" Apa mata kamu itu bermasalah Raka?" tanya Alex saat mereka berdua sarapan bersama.
Kakek dan Leo sudah berangkat ke kantor sejak tadi dan sekarang Raka hanya sarapan berdua dengan Alex.
Selama melatih Raka, Alex Akan tinggal di rumah Kakek Reksa. Jadi sekarang rumah itu di huni oleh empat orang lelaki berbeda generasi.
" Tidak om, ini hanya kacamata untuk melindungi mata saya dari radiasi dan sinar ultra violet" jawab Raka santai.
" Lalu kenapa kamu masih memakainya walupun ini masih di rumah, padahal tadi kamu tidak memakainya saat berlatih?"
" Oh, ini karena aku akan pergi ke kampus om"
" Kenapa tidak di pakai nanti saja saat sudah di luar rumah, atau kamu sedang menggunakan komputer atau labtop?" Alex masih saja belum puas dengan jawaban Raka.
" Aku suka saja memakai kaca mata, terasa lebih nyaman, mungkin karena sudah terbiasa dari kecil" ucap Raka tersenyum mengingat saat sang ayah ketika pertama kali memberikannya kaca mata anti radiasi, karena dia sangat suka bermain di depan komputer milik ayahnya.
***
Seperti biasa Raka berangkat ke kampus menggunakan busway, sebenarnya kakek Reksa sudah menawarkan Raka untuk di antar sopir atau memakai salah satu mobil yang berada di garasi, tapi Raka menolaknya.
Raka tidak mau kalau sampai orang-orang di kampus tau tentang dirinya yang sudah menjadi pewaris dari perusahaan DW Grup.
Ia akan lebih nyaman dengan identitasnya yang dahulu, sebagai anak dari pemilik toko kelontong.
Raka gak mau ada teman-teman kampusnya yang akan mencari perhatiannya hanya karna ia sudah menjadi salah satu orang terkaya di asia.
Ia mau orang-orang yang berteman dengannya karna melihat dirinya sebagai Raka, bukan sebagai pewaris DW Grup.
DW Grup adalah perusahaan keluarga yang di dirintis oleh kakek buyutnya Raka yang bernama Direja wiratmadja.
Tuan Diredja memulai masa mudanya menjadi buruh bangunan sambil berkuliah, karena kerja keras nya ia bisa mengembangkan kemampuannya menjadi pemborong, mulai dari hanya membangun bangunan rumah sederhana, sampai semakin lama menjadi membangun komplek perumahan.
Karna keja keras Tuan Direja perusahaan Dw grup yang awalnya hanya perusahaan kecil yang bergerak di bidang pembangunan, semakin melebarkan sayapnya merambah ke berbagai bidang bisnis lainnya, mulai dari hotel, Resort, bahkan supermaket dan Mall.
Sekarang DW Grup sudah merambah sampai ke luar negri dan di akui sebagai perusahaan terbesar ke Tiga se Asia.
Dan mulai sekarang Raka harus belajar menanggung tanggung jawab sebesar itu di pundaknya sebentar lagi.
Raka juga sempat tercengang ketika mendengar penjelasan tentang seberapa besar perusahaan yang akan ia pimpin.
Selama ini ia bukanlah seseorang yang tau tentang dunia bisnis jadi dia tidak tau tentang keluarga Wiratmadja ataupun DWGrup.
Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana bisa lulus kuliah dengan baik, dan bekerja di perusahaan yang besar agar membuat kedua orang tuanya bangga.
Bugh...
Suara orang jatuh tepat di hadapannya membuyarkan lamunannya.
Raka terkejut melihat seorang laki-laki bergaya seperti preman jatuh tersungkur tepat di hadapannya.
" Apa yang loe lakuin hah!" Lelaki yang jatuh tadi bangun dengan mata melotot ke arah gadis yang duduk berbeda dua kursi dengannya.
" Kenapa?" Tanya gadis ber masker medis itu santai, namun nada suaranya sangat datar.
" Loe berani sama gue, cari mati loe hah?" Teriak lelaki preman tadi menunjuk gadis tersebut, wajahnya bahkan sudah memerah menahan amarah.
" Keluarin dompet yang loe curi dari ibu itu" Gadis itu masih bicara dengan gaya santainya,tapi suaranya penuh penekanan.
Tanganya kananya menunjuk ke arah ibu-ibu yang mengendong seorang anak laki-laki mungkin berusia sekitar dua tahunan yang duduk tepat di hadapan gadis itu.
Untung saja saat ini busway tidak terlalu padat mungkin karna jam sudah menunjukan jam sepuluh pagi. tapi walaupun begitu hampir semua kursi sudah ada yang mendudukinya.
Suara Lelaki preman yang tinggi membuat semua penumpang mengalihkan pandangannya pada dua orang yang sedang beradu mulut.
Raka mengalihkan pandangannya kepada ibu-ibu yang di tunjuk oleh hadis itu, ibu-ibu itu terlihat bingung dan tidak mengerti dengan perkataan gadis itu, tapi sekian detik kemudian dia langsung memeriksa tas yang ia bawa.
" Dompet saya hilang, dompet saya gak ada" Ucap ibu itu lirih tapi masih bisa di dengar oleh orang yang duduk di sekitarnya termasuk Raka.
Raut wajahnya terlihat terkejut, panik dan juga sendu.
"Enak aja loe nuduh orang sembarangan" Lelaki preman itu langsung menyerang gadis tadi, namun sayang gadis itu bisa menghindar dengan mudah, hingga pukulan yang di layangkan lelaki itu hanya bisa meraih angin saja.
Suara jerit penumpang perempuan yang terkejut dan takut melihat lelaki bertampang preman itu menyerang gadis yang sangat berani.
Untung saja ada beberapa lelaki deawasa yang ikut memgangi dan melerai Preman tadi.
Saat lelaki preman itu tidak bisa bergerak leluasa, dengan cepat gadis tadi mengambil dompet ibu tadi dari balik saku jaket yang di pakai preman itu.
" Ini bu dompetnya, lain kali lebih berhati-hati lagi ya bu" gadis itu berkata dengan sangat lembut dan tersenyum di balik maskernya, itu terlihat dari ujung matanya yang terlihat sedikit menyipit, mengembalikan dompet pada ibu-ibu yang duduk di hadapannya itu.
Raka terus memperhatikan gadis bermasker itu, tubuh yang langsing dengan tinggi yang mungkin hanya sebatas bahunya saja, rambutnya lurus sebahu yang di biarkan saja, tanpa ada aksesoris apa pun di kepalanya, penampilannya terkesan tomboy tapi manis dan menyenangkan untuk di pandang.
" Manis" gumam Raka tersenyum membenarkan letak kacamatanya lalu berdiri karna halte yang ia tuju sudah mau sampai.
Raka berjalan santai menuju kampus, kelasnya masih masuk pukul 11.00 sedangkan sekarang baru pukul 10.13, masih ada waktu sekitar 47 menit lagi sebelum masuk kelas.
Bugh...
Brak...
Raka terkejut karna ada seseorang yang menyerempet badannya cukup keras sampai buku yang ia bawa jatuh.
" Maaf... saya sedang buru-buru" Ucap gadis yang menyerempetnya sambil mengambilkan bukunya yang jatuh.
Raka sempat tertegun ketika melihat siapa yang menyerempetnya itu, gadis itu ternyata gadis yang ada di buswey tadi"
"Sekali lagi saya minta maaf" Ucap gadis itu lagi sambil memberikan buku kepadanya, dan langsung berlari meninggalkan Raka yang masih belum terlalu mengerti dengan apa yang terjadi.
" Ah... i...iya" Raka menjawab dengan terbata, memandang punggung gadis yang sudah berlari menjauh darinya.
Gadis yang sudah membuat jantungnya tak bisa terkontrol hanya dengan melihatnya saja.
Ya tuhan perasaan apa ini? Batin Raka, tangannya berada tepat pada jantungnya berada.
"Hei ngapain loe bengong di sini?" tepukan lumayan keras di daerah punggungnya menyadarkannya dari bayangan gadis tadi.
Raka terkesiap ia menengok ke sana kemari untuk mencari gadis tadi, tapi ternyata gadis yang ia cari sudah menghilang entah ke mana.
"Nyari siapa loe?" tanya Dito lagi, bingung dengan sikap Raka, yang seperti mencari seseorang.
" Eng...engga" Raka mengusap tengkuknya, merasa gugup di hadapan Dito.
"Kantin yuk!" Raka berusaha mengalihkan perhatian Dito.
" Eh ini hp siapa?" Dito mengambil Hp yang jatuh di dekat Raka berdiri dan menunjukanya pada Raka.
" Coba sini gue liat" Raka mengambil hp dari tangan Dito.
Dari tampilannya menunjukan kalau ini milik seorang perempuan, walaupun tidak terlalu peminim tapi dari casingnya yang berwarna soft blue bergambar bunga daisy kecil di sudut atasnya, terlihat jelas kalau hp itu adalah milik seorang perempuan.
" Kayaknya ini milik cewe yang nabrak gue tadi" gumam Raka dengan senyum yang mengembang, dan memasukan hp tadi ke dalam kantong nya.
Dalam hati ia bersorak gembira karena bisa menggunakan hp ini sebagai alasan untuk menemui gadis manis itu lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Dwi apri
wuih .. rejeki nomplok
ada alasan buat ketemu cewek pujaan ya Ka🤣🤣
2023-06-26
2