Seminggu tanpa Bu Nani dan anaknya, Tini sudah kembali jumawa. Ia sudah kembali membawa pacarnya menginap. Tapi, kali ini ia lebih pintar menghindari Dijah.
Saat tetangganya itu berada di rumah, Tini berubah menjadi penjilat. Semua stok makanan ia keluarkan untuk mengunjungi Dijah ke kamarnya.
Suatu pagi, saat Dijah baru saja berangkat untuk memulung, Tini pelan-pelan membuka pintu kamarnya untuk mengintip keluar. Merasa tak ada tetangga yang sedang berada di halaman, ia memberi kode pada Gatot untuk segera keluar dan pergi meninggalkan kos-kosan itu.
“Udah pulang cowok kau, Tin?” tanya Mak Robin yang baru keluar dari kamarnya.
“Cowokku? Cowokku mana?” tanya Tini.
“Yang kau kiranya aku pekak (tuli)?” sindir Mak Robin, lalu duduk di kursi plastik.
“Baru pulang naik ojek,” sahut Tini mengalah. Ia sudah tak bisa berkelit lagi.
“Mana keretanya (motornya)?” tanya Mak Robin. “Kemarin kutengok kelen boncengan bedua. Apa itu pinjam?”
“Bukan pinjem. Itu motornya Mas Gatot. Tapi, kemarin baru ditarik leasing. Nunggak,” jawab Tini.
“Berapa bulan?” tanya Mak Robin.
“Tiga bulan,” jawab Tini.
“Ih, sayang sebetulnya kalo tinggal sikit lagi cicilannya. Sisa berapa bulan lagi cicilan motor itu?” tanya Mak Robin.
“Sisa 32 bulan lagi,” sahut Tini, menyulut rokoknya.
“Eeee … bodat kali, bah! Cicilan tiga taon, baru bayar sekali termasuk DP-nya? Tiga bulan ditarik?” Mak Robin tertawa terbahak-bahak. “Paok kali! Bagus kelen rental aja,” tambah Mak Robin.
“Seneng, ya, kalau ngetawain orang. Kemarin waktu ditagih, Mas Gatot nanya aku punya uang atau enggak. Dia minta bantu bayar. Katanya, nanti kalau sudah menikah, motornya bakal dipakai sama-sama. Aku, ya, emoh. Mending aku nyicil motor untuk Dayat. Motornya udah sering mogok,” tutur Tini.
“Kau yang cakap kayak gitu, aku yang bangga. Ternyata nggak paok-paok kali kau. Syukurlah,” ujar Mak Robin.
“Tertipu cinta sudah biasa, aku hanya wanita yang mudah terlena. Tapi kalau masalah uang, aku sayang bukan kepalang. Karena ada adik-adikku yang menunggu.” Tini menyulut sebatang rokoknya.
“Iya, baguslah! Setidaknya ada bagian otak kau yang masih bisa diselamatkan,” ucap Mak Robin. “Yang nempatin bekas kamar si Nani, dari kemarin nggak keluar-keluar kayaknya. Anak gadis itu.”
“Yakin kalau dia gadis?” Tini balik bertanya.
“Yakinlah aku. Dia datang jumpain aku ngambil kunci. Namanya Asti, masih kuliah.”
“Halah, banyak anak kuliah yang—”
“Gak ada—gak ada! Jangan kau samakan semua orang sama kelakuan kau. Dia anak baik-baik. Makanya kuperhatikan dia dari kemarin kenapa nggak keluar-keluar.”
“Apa mungkin meninggal? Kamar Bu Nani ada kutukannya?” Tini bergumam dengan pertanyaannya.
“Muncung kau Tini …. Eh, Tin! Enggak kesepian kau si Nani pindah?” sindir Mak Robin.
“Alasanmu, Mak! Kamu yang seneng dia pindah. Sainganmu nggak ada. Kamu harus berterima kasih denganku karena udah berhasil mengeluarkan Bu Nani dari sini,” ketus Tini.
“Ah, muncungmu itu! Kok kau pula yang mengeluarkan si Nani? Jelas-jelas si Robin bilang kau menangis. Kalah juga kau adu mulut!” Mak Robin tertawa terbahak-bahak.
“Kurang ajar si Robin! Kalau nggak karena gendong dia, udah aku gelut mereka.”
“Kok, anakku pula yang kau bilang kurang ajar?” Mak Robin menendang kursi Tini sampai bergeser.
Tini hanya terkikik-kikik geli melihat Mak Robin mengomel membela anaknya.
“Si Dijah juga yang betul. Selooo … aja. Enggak banyak cakap. Sekali dia cakap, sekeluarga pindah rumah.” Mak Robin melanjutkan tawanya.
“Si Dijah itu luka-luka kemarin, kenapa Mak? Tau?” tanya Tini, kembali menggeser kursinya ke dekat Mak Robin.
“Kau tanyalah sama dia. Kan, kau sering ngasi sajen sama dia. Cari muka kali kau kutengok sejak dibelanya,” kata Mak Robin.
“Aku nggak berani. Hihihi.” Tini terkikik. “Dijah banyak ngomongin anaknya aja. Sama ngomongin Mbok Jum—perempuan tua yang tinggal di pembuangan sampah. Kayaknya Dijah deket dengan Mbok Jum itu. Ngomongin orang tuanya hampir nggak pernah. Bapaknya Dijah dengan bapakku, kayaknya sama-sama aliran sesat. Bapakku nyembah ayam jago, bapaknya Dijah nyembah papan catur.” Tini lalu tertawa terbahak-bahak.
“Pesong!” maki Mak Robin, ia lalu ikut tertawa bersama Tini.
Ojek pangkalan memang selalu menjadi hal yang meresahkan bagi Tini. Tiada hari tanpa candaan atau godaan tiap ia masuk ke gang.
“Anak kandang ayam semuanya makin menjadi, ya …,” ujar pengemudi ojek.
“Anak kandang babi juga. Coba cek sana,” sahut Tini, berjalan memasuki gang menuju kos-kosan.
Matahari sudah melorot ke sisi barat, Tini baru saja kembali dari salon dengan warna rambut yang berbeda. Dari kejauhan, Mak Robin sampai menyipitkan mata untuk memastikan pandangannya. Sedangkan Dijah, memandang Tini dengan raut biasa saja. Di tangannya tergenggam segelas teh manis hangat yang baru dibuat.
Dengan sandal kayu tinggi, Tini melenggang elegan melintasi halaman kos-kosan. Rambut panjang sebahunya, terkibar dengan warna merah menyala bak lidah api. Sayap bidadari Pantura, seakan membentang di punggungnya.
“Eh, kenapa pula rambut kau jadi gitu?” tanya Mak Robin terheran-heran. “Tadi siang baek-baek aja. Sekarang kok gini?”
“Biar nggak dikenali setan,” jawab Tini, menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi plastik.
“Enggak kerja, Jah?” tanya Tini pada Dijah yang sedang menghirup teh.
“Malem ini aku libur. Hari biasa sepi tamunya. Bener dari kemarin nggak keluar, Mak?” tanya Dijah pada Mak Robin.
“Gak ada. Seharian aku liat pintu dia nggak terbuka.” Mak Robin menatap pintu bekas kamar Bu Nani.
“Ngomongin siapa? Asti? Yang nempatin kamar Bu Nani?” tanya Tini memandang Dijah dan Mak Robin bergantian.
Dijah tak menjawab. Wanita itu berdiri dan berjalan melintasi halaman menuju pintu kamar yang tertutup.
“Kok, aku merinding, ya? Kalau sampai bener-bener meninggal, kos-kosan ini pasti ramai polisi. Sebenarnya aku takut, tapi Dijah ini bikin aku ikut penasaran.” Tini mencampakkan sandal kayunya, lalu pergi bertelanjang kaki menyusul Dijah.
“Namanya Asti, kan?” tanya Dijah menoleh pada Tini.
“Iya, Asti.”
Tok Tok Tok
“Asti! Asti!” Dijah mengetuk sambil menyerukan nama gadis penghuni baru kamar seberang.
Tak ada sahutan, dan Tini mengulang apa yang dilakukan Dijah. Sekarang ia ikut penasaran.
“Mungkin nggak dikunc—” Tangan Dijah sudah mendorong pintu kamar itu hingga terbuka. “Enggak dikunci,” gumam Dijah, lalu mendorong pintu itu sampai terbuka.
Gadis penghuni baru itu terlihat menelungkup di atas ranjang yang berlapis kasur tipis. Seprainya seperti dibentangkan dengan terburu-buru.
“Meninggal??” pekik Tini.
“Masih ada suara napasnya,” tukas Dijah dengan nada datar. Tini langsung menutup mulut.
“Asti! Asti!” panggil Dijah, sedikit mengguncang bahu gadis itu. Asti belum bereaksi apa-apa.
Tini kembali mengulangi apa yang dilakukan Dijah. Kali ini, ia duduk di tepi ranjang dan mendekatkan wajahnya ke arah Asti.
“Asti! Bangun!” seru Tini.
Asti tersentak dan membuka matanya. “K-kamu siapa?” tanya Asti membelalak pada Tini. Di depannya menunduk seorang wanita berambut merah menyala dan mendelik padanya.
“Aku malaikat pencabut nyawa,” jawab Tini terkikik-kikik.
Dijah menggeser kepala Tini yang menutupi wajah Asti. Tawa Tini seketika terhenti. Dijah lalu menyentuh dahi Asti dengan punggung tangannya.
“Demam? Kamu demam. Udah makan?” tanya Dijah. Belum mendengar jawaban Asti, Dijah langsung menoleh pada Tini. “Buatin teh panas, Tin! Aku ambil nasi. Tadi aku ada masak sedikit,” ujar Dijah kemudian keluar dari kamar Asti.
Walau sedikit tak suka diperintah-perintah, namun Tini mengikuti apa yang dikatakan tetangganya. Ia kembali ke kamar dan membuat secangkir besar teh manis hangat.
To Be Continued
Hai Sayang-sayang njusss
Terima kasih vote voucher-nya yaaa …. :*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Yulay Yuli
ngakak w thour 😂😂😂kaga ada bosennya dah ama Tini
2025-01-12
2
jumirah slavina
bagossssss... cinta boleh...
bodoh jangan.....
2025-01-24
3
Dae_Hwa💎
/Curse/
2024-11-17
1