Keesokan paginya Nadia dan Endah melakukan solat subuh, hal itu lumrah dilakukan sebelum pergi ke ladang atau bekerja di rumah Menner Willem.
Para gadis di masukan ke dapur sedangkan Endah secara diam-diam membuntuti Nadia, sebenarnya dalam lubuk hati Endah yang terdalam ia sangat cemburu kepada Nadia yang terlalu di beri perhatian oleh Sinyo Hanson.
Tapi rasa cemburu itu seakan sirna digantikan oleh rasa peduli dan kasih, karena Nadia secara sukarela mau membantu mengajarinya membaca dan menulis.
Mungkin Nadia memiliki pemikiran ia bisa membantu bangsanya di jaman ini dengan mengajari gadis-gadis ini membaca dan menulis, sinar mentari masih baru keluar dari tempatnya tidur.
Pagi ini Nadia dengan Rambut kuncir kesamping berjalan menuju kediaman Mayor Jendral Willem Van Buthjer dan putranya Letnan dua Hanson Van Buthjer.
Sesampainya di rumah arsitektur Eropa-Belanda tepat di depan gerbang Sinyo Hanson amat gembira di dalam hati melihat gadisnya telah tiba sesuai waktu yang di infokan oleh si Marno kacung setia keluarganya.
Pemuda belanda itu sedang duduk di kursi kayu klasik sambil memakan roti selai dan susu hangat yang terletak di atas meja tepat disampingnya, saat Hanson melihat gadisnya telah tiba ia malah menyembunyikan ke kegembiraannya di balik wajahnya yang tegas, ketus, dan datar.
Malah sebelum Nadia membuka gerbang rumah tersebut Hanson berjalan menghampirinya, membuka gerbang berwarna putih itu lalu menarik tangan Nadia yang pasrah.
Pemuda belanda itu langsung berteriak memanggil Marno untuk menutup gerbangnya kembali sambil berjalan cepat menuju ke dalam rumahnya, gadis itu mengeluh kesakitan tatkala tangannya di tarik oleh pemuda belanda ini.
“Letnan hentikan! tanganku sakit!” Hanson langsung berhenti beralih ketika tangannya menggenggam kedua bahu Nadia, dengan kedua tangannya dan menyeringai sambil menatap mata hitam sekelam malam milik Nadia.
Begitu juga sebaliknya Nadia menatap warna mata biru permata milik pemuda yang ia impikan dan di harapkan, pagi ini pemuda belanda ini tidak memakai seragam militer dengan lencana seperti biasanya, tapi memakai kemeja putih klasik dan celana coklat.
“Je berani sama ik!!” Nadia terkesiap saat Hanson menggentaknya, wajah gadis itu ketakutan seakan ingin menangis.
Hanson langsung memeluk hangat tubuh Nadia agar sedikit lebih tenang, tubuh gadis itu menjadi mematung dan dadanya terasa berdebar seraya menjalar ke seluruh aliran darahnya yang membuat kedua pipinya memerah seketika.
Hanson langsung melepaskan pelukannya, untuk menatap wajah gadisnya dan bibir tipis kemerahan itu mengulas senyum.
“Ada apa dengan je, Lieve(sayang).” Hanson masih menyeringai sambil tersenyum tipis, dalam hati Nadia masih berdebar dan ia benar-benar merasakan jatuh cinta yang menggebu diusia lima belas tahun.
Hanson lalu dengan lembut mengendong tubuh gadis itu ala bride style menuju lantai atas.
“Je akan sangat cantik memakai gaun yang ik beri nanti,” bisiknya sambil setia mengendong tubuh itu menuju lantai atas.
Keduanya telah sampai di tempat yang mereka tuju yaitu, kamar klasik yang cukup besar dan mewah.
Nadia langsung di jatuhkan di atas ranjang dengan empat tiang, di setiap sudut tempat tidur.
“Sinyo berhenti!” Nadia tersadar dari sikap diam nya saat pemuda ini ingin menindih tubuhnya, kemudian Nadia mendorong tubuh besar pria Belanda ini.
