Raka baru saja keluar dari kantor setelah jam menunjukan pukul 21.10, ia langsung menuju ke tempat biasa ia dan Dito bertemu.
Bukan kafe atau bahkan restoran tapi itu hanya warung kopi pinggir jalan tempat anak-anak muda pada nongkrong.
Raka berganti pakaian di dalam mobil, ia memakai kaos berwarna hitam dengan celana jins panjang, dan kaca mata yang selalu ia pakai.
" Woy Ka kemana aja loe? lama loe gak gabung nongkrong di sini!" Seru salah satu teman tongkrongannya, ya masih teman sekitar pasar di dekat rumahnya dulu.
Raka yang baru turun dari motor, yang di kendarai oleh Leo yang juga berpakain sama dengannya hanya saja Leo tidak memakai kaca mata, ia langsung menghampiri anka-anak yang sedang berkumpul di depan warung kopi.
Warung kopi itu hanya berbentuk seperti gubuk dengan luas sekitar 3meter persegi dengan beberapa bangku panjang berbahan kayu, untuk orang-orang duduk.
Untungnya warung itu juga berada di pinggir lapangan sepak bola kampung, jadi sangat leluasa untuk parkir motor, dan nongkrong-nongkrong, karena di sana juga ada banyak pedagang gerobak yang ikut mangkal, biasanya sampai tengah malam tempat itu masih ramai oleh para anak muda yang sekedar mau mencari angin atau ada juga yang membawa pasangannya.
"Gue lagi ada urusan lah dikit" Jawab Raka sambil ber tos ria kepada teman-temannya yang lain.
" Oiya kenalin ini temen gue, Leo" Rka mengenal kan Leo.
Dito yang memang sejak tadi ada di sana hanya memperhatikan Raka dan Leo dari sejak mereka datang.
" Ikut gue, di sini bukan tempat yang tepat" Bisik Raka pada Dito yang hanya di angguki oleh Dito
" Gue pergi dulu ya, masih ada urusan ama si Dito" Pamit Raka setelah ia berbasa - basi sebentar dengan teman-temannya di sana.
" Ko buru-buru banget loe, baru juga dateng?" tanya temannya yang sedang memegang gitar.
" Iya sorry gue masih ada urusan lain" Sanggah Raka dengan nada tidak enaknya, sambil mengangkat tangannya tanda pamit pada teman-temannya.
" Le kita ke markas" bisik Raka sebelum ia naik ke motor Dito.
" Baik tuan muda" Leo langsung melajukan motornya di depan Dito.
" To, ikutin motornya Leo" ucap Raka ketika mereka mulai menjauhi warung kopi.
" Oke" Teriak Dito meng anggukan kepala.
Dito mulai mengerinyitkan alisnya ketika mereka sudah berkendara cukup lama dan sekarang mereka sedang melewati hutan.
" Ka, sebenarnya kita mau ke mana sih?" Dito berteriak pada Raka.
" Udah, loe ikutin aja motor leo" Raka menjawab dengan santai.
" Selamat malam tuan muda" sapa penjaga gerbang markas ketika mereka melewati gerbang.
" Ka, ini rumah siapa? kok gue jadi ngeri begini ya?" Dito bertanya lagi saat mereka sudah masuk ke halaman markas Alex.
" Udah loe ikutin aja gue, gak usah banyak tanya, nanti gue jelasin" tukas Raka langsung sebelum turun dari motor.
" Selamat datang tuan muda dan tuan Leo" Ucap para pengawal yang menyambut kedatangan mereka, salah satu dari mereka membawakan jaket untuk Raka.
Dito hanya bisa bengong dan sedikit linglung melihat perlakuan mereka kepada Raka.
" Kalian sudah boleh pergi, kami hanya mampir sebentar" ucap Raka lalu berjalan masuk ke dalam ruang Rapat tempat pertama kali Raka di bawa oleh Alex.
" Leo kamu bisa meninggalkan kami berdua" Ucap Raka sebelum membuka pintu ruangan.
" Baik tuan muda, panggil saya bila anda membutuhkan sesuatu" Leo membungkukan badannya hormat, sebelum pergi meninggalkan Raka.
" Sekarang loe udah bisa jelasin semua ini sama gue?" Tanya Dito setelah mereka duduk.
Raka pun mulai menceritakan dari awal ia bertemu dengan Leo lalu bertemu dengan kakek Reksa dan di latih untuk menjadi seorang pemimpin dan sekarang ia sudah menjadi seorang presdir di perusahaan DWGrup.
Ia juga menceritakan tentang markas yang ternyata peninggalan dari ayahnya.
Dito hanya bisa bengong dengan muka yang membuat Raka yang melihatnya ingin tertawa, tapi dengan sekuat tenaga ia menahannya.
Wajah Dito saat ini campuaran antara kaget, bingung, tak percaya dan mungkin ada sedikit kemarahan di dalmnya.
" G*la.... ini bener-bener gil*.." ucap Dito sambil menggelengkan kepalanya, tangannya menepuk pundak Raka.
" Berarti sekarang loe udah jadi orang paling kaya di negri ini?!!"
" Uwaaaahh... ini bener-bener gil*! hidup loe udah kaya sinetron aja, tau gak loe?!!"ucap Dito, matanya berbinar penuh dengan kekaguman, lengannya mengguncang pundak Raka.
" Jadi gue sekarang punya sahabat sultan dong Hahaha!!!" Teriak Dito dengan begitu antusias.
