Nadia tersadar dari operasi ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, bau obat seakan menyeruak sampai indera penciumannya. Nadia tersadar ia menggunakan selang untuk bernafas di area hidungnya.
Juga tubuhnya polos hanya tertutup selimut hawa dingin karena AC ia rasakan, saat ingin menggerakkan tubuhnya ia tak bisa sangat sulit mungkin karena efek obat bius di dalam tubuhnya.
Sesaat ia menoleh ke samping kanan dan melihat seorang wanita paruh baya yang habis di operasi juga tetapi belum sadar.
“Hanson, aku harap bertemu kamu lagi.” Gumam Nadia dalam hati.
Secara tak terduga ada yang membelai rambutnya Nadia susah payah menoleh ke samping sangat sulit ia malah mendapati sepasang laki-laki dan perempuan dengan mata kosong, yang satu perempuan berpakaian seperti penari dan satunya berpakaian seragam Jepang seperti mimpinya waktu itu saat infusnya putus dan mengeluarkan darah.
Perempuan itu membelai kepala Nadia, ingin sekali Nadia berlari tapi efek obat bius tak mampu membuatnya berbuat sesuatu sampai seorang perawat datang.
“Operasinya sudah selesai.” Kata perawat seketika sepasang kekasih itu menghilang. Perawat tersebut mendorong brankar rumah sakit keluar ruang operasi untuk membawanya ke kamar rawat inap di tempat semula.
Tubuhnya tak bisa di gerakan karena efek obat bius masih di dalam tubuhnya.
“Coba kalo bisa nanti badannya di miring kanan-kiri ya.” Kata perawat itu kemudian pergi sambil membawa brankarnya keluar ruang rawat inap.
“Coba Nad, di gerakin badannya.” Ucap sang ibu.
“Masih belum bisa Bu.” Keluh Nadia, “mungkin karena obat biusnya.” Lanjut gadis itu, wajahnya pucat sekali saat keluar dari ruang operasi.
“Nanti Tante Siska mau ke sini.” Ujar Ibunya sambil melihat ponsel di tangannya. Nadia tersenyum senang lantaran ia bisa melihat bibi favoritnya datang menjenguknya.
Tante Siska ialah Adik perempuan mendiang Ayahnya dan satu-satunya anak perempuan dari enam bersaudara dari pihak Ayah.
Sesaat Nadia sedang melihat isi ponselnya karena penasaran dengan perempuan penari itu serta si hantu Jepang, gadis itu sedang asyiknya membaca sumber yang menurutnya menarik dan sangat tepat, yakni Wikipedia.
Secara tak terduga bibinya yang dari Bekasi datang sendirian tanpa membawa dua Adik laki-laki sepupunya yang mengemaskan, mereka berbincang hangat tentang masa lalu Ayahnya Nadia dan bagaimana masa kecil sang Ayah. Tak terasa jam jenguk habis Tante Siska sudah harus pulang.
“Saya pulang dulu kasian gagas gak ada yang jaga.” Kata wanita itu.
“Iya hati-hati.” Ucap Ibunya Nadia. Tak lupa sebelum bibinya pulang Nadia menyalami bibi favorit nya itu.
Nadia menidurkan diri ia merasa kesepian lantaran bibi kesayangannya sudah pulang dulu, padahal ia ingin lebih banyak mendengar cerita soal masa kecil mendiang Ayahnya.
“Nadia!” Gadis itu menoleh ke Ibunya.
“Coba kamu belajar duduk.” Ucap sang Ibu.
“Tapi masih sakit, Bu.” Adu Nadia. “Sedikit-sedikit lah.” Ujar sang Ibu.
“Bu, aku mau tidur aja.” Kata Nadia.
“Ya udah tidur.” Dengan penuh kasih sayang Ibunya menyelimuti tubuh Nadia. Sesaat setelah memejamkan matanya roh nya di Tarik keluar dari tubuhnya.
“Dih, anjir gua kok bisa keluar dari badan gua. Udah bisa jalan lagi padahal gerak aja susah.” Nadia melihat tubuhnya tertidur pulas di atas brankar rumah sakit di hadapannya. Gadis itu juga melihat Ibunya lagi memainkan ponselnya di atas tikar yang di bawa dari rumah.
Nadia mendongakkan kepala melihatnya ke langit-langit kamar ia melihat sosok berbadan kurus seperti tulang terbungkus kulit tanpa busana dan hanya menutupi tubuhnya dengan rambutnya saja. Nadia yang hanya berwujud roh dengan ketakutan berlari keluar menembus pintu.
Gadis itu melongo bukan main saat keluar kamarnya ia melihat di sekitar Lorong ada beragam jenis mahluk seperti tangan berjalan dan melayang sendiri, seorang pria berjalan dengan tangan buntung sebelah kiri dan tangan kanannya membawa tangan kirinya wajahnya juga sebelahnya hancur, ada juga dua wanita berjalan sambil membawa kepalanya masing-masing ditangan dan masih banyak lagi, Nadia menjerit tatkala melihat semua ini.
“Kak!” Nadia menoleh kebelakang dan mendapati seorang anak kecil seumuran Adiknya berjenis kelamin laki-laki.
Gadis itu bernafas lega mungkin anak ini juga keluar dari badannya. “Adek kamar kamu dimana?” tanya Nadia yang menyamai tinggi anak itu.
Anak laki-laki itu menarik tangan kiri Nadia menuju keluar area ruang rawat inap menuju pintu keluar ruangan, tapi Nadia merasa ia di buntuti dengan masa bodo ia malah mengikuti arahan anak ini menuju ke suatu tempat.
Anak ini mengajaknya memasuki sebuah tempat dan tempat itu adalah kamar mayat, ia diajak kenalan dengan anak-anak yang ada di sana dengan baju putih semua.
“Ini Namanya Kak Nadia.” Ucap Anak yang mengajak Nadia kesini.
“Halo Kak Nadia.” Kata Anak-anak itu serempak. Nadia tersenyum canggung saat dirinya di bawa ke ruang mayat ini.
“Adek kok aku...” Belum sempat Nadia menyelesaikan ucapannya anak laki-laki yang membawanya kemari telah berubah tadinya, mengemaskan mata sebelah kanannya menjadi bolong dan hilang.
“AAAA!” Nadia menjerit langsung membekap mulutnya mundur seketika saat kembali menoleh ke anak-anak yang menyapanya tadi mereka semua pada kehilangan anggota tubuh masing-masing seperti kehilangan tangan, kaki, dan termasuk kepala.
Nadia segera berlari keluar menuju pintu untuk menembus keluar, tetapi dihalangi oleh kuntilanak merah di depan pintu.
“Mau kemana kamu?” tanyanya sambil tertawa.
“Kak Nadia jangan pergi!” kata anak-anak itu berbarengan dengan wujud yang sudah kehilangan masing-masing satu anggota badan.
“Tolong pergi jangan mendekat!! AAA!!” Nadia menjatuhkan tubuhnya sambil menutup kedua telinga dengan tangannya sambil memejamkan matanya.
Secara tak terduga terdengar suara kucing entah darimana seketika para mahluk itu menghilang entah kemana. Nadia memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari keluar menuju ruangannya.
Saat baru menembus lewat pintu kamar mayat ia melihat kucing hitam di sebelahnya, tanpa peduli mahluk-mahluk di sekitarnya.
Nadia menoleh ke belakang kucing hitam itu mengikutinya dari samping tetapi jika dalam wujud arwah ia melihat wujud kucing hitam tersebut The Black Robe.
Sesampainya di dalam ruangan kamar rawat inap ia malah melihat sesosok Nenek yang tertawa sambil membawa tongkat sedang mendekat.
“Mau kemana kamu, Cu.” Ucapnya. Kali ini Nadia sudah sangat Lelah bercampur kesal, lebih yang membuatnya jengkel tangannya di Tarik oleh sang nenek.
Tenaganya cukup kuat dengan emosi Nadia berusaha melepaskan diri saat tak bisa ia meninju nenek itu sampai menghilang dan segera masuk ke tubuhnya.
Masalah juga belum selesai si badan kurus yang tadi di langit-langit merangkak di lantai seolah menghalanginya masuk kembali ke tubuhnya.
Nadia dengan sangat kesal menendang mahluk aneh itu dan kembali masuk ke badannya, ia terbangun yang artinya sudah masuk kembali ke dalam raganya, saat ingin menggerakkan tubuhnya ternyata bagian bawah bekas operasinya masih sakit dan sulit untuk di gerakan.
“Bu! aku mau minum.” Ucap Nadia. Sang Ibu memberikan minum untuk anaknya dengan membantu Nadia agar bisa minum, wanita itu heran melihat Nadia berkeringat padahal ruangan memiliki AC dan secara otomatis dingin tetapi kenapa malah berkeringat selayaknya berlari.
Nadia kembali merebahkan diri sambil memainkan ponselnya dan melihat temannya, Sarah mengecatnya lewat whatsaap, tak hanya sarah tetapi juga dua sahabat dekatnya, Ananda dan Ningrum, juga teman-teman dekat yang lain, yakni Aprilia, Dian, Nissa, Rika, Nita, dan Dini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments