Ana berkeliling pasar rakyat itu. Sebenarnya tidak ada yang berubah karena bulan ini masih musim semi. Dia mencari makanan yang akan dibeli untuk teman sambil menatap pemandangan taman lavender. Sedangkan Aleardo selalu ada di samping ana sambil berpegangan tangan karena dia tahu gadis disampingnya sangat lincah. Apalagi kondisi di pasar sangat ramai.
"kamu ingin beli sesuatu Aleardo?" tanya ana dengan mata yang masih melihat-lihat jualan di pasar ini.
Tapi pada akhirnya hanya Ana yang membeli makanan tapi gadis itu tetap membeli dengan jumlah banyak jika kalau pemuda di samping ingin menyicipinya.
"Bukankah kamu baru saja makan tuan putri babi?kamu sekarang terlihat seperti babi lapar."
"Aku makan itu sebelum latihan. Aku bukan babi. lihat badanku tidak besar dan bulat seperti babi."
ucap ana
"ya kamu benar, aku juga bingung kemana semua makanan yang kamu makan selama ini. jangan bilang kamu cacingan." ucap aleardo dengan santai.
"apa kamu bilang aku cacingan. Kamu kali yang cacingan." ucap nana yang sedikit mendongkak. dia baru sadar kalau pemuda di sampingnya sudah lebih tinggi darinya mungkin berbeda 10 cm.
"Lihatlah badanmu pendek padahal makanmu banyak. Makanya berhenti berpedang itu membuatmu semakin pendek menurutku."ucap aleardo sambil mengusap rambu merah jambu ana.
" Berhenti mengusap rambutku. kamu membuat berantakan rambutku." ucap ana kesal sambil menepis tangan aleardo. Pemuda itu tertawa kecil mendengar ucapan gadis disampingnya.
"Rambut itu tidak pernah rapih kalau kamu harus tahu." ucap aleardo.
"itu semua karena tangan menyebalkan itu yang selalu menghancurkan rambutku."ucap ana.
Tanpa sadar kedua orang itu sudah menjauh dari pasar rakyat. Keduanya selalu berdebat dengan hal-hal yang tidak jelas. Sebenarnya ana yang selalu tidak ingin kalah sedangkan aleardo dengan senang hati melayani ana agar membuat gadis itu kesal.
"Bagaimana kamu tahu tempat ini?" tanya aleardo yang melihat hamparan bunga lavender. aroma yang sangat menenangkan untuk ana.
" Seingat aku menemukan taman ini karena kabur dari acara garden party." ucap ana dengan santai. gadis itu duduk dibawah pohon dan mulai bersiap memakan makanan yang dia beli tadi.
"Hey Anna, kamu tidak berubah tetap makan ubi bakar." ucap seseorang pemuda yang membuat ana mengernyitkan dahi. Hingga beberapa saat ana sadar siapa pemuda itu.
"Liam, OMG aku lupa janji itu ." ucap ana.
"sudah satu tahun dan kamu tidak pernah berkunjung."ucap Liam yang berniat duduk di samping Ana namun dihalangi oleh Aleardo. Jadinya Aleardo duduk diantara Ana dan Liam. Hal itu membuat sedikit kesal tapi dia tidak ingin protes karena melihat wajah senang gadis ubi itu.
"aku sibuk berlatih pedang dan aleardo selalu memintaku menemaninya di perpustakaan. oh iya aku belum mengenalnya. Liam ini Aleardo dia pemuda yang tinggal bersama denganku di rumah. dan Aleardo ini Liam pemuda yang pernah aku ceritakan waktu itu." ucap ana yang kembali asik dengan makanannya.
"kamu bisa bermain pedang ? kamu sangat luar biasa ana." ucap liam.
"apakah kamu tidak sadar dari pakaian yang aku pada waktu itu?" tanya ana.
" aku pikir kamu hanya menggunakan pakaian untuk dapat keluar dari rumah." ucap Liam.
"Tentu bukan" ucap ana.
Aleardo sangat kesal karena pemuda di sampingnya selalu mencoba mencari perhatian Ana. Hal itu membuatnya sangat kesal.
" Nih ambil, walaupun kamu tidak meminta tapi aku tahu kamu menyukainya." ucap ana yang memberikan kudapan yang sangat digemari oleh Aleardo. Sontak hal itu membuat Liam terbakar api cemburu. Apalagi Ana sangat perhatian dengan pemuda di sampingnya.
Sedangkan Aleardo tersenyum sindir pada Liam. Karena Ana tetap lebih mengutamakan Aleardo. Hal itu seperti janji keduanya dan entah sejak kapan mereka saling mengutamakan.
"Ana aku membawa cake, aku harap kamu suka." ucap liam sambil memberikan kue yang dia bawa dari kerajaan
" Sangat indah,Terima kasih Liam" ucap ana
Ketiga anak muda terdiam dengan pikirannya masing sambil menghirup aroma lavender yang menenangkan.
Aleardo hanya diam saja karena gadis di sampingnya sudah tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Liam sudah dari beberapa saat lalu, dia pulang terlebih dahulu karena ada yang harus diurus. Ana tidak terlalu peduli apa yang akan dikerjakan. Hanya dia sedikit aneh dengan penampilan pemuda itu.
"Aleardo, aku lupa hari ini bulan purnama kan? " tanya ana pada aleardo yang dijawab anggukan kepala.
"sungguh aku lupa aleardo maafkan aku, ayo kita pulang." ucap ana sambil menarik tangan aleardo.
"Santai saja Ana semasih kamu ada di samping aku. Hal itu masih bisa aku tahu." ucap aleardo sambil mengelus rambut gadis itu.
"Tapi kamu benci untuk keluar kamu kalau gerhana bulan."
" aku hanya tidak ingin orang lain tahu akan itu."
" karena itu ayo kita kembali sekarang. menggunakan sihir teleportasi agar kita segera sampai."
"kamu malas berjalan tuan putri babi." ucap aleardo sambil menepuk tangan kanan dan keduanya sudah berada di kamar aleardo.
Flashback
beberapa bulan lalu saat gerhana bulan. Aleardo berteriak keras tapi dia tidak mengizinkan seorangpun masuk ke kamarnya itu. Hingga seorang gadis dengan santai tanpa peduli larangan Aleardo masuk. Terlihat di wajah gadis itu kecemasan apalagi mendengar teriakan dan rintihan Aleardo yang sangat jarang mengeluh.
"Aleardo ada apa? apakah ada luka yang membuat kamu sangat merintih kesakitan." tanya ana yang sudah berada di samping tempat duduk. Dia menari wajah menjadi saling tatap menatap .
"Apakah kamu tidak tahu dengan kutukan ini." ucap Aleardo sambil menunjukkab tulisan aneh muncul di wajahnya. Ana membalas dengan gelengan kepala. gadis itu dengan mudah ngusap tulisan aneh di wajah Aleardo. Namun segera ditepis oleh Aleardo.
"jangan menyentuh nanti kamu bisa tertular." ucap aleardo sambil memalingkan wajahnya.
Kutukan ini lah yang membuat Aleardo tidak dapat di terima di lingkungan. Cerita dari kerajaan ini yang menyatakan seseorang yang memiliki kutukan itu akan membawa mara petakan untuk orang sekitarnya. Saat dia sedang di panti asuhan pinggir desa, orang-orang panti itu akan menyiksanya berharap dia akan mati. Tapi saat kutukan itu hilang besok harinya, Seluruh luka ditubuhnya juga ikut hilang.
"kamu memang gadis bodoh yang tidak suka membaca. kamu tahu dongeng pangeran kegelapan kerajaan ini. Sebenarnya dia bukan pangeran tapi dalam cerita itu menyatakan kalau seorang anak dengan rambut hitam dan mata berwarna merah darah akan membawa petaka bagi orang sekitarnya." ucap Aleardo.
"rambut hitam dan mata merah berarti Aleardo dong. Tapi selama kita habisin waktu bersama sepertinya tidak ada tuh mara petaka kecuali Aleardo yang selalu mengesalkan saja. Jangan terlalu dipikirkan Aleardo semua itu hanya cerita dongeng. Lagi pula Aleardo tidak cocok jadi pangeran. Tapi lebih cocok jadi tukang sihir gila. hahaha." ucap ana yang diakhiri dengan tawa kecil. Sedang Aleardo tersenyum tipis namun tidak disadari oleh Ana.
" cih wajah tampanku bahkan lebih dari seorang pangeran." ucap Aleardo.
"benarkah, aku tidak yakin sepertinya." ucap Ana.
Keduanya menghabiskan waktu dengan berbincang hingga tanpa sadar tulisan yang muncul di wajah Aleardo sudah menghilang.
"Aleardo, Ana mau tidur. Sampai jumpa di pagi hari." ucap Ana sambil berjalan menuju pintu kamar Aleardo.
"kamu memang berbeda ana." ucap Aleardo.
Flashback End
Sebenarnya tulis yang sering muncul di wajah Aleardo sudah sejak malam itu menghilang dan tidak muncul kembali. Tapi tetap tubuhnya akan merasa lemas terkadang. Oleh karena itu Ana selalu menyarankan untuk istirahat pada malam gerhana bulan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Yuny
dogeng d dlm novel
2022-07-01
0
Zulvianti
ana adalah pembawa keberuntungan
2022-03-19
0