Anabella sedang berjalan pulang menuju rumahnya. Dia sengaja tidak menggunakan jalan utama karena itu membutuhkan waktu lebih lama. Walaupun jalan yang dia gunakan memang kurang aman apalagi itu gang kecil dengan penerangan yang minim. Secara samar dia mendengar seseorang yang merintih kesakita. Karena jiwa kepedulian anabella sangat tinggi yang membuatnya memberani menyusuri suara itu. Dia melihat anak laki-laki sepertinya seumurnya sedang dipukuli oleh beberapa pria. Dia juga melihat ada luka tusuk di tubuh pria itu. Anabella berpikir cara menolong anak itu bukannya dia tidak berani tapi itu terlalu beresiko. Apalagi dia belum bisa mengalir energi mana ke pedangnya. Saat dirinya masih memikir rencana dia juga mendengar ucapan dari beberapa pria itu.
"Dasar anak terkutuk, Begitu saja kamu tidak bisa melakukannya. Harusnya kamu mati saja biar tidak membawa bencana pada kami. Tak ada seorang yang mau mengadopsimu karena rambut hitam dan mata merahmu. Melakukan pekerjaan mudah sajah kamu tidak bisa." Anabella kesal mendengar ucapan pria tua yang sedang menekan luka tusuk pada anak laki-laki itu.
"****, mereka hanya sampah-sampah masyarakat. " umpat anabella. Akhirnya setelah memikir cara untuk menyelamatkan anak itu. Dia menemukan caranya walaupun beresiko.
"Tuan disini, saya melihat seorang pria memukuli seorang anak." Teriak anabella yang membuat beberapa orang itu berlari dan meninggalkan anak laki-laki itu. Setelah keadaan kondusif, dia mendekat anak laki-laki itu.
"Kamu masih sadarkan?" tanya anabella. Tapi tidak ada jawaban dari anak laki-laki itu. Dia hanya menatapnya dengan kosong.
"Aku mohon sadarlah. aku akan menyelamatkanmu." Ucap anabella. Dia merobek lengan tangannya dan mengikatkan kain itu pada luka di bagian perut anak laki-laki itu. Tanpa sadar anabella menangis saat melihat kondisi anak laki-laki itu.
"Kamu harus bertahan ok." ucap anabella tanpa ada balasan dari anak itu.
Anabella memapah tubuh anak laki-laki itu. Walaupun badannya kurus tapi tidak sehampang yang dia pikirkan. Setelah berjalan beberapa langkah, ternyata gerombolan tadi tiba-tiba muncul. Dia terkejut, Anabella pikir mereka sudah pergi tapi ternyata mereka kembali lagi.
"Berikan anak laki-laki itu." ucap pria yang tadi menekan luka anak laki-laki ini.
"Boss kenapa kita tidak bawa keduanya, anak perempuan itu cukup cantik dan harganya pasti mahal jika kita jual." anabella menyandarkan tubuh laki-laki di dinding rumah di gang itu.
"Tidak ada cara lain selain melawan kalian sampah-sampah." ucap anabella. Dia sudah mengeluarkan pedangnya. Hal itu membuat gerombolan itu tertawan melihat keberadiannya.
"Nona bermain dengan benda tajam itu berbahaya. Sebaiknya nona berikan pada saya. " ucap seorang pria kurus yang mendekatinya.
'tidak ada pilihan lainkan. Maafkan aku." ucap anabella dalam hati.
Secara cepat anabella melakukan gerakan yang diajarkan oleh ayahnya beberapa hari ini. Pedangnya melukai tangan dan kaki pria itu. Pria itu terduduk karena merasakan sakit dari luka yang dibuat oleh Anabella.
'Pedangku terlapis mana.' pedang ana ternyata terbalut dengan mana sihir berwarna hijau. Dia tidak tahu itu tipe apa karena selalu tidur saat kelas di mansionnya.
"Sial anak kecil itu memang bisa menggunakan pedang." ucap pria yang tadi menginjak luka anak laki-laki."Kita tidak boleh lengah." Tapi sebelum mereka siap menyerang mereka sudah runtuh akibat serangan ana.
"AAAAAKH. sialan kamu gadis kecil." segera anabella memasukkan pedang itu kedalam sarungnya dan memapah anak laki-laki itu. Jarak menuju rumah tidak begitu jauh lagi. Dia merasa keringat dingin mulai bercucuran di wajah. Dia tidak perasakan perasaan berdebar seperti ini.
"Aku harus sampai rumah." Ana mencoba memberikan motivasi untuk dirinya." kamu harus bertahan ya." Saat tinggal beberapa lagi tubuh ana sudah tidak bisa menahannya.
"huk-huk." dia terbatuk dan darah keluar saat dirinya batuk tadi. Ana terkejut melihat dirinya batuk darah. Beberapa saat itu dia sudah kehilangan kesadaran tubuhnya terhuyung kedepan bersama anak laki-laki itu.
"Untung ayah datang di waktu yang tepat." Seorang pria tua yang menahan tubuh kedua anak itu. Dia adalah ayah anabella yang tak lain marquess Xieben. Dia terkejut saat melihat darah pada kedua anak itu. Segera dia meminta salah satu ksatrianya membawa anak laki-laki.
"Segera panggilkan tabib." teriak pria tua itu. seorang wanita berjalan mendekat tubuh suaminya saat mendengar teriakan itu.
"Astaga, apa yang terjadi pada anabella? " Tanya wanita tua itu pada sang suami tapi di jawab gelengan kepala.
"Sebaiknya kamu bantu menggentai pakaian ana, sayang." Wanita itu segera meminta pelayan mengambil pakaian tidur untuk anaknya. Saat wanita itu membuka pakaian anak gadisnya sambil melihat apakah ada luka pada tubuh kecil anaknya. Karena dia melihat darah mengotori pakaian anaknya.
"Dia tidak memiliki luka sayang." ucap wanita itu.
"Sepertinya itu darah musuhnya." ucap pria tua itu.
"Permisi tuan marquess Xieben dan nyonya marchioness Shiereen. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong periksa anak saya." ucap ayah anabella di waktu bersamaan ana tersadar. Dia ingat akan seorang anak laki-laki yang dirinya tolong.
"Ayah anak laki-laki itu harus kita tolong, Dia terluka ana tidak hukhuk ukh." saat ana sedang berbicara dia terbatuk dan darah keluar kembali bahkan lebih banyak. Hal itu membuat mereka terkejut.
"Tabib segera periksa anak saya."
"ayah."
"Setelah memeriksa kamu ayah akan suruh tabib langsung mengurus anak laki-laki itu nak jadi sekarang kamu diam dan biarkan tabib memeriksa kamu." ucap ayah yang melebahkan tubuh anaknya dan menenakannya. Tabib langsung mendekat dan memeriksa kondisi tubuh ana. Terlihat dari wajah tabib yang terkejut saat mengeceknya.
"Bagaimana?" tanya ibu ana.
"Sebaiknya nona Anabella tidak menggunakan mana lagi. Karena itu mana itu juga memberikan efek samping pada kesehatan anda. "
"Maksud anda bagaimana?" tanya ayah anabella.
"Sebelum itu saya izin bertanya, Apakah nona menggunakan mana sihir anda?"
"Tadi saat saya menyerang gelomboran yang menyekatku, Entah bagaimana pedangku dialirkan mana berwarna hijau." Setelah mendengar ucapan anabella tabib itu mengerti apa yang terjadi.
"Mana anda tidak stabil dan itu menyebabkan mana anda pula melukai anda. Semakin lama anda menggunakan mana anda maka semakin besar efek samping anda terima."
"Bagaimana untuk mengobati kondisi anak saya?"
"Kita tidak bisa melakukan apapun, hanya waktu saja yang bisa menyembuhkan nona kembali seperti semula. Tapi bila itu terjadi terus menerus akibat yang didapatkan juga semakin besar. Karena hasil pengecekan saya mana nona anabella bagaikan benang tipis namun mengikat jantungnya. Jadi saat mana itu digunakan secara tidak langsung tali itu mengikat jantung ana semakin kencang. Hal itu yang menyebabkan nona ana batuk darah setelah menggunakan mana itu." ucapan tabib itu membuat kedua orang tua anabella terkejut bahkan sang ibu sudah menangis. Sedangkan ana hanya bisa membuang nafas dengan kasar.
'Apalagi yang terjadi sih, baru saja dia berencana menjadi ksatria hebat. kalau menggunakan mana saja tidak bisa.' gerutu anabella dalam hati.
"Ya sudah anabella akan beristirahat dan tolong tuan tabib selamat anak laki-laki yang saya bawa. Dia mendepat luka dibagian perut kanannya." ucap anabella.
"Baik nona." tabib itu berjalan keluar dari kamar itu dan meninggalkan kedua orang tua ana dan ana.
"Ana, ayah minta kamu berhenti untuk berlatih pedang dan sekarang tidak boleh memakai mana kamu kembali lagi." ucapan ayahnya membuatnya sedih tapi sebuah ide cermelang melintas di otaknya.
"Ayah, ana berjanji tidak akan menggunakan mana lagi kecuali keadaan genting jadi tetap izin ana tetap berlajar pedang." ucap ana dengan memberikan tatapan puppy eyes yang membuat kedua orang tuanya akhirnya luluh.
"baiklah. kamu istirahatlah."
"Tunggu ayah ana belum selesai berbicaranya." ayahnya kembali menatap wajah anak semata wayangnya.
"ayah izinkan anak laki-laki itu tinggal di rumah kita." ucapan anabella di jawab anggukan kepala.Setelah itu anabella langsung tidur setelah kedua orang tuanya pergi karena dia merasa sangat lelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nasya Dwimar
Maaf kakk saya lebih suka cerita awal dan penulisan yg awal. Cerita yg ini terlalu banyak typo dan membingungkan tata letak bacaannya. Hanya beropini🙏🏻
2022-04-15
8