" Tuan muda, ada telepon dari tuan besar" Leo memberikan hp-nya pada Raka
" Permisi" Raka menjauh dari Dion, setelah menerima hp Leo.
" Abang lagi ngapain di sini? Bukannya abang lagi kerja?" Tanya Keyra ketika sudah berada di depan Dion.
" Abang baru selesai rapat dengan teman abang. Kamu sedang apa di sini?" Dion mengusap puncak kepala Keyra sayang.
" Key jalan-jalan sekalian belanja" Keyra mengangkat paper bag di tangannya, menunjukan pada Dion.
" Permisi" Raka yang baru saja selesai menelepon, dan kembali menghampiri Dion.
" Yon sepertinya saya harus pamit sekarang" Pamit Raka
" Raka" Ucap Raka mengulurkan tangannya ke hadapan Keyra.
Keyra nampak tertegun melihat Raka, begitupun dengan Monic dan Regina.
" K..Keyra" Ucap Keyra canggung setelah tangannya di colek oleh Dion.
" Kalau begitu saya permisi dulu" Raka tersenyum.
" Baik, sampai jumpa lagi" Dion menjawab sambil melakukan fist bump dengan Raka.
" Ok" Raka mengangkat tangan sambil berbalik dan berjalan menjauh dari Dion dan semua orang yang ada di sana.
Di ikuti olah Leo di belakangnya.
Ia menghembuskan nafas-nya kasar setelah berada jauh dari Dion dan Keyra.
Sementara itu....
" Key itu bukannya Raka si kutu buku ya?" Monic merbisik pada Keyra yang masih asik memandang punggung Raka.
" Gak mungkin lah Mon, dia kan dari keluarga sederhana" Bukannya Keyra yang menjawab, tapi malah Regina yang langsung menjawabnya.
" Bang itu siapa, kayanya aku baru liat deh?" Tanya Keyra pada Dion.
" Raka?" Tanya Dion memperjelas, yang langsung di angguki oleh Keyra dan dua sahabatnya.
" Dia teman baru abang, juga rekan bisnis abang, dia adalah presdir baru perusahaan DWGrup" Jelas Dion
" Hah...!!!" Seru keyra, monik dan Regina bersamaan.
" Kenapa kok kalian kaget gitu?"Dion melihat Keyra dengan alis bertaut.
" G...gak papa bang" Jawab keyra gagap.
" Ya sudah ayo kita pulang" Dion berjalan sambil merangkul pundak Keyra.
Mereka semua akhirnya berpisah diperkirakan mall, Dion pulang bersama dengan Keyra sedangkan Monic dan Regina pulang di antar oleh Eric dengan menggunakan mobil keyra.
***
"Bagaimana om?" Tanya Raka.
Saat ini ia berada di ruang kerja kakek Reksa bersama dengan Alex dan Leo.
" Perusahaan ENDY sama sekali tidak punya motif untuk mencelakaimu Raka" Jawab Alex
Raka terdiam ia seperti sedang memikirkan sesuatu, duduk di sofa dengan teluntuk mengetu-ngetuk paha-nya sendiri.
" Apakah sudah ada kabar dari Edo?" Tanya Raka lagi.
Alex mengeluarkan Amplop coklat pada Raka.
" Apa ini?" Raka bertanya dengan alis bertaut, tapi tangannya terulur mengambil amplop di atas meja.
"Buka saja nanti kau akan tau"
Perlahan Raka membuka dan mengeluarkan isinya satu per satu dengan wajah yang berubah mengeras.
Di sana ada beberapa foto dan USB. foto itu dengan jelas menampilkan sosok Burhan, manager divisi keuangan yang sedang bertemu dengan Fedro ketua geng motor jalanan yang beranggotakan Edo.
Raka mengambil Laptopnya dan memasukkan USB dan melihat isinya.
Raka mengepalkan tangannya kuat melihat isi rekaman itu, ternyata itu adalah rekaman percakapan dari Burhan dan Fedro yang sedang membicarakan tentang rencana penyerangan berikutnya untuknya, karena penyerangan yang di rencanakan saat pesta gagal.
" Baiklah om, terimakasih atas bantuan om, semua ini biar Raka yang membereskannya sendiri, om tolong terus pantau Edo dan kabari Raka kalau ada perkembangan dari Edo, Raka permisi dulu ke ruang kerja Raka"
Raka berkata panjang lebar sebelum akhirnya mengambil labtopnya lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalakan ketiga lelaki lainnya yang hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
Mereka tau apa yang di lakukan Raka, ia pasti akan lembur semalam-an mencari tau bukti untuk menyerahkan Burhan pada pihak berwajib.
