Setelah sampai mansion, Ana langsung berjalan menuju kamarnya untuk bersih- bersih. Begitu juga dengan Aleardo. Ana terdiam di dalam bathtub. Dia memikirkan apa yang terjadi pada Aleardo malam ini. Pemuda itu selalu kesakitan setiap malam bulan purnama namun terusan-terusan yang awalnya muncul di wajah Aleardo sudah tidak pernah lihat. Ana selalu menemani Aleardo saat malam bulan purnama.
Beberapa hari ini Ana sering membaca buku mengenai jenis-jenis mana di kamarnya sebelum tidur. Dia tidak ingin Aleardo mengetahui niatnya untuk mempelajari mananya. Pemuda itu sudah tahu kalau Ana tidak boleh menggunakan mana karena memberikan efek samping pada kesehatan jantungnya. Tapi Ana tidak tahu anak laki-laki itu tahu darimana mengenai hal itu. Mungkin dari ayah karena kedua orang itu sangat dekat sejak Aleardo ikut latihan berpedang. Bisa dibilang Aleardo adalah ksatria yang sangat diandalkan oleh ayahnya. Bagaimana tidak pemuda itu sangat ahli berpedang dan sihir. Terlalu sempurna bukan pemuda itu. Jangan lupakan wajah tampan dan badan tingginya. Aleardo sudah tidak pendek setelah makan-makan sehat tubuhnya tumbuh dengan cepat tidak seperti dirinya yang sangat sulit untuk tinggi. Rasanya tumbuh ana hanya bertambah beberapa centi.
"Apakah aku coba saja sihir penyembuh itu?" ucap ana.
Dia sudah mengetahui jenis mananya. Mana hijau merupakan tipe penyembuh. Mana yang sangat sulit ditemukan karena sangat luar biasa jika digunakan dalam bidang kesehatan. Selain itu mana hijau bisa menjadi berancun jika digunakan untuk bertarung. Namun penggunaan mana hijau juga memberikan dampak yang buruk untuk penggunanya seperti halnya ana. Jantungnya terlilit oleh benang mananya.
"aku hanya tidak boleh menggunakan secara berlebihan bukan jadi tidak masalah aku coba pada al........." ucapan ana terpotong saat mendengar teriakan kesakitan yang cukup keras. Dia tahu itu berasal dari Aleardo. Segera ana menyelesaikan mandinya dan menggunakan baju tidur. Suara Aleardo malam ini sangat menggema bahkan dia melihat awal diluar sangat gelap dengan bulan berwarna merah.
"Sepertinya malam ini berbeda seperti sebelumnya." ucap ana dalam hati. Saat dia keluar menuju kamar Aleardo. Dia melihat kedua orang tuanya yang berwajah pucat setelah keluar dari kamar Aleardo.
"Sebaiknya kamu tidak mengunjunginya." ucap ayah ana.
"Kenapa ayah? aku tidak mungkin membiarkan Aleardo merasakan sakit itu sendirian." ucap ana.
"Kamu tahu ana, Itu kutukan yang sangat ditakuti oleh kerajaan. Keradaannya seharusnya dihilangkan dari bumi ini. Karena akan memberikan marapetaka." ucap ayahnya. Sebenarnya Marquess xieben terkejut saat mengetahui anak laki-laki yang diselematkan anaknya adalah anak terkutuk yang harusnya dibunuh. Tapi Marquess tidak mengambil langkah gegabah apalagi pemuda itu sangat disayangi oleh anaknya. Tapi malam ini pemikiran marquess berubah saat melihat kutukan yang terjadi pada Aleardo. Dia seperti melihat bencana yang akan terjadi. Seluruh tubuh pemuda itu dikelilingi asap hitam. Hal itu membuat marques xieben dan istrinya merasa takut. Perasaan yang sangat tidak nyaman.
"Ayah tenang saja, Ana yakin Aleardo bukan marapetaka tapi sebuah mukjizat. Jadi biarkan ana bertemu dengan Aleardo." Awalnya ayah ana ingin menolak tapi milihat kesungguhan anak gadisnya yang membuatnya luruh.
"Tapi sayang."
"Kita serahkan pada ana, sebaiknya kita kembali ke kamar." ajak ayah ana kepada istrinya.
"Aleardo." panggil ana.
Ana terkejut melihat keadaan Aleardo. Sebuah asap hitam menyelimuti tubuh pemuda itu. Selain itu dia dapat mendengar suara kesakitan dari Aleardo. Ana mendekat namun suara Aleardo membuat gadis itu terhenti.
"Pergi ana jangan mendekat, Ini tidak seperti biasanya." ucap Aleardo dengan suara lirih. Tapi ucapan Aleardo tidak membuat ana berhenti dari niatnya mendekat.
Ana merahi tangan Aleardo dan secara cepat kabut hitam itu berpindah mengerubungi Ana. Sontak itu membuat pemuda itu terkejut dan mencoba melepas pegangan tangannya. Tapi itu tidak semudah itu. Aleardo sadar ada yang tidak benar ternyata gadis itu menangalirkan mana pada tubuh Aleardo.
"Hentikan Ana ini akan melukai kamu." ucap Aleardo tapi tidak dipedulikan oleh Ana.
"Bukankah aku sudah berjanji untuk selalu ada disisi kamu. Aku tidak mungkin membiarkan kamu merasakan sakit itu sendirian." Setelah ucapan itu Ana pingsan dan asap hitam menghilang. Hal itu membuat Aleardo terkejut. Namun saat dicoba mengecek kondisi gadis itu ternyata hanya terlelap. Segera Aleardo memindahkan gadis itu ke kamarnya menggunakan teleportasi.
"Apa yang kamu lakukan? Tubuhku serasa ringan dan seakan semua beban itu terangkat." ucap pemuda itu sambil mengelus dahi ana.
Ana terbangun dan melihat sekelilingnya berisi asap hitam. Dia sangat bingung, seingatnya tadi dia sedang berada di kamar Aleardo. Tapi sekarang dia berada di tempat yang tidak diketahui. Ana berjalan tapi hanya ada kabut hitam yang bisa lihat. Hingga dia melihat seseorang pemuda. Dia berjalan semakin dekat pemuda itu dan sadar kalau itu Aleardo. Ana sangat hafal perawakan pemuda menyebalkan itu.
"Aleardo, Itu kamu kah?" panggil ana tapi tidak ada jawaban. Ana masih mencoba mendekat hingga pemuda itu membalikan tubuhnya. Dia terkejut melihat setengah wajah Aleardo penuh dengan tulisan aneh seperti waktu itu. Ana meraih kedua pipi Aleardo dan mendekati wajah itu ke depan wajahnya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Ana pada Aleardo.
"Menjauhlah manusia menjijikan." ucap Aleardo yang berakhir penikam perut Ana dengan kuku panjangnya. Ana terkejut akan tindakan Aleardo. Tapi dia akan menyelamatkan Aleardo seperti niatnya sebelumnya.
"Sekarang kamu sadar kalau aku berbahayakan Ana? Aku hanya marapetaka untuk orang terdekat." ucap Aleardo dengan senyum mengejeknya.
Ana sadar kalau pemuda itu sedang dikendalikan oleh sisi gelapnya. Dia sering mendengar ucapan Aleardo yang menyuruhnya menjauh karena dia marapetaka. Seperti tekadnya dia akan membuktikan kalau Aleardo bukanlah marapetaka. Ana menarik tubuh besar Aleardo kedalam tubuh kecil Ana.
"Sudah Ana bilang kalau Aleardo bukan marapetaka. Aleardo adalah mukjizat yang diberikan oleh dewa untuk Ana." ucapan Ana membuat seluruh asap hitam yang tadi menyelimuti mereka menghilang. Ruangan itu menjadi putih tanpa ada noda seperti itu.
"Harusnya kamu melepaskan aku Ana." ucap Aleardo yang mulai mengeluarkan air mata. Ana menggelengkan kepalanya.
"Ana sudah berjanji selalu berada di sisi Aleardo bukan? jadi jangan dorong Ana dari sisi Aleardo. " ucapan Ana membuat Aleardo semakin menangis. Pemuda itu sangat tidak percaya gadis kecil di depannya menyelamatkannya lagi.
"Aleardo tidak cocok nangis, Ana lelah. Izin Ana buat tidur sebentar Aleardo." ucap Ana yang berakhir dengan tubuhnya jatuh lemas di atas tubuh Aleardo.
"Terima Kasih."
Aleardo yang sedang menjaga Ana yang sedang tertidur terkejut saat melihat asap hitam menembus perut Ana. Darah keluar dengan banyak dari luka itu. Aleardo sangat ketakutan saat melihat itu. Dia meminta pelayan memanggil tabib. Beberapa saat Marquess dan istrinya datang.
"Apa yang terjadi pada Ana, Aleardo?" tanya marquess sambil menarik kerah baju tidur Aleardo. Pemuda itu menggelengkan kepala. Air mata sudah jatuh di kedua pipi Aleardo. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Ana setelah kabut hitam menghilang.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tubuh Aleardo yang membuat ruangan gelap itu seketika terang. Cahaya itu melingkupi tubuh Ana dan membuat luka itu tertutup. Darah yang tadi membasahi tempat tidur juga hilang. Semua hal itu membuat setiap orang dalam ruangan terkejut.
Beberapa saat tabib datang dan mengecek kondisi Ana. Tabib itu menyatakan kalau kondisi ana dalam keadaan yang sangat baik. Hanya saja fakta mengejutkan yang diucapkan oleh tabib.
"Nona mungkin tertidur lebih lama dari sebelumnya. "
":Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya marquess marah.
"Tubuh nona sangat dalam keadaan fit tapi otak nona sepertinya mengalami perlambatan kinerja. Ini baru pertama kali saya lihat. Tapi Saya bisa bersumpah nona ana hanya tertidur dan pasti akan bangun kembali walaupun membutuhkan waktu yang lama." ucap tabib.
Seluruh orang di ruangan itu bisa sedikit bernafas lega karena gadis itu hanya tidur saja. Walaupun waktunya memang sangat lama mungkin.
"Aleardo, say memang marah dengan hal yang terjadi pada Ana. Tapi Semua ini terjadi akibat pilihan gadis keras kepala ini. Jangan menyalahkan diri kamu atau Ana akan sangat marah." Ucap Marques.
Setelah semua orang meninggalkan kamar Ana hanya tertinggal Aleardo yang masih duduk disamping Ana. Pemuda itu mengelus tangan ana dengan lembut.
"Sekali lagi aku membuat nyawamu terancam." ucap Aleardo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments