Aleardo asik dengan buku sihir tebal sedangkan ana hanya mengambil buku cerita di negeri ini dengan sesekali memakan kue dan meminum tehnya. Dia tidak menikmati waktunya di perpustakaan ini. Apalagi novel di negeri ini sangat menggelikan. Entah rasanya terlalu menjijikan dan dramatisir. Apalagi dia tahu pengaruh kekasairan membuat ada batasan dalam berkarya mengenai kehidupan kerajaan.
"Aku bosan aleardo, Apa mata kamu tidak pusing membaca buku tebal itu? Melihatnya saja sudah membuatku sakit mata apalagi aku membacanya."
"Karena itu kamu bodoh. Bacaan sangat tidak baik buat otak kamu." ucap aleardo yang melirik buku yang diambil oleh gadis di sebalahnya.
"Aku juga tertarik buku ini. cih menggelikan hubungan percintaanya." ucap ana yang mendorong buku itu. Lalu dia menyembunyikan wajah dilipatan tangannya dan mengalihkan wajah dari aleardo.
"Aku bingung melihatmu yang sangat tertarik dengan buku-buku tebal itu. Aku lebih baik berlatih pedang." ucap ana.
"Bukankah kamu kalah taruhan denganku jadi ikuti saja permintaanku dan mulai baca buku sihir. Itu bagus untuk kamu mengenal mana kamu."
"Kita sudah satu bulan menghabiskan waktu di perpustakaan setelah latihan pagi. Itu juga cuman sebentar. Mana, aku tidak bisa menggunakan itu. " ucap ana lirih dan setelah itu diam tanpa mengeluarkan satu katapun.
"Hey jangan tidur di sini. Aku sudah bosan memindahkanmu." Tapi tidak ada balasan dari ana. Aleardo hanya menghela nafas saat melihat gadis di sebelahnya terlelap.
"Aku sungguh tidak suka kamu bermain pedang." gumam aleardo yang kembali membaca bukunya.
Flashback
Setelah ana siuman, keesokannya dia sudah berlatih pedang lagi. Hari ini aleardo juga sudah ikut latihan. Ana tidak menyangka aleardo memiliki bakat dalam berpedang. Baru saja dia diajarkan oleh salah satu ksatrianya, dia sudah bisa melakukannya dengan baik bahkan lebih baik dari ksatria itu.
"Kamu mau latih tanding denganku tidak?" tawar ana. dia hanya penasaran dengan keahlian aleardo. Keahlian berpedang ana tidak bisa diremehkan dia sudah semakir seperti ksatria pada umumnya. Hanya saja dia tidak bisa mengalirkan mana pada pedang yang membedakannya dengan ksatria lain. Tapi teknik berpedangnya sangat dikagumi oleh para ksatria. bahkan para ksatria ayah dengan mudah dikalahkannya jika mereka tidak menggunaka mana pada pedangnya.
"Kalau kamu kalah harus mengikuti permintaanku selama 1 bulan?" ucap aleardo.
"siapa takut? kalau kamu kalah akan aku jadi kamu pembantuku. hahhahaha." ucap ana dengan diakhiri tawa.
"Kamu tidak akan menang. ayo kita mula." ucap aleardo.
Ana segera memasang posisi siap dengan mengarahkan padang kayu agar keduanya tidak menerima cidera parah. Bagaimanapun mereka masih kecil apalagi ana. Para ksatria tidak akan rela nonanya mendapatkan luka sayat akibat pedang.
"Mulai." teriak salah satu ksatria.
Ana segera menyerang aleardo tapi dengan mudah ditangkis setiap serangan. Hingga beberapa saat setiap serangan ana ditangkis oleh aleardo, dia memberikan satu serangan yang membuat nana terjatuh karena tidak bisa menangkis. aleardo mengarahkan leher ana dengan pedang kayu.
"Kamu kalah tuan putri babi."
"akh jangan panggil aku itu dan bagaimana kamu bisa menang padahal baru belajar hari ini?" ucap ana.
"Karena aku pintar dan kamu bodoh."
"Aku pintar tahu ih. enak ajah panggil aku bodoh. Apa permintaanmu?" tanya ana pada aleardo.
"Kamu berhenti satu bulan latihan pedang dan temani aku di perpustakaan." ucap aleardo dengan santai.
"Aku tidak mau,aku tetap ingin berlatih pedang." ucap ana memohon pada aleardo dengan mengeluarkan puppy eyes.
"Baiklah hanya latihan pagi dan tidak lebih dari 1 jam. tidak ada penawaran lagi." ucap aleardo.
"Baiklah aku terima itu." ucap ana.
Flashback End
Ana dan Aleardo hampir tidak pernah berpisah. Keduanya menghabiskan waktu bersama dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Keduanya sering mengikuti satu sama lain. Seperti kalau ana ingin menghabiskan waktu di rumah kaca untuk merawat beberap tanaman. Di tempat itu pasti ada aleardo yang tetap asik dengan bukunya. Kalau Aleardo pergi ke perpustakaan maka secara otomatis ana ikut walaupun dia bilang tidak suka tempat itu karena berisi buku-buku. Tapi dia tetap akan menemati walaupun berakhir tertidur.
"Kamu besok harus ikut bunda garden party." ucap ibu ana di meja makan. Hal itu membuat ana berhenti menyuapkan makanannya. Sedangkan Aleardo tidak begitu memperdulikan pembicaraan itu. Dia tahu apa yang akan dikeluarkan oleh mulut gadis di sampingnya.
"GAK MAU,Ana gak suka acara itu." ucap ana yang kembali memakan makanannya.
"Kamu itu gadis bangsawan sudah sewajarnya mengikuti acara itu." ucap ibu ana.
"Kan aku bukan gadis pada umumnya." sontak ucapan ana membuat sang ayah dan aleardo menahan tertawa.
"Tertawa saja gak usah ditahan. Aku mah sadar diri." ucap ana ketus melihat kedua pria itu yang berbeda umur tapi sering mengetawai dirinya.
"Ikut ibunda tidak menerima penolakan." ucap ibunda.
"Mari kita lihat apa yang terjadi besok." dengan suara lirih yang masih dapat didengar aleardo. Dia mengenyitkan dahinya.
Keesokan harinya setelah latihan berpedang, Ana menarik Aleardo ke sebuah pohon rindang. Gadis itu melihat kanan kiri seperti takut persembunyiannya diketahui oleh seseorang. Sedangkan Aleardo sudah tahu alasan gadis di sampingnya bersembunyi.
"Kamu mau ikut aku gak?" tanya ana sambil melihat kanan kiri.
"kamu mau pergi kemana tuan putri babi, Bukankah bibi sudah meminta kamu untuk ikut acara itu."
"Cih, ogah aku ikut acara yang berisi gadis-gadis tukang gosip. Aku saja sampai gak habis pikir itu bibir gak ada remnya apa gak soak gitu."
"Kamu juga kalau ngomong gak berhenti, bibir kamu gak soak."
"Hey jangan membarikan ucapanku. sudah ikut sajalah kamu. Sudah lama aku tidak pergi melihat taman itu." ucap ana yang segera menarik tangan aleardo mempedulikan ucapan anak laki-laki itu.
Sebenarnya alasan ana membawa aleardo karena anak itu sangat jago dalam sihir dan itu dapat membantunya untuk kabur. Apa lagi sudah melihat penjagaan ketat di gerbang depan dan tempat dia bisa kabur. Jadi dengan terpaksa dia membutuhkan bantu anak lagi-lagi si jago sihir ini.
Sejujurnya dia selalu kagum dengan aleardo. Aleardo adalah anak laki-laki jenius yang sangat mudah menyerap pelajaran mau itu sihir atau berpedang. Bahkan dalam bidang sihir dia sudah membuat beberapa sihir yang tidak ada di dalam buku-buku tebal itu. Seperti sihir mengubah benda sampai berteleportasi. Memang Teleportasi itu sudah ada di dalam buku sihir tingkat tinggi. Tapi masalahnya dia bisa Teleportasinya kemana saja dengan mengandalkan ingatan seseorang. Jadi dia bisa selalu menemukan ana dimanapun gadis itu bersembunyi.
"Hey tukang sihi, buat jalan di sini dong." ucap ana sambil menunjukkan tembok gerbang mansionnya.
"Kenapa aku haru membuatnya?" tanya balik aleardo.
"Ayolah, please. masa kamu gak mau tahu tempat favorite ana di luar rumah." ucap ana sambil menunjukkan puppy eyes. Sejujurnya aleardo selalu gemas jika gadis disampingnya memperlihatkan tatapan itu. Dia dapat dengan mudah menyembunyikan ekspresi itu.
"Dasar menyusahkan dan kamu seperti babi yang meminta makan." ucapa aleardo sambil memunculkan sihir untuk membuat lubang pada tembok itu. Ana segera melewati lubang setelah terbentuk. Dia sedang tidak ingin membalas ucapa aleardo karena dia membutuhkan anak menyebalkan itu. Dibandingkan dia harus ikut bersama ibunya, dia lebih baik bersabar dengan tingkah menyebalkan pemuda di sampingnya.
Setelah aleardo melewati lubang itu. Secara otomatis lubang itu tertutup. Sungguh ana selalu takjub dengan sihir yang dibuat oleh pemuda menyebalkan itu.
"Kamu bisa menjadi perampok tanpa diketahui oleh siapa-siapa." umpat ana yang dibalas dengan centilan pada dahinya.
"Dasar gadis bodoh, buat apa aku merampok. Itu perbuatan tidak terpuji." ucap aleardo yang tidak habis pikir dengan pemikiran nyeleneh ana.
"ya kan cuman ngomong doang jangan dibawa kehati ajah." ucap ana.
Setelah itu keduanya berjalan menuju pasar rakyat seperti hobinya 1 tahun lalu dan menuju taman lavender kesukaannya. Ana masih belum ingat akan janjinya dengan teman barunya 1 tahun lalu.
"Yang mulia putra mahkota, saya melihat nona ana di pasar seperti 1 tahun lalu tapi nona tidak sendiri. Dia pergi dengan seorang pemuda yang 1 tahun lebih muda dari yang mulia." ucap pengawal pribadinya.
"Baiklah kalau begitu saya akan pergi menemui si gadis ubi dan bertanya kenapa 1 tahun dia tidak datang. Aku juga penasaran dengan pemuda itu." ucap Liam yang tak lain putra mahkota. Tokoh yang selalu ingin dihindari oleh ana selama hidup di dunia novel ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Yuny
dah 1thn aj gadis ubi😁
2022-07-01
0
Ida Blado
kok jadi garing dn receh,,,,
2022-04-17
2
witri
makin suka😊👍
2022-01-08
2