" Udah gak usah lebay kayak gitu loe, gue masih Raka yang dulu"
" Dan loe harus ingat, jangan sampai ada orang yang tau tentang semua ini, termasuk ayah dan ibu" Peringat Raka tajam.
" Iya iya, gue bakalan kunci mulut gue " Dito berbicara, tangannya menirukan gerakan mengunci mulut lalu membuang kuncinya ke sembarang arah.
" Awas aja loe kalau sampe semua ini bocor sama orang, bukan gue yang harus loe hadapi tapi Leo dan om Alex yang siap buat kasih pelajaran sama loe" Ancam Raka dengan raut wajah yang di buat se'serius mungkin, padahal dalam hatinya ia ingin sekali tertawa melihat muka Dito yang sudah pucat pasi.
" Hahahaha....." Akhirnya tawa Raka meledak juga melihat Dito yang panik.
" Yaak si*lan loe, sini mau gue beri loe yaaaak" Teriak Dito yang baru sadar kalau dia di kerjain oleh Raka, sambil mengejar Raka yang sudah keluar dari ruangan itu.
Raka, Leo dan Dito baru pulang setelah jam menunjukan jam 00.12, Dito di antar oleh salah satu pengawal Raka, sedangkan Raka naik mobil dengan Leo yang mengendarainya.
Awalnya Dito menolaknya, tapi Raka terus mendesak Dito di tambah Leo yang menakuti Dito. Akhirnya Dito mau pulang dia antar oleh pengawal, mereka pergi dengan motor mereka masing-masing.
.
.
****
.
.
Hari pelaksanaan pesta penyambutan untuk Raka yang menjadi presdir batu di perusahaan DWGrup sudah tiba, tepatnya nanti malam acaranya akan di langsungkan.
" Bagaimana persiapan untuk nanti malam?" Kakek Reksa bertanya ketika Raka sedang istirahat setelah melaksanakan latihan fisik.
Raka yang sedang duduk di atas rumput di halaman belakang, menoleh ke samping tempat kakeknya berada.
" Sudah siap kek, tinggal beberapa hal kecil saja, nanti Leo akan melihat lagi ke lokasi untuk memastikannya" Jawab Raka santai.
" Hmm... sepertinya pekerjaan mu makin hari makin bagus. Bagaimana dengan penyelidikan mu tentang teman kampus mu itu?" Kakek ikut duduk di samping Raka.
" sepertinya itu akan sedikit sulit" Raka menjeda kata-katanya.
"Sangat sedikit identitas yang saya dapatkan tentangnya, sepertinya ada orang berpengaruh di belakangnya, dan mungkin identitasnya sengaja di sembunyikan" Raka menjelaskan dengan tenang, tapi matanya menerawang jauh mengingat beberapa hati lalu saat ia mendapatkan jalan buntu ketika ia mencari informasi tentang Rion.
Ia sendiri bingung dan sedikit mencurigai Rion, sepertinya Rion bukanlah mahasiswa biasa, mungkin Rion sama sepertinya, yang menyembunyikan identitasnya untuk sesuatu hal, namun yang membuatnya penasaran, untuk apa Rion menyembunyikan tentang dirinya dan mengapa Rion bisa mengaku sebagai cucu dari pemilik kampusnya.
Dan kenapa pula tidak ada teguran dari pihak kampus, seolah seluruh staf kampus dan dosen takut pada Rion.
" Bagaimana bila kakek menanyakan tentang Rion pada pihak kampus ?" kakek Reksa memberi saran pada Raka.
" Jangan kakek, bila begitu pihak kampus bisa curiga, dan bila memang ada yang sekongkol dengan Rion di sana, maka ia pasti akan langsung melaporkannya pada Rion, dan kalau sampai itu terjadi bisa jadi Raka malah akan lebih sulit untuk menyelidikinya, karena pasti dia akan lebih waspada lagi" Raka menjelaskan pada kakek Reksa.
Raka bukanlah orang yang ceroboh, yang se'enaknya menggunakan koneksinya tanpa memperhitungkan akibatnya terlebih dahulu, ia adalah orang yang teliti dan jeli setiap kali bertindak, bahkan ia harus berpikir dengan matang dulu saat ia akan mengambil sebuah keputusan.
Kakek Reksa mengangguk - anggukan kepalanya, membenarkan semua pemikiran Raka, ia kagum dengan Raka yang sangat teliti dalam menghadapi situasi dengan beberapa kemungkinan yang akan terjadi.
Kakek Reksa bahkan tidak berfikir sampai ke sana, tapi ternyata Raka selangkah lebih maju darinya, Raka memang benar-benar mirip dengan Ayahnya, atau mungkin malah melebihi sang ayah, karena dalam diri Raka ada ketelitian juga kampuan berpikir cepat untuk mencari solusi dari setiap masalah yang ia warisi dari sang bunda.
Kakek dan cucunya itu terus berbincang dengan sesekali terdengar suara tawa dari mereka berdua, hingga 30 menit kemudian Raka pamit untuk membersihkan diri karena pagi ini ia ada kuliah pagi.
Di bawah guyuran air shower yang terasa dingin dan menyegarkan, otak Raka terus berfikir keras
Siapakah Rion sebenarnya?
Apakah Rion termasuk pada orang-orang yang berbahaya?
Siapakah orang yang saat ini berada di belakang Rion?
semua pertanyaan itu terus memenuhi otaknya saat ini.
"Rion..."
"Rion..."
Gumamnya pelan, matanya menajam memikirkan tentang Rion membuat kepalanya terasa ingin pecah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments