Oka membawa kantong-kantong berisi belanjaan ke dalam rumah, disusul Bentari, Arunika dan bu Mega yang memberi interuksi.
“Bawa ke dapur, biar langsung kita beresin!”
Setelah manaruh kantong belanjaan di dapur Oka langsung naik ke atas untuk berganti pakaian dengan baju futsal berwarna merah dengan aksen putih. Tak berapa lama Bentari menyusulnya ke atas.
“Ka, kalau nanti Arunika minta diturunin di jalan atau di mana saja selain rumahnya kamu jangan mau ya.”
“Kenapa?” Oka memasukan kaos ganti ke dalam tasnya.
“Kakak rasa dia sedang ada masalah di rumahnya.”
“Ckk, sok tau!” Oka mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar.
“Kakak serius!”
Untuk pertama kalinya Oka mendengar nada serius dari suara kakak keduanya, membuat Oka terdiam memerhatikan Bentari yang berdiri di depannya.
“Kalau misalnya nanti dia minta diturunin di jalan dengan alasan ini-itu supaya tidak pulang. Kamu jangan turutin. Terserah kamu mau ajak dia ke lapangan futsal atau jalan kemana saja, yang penting jangan biarkan dia sendiri.”
“Bagaimana Kakak tahu?”
Tentu saja dia tahu, hanya saja dulu dia kurang beruntung karena dipertemukan dengan teman-teman yang malah menjerumuskannya kepada hal-hal negatif.
“Karena kakak dan dia mirip.”
Tanpa ada yang memberitahupun Oka sudah mengetahui itu dari awal. Mereka sama-sama dimanja oleh materi dari kecil hingga tumbuh menjadi pribadi yang manja.
“Kami sama-sama cantik. Kulit kami putih terawat …”
Oka memutar bola matanya, tanpa banyak bicara lagi dia pergi meninggalkan Bentari yang terus mengucapkan sederet persamaan dengan Arunika yang lebih mirip pujian pada diri sendiri. Di bawah Arunika tengah duduk di dapur membantu bu Mega membereskan barang-barang belanjaan sambil sesekali tertawa.
“Udah dong, Tante, Hyun Bin keren banget di sana!”
“Iya kan! Tante hampir saja selingkuh dari Lee Minho ke Hyun Bin gara-gara itu.”
“Hahaha, tidak apa-apa, Tan, asal bang Limin nya jangan tahu saja.”
“Jadi mau pilih mana nih, bang Limin, mas Hyun Bin, atau abang ojek ini, aww!”
Bentari memukul punggung Oka yang telah menjambak rambutnya santai sambil berjalan ke arah kantong belanjaan berisi jajanan, mengambil coklat lalu memasukannya ke dalam tas.
“Kalau untuk pasangan pilih yang nyata, walau cuma abang ojek, tapi ada di depan mata. Nyata terlihat bukan halu.”
Tak memedulikan ucapan bu Mega yang membuat Arunika tertunduk dengan wajah memerah sambil menahan senyum, Oka meninggalkan dapur untuk memakai sepatu futsalnya.
“Udah kan? Ayo!” Oka kembali ke dapur telah siap untuk pergi.
Arunika mendekati bu Mega untuk salim. “Saya pulang dulu, Tante, terima kasih banyak sudah mengundang saya ke sini.”
“Sama-sama. Rumahnya kan dekat, sering-seringlah main ke sini, kita nonton drakor.”
Arunika tersenyum sambil mengangguk.
“Oka futsal ya, Mah.” Oka menyalami bu Mega.
“Jangan ngebut bawa motornya. Kamu bawa anak orang.”
“Tenaaang, pokoknya wus-wus-wus!"
“Kamu ini!’ Bu Mega memukul lengan Oka yang malah terkekeh.
Arunika terlihat pamit kepada Bentari yang memeluknya penuh kasih sayang seolah mereka telah mengenal sangat lama.
“Ingat kata kakak tadi!" Bisik Bentari ketika menemani Oka berjalan ke luar dimana si merah terparkir di samping mobil BMW milik Bentari dan mobil Oka yang tertutup cover seperti biasa.
Oka mengangguk sambil menyerahkan jaket parka coklat kepada Arunika yang terdiam menatap uluran tangan Oka.
“Pakai ini!”
“Ooooh, Sweet banget sih!” goda Bentari membuat Arunika tersenyum sambil menunduk malu.
“Berisik!” Oka memakai helmnya sedangkan Arunika dengan cepat memakai jaket milik Oka yang kebesaran di tubuhnya sebelum naik di atas si merah.
“Assalamualaikum.” Pamit Oka dan Arunika yang melajukan si merah meninggalkan Bentari yang menghela napas berat memandang punggung Arunika terlihat rapuh di balik senyum dan tingkah cerianya.
“Abang, nanti aku turun di depan TSM saja.”
“Kenapa?”
“Mau beli sesuatu.”
“Katanya tadi nggak ada.”
Oka melihat pantulan wajah Arunika di kaca spion. Terlihat murung walau berusaha untuk tetap tersenyum.
“Mau beli yang lain.”
“Nanti saja belinya pulang futsal.”
“Hah?!”
“Hari ini tidak ada acara lain kan?”
“Tidak.”
“Ya udah, temanin futsal dulu, pulangnya nanti aku temenin nyari barang yang kamu cari. Mau nggak?”
Mata Arunika membulat dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Mau-mau!” Aruna langsung memeluk Oka dengan semangat tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa jalan dengan Oka.
“Nggak usah peluk-peluk juga kali!”
“Hehehe, khilaf, Bang.”
Wajah Arunika yang murung seketika berubah ceria. Bagaimana tidak, saat ini untuk pertama kalinya dia dibonceng naik motor oleh seorang Asoka Danubrata, pria yang selama ini dia sukai namun sangat sulit untuk diraih. Tak hanya itu, tapi pria dengan rambut gondrong, hidung mancung, matanya sedikit sipit berbingkai alis hitam membuat mata itu terlihat tajam, dengan tinggi sekitar 182 cm yang semakin menambah pesonanya. Dan pria mempesona itu mengajaknya untuk menemani main futsal jadi bagaimana Arunika tidak melonjak gembira sampai khilaf memeluk pria di hadapannya itu.
Ya, namanya juga khilaf … eh, tapi kalau khilaf lagi boleh nggak ya?
“Wiiih! Siapa nih?”
Area futsal seketika heboh melihat Oka masuk dengan seorang perempuan cantik berjalan di sampingnya.
“Tunggu dulu di sana ya.” Oka menunjuk tribun penonton dimana tiga orang perempuan tengah menatap ke arah mereka penasaran. “Itu Latisa, mahasiswi seni pacarnya dia nih.” Oka menunjuk pria yang mengangkat tangan sambil tersenyum iseng.
“Kris, FASILKOM.”
“Beta Wempi. Most wantednya FT.”
“Benar-benar most wanted dalam artian sebenarnya. Dia buronan debt collector.”
“Hahaha.”
Semua orang menertawakan Wempi yang mengumpat mendengar ucapan Oka.
“Kenalannya nanti aja, sekarang duduk dulu di sana sama Latisa dan yang lainnya.”
“Iya.” Arunika tersenyum kemudian berjalan menuju tribun penonton.
“Babe!” Kris berseru memanggil Latisa. “Titip dia ya, calon mantu FT.”
Latisa mengangkat jempolnya sambil tersenyum ramah.
“Anak mana, Ka?”
“FISIP.”
Oka duduk sambil menguncir rambut gondrongnya.
“Kampus kita?”
Kali ini Oka hanya mengangguk mengeluarkan handuk kecil dan headband dari dalam tasnya kemudan memakainya, memastikan rambutnya tidak akan menghalangi pandangannya nanti.
“Maba?”
“Yoi.” Oka berdiri sambil sedikit meregangkan badannya.
“Sialan! Kok gue gak tahu. Kapan PDKT-nya lo?”
Oka hanya tersenyum miring sambil terus melakukan peregangan.
“Akhirnya, ini membuktikan kalau most wanted FT nomal!”
“Sialan lo!”
“Hahaha.”
“Gawat!” Seru Mario sambil menepuk jidatnya.
“Ngapak tay yang gawat? (Apanya yang gawat)” tanya Mantir yang tengah melakukan peregangan.
“Tadi si Kiara nanya gue jadi futsal bareng lo-lo pada nggak? Ya gue bilang jadi.”
“Terus apanya yang gawat, Maliiih!”
“Lha, lo semua kan pada tahu si Kiara demennya sama siapa.”
Semua kini menatap Oka kemudian menatap ke arah tribun penonton dimana Arunika terlihat bebincang bersama Latisa dan yang lainnya.
“Bener. Gawat!”
“Lo urus itu,” ucap Oka sambil menyampirkan tasnya ke bahu kanan lalu berjalan ke arah tribun mendekati Arunika. “Nitip Ya.”
Sambil menahan senyum malu Arunika menerima tas Oka lalu menaruhnya di pangkuan.
“Aku seperti lagi nungguin pacar yang lagi latihan futsal.”
“Di dalamnya ada coklat, makan saja kalau mau.”
Oka kembali kepada teman-temannya tak memedulikan ucapan Arunika. Dia sudah terbiasa mendapat gombalan dari gadis yang kini tengah diberondong pertanyaan-pertanyaan penasaran dari Latisa dan teman-temannya.
Dan entah kapan Kiara dan teman-temannya datang, tapi ketika Oka dan teman-temannya tengah turun minum, empat orang mahasiswi ekonomi sudah duduk manis di tribun penonton tak jauh dari Arunika.
“Bro, Kiara sudah datang tuh,” ucap Kris membuat semua orang menatap ke tribun.
“Biarin saja, itu urusannya Mario ... Yo, lo urusin ya.”
“Kok gue?”
“Ya iya kan lo yang ngajak dia.”
“Gue nggak ngajak. Gue cuma bilang kalau kita hari ini jadi futsal. Terus dia nanya boleh datang buat nonton ngga? Ya gue bilang boleh.”
“Itu tandanya lo izinin dia datang, sama aja lo ngajak dia.” Kemal mengambil botol minum yang berada di bangku lalu meneguk isinya.
“Dia tidak bilang datang ke sini buat ketemu gue kan?”
“Enggak sih.”
“Ya udah, berarti gak ada urusannya sama gue.”
“Tapi …”
“Ya udah biarin saja, siapa tahu dia datang ke sini mau ketemu kakak Wempi yang manis ini.”
“Wuuu …!”
Wempi harus menerima sorakan juga lemparan handuk bakas bekas keringat teman-temannya yang telah kembali masuk ke lapangan.
Di tribun atas Arunika telah akrab dengan Latisa dan kedua temannya terlihat antusias menonton pertandingan. Atau bagi Arunika lebih tepatnya menonton Oka, karena dia tak peduli ke gawang mana bola itu bersarang selama ada Oka di sana, maka itu menyenangkan.
Melihat Oka yang semangat berlari ke sana – ke mari mengejar bola, sesakali dia terjatuh, mengumpat, tapi kemudian tersenyum lebar ketika dia atau teman satu timnya berhasil mencetak gol. Tubuhnya basah oleh keringat, kaos futsal berwarna merah dengan aksen putih menempel di tubuhnya, begitu pula dengan rambut gondrongnya yang dikucir kuda sudah basah oleh keringat. Namun itu semua malah membuat aura lelaki Oka semakin menguar, jadi tak heran ketika empat perempuan yang baru datang tadi juga terlihat terpesona oleh sosok Asoka Danubrata.
Arunika tidak mengenal keempatnya, mungkin mereka seperti tiga teman barunya adalah kekasih dari teman-teman Oka, tapi dari beberapa percakapan keempatnya yang sekilas tertangkap Arunika, sepertinya salah satu dari mereka menyukai Oka.
Saingan? Tidak masalah, setidaknya Arunika datang atas ajakan Oka dan dibonceng naik motor. Tolong dicatat … dibonceng naik motor! Jadi bisalah pura-pura khilaf sedikit ketika Oka mengerem. Walau tidak dadakan.
“Ayo! Mereka sudah selesai tuh!”
Latisa dan yang lainnya berdiri disusul Arunika juga Kiara dan teman-temannya. Mereka semua berjalan menuju pinggir lapangan dimana para pria telah duduk berselonjor.
“Hai, ini … kami bawa minuman buat kakak-kakak semua.”
“Wiiiih. Makasih nona cantik.”
Wempi dengan semangat mengambil plastik besar berisi berbagai macam minuman yang langsung diserbu para pria.
“Makasih ya,” ucap Oka sambil mengambil satu botol pocari.
“Sama-sama, Kak.” Kiara tersenyum lebar yang dapat deheman dari para pria dengan mata menatap ke segala arah tak berani menatap ke arah gadis cantik berambut sebahu itu.
“Sering-seringlah datang ke sini, kakak Wempi jadi semangat kalau ada adik Kiara nonton kami.”
“Memangnya boleh, Kak?”
“Tentu saja boleh.”
“Pepet terus Wem!”
“Hahaha.”
Suasana menjadi riuh oleh tawa dan ejekan ketika semua orang mulai menggoda Wempi yang berusaha mendekati Kiara, diam-diam Oka terlihat berjalan mendekati Arunika yang masih berdiri dengan tas tersampir di pundak kanannya yang langsung diambil Oka. Mereka berdua kini duduk di kursi pemain yang berada di pinggir lapangan. Walau berusaha tak menarik perhatian, namun hal itu tak luput dari pandangan semua orang.
Oka membuka tasnya untuk mengambil baju ganti.
“Coklatnya tidak dimakan?” Oka mengangkat coklat yang masih tersimpan di dalam tas.
“Belum, buat di rumah.”
“Pegang.”
“Nitip dulu, aku tidak bawa tas.”
“Mau disatuin sama kaos kotor?”
“Iiih, jorok!” Arunika langsung menyambar coklatnya.
Oka menutup tas lalu menaruhnya di bawah. Tangannya bersiap membuka kaosnya yang basah oleh keringat ketika tiba-tiba saja Arunika berseru.
“Abang!” Tangan Arunika menahan tangan Oka, matanya membulat menatap mata Oka yang terlihat bingung melihat reaksinya. “Jangan buka baju di sini!”
Oka mengerutkan alisnya bingung.
“Kenapa?”
“Imanku tak sekuat itu, Bang, melihat Abang tidak pakai baju … imanku lemah, Bang.”
Walaupun diucapkan dengan suara pelan, tapi itu cukup bisa didengar oleh semua orang yang kini menahan tawa mendengar ucapan Arunika. Oka menghela napas sebelum akhirnya menoyor kepala Arunika menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
“Kalau ngomong yang bener!”
“Aku serius, Bang!” Arunika menarik-narik kaos Oka ke bawah. “Cukup di depanku saja kalau mau buka-bukaan, tapi nanti kalau para saksi, wali dan penghulu sudah bilang sah baru Abang boleh buka-bukaan. Nggak cuma kaos, Bang, buka yang lain juga boleh.”
Arunika membisikan kalimat terakhir, tapi bukan bisikan pada umumnya karena bisikannya kali ini membuat semua orang terbahak, sedangkan Oka menatap arunika gemas. Bukan hanya toyoran yang kali ini di dapat Arunika, tapi sentilan di dahinya yang langsung mengaduh.
“Awww! Abang, iiih sakit!”
“Biar otaknya geser ke tempat yang bener,” ucap Oka sambil berdiri kemudian berjalan ke arah ruang ganti.
Arunika cemberut sambil mengelus jidatnya, matanya diam-diam melirik ke arah perempuan yang tadi tersenyum malu hanya dengan menerima ucapan terima kasih dari Oka. Namun kini senyumnya telah menghilang.
Oke! Melihat ekspresi Kiara sepertinya perempuan itu mengerti, kalau dia sebaiknya mundur dari area ini, karena semua sudah tahu siapa pemenangnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
matcha
mundur wiiiiir🤣🤣🤣
2025-03-05
0
Hana Nisa Nisa
😃😃😃😃
2025-02-25
0
sakura🇵🇸
oka suka sama arunika ya?plis sama ni cewek aja...meskipun manja kayak kakak bi😅
2023-11-19
0