" Om" Raka memanggil Alex yang berdiri di samping mobilnya.
Alex tersenyum melihat Raka dengan tampilan yang sangat berbeda, Raka memakai kaos putih polos di timpa dengan jaket kulit berwarna hitam yang di biarkan terbuka, celana jeans berwarna hitam, dan sepatu sneakers putih, Rambutnya di biarkan begitu saja menjadikan kesan sedikit acak-acakan tapi masih terlihat tampan dan cool.
" Masuk" perintah Alex dengan menengokkan kepalanya ke arah mobil, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil sport milik nya, di susul oleh Raka yang duduk di kursi penumpang.
" Mau ke mana kita om?" Tanya Raka, saat mobil yang di kendarai Alex sudah meninggalkan kediaman Wiratmadja.
Raka sedikit bingung karena tak biasanya Alex akan membawa mobilnya, karena kalau untuk sekedar berjalan-jalan biasa Alex akan lebih memilih mobil BMW yang sudah terparkir di garasi, agar tidak terlalu kelihatan mencolok.
" ikut saja, nanti juga kamu akan tau. Kamu mau cerita tentang Ayahmu kan? Nanti akan om ceritakan setelah kita sampai" jelas Alex, matanya masih fokus menyetir dan tidak menoleh pada Raka sama sekali saat berbicara.
Sepanjang perjalanan Mereka lalui dengan keheningan tidak ada yang berusaha jntuk memulai pembicaraan, kedua manusia beda generasi itu sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Mobil melaju dengan kecepatan di atas 120 km/jam ketika mereka memasuki tol yang lumayan lengan, dan bertambah cepat saat mereka mulai memasuki jalanan yang di kelilingi oleh hutan.
Raka bisa melihat banyak pohon besar yang menjulang tinggi di kedua sisi jalan.
Setelah kurang lebih berkendara selama tiga puluh menit dengan kecepatan yang bisa membuat jantungan, akhirnya mobil memasuki sebuah gerbang yang sangat besar dan tinggi.
Raka juga melihat begitu banyak lelaki berbadan besar dan sangar, ia bergidik ngeri melihat penampilan para penjaga di sana.
"Apa sekarang gue lagi ada di markas mafia?" Tanya nya dalam hati, matanya terus mengedar menyelidik setiap sudut, mamperhatikan setiap kegiatan yang ada di sana.
" Yuk" Alex memberi tanda agar Raka segera keluar.
Raka yang sedikit terkejut karna sedang fokus melihat orang-orang yang berbaris di depaan pintu masuk rumah.
Ah.... ini bukan lah rumah tapi lebih pantas di sebut dengan Mansion, Bangunan besar ber lantai dua dengan di dominasi warna abu-abu muda itu terlihat sangat menakjubkan.
" Selamat datang ketua!" Ucap para lelaki dengan suara yang tegas tapi penuh dengan rasa hormat, lelaki yang berjumlah sepuluh orang membungkuk hormat Pada Raka dan Alex, ketika mereka baru saja turun dari pintu mobil.
"Hah... ketua! Berarti Om Alex adalah ketua dari semua pria seram di sini?" Raka terkejut dengan sebutan para lelaki di depannya pada Alex.
"Uuh.... Apa om Alex adalah ketua mafia??" Raka mulai menebak-nebak, matanya melirik Alex yang bersikap biasa saja, hanya sekarang Alex terlihat lebih kaku dan tegas di banding biasanya, ketika berada di rumah.
" Jangan berpikir yang aneh-aneh" Peringat Alex, seakan ia tau apa uang di pikirkan oleh Raka.
Raka hanya mengusap tengkuknya, salah tingkah, ia merasa seperti maling yang ketahuan saja saat ini.
" Berjalanlah seperti apa yang selalu aku ajarkan" bisik Alex pada Raka yang berada di sampingnya.
Raka hanya melirik sebentar dan mengngguk samar, sebagai jawaban.
Ia mengeraskan wajahnya, tidak ada wajah ramah apalagi senyum yang biasa menghiasi wajah tampannya. Saat ini wajah Raka menjadi wajah tanpa ekspresi terlihat datar dan penuh misteri, tatapannya yang tajam melengkapi aura kepeminpinan yang muncul dalam dirinya, bahkan tanpa ia sadari.
Alex menyunghingkan sedikit bibirnya melihat Raka yang sekarang.
Kerja kerasnya selama satu bulan ini tidak terbuang sia-sia, untuk merubah Raka menjadi seseorang yang pantas untuk memimpin kerajaan bisnis milik keluarga Wiratmadja.
"Lihatlah Tam, anakmu memang sama persis sepertimu, bahkan aura kepemimpinan yang di pancarkan olehnya sama dengan mu" ucap Alex dalam hati.
Alex memang mengajarkan Raka untuk lebih terlihat ber wibawa dan sedikit angkuh bila sedang berada di lingkungan bisnis.
" Tegakan badan mu, angkat dagu mu, dan berjalan lah dengan melihat ke depan, abaikan semua yang ada di sekitarmu, gokus pad a tujuanmu, dan jangan terlalu mengumbar senyuman" itulah perintah yang di katakan Alex pada Raka, sewaktu mengajarkan cara bersikap sebagai presdir dan pewaris keluarga Wiratmadja.
Alex hanya menganggukan sedikit kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam Mansion di ikuti Raka dan semua lelaki yang tadi menyambut mereka.
Raka memperhatikan semua yang di lakukan Alex saat ini.
Ia bisa melihat beberapa orang yang bertemu atau berpapasan dengan mereka akan melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh lelaki tadi di depan mansion.
" Kumpulkan semua anggota di halaman belakan" Perintah Alex dengan suara yang berubah menjadi datar dan dingin.
" Baik ketua" Lelaki berbadan kekar yang berada tepat di belakangnya membungkuk sekilas, lalu pergi meninggalakan mereka semua.
Raka, Alex dan sembilan orang lainnya kembali berjalan lebih ke dalam lagi.
Mereka semu berhenti di depan sebuah pintu yang lumayan besar dan tinggi.
Salah satu orang yang ada di belakang Raka berjalan ke depan dan membuka pintu itu.
Alex dan Raka masuk di ikuti mereka semua. Mata Raka mengedar, melihat setiap sudut ruangan dengan sangat teliti dan jeli.
Ruangan yang cukup besar dengan meja panjang di tengahnya dan ada sekitar dua belas kursi yang mengelilingi meja panjang itu.
"Mungkin ini ruang rapat mereka, tapi untuk apa aku di bawa ke sini?" Batin Raka bertanya-tanya.
Alex duduk di kursi kepala, sedangkan Raka duduk di samping sebelah kanannya, setelah itu di susul dengan ke sembilan orang tadi.
Sekarang tinggal tiga empat kursi yang kosong. Satu kursi di depan Raka, satu kursi di samping Raka, dan dua kursi lagi berada di sisi paling jauh dari Raka duduk.
" Perkenalkan ini adalah Raka, anak tunggal dari tuan Tama" Alex memperkenalkan Raka, setelah tadi sempat menanyakan kabar markas dan bisnis, yang Raka tidak mengerti.
" Selamat datang Tuan muda" ucap mereka bersama sambil berdiri dan membungkuk hormat pada Raka, wajah mereka terlihat kaget untuk sesaat, tapi kemudian berubah menjadi biasa saja.
Raka yang terkejut dengan penyambutan mereka ke sepuluh orang tadi, hanya bisa berdiri dan membungk sekilas.
Satu orang yang memisahkan tadi memisahkan diri sudah kembali beberapa menit yang lalu.
"Terima kasih" ucap Raka, setelah duduk kembali di kursinya.
" Raka, kamu mau tau kan tentang ayah mu?" Tanya Alex.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah ruangan yang tidak sebesar ruangan tadi tapi sepertinya ini adalah ruang kerja Alex di sini.
Tapi yang membuat Raka terkejut adalah, ia melihat foto kedua orang tuanya di dinding dan di atas meja kerja.
" Baiklah, saya akan ceritakan tentang Ayahmu dan Ibumu yang sebenarnya" Ucapnya lagi, bahkan sebelum Raka bisa menjawab pertanyaannya.
" Ini adalah Ruang kerja ayah mu Raka. Ia adalah ketua kami, sebelum akhirnya dia menghilang karna perseteruannya dengan kakeknya"
Deg...
Raka langsung melihat wajah Alex, ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan di dengarnya.
Tubuhnya menegang, dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
"Apakah Ayah dulu adalah seorang ketua penjahat atau bahkan mafia?"
Tadi jelas-jelas dia mendengar tentang bisnis senjata dan obat-obatan
"Apakah itu semua adalah bisnis ilegal?"
" Jangan berpikir yang tidak-tidak Raka" suara penuh penekanan Alex memecahkan semua pertanyaan di dalam pikirannya.
" Semua bisnis yang di jalani di sini adalah bisnis legal, dan bukan bisnis yang kamu pikirkan" Terselip nada kemarahan dalam setiap kata yang di ucapkan Alex pada Raka.
Raka hanya diam mendengarkan, di dalam hatinya dia juga merasa bersalah karena telah menuduh ayahnya macam-macam. Padahal selama ini ia tau bahwa Ayahnya adalah seseorang yang sangat baik dan banyak membantu orang.
...Tbc...
Jangan lupa like, comment dan vote nya ya...
...Terimakasih🙏😘...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
jeck
joos
2023-10-27
1
ELLO Paeli
lah enga ada yang komen?
2023-09-06
1