Ana dan Alerdo keluar dari ruang dansa. Aleardo tidak tahu ana akan membawanya kemana. Sebelum mereka melanjutkan perjalannya. Pelayan pribadi Ana, Lila mendekat dan mengucap sesuatu pada gadis itu dengan berbisik. Sebenarnya Aleardo sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan keduanya tapi dia mencoba menghilangkan keinginan itu. Dia ingin memberikan ruang untuk Ana. Selain itu Ana tidak sedang berbicara dengan pria.
"Lila sudah kamu bawa barang itu?" tanya ana pada lila sambil berbisik karena dia tidak ingin Aleardo mengetahuinya.
"Sudah nona, Apa sekarang saya bawa benda itu?" ucap lila.
"Kamu bawa pada saat beberapa menit sebelum tepat tengah malam. Karena waktunya tinggal beberapa saat lagi." ucap Aleardo.
"Baik nona." ucap lila.
"Ayo Aleardo kita lanjutkan jalan-jalan. Aku dengar dekat sini ada taman yang indah. " Ucap Ana sambil menarik tangan Aleardo.
Aleardo tersenyum lebar saat tangannya berpegangan dengan Ana. Dia sangat bahagia walaupun ini bukan pertama kali bagi mereka. Tapi apapun tentang Ana selalu membuatnya tertarik dan bahagia.
Mereka sampai di sebuah taman dengan bunga mawar warna warni. Sangat Indah itulah kata yang pasta untuk mengdiskripsikan tempat ini. Malam dengan sinar bulan dan tebaran bintang di langit biru gelap itu.
Ana menatap keindahan bintang-bintang yang tidak bisa dia dapatkan di dunianya sebelumnya. Dunia aslinya sudah terlalu banyak pencemaran lingkungan yang membuat bumi menjadi tidak seindah dunia ini. Sejujurnya dia sedikit merasa bersyukur dapat hidup kembali di sini. Walaupun dia juga belum menemukan alasan kenapa dirinya bisa bangun di dalam novel ini menjadi sosok orang lain. Dia sudah tidak begitu mempermasalahkan alasan kenapa dia berada di novel ini. Salah satu hal yang membuatnya bisa nyaman adalah pemuda yang berada di sampingnya.
Ana masih tidak menyangka berawal dari menolong sorang anak laki-laki yang sedang dilukai oleh segerombolan pria. Awalnya dia hanya merasa empati dengan nasib anak laki-laki itu. Kehidupannya sangat tidak beruntung terbanding dengan hidup keduaku yang sangat beruntung. Karena dikelilingi oleh orang menyayangi Ana. Saat dia melihat kehampaan dalam mata Aleardo, dia sangat ingin menarik anak laki-laki itu dari kegelapan dan kehampaan di kehidupannya. Hal itu karena Ana merasa kalau dia akan seperti Aleardo kalau tidak dikelilingi oleh orang-orang sayang dengannya.
Secara tiba-tiba bangun di tempat yang tidak dikenali. Dia tidak tahu harus apa karena dunia itu bukan tempatnya. Tidak memiliki tempat bersandar dan berteduh. Dia sendirian di tempat asing. Hal itu yang dia takutkan jika tidak bertemu dengan ayah, bundanya, kak lila, para ksatria, dan pelayan.
Tapi kebersamaannya dengan Aleardo membuat Ana nyaman bertahan di sisi pemuda itu. Walaupun pemuda itu memiliki sifat yang sangat menyebalkan. Ana harus lebih sabar menghadapi setiap tingkah pemuda itu. Hingga terkadang dia selalu menuruti setiap permintaan Aleardo tanpa memperdulikan alasan pemuda itu. Dia begitu mempercayai setiap perkataan Aleardo.
Selama Aleardo berada di medan perang, berbagai pertanyaan muncul mengenai hubungnya dengan Aleardo. Dia begitu membutuhkan keberadaan Aleardo. Walaupun terkadang pemuda itu terlalu mengaturnya. Dia bahkan sadar selalu saja menghabiskan waktu seharian menemani pemuda itu di perpustakaan dengan iklas. Meskipun terkadang Ana suka memprotes permintaan Aleardo tapi bukan protes dengan sepenuh hati. Dia hanya merasa bosan dan ingin marah-marah saja pada pemuda yang tidak akan memperdulikan ucapannya. Tapi Ana juga tidak pernah membawa ke hati perkataan yang menyakitkan dari mulut pemuda itu. Karena dia tahu Aleardo tidak sepenuh berbicara seperti itu.
