Dijah mengisi piring dengan nasi putih, selembar telur dadar dan tumisan kacang panjang bercampur tempe ke atas piring. Sambil menutup pintu dengan asal, ia bergegas kembali ke kamar Asti.
Tini muncul kembali di ambang pintu Asti sambil memegang segelas besar teh manis hangat yang baru saja dibuatnya.
“Sudah berapa hari kamu sakit? Sudah ada minum obat?” tanya Dijah, duduk di tepi ranjang dengan piring di tangannya.
“Belum, Mbak. Kepalaku terlalu pusing. Jadi, aku tidur dulu. Mbak siapa? Namanya ....” Asti bangkit dari berbaringnya.
“Aku Tini, penunggu kos-kosan ini. Udah lumayan lama di sini. Tapi, lebih lama lagi ibu-ibu di seberang kamar kamu ini. Saking lamanya, kemungkinan besar dia lahir dan dibesarkan di sini,” ujar Tini.
“Apa kau bilang? Kupatahkan leher kau nanti, Tini!” maki Mak Robin. Wanita itu baru muncul dengan sepapan obat demam. “Kelen bawa makan-minum, nggak ada yang bawa obat, kan?” tanya Mak Robin.
Asti duduk bersandar ke dinding. Wajahnya pucat.
“Makan dulu, Asti ... atau minum dulu tehnya. Sini, Tin!” panggil Dijah pada Tini.
“Mbak yang ini namanya Dijah. Dia juga sudah lumayan lama di sini, tapi jarang keliatan kalau siang.” Tini duduk di lantai bersandar ke dinding menghadap Dijah yang sedang menyendok makanan ke mulut Asti.
“Aku makan sendiri aja, Mbak. Enggak enak, aku ngerepotin,” kata Asti. Ia mengambil piring dari tangan Dijah dan mulai menyendokkan nasi ke mulutnya.
“Kau masih kuliah, ya, Asti?” tanya Mak Robin.
“Iya—” Asti terdiam karena tidak tahu harus memanggil apa kepada Mak Robin.
“Panggil Mak Robin aja. Mamak si Robin,” kata Tini.
“Iya. Aku anak kuliahan. Aku baru pindah dari kos-kosan di deket kampus. Tapi di sana harganya mahal. Aku mau bantu bapakku meringankan biaya. Ibuku baru meninggal. Bapak nebus ibu dari rumah sakit keluar banyak uang,” ujar Asti. Air matanya meleleh sambil ia menyuapkan nasi ke mulut.
Dijah hanya diam tak menjawab. Sedangkan Tini, bangkit dan menarik lengan Dijah untuk menggantikan posisi di tepi tempat tidur.
“Ya, udah. Kalau mau cerita, kami semua dengerin. Cerita aja, biar lebih lega.” Tini mengusap-usap bahu Asti.
“Aku anak paling besar—”
“Sama,” potong Tini.
“Ibuku sakit parah dan lama di rumah sakit, Mbak ....”
“Sama juga,” kata Tini.
“Aku punya dua adik. Mereka semua masih sekolah,” kata Asti, mengusap air matanya.
“Sebenernya nggak enak mau motong. Tapi itu juga sama,” ujar Tini.
“Bapakku itu mandor pabrik—”
“Untuk yang ini nggak sama. Meski aku kepinginnya sama,” sahut Tini.
“Gak bisa diam dulu mulut kau? Tadi kau suruh dia cerita biar tenang. Tapi dia cakap kau potong terus!” sergah Mak Robin.
“Ya, aku cuma bilang sama. Semua manusia kalau merasa senasib itu pasti bisa cepet akrab,” cetus Tini.
Dijah hanya diam memandang Asti yang memakan sedikit lauk yang dimasaknya tadi. Dua butir telur yang didadarnya untuk makan siang dan malam. Yang baru dimakan Asti harusnya untuk makan malam. Tapi, berbagi sedikit tak akan membuatnya bertambah miskin. Dia memang sudah miskin, pikirnya.
Asti memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
“Masakan Mbak Dijah enak,” kata Asti. “Aku udah lama nggak makan masakan rumahan. Biasanya beli,” sambungnya lagi.
“Laper ternyata, bukan sakit.” Tini mengambil piring kosong dari tangan Asti.
“Sakit juga, Tin. Badannya panas,” kata Dijah. Ia mengambil cangkir teh dan menyerahkannya pada Asti. “Minum selagi hangat. Biar kamu keringetan,” pinta Dijah.
Asti menuruti perkataan ketiga tetua lantai satu yang menjamu dan menerimanya layak keluarga. Wajahnya yang tadi pucat, mulai bersemu merah seiring dengan dahinya yang berkeringat.
“Kemarin, waktu aku nyampe di sini, Mbak Tini nggak keliatan. Mbak Dijah juga,” tukas Asti.
“Aku pasti lagi kerja. Dijah juga kerjanya malem,” sahut Tini.
“Kerja di mana, Mbak? Rambutnya warna gitu? Apa enggak ditegur kantornya?” tanya Asti.
“Aku berkantor di sebuah karaoke. Karaokenya itu ada di hotel. Siapa yang mau negur aku? Yang ada mereka yang bisa keteguran, kalau negur aku.” Tini mengambil gelas kosong dari tangan Asti.
“Kerjanya gimana Mbak? Memang harus malam?” tanya Asti dengan polosnya.
Tini mengatupkan mulutnya. Sesudah memiliki tetangga yang sangat pintar mengungkapkan isi pikirannya seperti Bu Nani, ternyata memiliki tetangga polos pun cukup melelahkan.
Tini menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. “Karaoke tempatku itu memang khusus malam. Sekarang aku jadi pemandu lagu. Jadi, tamu karaoke itu bukan hanya mencari perempuan untuk di anu-anuin. Tapi, ada juga yang memesan wanita untuk menjadi penyemarak dalam ruangan. Nyanyi, joget, yang kayak gitu. Sejak pohon uangku tumbang, aku udah nggak mau lagi megang-megang burung. Makanya aku harus mewarnai rambutku kayak gini. Biar di gelapnya ruangan kibasan rambutku akan selalu terlihat.”
“Kerja malam, ya, Mbak ....” Asti menerima sebutir obat yang baru disobekkan Mak Robin dari kemasannya.
“Iya, dia kerja malam. Dijah juga kerja malam. Makanya orang ini berdua seringkali dibilang loonte.” Mak Robin kembali ke ambang pintu untuk melihat Robin di halaman. Lalu, ia kembali melanjutkan ucapannya.
“Kemarin, anak lantai dua ada lagi yang kudengar nyanyi lagu yang sama. Lagu Bento si Iwan Fals, diganti liriknya. Pas kata Bento itu, diganti dengan kata loonte. Awalnya aku nggak merhatiin, tapi setiap kelen pulang malam, atau baru bangun pagi, dia lewat sini pasti dinyanyikannya. Tapi, aku nggak tau pasti. Untuk si Tini atau si Dijah.” Mak Robin menatap Tini dan Dijah bergantian.
“Ya, ampun. Apa aku ada musuh lagi? Padahal aku belum jadi artis beneran, tapi musuhku berserakan di mana-mana. Apa para perempuan di lantai dua itu iri ngeliat aku punya cowok ganteng?” Tini mengatakan itu dengan setengah melamun.
“Kalo alasannya si Gatot, aku nggak percaya, Tini. Besok-besoklah aku perhatikan lagi, ya. Aku juga penasaran siapa yang dimaksudkannya itu. Nanti kalo udah pasti, aku kasih tau sama kelen.” Mak Robin kembali memandang Tini dan Dijah bergantian.
“Kamu ini udah kayak kompor, Mak. Jangan-jangan ini dulunya musuh kamu juga. Kamu sedang memanfaatkan kami berdua untuk menyingkirkan musuh-musuhmu di sini. Ngaku kamu,” tuduh Tini menatap Mak Robin.
“Muncung kau itu, Tini. Kalo si Robin ini belum ngerti, udah kuputarkan dari dulu kepala si Nani itu. Karena udah pandelah muncung si Robin mengadu makanya aku jaga kelakuan,” sergah Mak Robin pada Tini.
Mendengarkan percakapan antara Tini dan Mak Robin membuat Asti tertawa. Sedangkan Dijah hanya mengulas senyum tipis, tapi raut wajahnya sedang berpikir.
“Yang nyanyi itu perempuan umur 20-an, ya, Mak? Rambutnya ikal diwarnai kuning?” Dijah memandang Mak Robin.
Asti dan Tini terdiam memandang wajah Dijah. Mak Robin mengangguk mengiyakan pertanyaan wanita itu.
“Iya. Kok tau kau? Berarti nyindir kau, ya? Lagu itu untuk kau?” tanya Mak Robin memastikan.
Dijah mengangguk.
“Kenapa pula? Kayaknya santai aja hidup kau selama ini. Di sini pun kau jarang,” tukas Mak Robin. Ia memang bingung, soalnya Dijah selalu terlihat santai. Jarang sekali wanita itu membicarakan sesuatu yang menyangkut urusan pribadinya.
“Cowoknya perempuan itu sering godain aku. Aku sebenarnya nggak peduli. Tapi cowoknya ini sampai ngikutin aku naik motor. Aku nggak suka. Sampai aku berantem di tepi jalan sama cowoknya. Terus dia ngeliat. Aku di kata ngerebut cowoknya dia. Padahal cowoknya udah pernah aku lempar batu, ternyata nggak jera juga. Sekarang ceweknya malah kayak gitu. Biarin aja, Mak. Aku belum terganggu,” ucap Dijah dengan wajah datar.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Nita Ria Nita
cerewet skli muncung kau tin.. dengerin dlu knpa....😁
2024-11-02
1
dyul
wow..... udah ada masalah🤧
2024-08-13
0
Kelabu Biru
aaahhkkkk kangen Dijah lagi akukan. Padahal dah sering bolak balik kesana tetap aja masih rindu sama Dijah.
2024-07-25
1