Setelah sarapan, ana mengistarahatkan tubuhnya kembali. Sebenarnya dia juga belum merasa tenanganya sudah terisi semua. Saat dia sadar hari sudah tengah siang. Dia berjalan menuju ruangan aleardo kembali untuk mengajaknya makan siang bersama setelah mengetahui kalau anak itu juga belum makan. Setidaknya aleardo tadi pagi sudah mau makan walaupun dia harus berteriak-teriak.
"Hey kenapa kamu belum makan ?" tanya ana setelah masuk ke dalam kamar itu.
"kamu tidak ketuk dulu pintu. padahal ada pintu buat di ketuk." ucap aleardo yang membuat ana kesal mendengarnya.
"Hey jangan mengalihkan kamu aleardo." ucap ana. dia duduk di samping aleardo dengan kedua tangannya dilipat di dadanya.
"Aku belum lapar." ucap aleardo.
"Masasih, aku saja sudah lapar."
"karena kamu itu babi yang suka makan." ucap aleardo.
"hey kamu bilang aku babi? gadis secantik ini kamu panggil babi. Lihatlah babi dari mananya." ucap ana sambil menarik wajah aleardo biar menatapnya. Seketika aleardo terpesona pada wajah imut ana.
"ini seperti babi." ucap aleardo sambil menyubit kedua pipi ana.
"Apa? pipiku tidak seperti babi." ucap ana kesal.
"Sudahlah anak kecil berhenti menolak tadirmu yang seperti babi." ucap aleardo.
"kamu juga anak kecil tahu. emang umur kamu berapa tahun sih?" tanya ana kesal menyebutnya anak kecil.
"Tahun ini 14 tahun. aku lebih dewasa dari padamu anak kecil."
"hanya beda 2 tahun saja kamu sombong cih." ucap ana sambing mengalihkan wajahnya karena kesal saat tahu pria disampingnya lebih tua. Walaupul tubuhnya terlihat seumur dengannya karena kekuranga gizi.
"Tapi kamu tidak terlihat seperti umur 14 tahun bahkan badan kita sepantar. Jadi banyaklah makan jangan diingat lagi saat hidup kamu dulu." ucap ana dengan nada jutek yang membuat senyum tipis muncul di wajah aleardo.
"baiklah tuan putri babi." ucap aleardo yang membuat ana marah lagi tapi hanya sebentar saja hingga lila datang membawa makan siangnya. "Kita makan di sana saja. kamu tidak bosan duduk di kasur itu atau pantat kamu bisulan?" ucap ana sambil berjalan ke sofa yang ada di ruangan itu. Sedangkan anak laki-laki tidak memperdulikan ucapan ana.
"Aku tidak marah karena tidak merasa. Tidak seperti kamu yang malu mengakui." ucapan aleardo membuat ana kalah kembali untuk mengejek aleardo.
"Gimana kamu sajalah cape aku debat sama kamu." ucap ana yang mulai memotong steaknya.
"kamu yang mengajakku debat kalau kamu harus ingat putri babi." ucap aleardo.
"Sudah makan saja jangan banyak protes." ucap ana mengakhiri pembincaraan antara keduanya.
Setelah menyelesaikan makan siang, ana mengajak aleardo berkeliling rumahnya. Selama berkeliling keduanya tidak pernah berhenti berdebat yang tentunya selalu dimenangkan oleh aleardo. Sedangkan pelayan yang melihat tingkah dua anak kecil itu tak bisa menahan tawa dan gemas apalagi beberapa kali ana mengembangkan pipinya. Hal itu membuat orang-orang yang melihatnya gemas.
Akhir dari keliling adalah tempat latihan pasukan ayahnya. Pada saat ana datang para ksatria langsung mendekati ana dan menanyakan keadaan gadis itu. Hingga Aleardo tergeser dari tempat itu. hal itu yang membuatnya sebal karena perhatian ana teralihkan darinya.
"Ana sudah baik-baik kok, Besok juga ana bakal latihan kembali. " ucap ana.
"Nona ana sebaiknya istirahat dulu kan baru siuman masa sudah latihan lagi." ucap salah satu ksatria bernama Thio.
"Tenang saja ana sudah sehat dan ana juga mau ngenalkan seseorang nih." Ucap ana sambil menarik badan Aleardo mendekat ke samping ana.
"Siapa dia nona ana?" ucap salah satu ksatria yang memberikan wajah tidak suka tapi tidak disadari oleh ana. Sebenarnya hampir semua ksatria memberikan tatapan ketidak sukaan pada Aleardo. Karena menurutnya dia mengambil perhatian nonanya yang imut ini.
"Namanya Aleardo, dia bakal ikut latihan sama ana dan tinggal bersama sama ana."
"APA? TINGGAL BERSAMA." Teriak seluruh ksatria yang membuat ana terkejut dan bingung sedangkan Aleardo mengerti kalau ksatria itu sangat memuja gadis di sampingnya. Beruntung gadis di samping tidak sadar pada situasi itu.
"ya tinggal di rumah bareng keluarga ana, ayah sudah mengizinkannya. Selain itu Aleardo akan dimasukkan kedalam keluarga Natlastion." ucapan ana membuat aleardo dan para ksatria terkejut.
"Sebagai kakak angkat nona ana?" tanya salah satu ksatria.
"Ih gak mau lah Aleardo jadi kakak ana. Harusnya juga ana jadi kakaknya."
"Gak mungkinlah umur kamu lebih muda nona ana." ucap aleardo.
"cih sombong tua, kata ayah sih masuk jadi bagian keluarga Natlastion sisanya ana gak peduli sih." ucap ana cuek. anak gadis itu melihat ayahnya sedang berjalan padanya.
"ayah."
"hallo anak sayang, kenapa kalian berhenti berlatih cepat kembali berlatih."
"siap komandan." ucap para ksatria dengan wajah pucat karena ketahuan berhenti latihan.
"bagaimana badan kamu nak?" tanya ayah pada ana.
"baik yah." ucap ana dengan diakhiri senyum.
"baguslah, kamu bagaimana....?"
"aleardo ayah, dia namanya aleardo."
"Bagiamana kondisi kamu nak aleardo?" tanya marquess xieben dengan ramah. Sudah bukan hal aneh dengan sikap ramah marquess pada orang-orang tapi saat ada yang mengusik orang terdekat pria tua itu bisa sangat menyeramkan.
"Terima kasih atas jasa tuan marquess menolong saya. saya sudah baik tuan."
"syukurlah, kamu harus berterima kasih pada ana karena dia yang meminta saya menyelematkanmu. Kamu tidak perlu berbicara forma. Kamu bisa seperti ana berbicara pada saya dan istri saya. Selain itu panggil saja paman. Karena saya sudah memasukkan kamu dalam keluarga saya." ucapan marquess membuat ana tersenyum lebar dan menunggu ucapan terima kasih dari aleardo.
"Terima kasih Ana."
"Sama-sama Aleardo." balas ana dengan tersenyum. "Ayah, ana berniat mengajak aleardo ikut latihan berpedang besok apakah boleh?" tanya ana.
"Tentu, dia sudah menjadi keluarga Natlation jadi tentu belajar bepedang hal wajib untuk anak laki-laki."
"Terima kasih ayah."
"Sama- sama sayang, kamu anggap saja kita keluarga aleardo. Jadi buatlah dirimu nyaman."
"Baik, Terima kasih kembali pada paman xieben."
"Tentu, ayah ada urusan yang harus dikerjakan. Kamu bisa berkeliling lagi tapi ingat kesehatanmu sayang." ucap ayah anabella setelah meninggalkan mereka berdua.
"Ayo kita minum teh di rumah kaca." ajak ana pada aleardo yang menarik pria itu.
"Bagaiman kalau ke perpustakaan. Aku lebih tertarik tempat itu."
"Cih dasar si gila buku, ayo." ucap anabella. Kenapa dia tahu akan kesukaan aleardo karena saat ana ajak ke perpustakaan tadi pancaran ketertarikan dari kedua mata aleardo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments