Malam itu Tini tak sempat lagi untuk mengintip isi amplopnya. Ia sudah kadung kesal dengan Maisaroh. Dengan mengerahkan segenap keberaniannya, Tini menumpangi ojek untuk kembali ke kos-kosan kandang ayam. Ia mendekap tasnya erat-erat di depan dada. Khawatir akan rampok atau begal yang beritanya sedang marak.
“Penghuni kandang ayam, ya?” Suara seorang pria yang sedang duduk di atas motornya, terdengar menyapa saat Tini melintasi pintu masuk gang.
Tentu saja Tini tidak menjawab hal itu. Ia merasa itu bukan hal penting. Di mana pun ia tinggal itu bukan masalah. Pria-pria itu hanya pengemudi ojek yang iseng. Lagi pula, apa kaitannya dengan kandang ayam?
Setelah membayar ojek yang ditumpanginya tadi, Tini buru-buru mengeluarkan kunci dari tasnya. Lalu, ia membuka pintu kamar. Saat itu hampir semua lampu teras dipadamkan. Semua penghuni kos ingin menghemat listrik. Satu-satunya penerangan di halaman kos-kosan itu hanyalah sebuah lampu putih terang yang kurang memadai.
Seakan takut kamarnya tiba-tiba didobrak oleh orang asing, Tini cepat-cepat menguncinya. Ia menghempaskan tubuh di kasur tipis yang dilapisi oleh seprai bawaan yang didapatnya dari lemari di pojok kamar.
Tini langsung membuka resleting tasnya dan merogoh ke dalam. Dengan raut penasaran ia mengeluarkan amplop cokelat yang tadi ia dapat dari hasil merogoh kantong Pak Alie.
Dengan jantung berdebar Tini mulai membuka amplop itu. Tangannya meraba ke dalam dan menarik keluar segepok uang dengan aroma khas uang baru. Uang yang biasa baru bisa ia cium tiap tanggal satu. Itu pun dalam pecahan dua puluh ribu.
Mata Tini tertegun beberapa saat menatap seikat uang yang berada di genggamannya. Dengan cekatan ia membuka pengikat uang, lalu mulai menghitung.
“Wah, lima juta. Aku harus varises berdiri di pabrik selama lima bulan untuk dapat uang segini. Ternyata burung Pak Alie, meski kisut harganya mahal.”
Tini menelan ludah kemudian kembali memasukkan uangnya. Dalam pikirannya, ia meletakkan Pak Alie pada prioritas paling atas, sebagai orang yang bisa dijadikannya tumpuan dalam mencari uang di kota. Selama Pak Alie tak memintanya membuka celana, sepertinya mendengarkan pria itu bercerita tak akan membawa kerugian. Tini sudah membulatkan tekadnya.
Sudah dua bulan Tini berada Di kos-kosan kandang ayam. Pekerjaannya tak banyak. Ia hanya datang ke karaoke saat Pak Alie memintanya datang. Ia memutuskan untuk mengeksklusifkan dirinya di pusat hiburan hotel itu. Dan selama dua bulan itu, ia sudah empat kali adu mulut dengan Maisaroh.
Yang pertama, wanita itu tetap mengganggu Tini dengan perintah menjauhi Pak Alie.
“Kamu mending nggak usah masuk lagi. Bener-bener nggak menghargai senior,” sergah Maisaroh waktu itu.
“Memangnya kamu siapa? Istrinya? Anaknya? Kepengen banget megang burung Pak Alie? Biar aku bantu ngomong.”
Maisaroh dan Tini dilerai oleh Pak Binsar yang memijit-mijit dahinya.
Lalu, kali kedua, Maisaroh sengaja menabrak Tini di kamar mandi. Wanita itu menjatuhkan lipstiknya dan mengatakan kalau lipstiknya patah karena Tini. Ia meminta Tini menggantinya.
“Kamu ganti ini! Kamu, kan, udah kaya! Dapat dari Pak Alie juga pasti banyak. Pelit banget! Sekali-kali traktir anak-anak lama. Malah makan sendiri,” hardik Maisaroh.
Untuk kali kedua pun, Tini tak mau mengalah. Ia merasa semakin bertenaga tiap harus berdebat dengan Maisaroh.
“Ganti lipstikmu? Ya, emoh! Kamu yang cari gara-gara, kok. Sekarang ditambah aku harus mentraktir anak lama. Kerjaan ngelus burung juga mau diambil pajaknya? Hidupmu itu jangan terlalu resah ngeliat keadaan orang lain. Gelisah terus kamu!” Tini menjawab perkataan Maisaroh dengan santai. Semakin hari kemampuannya meladeni perkataan orang semakin terasah karena Maisaroh.
Untuk ketiga dan keempat kalinya nyaris sama. Maisaroh mempermasalahkan hal-hal kecil. Dari mulai Tini yang tak mau melayani tamu lain, sampai Tini yang dianggap tidak mengikuti jam kerja lady escort lain.
Karena gerah akan hal itu, Tini mendekati Maisaroh saat mereka sedang berdandan di kamar mandi karaoke.
“Mbak Saroh,” panggil Tini. “Aku memang orang kampung. Dateng dari desa yang jauh dari hingar bingar kota besar. Pasti Mbak Saroh kayak gitu juga dulunya. Sebelum Mbak Saroh jadi senior, pasti pernah menjadi junior. Harusnya—harusnya, nih, Mbak Saroh itu bisa aku hargai sebagai tetua di sini. Apa susahnya menghargai orang lain? Buatku nggak susah. Aku bisa menghargai orang, kok. Tapi, bukan orang yang bertingkah kayak Mbak gini. Pak Alie itu—maunya aku yang temenin. Kalau dia nelfon aku, dia minta aku datang, ya, aku datang. Kalau aku nggak bisa, dia nggak akan datang. Pak Binsar juga tau. Lantas, masalahnya buat Mbak apa? Penghasilanku? Mbak mau ambil sebagian? Lah, Mbak siapa? Pemerintah aja nggak mengenakan pajak buat yang kerjaannya melonte.”
Sejak saat itu Maisaroh lebih memilih diam tiap berada satu ruangan bersama Tini. Wanita itu tak lagi banyak omong. Meski, wajahnya masih sinis. Kadang-kadang mendengus, berpura-pura seolah ia akan meludah ke lanta, kalau Tini lewat di depannya.
Kelakuan Maisaroh benar-benar seperti wanita yang iri melihat tetangganya beli furniture atau kendaraan terbaru.
Di bulan ketiga Tini bekerja sebagai lady escort, suatu malam ia terburu-buru datang karena Pak Alie meneleponnya. Harusnya hari itu, ia tidak masuk tapi Pak Alie sudah merupakan prioritas. Pria itu tidak memberikan uang pada tiap pertemuan. Tini mulai mempelajari sikap dan sifat Pak Alie. Pria itu terkadang hanya duduk karena ingin ditemani bicara. Untuk jasa itu, kadang Pak Alie memberinya uang, dan terkadang tidak. Tapi untuk layanan mengusap burung, Pak Alie tetap memberi Tini uang layanan. Jumlahnya bervariasi. Tergantung durasi usapan.
Pernah seminggu Pak Alie tak meminta Tini mengusap burung. Hal itu membuat Tini gelisah karena ia sudah mengirimkan sebagian besar uangnya kepada Evi untuk mendaftar kuliah. Sedangkan untuk tiba-tiba menawarkan diri mengusap burung, dianggap Tini hal yang mustahil.
Tini mempelajari sikap Pak Alie yang tak ingin ditagih. Pria itu akan semakin royal memberikan uang, saat Tini tak memintanya. Dan secara logika, lagi-lagi Tini membenarkan sikap pria itu. Manusia mana pun akan lebih sebal ketika ditagih. Yang awalnya ingin memberi, bisa jadi berubah kesal dan mengurungkan niat karena terkesan dipaksa.
Tini tiba di pintu samping hotel dan baru membayar ojeknya. Saat bergegas melangkah menaiki tangga, ekor matanya menangkap seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang sedang duduk di undakan tangga paling bawah. Dengan celana panjang dan kaos sangat sederhana, anak itu terlihat resah menggigiti kuku jari tangannya.
Penasaran dengan apa yang dilakukan oleh anak itu, Tini berhenti sejenak dan memutar langkahnya.
“Dik, ini sudah malam. Sudah hampir pukul sembilan. Kamu ngapain di sini? Nunggu siapa?” tanya Tini. Ia menatap anak laki-laki itu dengan teliti, dari atas ke bawah.
“Aku lagi nggak enak badan, kepingin makan nasi goreng. Sudah dikasi uang sama ibu, tapi aku nggak mau makan sendiri. Aku mau sama ibu. Jadi, aku nunggu ibu pulang, Mbak,” jawab anak laki-laki itu.
“Ibu kamu kerja di dalam? Di bagian apa? Namanya?” Tini benar-benar penasaran dan sejenak melupakan soal Pak Alie yang sedang menunggunya.
“Ibuku namanya Maisaroh. Kata ibuku, dia bekerja di bagian restoran. Yang nganter-nganter makanan. Sebentar lagi katanya bisa keluar. Jadi, aku harus nunggu di sini.” Anak laki-laki itu mendekapkan kedua tangannya memeluk lutut.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
ya ampunnnnnn Thorrrrr... Thorrrrrrr...
nyesel Aku baru baca sekarang...
seru banget ternyata s' Tini....
2025-01-24
2
Herlina Lina
q ikut deg2an lho tin hehehe
2024-12-10
0
Herlina Lina
bilang makasih jangan ini k maisaroh?😃
2024-12-10
1