Nadia menyadari ia akan melakukan dosa besar yang akan dilaknat tuhan jika ia terus diam, kini rasa debar di aliran darahnya digantikan dengan rasa takut.
Nadia berlari dan berusaha meraih gagang pintu, tapi tangannya di cekal oleh Hanson, tetapi Nadia langsung berontak berusaha melepaskan tangannya, tapi tubuhnya malah terjatuh di lantai.
“Berani je menolak ik!” Hanson kembali berteriak marah dengan mata melotot, tapi kali ini, Nadia tidak takut malah dia semakin marah gadis itu berdiri lalu balik memaki Hanson dengan berani.
“Lu pikir mentang-mentang gua cewek Pribumi gua mau gitu nyerahin diri sama lu! londo ba**sat!” keberanian Nadia membuat Hanson kaget sekaligus semakin marah.
“Ik bisa bunuh je jika je__” Hanson mengeluarkan kalimat ancaman untuk menjatuhkan Nadia, tapi gadis itu malah menangkisnya dengan gusar.
“Akan apa, hah!? bilang ke Papa lu gua gak takut!!” kali ini Nadia benar-benar memancing emosi Hanson, tanpa perasaan pria Belanda itu menarik tubuh Nadia.
Tapi dengan sisa tenaga gadis itu berontak sudah pasti itu sia-sia, Hanson menarik gadisnya kembali ke atas kasur dan berusaha melakukan penyatuan yang mendamba kesempurnaan.
Nadia dalam hati memohon kepada tuhannya Allah SWT, Nadia berdoa dalam batinnya sambil menangis dan berontak yang pasti tidak ada gunanya.
Hanson merobek rok batik yang dikenakan Nadia, “tolong!!!” Nadia berteriak.
“Sssttt, diam!!” Hanson menekankan dengan memberi isyarat lewat jari telunjuknya.
“Sinyo jangan tolong pikirkan sekali lagi!! jika saya hamil bagaimana?” Saat Hanson ingin melepaskan celananya ia langsung mencerna ucapan gadisnya, untuk menyingkir dari tubuh gadis itu.
Pemuda itu langsung memakai kembali celananya Nadia berinsut ke pojok kasur sambil mengambil roknya lalu menangis pelan.
Hanson langsung pergi meninggalkan kamarnya agar membiarkan gadisnya tenang dan pikirannya juga tenang.
“Benar juga bagaimana kalo dia hamil…Shitt.” Hanson meruntuki kebodohannya demi menenangkan diri ia pergi ke sebuah peti yang terletak di ruang kerja pribadi miliknya lalu pria itu membuka isinya dan memperlihatkan sebuah gaun pendek berwarna biru muda dengan banyaknya renda indah. Hanson berjalan kembali menuju kamarnya lagi.
Hanson sama seperti remaja lainnya nakal suka mengundang gadis inlander ke kamarnya tanpa sepengetahuan Papanya hal itu lumrah terjadi saat sang Papa sedang ditugaskan dinas, ia memilih gadis dari gubuk-gubuk untuk teman tidur.
Endah belum pernah karena imannya cukup kuat dalam hal agama, tapi kalo Lasmi sudah pernah, beruntung Lasmi belum sempat di sentuh karena saat itu ia sedang datang bulan.
Malangnya setelah Mayor Jendral, pulang dari dinas gadis-gadis tersebut di suruh kembali ke gubuk tanpa peduli lagi.
Sebenarnya Mayor Jendral sedang tak ada di rumah. Ia dinas beberapa hari di kesatuan yang tak jauh dari rumahnya yang ia tinggali saat ini bersama dengan putranya, kemudian menyerahkan tanggung jawab di rumahnya untuk di pimpin oleh anaknya.
Hanson seperti biasa ia memilih gadis, tapi kali ini bidikannya adalah Nadia gadis inlander yang tak pernah ia temui kulit putih kecoklatan terawat dengan tubuh gemuk berisi.
Di samping kasur gadis kecil meringkuk sambil menutupi tubuh gemuknya dengan selimut saat Hanson datang dari pintu kamar Nadia lebih memilih membuang muka, Hanson malah kasihan melihat Nadia dia mendekat dan meletakan tubuh Nadia di atas pangkuannya lalu memberikan pakaian itu kepada Nadia.
"Jangan menangis maafkan ik, Lieve." Nadia mengambil pakaiannya. Hanson menyeka lembut air mata gadisnya baru kali ini Hanson melakukan hal lembut kepada gadis Pribumi, biasanya ia malah membiarkan gadis Pribumi atau inlander menangis tanpa perasaan.
“Je pakai baju itu, ik akan keluar.” Setelah Hanson keluar kamar, pria itu menutup kembali pintu kamarnya.
Nadia amat tertegun dengan sikap lembut pria itu, Nadia dengan terkesiap memakai baju yang di berikan Hanson.
Dia bercermin di lemari baju yang seukuran orang dewasa, baju yang pas melekat di tubuhnya dengan sempurna rambut hitam setengah dadanya ia letakan ke samping kanannya. Saat membuka gagang pintu Nadia melihat Hanson berdiri di samping pintu kamar.
“Sudah selesai, Liefste.”
Nadia hanya menganggukkan kepala tanda masih takut, Hanson mendekat lalu mendekap gadisnya di pelukannya Nadia tidak merasa takut lagi kali ini hatinya menghangat.
“Malam ini Papa ik tak ada di rumah, jadi je tidur di rumah ini.” Nadia langsung kaget ia ingin melompat, tapi Hanson mendekap tubuhnya erat.
“Jangan kaget atau takut ik kali ini…,” ujar Hanson menaruh dagunya di puncak kepala gadis itu.
“Ingin je tetap disini dan ik janji tak akan menyentuh je.”
Nadia langsung membalas pelukan pria Belanda ini.
“Tapi Letnan saya tidur dimana nanti?” tanya Nadia. Hanson melepaskan pelukannya lalu mata mereka saling bertatapan sejenak.
“Tidur di kamar ik, yang ini.”
“Aku takut dengan Mayor Jendral.” Nadia yang memucat, Hanson masih setia melingkarkan tangan kanannya di pinggang padat milik Nadia.
“Papa ik sedang dinas di area perkotaan untuk melacak inlander yang bergerilya.” Nadia tersenyum kecil.
“Ayo apa je lapar? para Bendide sudah siapkan makan siang disini.”
Hanson merangkul pinggang Nadia untuk ke meja makan saat mereka di meja makan, Nadia melihat semua makanan ini asing.
“Nadia ada apa?” tanya Hanson yang sudah duduk di di kursi meja makan, “ini semua makanan khas negaramu?” tanya Nadia.
Hanson kali ini tertawa renyah, Nadia heran dengan sikap pria di hadapannya yang kadang berubah menjadi tidak waras.
“Apa je masih asing dengan makanan ini, hanya je yang memiliki keberanian bicara seperti itu. Ik suka…ik suka…ik suka. Ik suka gadis seperti je.” Diakhir kalimatnya Hanson malah bertepuk tangan.
Nadia heran dengan sikap Hanson ia mengerutkan dahinya dan akhirnya duduk juga. Saat mengambil daging yang di sebut stamppot daging rasanya sangat enak belum pernah Nadia memakan masakan asing seperti ini, Nadia lupa bahwa ini alam bawah sadarnya gadis itu sangat senang dengan perilaku pria ini, dalam hati ada yang ditakuti yaitu, ayahnya Hanson.
Mayor Jendral Willem Van Buthjer pria yang terkenal kejam dan tak berperi kemanusiaan yang ia dengar dari pembicaraan gadis-gadis tempo hari di dapur. Hati gadis itu gelisah bukan main karena takut kena amarah Menner Willem, sedangkan Hanson bersikap cuek seperti tidak akan terjadi apapun yang membuat Nadia jengkel.
Setelah makan siang Nadia berjalan-jalan di taman depan rumah keluarga Van Buthjer, gadis itu melihat bunga-bunga di tanami dan di rawat dengan baik sehingga membuat taman itu terlihat indah.
Siang ini sangat panas jadi Nadia mencari tempat berteduh untuk duduk sejenak, Nadia tadi ingin mengajak Hanson berkeliling taman, tapi pemuda itu mengatakan banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments