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Nadia kamu kenapa?!!” sang Ibu berlari ke kamar tatkala mendengar anaknya berteriak.
“Heh tenang ini Ibu.” Nadia membuka matanya dan melihat Ibunya, “gak Bu tadi ada kecoa...,” Ucap Nadia yang tak mau Ibunya semakin khawatir.
"Dasar lebay!!” cemooh sang Ibu.
“Ya udah ayo,” ucap sang Ibu.
Nadia mengangguk dan menuruti perintah sang Ibu.
Nadia dan Defani, di bonceng sang Ibu dengan menggunakan motor menuju rumah sakit Tugu medika. Ibunya langsung masuk ke ruangan ICCU karena fisik Nadia sangat kuat ia bisa berjalan membuat para dokter di ruangan itu kaget.
Ibunya menggunakan BPJS sebagai pembayaran, dan Nadia mendapatkan kamar biasa saat di rawat inap tangannya di infus, dan Bibi Nadia datang wanita itu adalah Kakaknya Ibu.
Karena Bibinya sedikit alay ia malah memotret Nadia dan mengirimnya ke Instagram seolah Nadia yang melihatnya menjadi muak. Dan memilih tidur saja, Ibunya menungguinya di rumah sakit dan untuk Defani di titipkan bersama Neneknya karena ia sekolah besoknya.
“Kamu ada aja, makannya kalo jajan hati-hati.” Sang Ibu.
“Bu, gimana dokternya apa besok ada?” tanya Nadia yang mulai sedikit bosan lantaran sang perawat melarangnya memakan makanan selain dari rumah sakit, ia amat merindukan makanan junkfood kesukaannya.
"Dua hari lagi ada operasi, mungkin hari ketiga baru bisa meriksa kamu.” Sang Ibu menaruh tas berisi pakaian milik Nadia di atas meja.
“Ya udah kamu tidur, Ibu mau solat isya dulu.” Nadia mengangguk paham ia merebahkan diri di atas brankar rumah sakit sedangkan tangan kanan di infus.
Nadia melihat langit-langit rumah sakit perlahan ia mulai mengantuk dan memejamkan matanya. Nadia terbangun saat dirinya berada di tengah hutan belantara melihat langit menjelang malam ia menoleh kesana-kemari, tetapi tak mendapatkan jawaban satu pun.
“OMG, gua dimana?” kata Nadia sambil menoleh kesana-kemari.
“TOLONG!!!” jerit Nadia meminta pertolongan kepada siapapun, tapi tak ada jawaban.
Gadis itu berjalan mencari orang lain untuk di minta pertolongan, mulutnya terus menjerit minta tolong lalu telinganya mendengar bunyi suara gamelan.
"Mungkin lagi ada kondangan, gua bisa minta tolong.” Nadia dengan perasaan riang gembira mengikuti asal suara itu.
Mata Nadia melihat kesana kemari dan di hadapannya terlihat sekumpulan orang dengan pakaian seragam aneh.
Tak lupa matanya sipit, kulitnya kuning langsat dan ada orang berwajah Jawa juga sedang melihat tarian jaipong, di salah satunya ada wanita berpakaian penari yang ia lihat barusan di pantulan cermin hanya saja baju penarinya berbeda dari yang ia lihat di pantulan cermin.
Nadia mendekat untuk bicara dengan penari jaipong itu, ada apa sebenarnya ini? sungguh Nadia membenci hal rahasia seperti ini.
"Mbak!!” panggil Nadia kepada si penari jaipong saat ingin di dekati ia malah melihat wanita tersebut di dekati oleh salah satu pria bermata sipit dan mengenakan seragam di penuhi lencana bajunya, mereka ke tempat sepi untuk berpacaran.
Nadia ingin mendekati keduanya, tetapi suara Ibunya dan perawat malah membangunkannya.
“Nadia!! Bangun, Nak!!” panggil sang Ibu.
Nadia melihat ke langit malam di tengah hutan sambil menengok membalikan tubuhnya.
“Ibu!!” ucap Nadia ketakutan mendengar suara Ibunya, dan tak lama saat menoleh ke belakang.
Seorang berjubah hitam yang menutupi wajahnya dengan tudung hitamnya sambil membawa keris di tangan kanan dan jam waktu seperti arloji kecil di tangan kirinya.
“Ayo ikut.” Seketika keris yang ada di tangannya menghilang sendiri seperti sulap, sedangkan di tangan kirinya masih memegang jam kecil tersebut.
Gadis itu ketakutan dan mulai berlari memasuki hutan belantara tanpa arah dan tujuan, di tambah suara sang Ibu juga perawat rumah sakit masih terdengar di sela ia berlari, dengan nafas yang terengah-engah ia berhenti sejenak sambil menengok ke belakang Nada bernafas lega saat orang berjubah hitam itu tak lagi mengejarnya.
“Huft untung tuh the black robe gak ngejar gua.” Nadia tersenyum lega untuk melanjutkan berlari lagi dan saat ingin menoleh ke depan dia mendapati the black robe terbang di hadapannya.
Si jubah hitam menarik tangannya dengan paksa. "Lepasin gua!! lepasin gua!! TOLONG!!” Nadia berontak saat tangannya di raih paksa oleh si jubah hitam sambil memegang Arloji kecil di tangannya seolah ia mengendalikan waktu.
Nadia merasa pusing dan mual seperti di putar-putar ia membuka matanya mendapati dirinya terbaring di brankar rumah sakit.
“Akhirnya kamu bangun juga, Nak.” Sang Ibu membantu Nadia terduduk.
“Ayo bangun infus kamu lepas darah kamu kemana-mana,” lanjut sang Ibu sambil membantu memapah putrinya.
Dua orang perawat membantu membersihkan darah Nadia yang membanjiri pakaian, sprei putih rumah sakit, serta semuanya.
Nadia wajah kelihatan pucat seperti kekurangan darah, tetapi ia masih memikirkan mimpinya siapa penari itu kenapa wajahnya sedikit mirip dengan mendiang sang Ayah.
Setelah semuanya rapih Nadia di gantikan pakaian lalu di baringkan kembali di atas brankar, salah seorang perawat yang membantu membersihkan darah yang berceceran datang dengan membawa peralatan.
"Nona Nadia Sabrina.” Perawat itu tersenyum melihat wajah Nadia yang pucat, dan bibir yang putih.
“Kok bisa selang infusnya lepas?” tanya perawat di sertai gurauan, Nadia tersenyum tipis untuk membalasnya.
“Gak tau tuh, saya juga bingung.” Ibunya mewakili Nada bicara. Jarum infus yang di tangan kanan Nadia di lepas dan di ganti Jarum yang baru di tangan kirinya.
Setelah selesai Ibunya mengucapkan terimakasih kepada perawat cantik itu, “kok bisa selang infus lepas___ada-ada aja kamu...” Ucap sang Ibu.
“Ya allah Nadia-Nadia,” lanjut sang Ibu.
“Gak tahu Bu...,” ujar Nadia saat sang Ibu memberinya minum agar bertenaga lagi.
Nadia memainkan handphonenya dan ia teringat akan mimpinya sebelum infus itu lepas, ia ingin mencari di google tentang sesuatu.
Nada pertama mencari tahu tentang foto seragam tentara cina tempo dulu ternyata tak sama, dan gak mungkin itu tentara Belanda pasalnya wajahnya bukan Eropa, tetapi Asia.
“Oh, ya coba Jepang!” cetus hati kecil Nadia.
Gadis itu mencari tahu lewat google dan hasilnya hampir membuat Nadia melompat karena kaget bukan main.
“OH MY GOD!!!” ucap Nadia ternyata tentara Jepang dan apa hubungannya dengan Ayahnya.
“Siapa ya penari Jawa itu? Apa hubungannya sama Ayah gua? kenapa ngerasa ada hubungan darah antara gua, penari Jawa, ama tuh si Jepang?” Ucap Nadia dalam hati yang mulai tak suka teka-teki bodoh ini seperti matematika pelajaran yang paling tak ia sukai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
lyv.vee
wow ada juga nama gue di pake, sama lagi gue juga dulu indigo
2023-05-30
0
Devan Dhina
lnjt
2020-12-29
0
Candylove Therryus
penasaran...
2020-12-28
0