Raka memang tidak suka memberikan hukuman untuk musuhnya, ia hanya akan menyerahkannya kepada polisi dengan setumpuk bukti akurat yang akan memberatkan hukuman mereka.
Sementara itu Raka yang berada di ruang kerjanya terus fokus pada komputer tercanggih yang ada di depannya.
Jari terus menari di atas keboard, matanya fokus pada layar dengan sesekali alisnya bertaut tapi tidak jarang pula senyum jahatnya terbit di bibirnya.
" Heh, sudah ku duga" Gumam Raka menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya dengan slah satu bibirnya tertarik ke atas.
Jam sudah menunjukan jam 4 pagi saat ini dan Raka baru saja menyelesaikan pekerjaan nya malam ini, ia meraih USB dari komputernya lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan langkah lebarnya.
Pak Har yang memang sudah bangun dan melihat Raka baru saja keluar dari ruang kerja berjalan menghampiri Raka.
" Tuan muda" Sapanya membungkukkan badannya.
" Pak Har, saya istirahat dulu, tolong jangan ada yang mengganggu saya sampai jam tujuh pagi" pesan Raka.
" Baik tuan muda" Jawab pak Har, ia melihat punggung kokoh Raka yang hanya berbalut kaos rumahan berwarna hitam, dengan tatapan nanar.
Semenjak Raka pindah ke rumah ini Raka hanya fokus bekerja dan melatih diri, bahkan seringkali Raka lupa untuk beristirahat, sama persis seperti Tama, sebelum bertemu dengan Laras.
Raka merebahkan badannya di ranjang king size miliknya, Ranjang yang terasa nyaman tapi tidak bisa lama ia nikmati dengan puas hati.
Ia hanya bisa tidur beberapa jam saja setiap malamnya, bahkan sering ia tertidur di ruang kerjanya karena terlalu lelah.
tidak perlu waktu lama Raka langsung terlelap menuju alam mimpinya.
***
Tok....tok....tok...
Suara ketukan pintu mengganggu tidur seorang lelaki tampan yang baru saja terlelap beberapa jam yang lalu.
" Tuan anda memiliki rapat pagi jam 8 pagi" Suara Leo terdengar dari intercom.
" Hmm... sebentar lagi saya keluar" Raka berbicara dengan suara serak khas bangun tidur, setelah menekan salah satu tombol di nakas.
Beranjak bangun dan duduk di pinggir ranjang, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, menekan tombol pembuka kunci pintu kamar agar pak Han bisa masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan keperluannya.
Berjalan gontai menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri, sepertinya hari ini badannya terasa tidak begitu sehat, mungkin karena beberapa hari ini ia stres memikirkan tentang dalang penyerangan yang ia dapatkan.
Di tambah dengan kurangnya istirahat, menjadikan kondisi tubuhnya sedikit menurun.
Raka memang tipe orang pemikir, ia tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu bila ia belum mendapatkan jawabannya sendiri dan itu sudah terjadi sejak ia kecil.
Hanya kedua orang tuanya yang tau kebiasaannya itu, hingga biasanya Ayah dan Bunda-nya mempunyai caranya sendiri untuk memaksa Raka istirahat.
" Selamat pagi tuan muda" Sapa pak Har saat Raka baru saja keluar dari kamar mandi.
" Pagi, pak Har" Raka mengambil baju yang sudah di siapkan oleh pak Har lalu memakainya.
.
" Halo om Santos, ini Raka anaknya Tama" ucap Raka sambil berjalan keluar dari kamarnya.
"......."
" Bisa kita bertemu pagi ini?" Tanya Raka setelah mendengar suara seseorang di seberang telepon.
"......"
" Baik om, saya ke sana sekarang" Jawab Raka, lalu mematikan teleponnya.
.
" Selamat pagi" Ucap Raka ketika ia sampai di meja makan.
" Leo kita berangkat sekarang, saya ada perlu dulu sebelum ke kantor"
Leo yang memang sudah menyelesaikan sarapannya langsung berdiri.
" Baik tuan muda"Jawab Leo langsung.
" Kakek aku pergi dulu" pamit Raka mencium tangan kakeknya takzim.
" Kamu tidak sarapan dulu Raka?" Tanya kakek Reksa.
" Tidak kek, aku sudah ada janji dengan seseorang" Jawab Raka
Alex memang sudah tidak lagi tinggal di rumah kakek Raksa.
Alex mempunyai istri dan anak laki-laki yang masih SMA.
.
" Leo nanti kita ke alamat ini dulu" Raka mengirim alamat pada hp Leo.
" Baik tuan muda"Jawab Leo singkat.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah milik keluarga Wiratmadja, membelah jalanan ibu kota yang selalu padat ketiga pagi hari.