"Apa kamu akan hanya menatap langit seperti itu putri tidur?" tanya Aleardo.
Sebenarnya Aleardo tidak mempermasalahkan Ana diam tanpa mengucapkan kata. Karena sejak awal dia melihat wajah bahagia saat menatap pamandangan langit malam ini. Tapi sesaat itu dia melihat Ana seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya dia bisa menggunakan sihirnya untuk membaca isi pikiran Ana. Namun dia ingat janji pada gadis di sampingnya untuk tidak pernah menggunakan sihir itu tanpa seizinnya.
"Pemandangan malam ini sangat indah bukan?" tanya Ana.
"Ya indah, Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini Ana? Ceritakan pada aku seperti biasa. Agar aku tidak menggunakan sihir untuk membaca isi pikirkan kamu." ucap Aleardo sambil mengelus puncuk rambut Ana.
"Jangan kamu gunakan sihir itu atau aku akan marah seperti waktu itu. " Jawab Ana dengan nada yang sedikit kesal.
Ana masih trauma dengan sihir itu yang membuat Aleardo bisa membaca isi pikirannya. Masalahnya waktu itu Aleardo masih mencoba dan ternyata efeknya pemuda itu bisa membaca pikiran Ana selama 3 hari. Selain itu orang lain juga bisa mendengarkan isi pikirannya. Itu membuat rencana kaburnya diketahui sang ibu untungnya Aleardo langsung membantunya pergi ke taman lavender di waktu ibunya hampir menariknya pergi ke pesta nona bangsawaan.
"Makanya ceritakan? Lihar wajah kamu kalau dipakai mikirin sesuatu pasti langsung mengkerut." ucap Aleardo.
"Aku hanya merasa waktu begitu cepat berlalu hampir 2 tahun kita bersama. Padahal dulu aku hanya berniat membantu seorang bocah laki-laki yang terluka di gang jalan menuju rumah. Sekarang kamu sudah tumbuh menjadi pemuda gagah berani heheh. Padahal dulu badan kamu kecil banget kayanya kalau ketiup angin bakal terbang hahahha." ucap Ana.
"Aku tidak seringan itu sampai angin dapat meniupkanku."
"hahahaha ya kamu benar. Tapi aku merasa sangat bersyukur tahu waktu bisa bertemu kamu Aleardo. Kamu menjadi salah satu orang yang penting di hidup aku. Walaupun aku masih suka sebal dengan sikap menyebalkan kamu." ucap Ana kesal mengingat sikap suka mengatur hidupnya. Tapi setiap hal itu sebenarnya demi kebaikan Ana.
"Aku juga sangat berterima kasih diizinkan bertemu denga kamu dan berdiri di samping kamu seperti saat ini." ucap Aleardo.
"WOW, Aku sangat terkejut seorang Aleardo akhirnya mengucapkan terima kasih walaupun entah pada siapa." ucap Ana yang mengejek perkataan Aleardo.
Pemuda itu hanya membuang nafas karena sedikit sebal dengan ucapan Ana walaupun itu hanya sesaat. Dia melihat ana tiba-tiba berjalan menjauhinya dan mendekati Lila, pelayan Ana. Dia kembali menatap langit dan mengingat kenangannya bersama Ana selama 2 tahun belakangan ini. Padahal dulu dia pernah berharap untuk segera dicabut nyawanya karena kehidupannya terlalu melelahkan. Lahir dengan fisik yang sangat dibenci oleh kerajaan karena dianggap sebagai pembawa marapetaka. Selain itu dia melihat kematian orangtuanya karena ingin melindunginya dari amukan warga desa. Padahal ayahnya memiliki gelar bangsawan tapi kematian orangtua tidak begitu diperhatikan karena keberadaannya.
Tapi saat dia sudah mulai menyerah malah seorang gadis mengulurkan tangannya untuk kembali kuat dan menjalankan hidupnya kembali. Gadis yang sangat manja pada kedua orang tuanya. Gadis yang lahir dengan kehidupan berbanding terbalik dengan nasibnya. Gadisnya yang seharusnya membuatnya membenci keberadaanya karena kehidupannya yang terlalu indah. Tapi uluran tangannya membuat semua hal itu hilang. Semua pikiran negatif tentang gadis itu hilang. Dia hanya melihat seorang nona bangsawaan yang ingin menjadi seorang yang kuat dan dapat berdiri di kedua kakinya sendiri. Seorang yang selalu membuatnya khawatir karena dia tidak memperdulikan kesehatan tubuhnya sendiri. Gadis yang membuatnya selalu pusing karena mendengar semua perkataan yang tidak berguna menurutnya. Tapi Aleardo sadar tanpa gadis itu, dia tidak akan bisa bertahan karena alasannya hidup di dunia ini adalah Anabella Rose Natlastion. Aleardo menyimpan perasaan sejak gadis itu membawanya dari kegelapan hidupnya.
Aleardo sadar dari lamunanya setelah seseorang mengguncang badannya dengan kecang dan teriakan namanya yang menggema di telingannya. Aleardo menatap Ana yang kesal padanya. Mungkin Gadis di sampingnya sudah memanggilnya sejak beberapa saat lalu tapi Aleardo tidak sadar.
"Kenapa melamun ih? Awas nanti kesurupan sudah tempat ini sepi. Nanti gak lucu kalau orang lain tahu. Seorang pahlawan yang telah memenangkan perang di perbatasan barat dirasuki oleh seorang arwah." ucapan Ana tidak dimengerti oleh Aleardo dan pemuda itu tidak ada niat untuk bertanya kembali karena pasti gadis di sampingnya tidak akan menjawabnya yang pada akhirnya Ana akan bilang ' KEPO ih'.
"Sudahlah, kita pulang. Sepertinya Acara pesta juga sudah selesai." ucap Aleardo. Pemuda itu menarik Ana untuk pulang tapi berhenti saat gadis itu tidak ikut berjalan.
"Bentar ih ada hal penting yang mau aku katakan pada kamu Aleardo."
"Apa? tidak bisa nanti saja. hari sudah sampai tengah malam dan kamu bisa sakit kalau terlalu lama terkena angin malam."
"Selamat Ulang tahu Aleardo, Tukang sihir sekarang sudah berusia 15 tahun. Ini hadiah buat Aleardo. Jadi Ana menjadi orang terakhir yang mengucap selamat ulang tahu buat Aleardo." Ucapan Ana membuat Aleardo sangat terkejut. Dia pikir gadis di depannya sudah tidak mengingat hari ini. Padahal tahun lalu Ana menjadi orang pertama yang mengucapkannya.
"Kamu tidak ingin mengucapkan Terima kasih gitu." sindir Ana karena Aleardo masih terdiam dan menatap Ana saja. Secara tiba-tiba Aleardo menarik tubuh Ana kedalam pelukannya.
"Terima kasih putri tidur, Aku pikir kamu lupa sama hari ini." ucap Aleardo yang membuat Ana tersenyum melihat pemuda itu bahagia.
"Cih emang tukang sihir yang selalu lupa dengan hari aku. Sekarang buka kadonya dong." ucap Ana.
Aleardo membuka hadiah yang diberikan oleh Ana yang dibungkus oleh kertas. Saat dia membuka kotak yang tadi di lapis oleh kertas itu. Dia terkejut isinya adalah pedang yang berwarna hitam legam dengan sebuah permata rubby di tengahnya. Sangat indah menurut Aleardo.
"Pedang itu seperti Aleardo yang berambut hitam dan bermata merah darah. Semoga Aleardo suka ya. Ayo pulanga." ucap Ana setelah dia merasakan hawa dingin mulai membuat rambut-rambut tubuhnya berdiri.
Aleardo mendekat tubuh Ana dan mereka berdua langsung berpindah ke mansion marques. Sebelum pergi meninggalkan pesta pemuda itu sudah mengirimkan pesan kepada marques agar tidak usah menunggu mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments