ch 09

Kami masih belum turun dari mobil yang terparkir di area toko buku. Kenapa sih kencan di tempat parkir jadi familiar kalau sama dia?

Nggak elit banget!

"Jadi belajar mantra pengasihan nggak ini?" Aku dengan tidak sabar menuntutnya.

"Kamu serius?" Tanya Al seraya mengetuk-ngetuk kemudi dengan jari telunjuknya. Mungkin sedang menimbang keputusan.

Aku menjawab dengan semangat, "Ya iyalah, aku mau jadi muridmu!"

"Boleh aja, tapi guru spiritual khusus ilmuku tidak boleh menikah dengan muridnya," ujarnya santai.

Hah? Yang benar saja..!!!

Aku melihatnya tertawa ditahan, pasti dia sedang mengerjaiku lagi. Mana ada peraturan murid tidak boleh menikah dengan gurunya?

Tapi… kalau memang iya ada aku yang rugi. "Ya udah nggak usah jadi murid, ajarin aja aku mantranya. Awas kalau cuma main-main!"

"Hm iya… kamu dengerin serius pas aku bacain mantranya nanti ya!"

"Ehh... bentar sayang, aku ambil catatan dulu!" Jedaku, buru-buru mengeluarkan notebook dan pulpen. Lalu serius menunggu apapun yang akan diucapankannya.

"Ulangi…!"

"Aku ambil catatan?"

"Bukan yang itu!"

"Sayang…?" Suaraku jadi pelan dan sarat dengan getaran.

"Iya… aku juga sayang," katanya lucu. Aku mencubit lengannya kesal.

"Serius dikit kenapa sih?"

Akhirnya wajahnya mulai serius. Dia memejamkan mata sebentar dan berkonsentrasi penuh. Aku mengamatinya yang tidak terganggu dengan apapun. Kenapa suasananya jadi terasa seram? Ini belum malam, tapi aku mulai merinding tak karuan.

Tiba-tiba ada angin keras yang lewat di sampingku, seperti ada sesuatu yang keluar dari mobil hingga menerbangkan rambutku sebentar. Bagaimana mungkin ada udara berhembus di tempat tertutup ini?

"Jangan dicatat ya, Beb! Cukup dengarkan saja dan hafalkan! Aku akan membacakannya untukmu tiga kali," lirihnya setelah membuka mata dan menatapku tajam.

Waduh, otakku mana mampu menghafal kalau mantranya panjang. "Kalau aku nggak hafal setelah tiga kali kamu bacakan gimana?"

"Artinya kamu nggak bisa pakai pengasihan ini," ujarnya serius. "Karena turunan sejati akan hafal hanya dalam satu kali mendengarkan."

Aku menelan ludah sebelum bertanya, "Kamu hafal dalam satu kali?"

Dia mengerjap dan tersenyum membenarkan. Artinya dia turunan sejati, lah aku apa?

"Dengarkan dengan serius, ini akan terngiang dan menyentuh bagian lain dari tubuhmu yang tak kasat. Akan bereaksi seperti getaran yang menjalar di seluruh tubuh. Pada saat getaran itu mengumpul di dada, dia akan hilang. Dan dengan sendirinya kamu tidak akan pernah lupa dengan mantranya."

Aku mengangguk dengan takut, belum-belum hawa mistis begitu terasa. Sepi dan mencekam. Aku seperti dibawa ke alam lain, seperti hampa udara. Dan dengan jelas aku mendengar mantra itu dibaca dengan suara lembut, masuk ke dalam telinga dan mengisi jiwaku. Aku memejamkan mata meresapi tiap kata yang keluar dari bibir tipis milik Al.

Sun moto ajiku… tampangku kencono

Sun jalakake jagat wetan...

Godhong kayu kanthil lulut…

Opomaneh jabang bayine si...

Aran karep marang sliraku

Teko welas teko asih…

Satu kali, dua kali dan ketiga kali baru aku merasa ada hawa hangat mengalir cepat di seluruh tubuh, untuk selanjutnya menghilang begitu saja tanpa kusadari. Aku masih gagu dan tercengang dengan apa yang baru saja kurasakan.

"Nanti jabang bayinya si siapa itu disebut namanya, sekalian nama walinya ya Beb!" Terangnya setelah selesai.

"Contohnya?"

"Alaric... bin Andric Himawan," bisiknya dekat sekali. Membuat tegang karena jantungan.

Begitu aku mengangguk suasana kembali seperti semula. Suara yang tadi tidak terdengar sekarang terdengar dengan normal, termasuk suara kendaraan yang lewat. Aneh sekali. Bagaimana ini semua terjadi?

"Ehm… boleh aku tanya sesuatu? Kenapa mantranya nggak boleh dicatat?"

Dia menaikkan alisnya, "Ya biar nggak dibaca orang."

"Trus kenapa suasananya jadi beda saat kamu membacakannya untukku? Aku merasa berada di tempat yang kedap suara, aku hanya bisa mendengar suaramu!"

"Ya biar nggak didengar orang."

Kali ini aku yang mengangkat alis, "Kita di dalam mobil tertutup, siapa yang akan mendengarkan? Apalagi suaramu hanya seperti bisikan."

"Orang halus, Beb. Bangsa lelembut." Ucapnya kalem. Aku yang mendengar kata lelembut langsung membayangkan hantu buruk rupa yang biasa ada di film horor.

"Maksudnya?"

"Ya aku harus menyingkirkan mereka sebelum membacanya, biar tidak didengar dan ditirukan. Trus digunakan untuk mendapatkan tubuh kamu… karena aku harus mengosongkan wadahmu sebelum mengisinya. Jadi aku memasang kubah pelindung untuk kita. Paham?"

"Nggak…" Jujur saja kukatakan itu dengan gelengan keras dan mata memohon maaf.

"Nggak guna ya berarti aku menjelaskan barusan?"

"Nggak sampai otakku buat mengerti, Al! Itu rumit buatku, maaf ya!"

"Ya udah, ayo beli buku aja…!"

"Kamu kesel ya aku nggak bisa paham?"

"Aku justru kesel kalau kamu langsung paham."

"..." Dahiku mengerut penuh tanya.

"Nanti kita malah rivalan…" katanya seraya ngakak melihat ekspresi bodohku.

"Sumpah, kamu tu sebenarnya ngeselin banget orangnya!" Cibirku gemes. Bisa gitu sih jadi cowok, tau aja kalau aku gundah, menghibur banget.

Wajahnya kembali serius, "Beb, pengasihan tadi itu ada harga yang harus dibeli. Nggak gratis untuk bisa pakai mantranya… ntar nggak ngaruh kalau kamu baca untuk asdos yang kamu tuju itu kalau nggak dibayar."

"Aku harus bayar ke kamu gitu? Berapa?"

"Bukan, maksudnya itu dibeli dengan lelaku. Puasa tiga hari, kuat kan?"

Aku berpikir sejenak, "Iya kuat. Kapan aku bisa mulai puasa?"

Dengan cengengesan dia menjawab, "Selasa Kliwon, Rabu legi, Kamis Pahing."

Ini serius apa nggak sih? Lagaknya kayak bukan orang pinter aja.

"Kamu nggak lagi ngerjain aku kan?"

"Nggak beb, ini serius. Nanti aku bantu, kita puasa bareng pas hari itu. Selasa besok kayaknya harinya."

"Dulu kamu juga puasa buat belinya?"

"Nggak, aku dapatnya gratis. Tanpa penebusan apapun." Jawabnya datar, tapi tidak ada kebohongan di matanya.

Aku penasaran, "Kok bisa?"

"Ya kakek yang beli, aku cuma menikmati."

"Kamu yang beli, aku yang pakai bisa? Seperti kasusmu dan kakekmu itu."

"Nggak bisa, Beb! Itu hanya dalam garis keturunan. Itupun orang tertentu saja yang bisa. Misal kamu udah beli sekarang, kalau anakmu memang orang yang diberi kemampuan, tanpa beli lagi dia bisa langsung menggunakannya pada saat kamu menurunkan mantranya."

"Jadi anak kita kemungkinan akan punya kelebihan seperti kamu?"

Dia tertawa, "Anak kita?"

"Aku salah tanya ya?"

"Dah ah yuk turun, ntar kamu milih bukunya lama!"

Pinter banget ngelesnya, bilang aja nggak mau jawab. Susah bener diajak komitmen.

"Aku mau tanya lagi boleh?"

"Hm… apa?" Dia masih sabar rupanya.

"Harus hari Selasa Kliwon gitu mulainya? Nggak bisa hari lain?"

"Bisa... Kamis Wage, Jumat Kliwon, Sabtu Legi. Kamu mau yang mulai Kamis?"

"Ehh maksudnya hari biasa?"

Dia tersenyum simpul, "Itu hari yang direkomendasikan. Kamu tinggal pilih yang mana, kata kakek buyut itu hari bagus buat puasain ilmu kejawen."

"Kakek buyut kamu masih ada? Kok Ara nggak pernah cerita!"

"Udah meninggal…"

"Trus?"

"Trus kita masuk yuk, nanti kalau kelamaan di sini aku bisa khilaf lagi!"

Dasar mesum, jadi dari tadi ngeliat ke arah bibirku itu udah mikir mau cium-cium lagi.

"Tak usah ya!" Kataku galak, nggak bisa lihat ada kesempatan dikit aja.

"Beb…" panggilnya mengiba.

"Aku marah loh nanti..."

Dia tersenyum miring, "Aku ahli meredam marah orang, mau coba?"

"Kamu ini kenapa sih suka maksa?" Aku menjauhkan wajahku dari hadapannya. Takut kena serangan cepatnya.

"Kalau kamu mau aku bisa bantu asdos itu langsung tunduk sama kamu, nggak usah pake repot-repot puasa. Aku cuma mau bilang itu, bukan mau cium kamu!"

Bisa juga dia terdengar kecewa.

Aku menahan tawa ketika melihatnya. "Maaf ya, aku udah salah sangka barusan. Kirain hm…"

Alasan…!!

Tamat sudah kalimatku dibungkam mulutnya yang hari ini sungguh nakal dan tidak sabaran. Masa bodo dengan kencannya sama Lucia nanti malam, yang penting hari ini aku puas menikmati waktu bersama dan penuh kejutan.

Kalau bisa bahagia sekarang kenapa harus menundanya untuk masa depan?

***

Terpopuler

Comments

Omar Diba Alkatiri

Omar Diba Alkatiri

ini boleh di praktekkan ga Thor beneran

2024-12-06

1

Omar Diba Alkatiri

Omar Diba Alkatiri

ada lelakunya ga Thor kayak puasa atau apa gitu...hahha sekalian belajar

2024-12-06

0

Ass Yfa

Ass Yfa

didong cuma dikit2 cuplikan nya, wes sini komplit

2024-04-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!