Sepanjang jalan seperti biasa Raka akan sibuk dengan kertas dokumen atau tabletnya, sedangkan Leo fokus menyetir.
Suasana mobil yang hening tanpa ada pembicaraan sudah biasa Leo dapati setiap hari setelah bekerja dengan Raka.
Ia tau Raka termasuk orang yang tidak suka berbicara omong kosong, ia hanya akan berbicara tentang masalah pekerjaan dan sangat jarang berbicara tentang masalah pribadi kepadanya.
Raka turun dari mobil ketika mobil sudah terparkir rapih di halaman rumah berlantai dua yang cukup besar.
" Assalamualaikum... om Santos. Apa kabar?" Tanya Raka mencium tangan seorang pria paruh baya yang terlihat masih sangat bugar dengan badan yang tegap berisi.
" Wa'alaikumsalam... Raka, sudah lama kita gak ketemu, kamu udah besar saja" Jawab Santos menepuk-nepuk pundak Raka dengan tersenyum cerah. ia melihat penampilan Raka yang sangat berbeda dari anak seumuranya.
Raka saat ini memakai kemeja lengan panjang berwarna dongker yang tangannya di gulung sampai siku, dan stelan kerja seperti biasa, hanya saja jas-nya ia buka.
" Kamu kesini bersama siapa?" Tanya nya lagi melihat ke'arah Leo yang berdiri di belakang Raka.
" Oiya ini temen Raka om, Leo. Le ini om Santos teman ayahku" Raka memperkenalkan Raka pada om Santos.
Leo tersenyum lalu mencium tangan om Santos.
" Ayo masuk-masuk, kita bicara di dalam saja" Om Santos membawa mereka ke dalam ruang tamu.
Setelah mereka duduk di kursi ruang tamu, dari arah dapur berjalan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walaupun ada sedikit kerutan di daerah matanya.
" Raka, sudah lama kamu gak main ke rumah nak" wanita paruh baya yang merupakan istri dari om Santos tersenyum hangat sambil menyajikan teh hangat di meja.
" Iya tante Anis maaf, saya sedang agak sibuk akhir-akhir ini" Jawab Raka mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung.
Tante Anis hanya tersenyum tulus pada Raka.
" Silahkan di minum, kalau gitu tante tinggal dulu ke belakang" Ucapnya kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga.
" Terima kasih tante" Raka mengambil cangkir teh, dan menyesapnya sedikit.
" Ada apa Raka? Apa ada yang perlu om bantu?" Om santos bertanya terlebih dahulu.
" Begini om, saya membutuhkan bantuan om untuk menangkap seseorang"Jawab Raka.
" Ini semua bukti kejahatan orang tersebut, tapi saya minta jangan sampai berita ini ter-cium oleh media, Lakukan dengan Rahasia" Ucap Raka menjelaskan.
Om santos mengerutkan keningnya dengan menatap Raka curiga.
" Apa maksud kamu Raka, kenapa kamu mau menangkap seseorang, kamu tidak sedang melakukan sesuatu yang berbahaya kan?" Om Santos berkata dengan nada bicara tenang tapi ter selip ke cemasan di dalamnya.
Om Santos adalah teman Tama sejak Raka masih kecil, Om Santos adalah seorang petinggi polisi. ia pernah di tolong Tama ketika terluka saat melakukan pengejaran pelaku pengedar narkoba. Saat itu ban motor yang di kendarai Santos terkena tembakan hingga mengalami hilang kendali dan mengalami kecelakaan.
Tama yang baru pulang dari salah satu acara melihat kejadian itu dan langsung menolong Santos dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Santos mempunyai dua orang anak laki-laki yang semuanya sudah bertugas di kepolisian.
" Jadi begini om....." Raka menceritakan semua kejadian yang menimpanya tanpa ada yang di tambah atau di kurangi sedikitpun.
Om Santos terkejut dengan cerita Raka, tapi ia juga senang karena setelah orang tua Raka meninggal, ternyata Raka masih mempunyainkeluarga yang lain.
Om Santos mengambil amplop yang di letakan Raka di meja, lalu membukanya, di sana ada beberapa dokumen bukti penyelewengan dana perusahaan, dan USB yang berisi rekaman percakapan Burhan dengan beberapa orang yang bekerja sama dengannya.
Santos memeriksa semua bukti itu dengan teliti.
" Baiklah om akan bantu kamu,nanti om akan kabari lagi bagaimana kelanjutannya" Jawab Om Santos.
" Baik om terimakasih, Kalau begitu Raka pamit" Ucap Raka.
" Baiklah, hati-hati" Ucap om Santos mengantar Raka dan Leo ke depan rumah.
.
.
...Tbc...
Jangan lupa like, coment dan votenya ya...
...Terimakasih🙏😘...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments