Pagi ini Raka sudah bersiap untuk pergi ke markas, semalaman ia bahkan hampir tidak tidur untuk mencari tau tentang orang yang di tangkap anak buah Alex.
" Mau ke mana Ka?" Tanya kakek Reksa yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Raka mau ke markas dulu kek, Raka mau latihan di sana" Ucap Raka tidak sepenuhnya berbohong karena rencananya nanti setelah selesai mengintrogasi sandra nya, ia akan berlatih di markas sebelum berangkat ke kantor.
" Hati-hati di jalan, jangan ngebut jalan masih licin" Pesan kakek Reksa.
Tadi malam menjelang dini hari memang turun hujan yang cukup deras dan membuat jalanan licin di pagi hari ini.
" Hati-hati berkendaranya, jalanan licin" Pesan kakek Reksa lagi pada Leo yang sudah bersiap di samping mobilnya.
" Baik tuan besar" Jawab Leo
Raka langsung memasuki mobilnya setelah menyalami kakek Reksa.
Di sepanjang jalan mereka lalui dalam keheningan, Raka yang sibuk dengan tablet di tangannya dan Leo yang tidak berani mengganggu Raka bila sedang dalam mode serius seperti ini.
Apa lagi sepertinya suasana hati tuan mudanya itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Leo memang sudah tau apa yang terjadi di markas tadi malam, ia langsung menelepon Alex setelah keluar dari ruang kerja Raka, dan Alex sudah memberi tau semuanya.
Leo sempat menunggu Raka sampai jam 2 dini hari, tapi Raka tidak juga keluar dari ruang kerjanya.
Ia bahkan tidak tau apakah Raka tidur atau tidak tadi malam, karena ia sendiri tertidur di sofa di depan ruang kerja Raka sampai tadi pagi Raka membangunkannya untuk bersiap.
Sepertinya jiwa bisnis dan pejuang dari darah wiratmadja mulai keluar dari diri Raka, sehingga sekarang sepertinya Raka bahkan sudah kurang tidur selama satu minggu ini.
" Dimana?" Tanya Raka pada Alex yang menyambut kedatangan Raka di depan pintu masuk Markas.
" Ikuti aku" Jawab Alex sambil berlalu masuk ke dalam markas, mereka terus berjalan hampir ke sampai ke pintu belakang markas, sebelum itu mereka berbelok ke kanan, mereka menyusuri lorong yang cukup gelap dan berbeda dengan lorong yang berada di Markas.
" Buka pintunya!" Titah Alex pada dua orang penjaga yang berada di depan pintu.
Mereka membuka pintu dan terlihatlah ruangan yang lumayan besar dengan beberapa ruangan seperti penjara di dalamnya, Raka, Leo dan Alex berjalan memasuki Ruangan itu.
Ada rasa ragu di hati Raka saat ini, melihat ruangan tempat penyekapan orang yang berniat mencelakakannya.
Ini adalah pertama kalinya Raka memasuki ruangan itu setelah ia mengetahuintetntang markas peninggalan kedua orang tuanya.
Ruangan yang gelap dengan hanya lampu kecil sebagai penerangnya, di tambah tidak ada jendela ataupun kaca untuk melihat ke luar, atau sebagai cahaya matahari masuk.
Begitu pengap dan sesak, itulah yang Raka rasakan ketika ia berjalan semakin masuk ke dalam.
"Ayah bantu Raka" Ucap Raka dalam hati sambil membuang nafas kasar, sebelum masuk ke dalam Ruangan di ujung lorong penjara itu, membuang rasa gelisah yang tiba-tiba saja ia rasakan.
"Ayo masuk" Ucap Leo yang langsung di anggukki oleh nya, ia melangkah memasuki ruangan yang cukup luas.
Ia bisa melihat seseorang yang sedang duduk di atas sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat, tubuhnya sudah penuh dengan bekas luka pukulan, bahkan ada beberapa titik yang yang terlihat mengeluarkan darah akibat luka sayatan.
Raka masih berdiri di depan pintu, memperhatikan dengan seksama orang yang saat ini terlihat begitu menyedihkan, bahkan matanya saja terpejam dan sepertinya tidak menyadari bahwa ada seseorang di ruangannya sekarang.
Alex dan Leo hanya diam tanpa mau mengeluarkan suara apapun, mereka berdua malah asik memperhatikan Raka saat ini.
" Bangunkan dia" Raka berucap dengan nada lirih dan dingin penuh penenkanan.
Alex berjalan menuju ke sudut ruangan mengambil Air di dalam ember dari sana dan membawanya ke dekat orang itu.
Byurrrr....
Aaakkhhh....
Teriak orang itu, ketika Alex menyiramnya dengan Air yang sudah di campur dengan perasan jeruk nipis.
Raka memejamkan matanya mendengar teriakan dari sandra nya itu, ia berusaha untuk menghilangkan belas kasih di dalam dirinya untuk saat ini.
" Aakh.... Brengsek!!!" Teriak pemuda itu lagi, merasakan Sakit dan perih di sekujur tubuhnya yang terluka bekas pukulan ataupun sayatan yang di buat Alex tadi malam. Sepertinya ia belum menyadari keberadaan Raka dan Leo di depannya.
Raka perlahan berjalan mendekat, ia mengepalkan kedua tangannya.
"Edo kusuma" Panggil Raka dengan suara penuh penekanan. ia berdiri sekitar dua meter dari tempat Edo di ikat di sebuah kursi kayu.
Orang yang tadi di siram oleh Alex langsung mendongak melihat orang yang memanggil nama aslinya, wajahnya terlihat berubah memucat karna selama ini tidak ada yang tau nama aslinya.
" Edo kusuma atau orang mengenalnya dengan sebutan caplang" Raka mengulang perkataannya.
" Loe....Loe... dari mana loe tau semua itu br*ngs*k!!" Sarkas Edo dengan menatap penuh kebencian pada Raka.
Raka menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, melihat reaksi dari Edo.
" Anak sulung dari pasangan Rohadi dan Asidah, dan mempunyai dua adik perempuan bernama Dinda dan windi" Raka masih melanjutkan kata-katanya, tanpa memperdulikan pertanyaan dari Edo
" Mau apa loe hah...?! jangan ganggu mereka, mereka gak tau apa-apa!!" Edo masih berteriak dan sekarang wajahnya sudah merah padam.
Raka hanya tersenyum mengejek ia mengangguk-anggukan kepalanya.
Ia memberikan kode untuk meminta tabletnya yang berada di tangan Leo, lalu beralih fokus pada tab nya selama beberapa detik.
" Hmm... keluarga yang sangat sempurna" Raka membalik tabletnya yang sudah terpampang foto keluarga Edo di layarnya menghadap Edo.
" Ssshh... Bagaimana ya kalau sampai keluarga mu tau kelakuan seorang Edo yang terkenal Alim dan sopan ternyata di luar rumah seperti...." Raka menggantung kata-katanya, ia mengosok-gosokan telunjuknya di dagunya dengan ibu jari tangan di letakan di sisi rahanynya, alisnya bertaut seaka-akan ia sedang berpikir keras.
Edo langsung gelagapan, sekarang wajahnya sudah pucat pasi seperti tak ada darah mengalir di tubuhnya.
Edo memang di kenal sebagai pemuda yang Alim, sopan dan penurut di sekitar rumahnya, tapi tanpa mereka tau di luar rumah Edo tergabung dengan geng motor jalanan yang melakukan berbagai macam kejahatan dan sering melakukan balap liar.
Alex dan Leo yang berdiri di sudut ruangan, menonton drama yang di buat oleh Raka mereka hanya bisa bertanya-tanya dengan apa yang di rencanakan oleh tuan muda mereka itu.
Mereka kira Raka akan memukuli Edo hingga tak berdaya atau akan menyuruh mereka untuk membunuhnya, tapi sekarang yang mereka liat, Raka sedang bermain dengan emosi dan mental dari orang yang mereka sandra.
Benar-benar di liar dugaan mereka, Raka ternyata lebih menggunakan kecerdasan otaknya di banding mengeluarkan tenaganya.
"Ja...jangan usik mereka, di sini gue yang salah, bukan mereka" Tubuh Edo bergetar melihat tatapan tajam dari mata elang milik Raka.
" Baiklah... tapi apa keuntungannya untukku?" Tanya Raka dengan nada yang menjengkelkan, ia bersidekap dada dengan tatapan yang mengintimidasi pada Edo.
" A...apa yang Loe mau dari gue?" pria muda yang mungkin umurnya masih di bawah Raka itu kini mulai tunduk pada Raka.
Raka tersenyum sinis
"Pastinya kau sudah tau apa yang gue mau"
Suara bernada rendah tapi penuh dengan penekanan itu sungguh membuat mereka yang ada di ruangan itu bergidik ngeri, entah mengapa suhu di ruangan itu kini berubah menjadi dingin dan mencekam.
"Sial... ternyata Raka mempunyai sisi iblis juga seperti Tama" Batin Alex merasakan perubahan suasana di ruangan itu.
"Gue beneran gak tau siapa yang nyuruh gue buat ngelenyapin loe, gue cuman di beri perintah sama ketua gue" Edo berkata dengan terbata, menahan rasa takut dan ngeri dalam dirinya.
Raka terdiam, sepertinya yang di katakan oleh Edo adalah jujur.
"Kasih tau gue perusahaan mana yang bekerja sama dengan geng motor kalian?" Raka masih saja berusaha menggali informasi dari Edo.
" Gue gak tau persis tapi markas kami beberapa kali di datangi oleh orang kepercayaannya dari perusahaan ENDY" Ucap Edo setelah beberapa waktu terdiam.
" Yakin tidak ada yang lain lagi?"
" Gue gak tau, yang gue tau cuman sebatas itu"
" Oke, loe gue lepasin tapi loe harus jadi informan buat gue"
" Inget kartu loe ada di gue, gue bisa aja ngirim semua bukti kelakuan buruk loe pada keluarga loe, kapan aja gue mau. Dan loe pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya" Raka berbicara dengan nada santai, tapi perkataannya penuh dengan ancaman.
" Seterusnya loe bisa berurusan dengan Alex atau Leo" Ucapnya lagi lalu berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan eksekusi itu.
Alex hanya bisa terkejut dengan cara Raka mengatasi orang yang ia sekap, bahkan tanpa menyentuh Edo sedikitpun Raka sudah bisa menjadikan Edo patuh dan tunduk padanya.
Sedangkan dari kemarin malam ia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kesabarannya untuk menghadapi bocah tengil di depannya itu, tapi ia tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa, selain rencananya untuk mencelakai Raka ketika pulang dari acara pesta malam tadi, atau ketika Raka sedang lengah.
Kekejaman yang sama tapi dengan cara yang berbeda. Monolog batinnya.
Jika dulu Tama memilih langsung membunuh semua musuhnya yang tertangkap setelah mendapatkan informasi, tapi Raka, ia lebih memilih menekan musuhnya untuk berhianat pada tuannya.
Bila dulu Tama memilih untuk menyiksa fisik korbannya hingga tak berdaya, tapi Raka memilih menyiksa mentalnya hingga mereka tak punya pilihan selain menyerahkan diri mereka padanya.
***
Raka terus berjalan melewati beberapa pengawal menuju ke ruang latihan menembak di markas itu.
Wajahnya begitu dingin tanpa Ekspresi, langkah lebarnya terlihat cepat, hingga suara sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu nyaring di telinga.
Brak....
Suara pintu ruangan latihan menembak itu di buka secara kasar.
Raka berjalan ke sudut ruangan, meraih Glock 54 GAP milik mendiang ayahnya yang tersimpan di lemari kaca, lalu berjalan menuju latihan tembak.
Dor...dor...dor...dor....
Raka langsung memuntahkan peluru di dalam senjata itu pada sasaran tembak di depannya.
Ia perlu melampiaskan rasa sesak amarah dan sesak di dalam dadanya saat ini.
Mau bagaimana pun ia adalah orang baru di dalam dunia yang seperti ini, ia harus berusaha sekuat tenaga menahan rasa kemanusiaannya dan rasa belas kasih yang ada dalam dirinya.
Sebagai seorang manusia normal, ia merasa kasihan dan bersalah atas semua yang menimpa Edo, karena sebenarnya ia tau, Edo hanyalah seorang pria yang belum dewasa dan salah dalam pergaulannya.
Mau se kejam apa pun dirinya saat ini, tapi di dalam dirinya masih mengalir sifat lembut sang bunda.
Dan semua itu terasa sangat menyiksa dirinya saat ini, tapi semua itu harus ia jalani karena ini lah jalan hidup yang sudah ia pilih.
.
.
...TBC...
Jangan lupa like, comment dan vote nya ya....
...Terimakasih🙏😘...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments