Setelah Raindhen pergi meninggal Ana dan Aleardo keheningan muncul di keduanya. Ana yang sadar dengan muka kesal dari Aleardo sangat senang. Karena sangat jarang yang bisa membuat muka pemuda yang berumur 15 tahun besok malam malah seperti saat ini.
"Aku tidak menyangka akan mendapat penggemar seperti tuan muda Raindhen. Aleardo. Kalau dilihat-lihat wajah tuan muda Raindhen tampan juga ditambah dengan sikap manisnya. Lama-lama hati Ana kepincut juga." ucapan Ana membuat api kecemburuan pada Aleardo. Sedangkan gadis itu tidak sadar kalau pemuda di sampingnya sedang cemburu.
"Cih sama denga pemuda gemulai itu saja kamu bangga. Seperti yang sudah aku katakan jangan berdekatan dengan pemuda lain atau aku pastikan kamu tidak bisa berpedang selama seminggu." ucap Aleardo.
Aleardo meninggalkan Ana yang kalang kabut dengan ancaman pemuda itu. Masalahnya kalau Aleardo sudah mengucapkan ancaman seperti itu dia melanggarnya maka dia akan terkurung di dalam perpustakaan bersama Aleardo seharian. Ana tidak bisa kabur karena pemuda licik itu akan menggunakan sihirnya untuk membawanya ke perpustakaan menggunakan Teleportasi lalu sihir penyegelan pada seluruh ruang perpustakaan.
"Aduh bisa-bisa aku memancing singa tidur." umpat Ana yang mengejar Aleardo yang sudah berjalan jauh darinya.
Pagi di hari pesta kerjaan yang akan diadakan. Seluruh orang di mansion marques gempar dengan rumor nona mereka yang memiliki penggemar seorang tuan muda dari keluarga Duke Xioner. Keluarga Duke Xioner memiliki pengaruh yang cukup besar di kerajaan ini. Apalagi Keluarga duke xioner memiliki hubungan darah dengan kerajaan morque.
Pada saat Ana, Aleardo, marques, dan marchioness sedang sarapan bersama. Seorang pelayan datang dengan sebuket bunga mawar berwarna merah muda seperti rambut Ana. Pelayan itu mengatakan buket bunga ini dari tuan muda Raindhen. Hal itu membuat seluruh orang yang ada di meja makan terkejut. Marchiones sangat terkejut kalau anak gadisnya yang tomboy itu mendapat kiriman sebuket bunga mawar.
"Ana, ayo bacakan surat yang dikirimkan tuan muda Rainden. Ibunda sangat ingin tahu." ucap Marchione.
Ana yang pada dasarnya gadis cuek dengan mudah membacakan surat itu. Surat itu berisi pujian untuk Ana. Sedangkan Dua pria di meja makan itu kesal melihat itu. Marques sangat tidak suka anak gadisnya yang masih kecil di dekati oleh seorang pria. Padahal Aleardo dengan sangat jelas memiliki persaan pada Ana. Tapi Marquess selalu mendukung Aleardo. Sedangkan Aleardo sangat cemburu melihat Ana tersenyum dan tersipu malu karena Rainden.
"Nona setelah pertemuan kita kemarin. Saya tidak bisa menghilangkan segala tentang anda dalam pikiran saya. Hingga saya berharap anda hadir di dalam mimpi-mimpi saya. Saya berikan bunga merah muda selain warna bunga itu mengingatkan saya dengan warna rambut nona yang indah saat bertarung pedang. Bunga merah muda juga memiliki arti bentuk kagum saya dan rasa cinta saya pada nona Anabella Rose Natlastion. Saya sangat menanti pertemuan kita kembali" isi surat dalam buket bunga mawar merah muda itu.
"Sangat romantis ternyata tuan muda Raindhen." ucap Marchiones.
"Iya ibunda, Bunga ini sangat indah. Walaupun bunga yang aku suka bukan mawar." ucap Ana dengan tersenyum.
"berarti pemuda itu tidak cocok dengan kamu sayang, Pria yang tidak tahu dengan kesukaan wanitanya bukanlah pendamping yang terbaik." ucap Marques dengan santai.
"Sebenarnya, Ana sedikit terganggu dengan kiriman bunga." ucap Ana santai setelah memberikan buket bunga pada seorang pelayan.
Tindakan Ana yang terganggu itu membuat Aleardo seketika tersenyum. Dia tahu Ana tbukan gadis yang mudah dirayu oleh seorang pria. Hal itu yang membuat Aleardo tenang dengan Ana. Tapi Pemuda lain yang dekat Ana selain Aleardo. Pria yang ada di taman lavender beberapa bulan lalu. Walaupun sikap Ana cuek tapi dia bisa lihat ada sedikit perhatian pada pemuda itu. Walaupun masih kalah dengan keberadaan Aleardo.
"Ana sudah selesai makan" Ana pergi meninggalkan ruang makan.
Ana pergi menuju Lapangan tempat para ksatria berlatih. Dia menggunakan pedangnya yang selalu dibawa kemana-mana itu. Pedang yang diberikan oleh sang ayah sebagai hadiah setelah lolos beberapa tahapan di tempat ini. Sekarang kemampuan berpedangnya tidak bisa dianggap sebelah mata.
"Bukankah putri tidur harus menyiapkan diri untuk pesta nanti malam?"ucap Aleardo.
"Aku ada datang ke sana karena kamu. Itu bukan keinginanku kalau kamu harus ingat." ucap Ana kesal.
Dia belum siap untuk bertemu dengan putra mahkota. Saat dia ingat sudah bertemu dengan Aleardo dan Raindhen saja membuatnya pusing. Apalagi nanti bertemu tokoh yang memberikannya hukum mati.
"Apa yang sedang otak kecil kamu pikirkan ini. Sampai kerutan di dahimu itu. Kamu seperti nyonya bangsawan yang kalah saing saat di pesta teh."
"Cih enak saja aku disamakan dengan mak-mak rempong itu. Kamu jangan ganggu aku sana pergi bersama buku-buku kamu itu."
"mak-mak rempong apa? "
"Sudah gak usah tanya lagi napa sih." ucap Ana yang ketus.
"Nih aku bawa hadiah biar mood kamu balik lagi. Perasaan masih pagi tapi kamu sudah marah-marah saja." Ucap Aleardo. Pemuda itu memberikan sebuket bunga lavender pada Ana.
"WOW Lavender, Harumnya." ucap Ana yang senang. Aleardo merasa sangat bahagia apalagi respon Ana saat mendapat bunga darinya dengan bungan Raindhen sangat berbeda. Saat melihat bunga mawar Raindhen Ana memang tersipu malu tapi tidak antusias lebih. Berbeda seperti saat Aleardo memberikan sebuket bunga lavender ke sukaan Ana.
"Terima kasih Aleardo." ucap Ana sambil memeluk tubuh Aleardo. Pemuda itu terdiam sesaat dan kemudian membalas pelukan Anna."Kamu selalu tahu cara buat menghiburku. Aku sangar rindu taman lavender."
"Ya seorang Ana hanya boleh tersenyum bodoh dibandingkan marah-marah tidak jelas seperti tadi."
"Aleardo kamu nih ya suka banget buat mood aku berubah." Ucap Ana. Pelukan keduanya sudah terlepas.
"Aleardo baik gak nih sama Ana?"
"Kamu tahu aku tidak pernah baik tanpa ada bayaran "
"Ana janji deh temenin Aleardo satu minggu di perpustakaan dan buatin kue kesukaan Aleardo."
"Baik apa permintaan kamu ? Tapi tidak ada hubungan dengan pergi pesta nanti malam."
"Ya kok gak ada hubungannya. Bagaimana kalau Aleardo berteleportasi ke taman lavender?"
"Bukankah aku sudah kasih buket bunga lavender?"
"Ayolah aku sudah rindu loh. Ana tidak pernah ke teman itu saat Aleardo tidak ada di ibukota." ucap Aleardo sambil menampilkan pupy eyesnya.
"Baiklah." ucap Aleardo. Dia menarik Ana mendekat dengan tubuhnya dan seketika berpindah di taman lavender.
"Wow indahnya. Terima kasih Aleardo." ucap Ana dengan senyum lebarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Zulvianti
hihi, pasangan lucu, cowo nya malu malu, cewenya gak peka
2022-03-19
2