Suara ketukan di pintu membangunkan Raka dari tidurnya yang cukup lelap.
" Tuan muda, sudah waktunya makan malam!" Suara pak Har terdengar dari alat yang memang terpasang untuk menghubungkan orang yang berada di luar ruangan dan di dalam.
Semua kamar di dalam rumah ini sudah kedap suara dan di lengkapi dengan alat komunikasi khusus.
" Iya pak, sebentar lagi saya keluar" Raka mengambil benda seperti remote dan menekan salah satu tombol di sana sebelum berbicara.
" Baik tuan muda" Terdengar lagi suara pak Har.
Raka langsung bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengosok gigi.
Tidur selama hampir dua jam ternyata membuat tubuhnya terasa jauh lebih baik.
" Selamat malam Kakek, om Alex, Leo" sapa Raka duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh pak Har.
" Malam" jawab semuanya bersamaan.
" Terima kasih pak Har" Raka menerima piring yang sudah berisi berbagai menu makan malam untuknya.
Mereka mulai makan malam dengan suasana hening, tidak ada yang berbicara, hanya ada denting sendok yang beradu dengan garpu dan piring yang terdengar.
" Kenapa dengan wajah mu itu Ka?" Kakek berbicara dengan nada penuh penekanan, setelah membersihkan bibirnya menggunakan tisu. Sepertinya ia sedang menahan amarahnya.
Kakek sebenarnya sudah tau kenapa Raka bisa seperti itu, karna mendapat laporan dari orang yang di perintahkan untuk mengawasi Raka dari jauh, dan ia juga menerima laporan dari pak Har tadi sore.
" Tidak apa-apa kek, ini hanya masalah kecil" jawab Raka setelah menyelesaikan makannya.
" Apa tidak sebaiknya di periksa Ka? Pak Har bilang ada luka memar yang cukup besar di punggungmu" Leo ikut menimpali nada bicaranya lebih ke khawatir walaupun rahangnya terlihat sedikit mengeras.
Raka memang menyuruh Leo memanggil namanya bila tidak sedang di kantor.
Walaupun awalnya Kakek dan Leo menolak, tapi dengan sedikit perdebatan kecil, akhirnya mereka mengalah dan menuruti keinginan Raka.
" Gak usah, tadi sudah di periksa di kampus" jawab Raka tersenyum, ia menyandarkan badannya di sandaran kursi dengan perlahan.
" Siapa yang berani mengganggu mu Ka? Bicara sama Om biar nanti om yang bereskan!" Alex juga terlihat marah melhat keadaan Raka.
" Tidak usah om, ini sudah biasa, lagi pula aku ingin mencari tau sesuatu" Raka seperti sedang berpikir sesuatu.
" Kalau kamu mau mengumumkan statusmu semua ini tidak akan terjadi Ka" Kakek kembali membujuk Raka.
Kakek Reksa memang masih kurang menyetujui keputusan Raka untuk menyembunyikan statusnya yang sekarang.
" Tidak apa kek, biarkan seperti sekarang selama saya masih belajar, dan belum mengetahui situasi yang akan saya hadapi dengan jelas" Raka melihat kakeknya dengan tatapan yang optimis.
" Hmmm... Baiklah, terserah kau saja" Kakek berjalan meninggalkan meja makan.
" Leo bawa semua berkas yang harus dia pelajari" perintah kakek setelah mereka semua berada di ruang keluarga.
" Baik tuan besar" jawab Leo lalu pergi ke kamarnya.
" Ini tuan" Raka menaruh setumpuk dokumen yang ia bawa di atas meja.
" Pelajari semua dokumen ini, bila ada yang kamu mau tanyakan, tanyakan saja pada Leo" perintah Kakek kepada Raka.
" Sebanyak ini kek?" Tanya Raka bingung. Kalau begini sih sama saja seperti menyiksanya, ia harus kuliah, latihan bela diri dengan Alex dan sekarang mempelajari dokumen yang mungkin berjumlah puluhan atau malah sampai ratusan.
" Iya, ini semua adalah data semua perusahaan yang harus kamu kelola nantinya" Jawab Kakek dengan entengnya.
Raka hanya bisa melongo mendengar jawaban kakek Reksa yang kelewat santai.
"Ya tuhan... belum juga di liat dalam nya kepalaku udah sakit duluan, apa lagi kalau udah di liat isi dokumen nya, bisa pecah kepalaku!" runtuk Raka di dalam hatinya.
" Baiklah kek, kalau gitu aku permisi ke kamar dulu" Raka berdiri dari kursi.
" Pak Har tolong bawakan semua dokumen ini ke kamar" perintahnya pada pak Har yang berada di belakang mereka dengan pelayan yang lainnya.
" Baik tuan" Pak Har mengambil dokumen yang lumayan banyak dan merepotkan.
" Biar saya bantu pak" Leo mengambil sebagian dokumen di tangan pak Har, kemudian berjalan di belakang Raka.
Walaupun di hati Raka merasa tidak enak menyuruh yang lebih tua darinya, tapi ia harus tetap melakukannya karena kakeknya mengawasinya 24 jam, ia harus berubah menjadi seorang pewaris, calon pemimpin perusahaan ter besar di negri ini.
Ia harus tau posisi nya sekarang, jangan sampai ada pihak musuh yang memanfaatkan kebaikannya untuk menusuknya dari belakang. Itulah pesan Kakek Reksa padanya sekitar empat bulan yang lalu, tepatnya seminggu setelah pertemuan pertama mereka.
" Terimakasih pak Han, sekarang anda boleh pergi" ucap Raka ketika pak Han sudah menaruh semua berkas yangbia bawa di meja kerjanya di dekat jendela.
" Sama-sama tuan muda, saya pamit undur diri" pak Har membungkuk hormat sebelum keluar dari kamar.
"Leo bisa bantu saya menjelaskan beberapa dokumen malam ini?" tanya Raka menarik kursi di dekat meja kerja nya, kemudian duduk dan mengambil salah satu dokumen yang ada di sana.
Leo mengangguk dan berdiri di samping Raka untuk menjelaskan isi di dalam dokumen itu.
Mereka berdua larut dalam diskusi tentang dokumen yang di pelajari Raka, hingga tak terasa malam semakin larut, bahkan waktu sudah menunjukan pukul 00.27
" Sudah larut Ka, sebaiknya kamu segera pergi istirahat, karna besok kamu akan menjalani latihan lagi bersama Tuan Alex" Jelas Leo.
" Hm... Baiklah, terima kasih untuk malam ini Leo" jawab Raka
Raka berjalan ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya lalu bersiap untuk tidur.
***
Di kediaman Prayoga , tepatnya beberapa jam yang lalu.
" Biar Key aja yang buka Ma" Keyra berdiri dari kursinya, berjalan untuk membuka kan pintu saat terdengar bunyi bel.
" Lama banget si loe buka pintunya" baru juga membuka pintu Keyra sudah kena semprot mulut pedes nya Monic.
" Iya sory, tadi gue lagi makan malam" jawab Keyra berjalan masuk bersama dua sahabat baiknya, Monik dan Regina.
Mereka sudah berteman sejak SMP, dan sempat terpisah selama dua tahun karena Keyra yang harus pindah ke luar negri untuk menjaga neneknya sejak setelah lulus SMA.
Tapi walaupun mereka terpisah jauh, ke tiga gadis itu tidak pernah memutuskan komunikasi, mereka tetap saling memberi kabar lewat chat ataupun vidio call.
Malam ini Monik dan Regina memang sudah berencana untuk menginap di rumah Keyra, Rasanya sudah lama ia tidak pernah bercerita bersama sampai larut malam.
Keluarga Keyra juga sudah mengenal baik Monic dan Regina, bahkan ibu mereka satu grup arisan.
" Eh... ada Monic sama Regina, sini ikutan makan malam sekalian" Ajak Ratna ketika melihat sahabat anaknya itu datang.
" Terima kasih tante" Jawab mereka duduk di kursi yang masih kosong.
Setelah menyelesaikan makan malam, Keyra, Monic dan Regina langsung ijin kepada orang tua Keyra untuk masuk ke kamar keyra.
" Ma, pa, aku ke kamar dulu ya" ijin Keyra setelah menyelesaikan makan malam nya.
" Om, tante kita juga ikut keyra ke kamar ya"
Sekarang giliran Monik yang minta ijin.
" Iya, jangan tidur terlalu larut, ingat besok kalian harus kuliah" Ratna mengingatkan, ia tau kalau ketiga gadis itu sudah berkumpul, pasti mereka akan lupa waktu dan begadang sampai dini hari.
" Iya Ma"
"Iya tante"
Mereka menjawab bersama-sama, lalu pergi ke kamar Keyra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments