Tini sudah melupakan kejadian soal Puput si ayam jago yang disembelihnya subuh tadi. Awan gelap masih menyelubungi langit saat Tini mengendap-endap untuk memasak ayam jago petarung bapaknya.
Kekesalannya sudah memuncak. Hujan petir halilintar bumi gonjang-ganjing, bapaknya tak pernah peduli. Semua hidup pria itu hanya berpusat pada seekor ayam jago.
Halaman rumahnya kosong. Tak ada motor Evi atau pun Dayat. Namun, saat ia menekan handle pintu depan rumahnya yang tak pernah terkunci, suara motor terdengar mendekati. Evi dan Dayat muncul bersamaan. Tini masuk ke rumah tanpa melihat kedua adiknya lagi.
"Mbak, Bapak kenapa?" Evi masuk beberapa saat kemudian menghampiri kakaknya.
"Kenapa memangnya?" Tini yang sudah lupa, balik bertanya.
"Bapak melamun di pinggir lembah," jawab Evi.
Pintu kamar yang tadi baru ditutup Evi, diketuk cepat, lalu terbuka. Wajah Dayat muncul menjenguk ke dalam.
"Bapak kenapa? Kayaknya galau. Apa berantem dengan pacarnya? Pacarnya ghosting lagi? Menghindar buat diajak ketemu?" Dayat memberondong kedua kakaknya dengan banyak pertanyaan.
"Memangnya Bapak punya pacar?" tanya Evi.
"Ngapain melamun mikirin pacar? Ghosting-ghosting-ghosting! Iya! Memang hantu semuanya!" umpat Tini sewot.
Evi dan Dayat terdiam. Tak menyangka Tini begitu kesal dengan ucapan Dayat barusan.
"Bapak baru ditinggal mati sama si Puput. Pergi kalian hibur. Aku mau mandi," tukas Tini.
"Puput meninggal? Dikubur di mana?" tanya Evi.
"Kalian berdua sudah makan?" Tini balik bertanya.
Evi dan Dayat mengangguk. "Udah. Pake kari ayam, kan? Enak. Pasti Mbak Tini yang masak," tambah Dayat.
"Oh, ya, sudah! Kuburannya di WC kalau gitu," ucap Tini, mengambil handuk yang terhampar di tepi ranjang bagian atas. Ia lalu keluar kamar.
Evi dan Dayat berpandangan. Lalu, mereka mengusap mulut. Sedetik kemudian, keduanya terbelalak. Mereka berbalik dan berjejalan keluar kamar. Sempat tersangkut di ambang pintu, namun keduanya terbebas setelah saling dorong.
Pak Joko duduk menghadap lembah landai di dekat kandang Puput. Kepalanya tertunduk menatap tanah. Posisinya yang membelakangi pintu dapur, membuat Evi dan Dayat yang berdiri di bawah gawang pintu, tak bisa memastikan apa yang sedang ditatap bapak mereka.
Evi menggamit lengan Dayat. Mengajak adiknya itu untuk lebih mendekat ke balik punggung Pak Joko. Setelah mereka melongok, ternyata benar yang dikatakan Tini. Pak Joko sedang termenung menatap tulang belulang Puput yang tertumpuk di atas tanah.
Evi dan Dayat kembali mundur perlahan-lahan. Kembali masuk ke dapur dan berpapasan dengan Tini di depan kamar mandi.
PLAKK!
Tini memukul kepala Dayat. "Mandi! Dari kemarin kamu begini aja tampilannya."
Dayat meringis memegang kepalanya. Meski harus berjinjit, kakaknya yang pendek itu selalu bisa memukul kepalanya. "Nanti. Sebentar lagi," kata Dayat, ikut mengekori kakaknya masuk ke kamar.
Tini telah berpakaian di kamar mandi. Ia tampak segar karena mencuci rambutnya sore itu. Di depan kaca, Tini mengoleskan bedak Kelly merata di wajahnya hingga berkilap. Lalu, ia mengambil lipstik Hare, lipstik kemasan hijau yang akan membuat bibirnya merah tahan lama. Setengah wanita di desanya menggunakan lipstik itu.
Dayat dan Evi berbaring di ranjang memperhatikan kakaknya.
"Mbak Tini mau malem mingguan ke mana?" tanya Dayat.
Tini tak menjawab, ia lanjut berdandan. Evi sedikit kesal karena diabaikan.
"Mau ke mana, sih?" ulang Evi. "Pergi sama siapa?"
Tini berbalik memandang adik-adiknya.
"Pergi sama Pak Paijo. Puas?" Tini berkacak pinggang.
"Jangan bilang kalau Mbak Tini ...." Ucapan Evi terputus.
"Kalau memang harus. Kenapa enggak?" tanya Tini lagi. "Dayat, Evi. Aku mau ngomong," kata Tini. Ia lalu menepuk kaki Dayat yang berbaring agar duduk memberinya ruang.
"Apa Mbak? Serem aku," tukas Dayat.
"Mulutmu diem dulu," jawab Tini, meremat pelan mulut Dayat. Adiknya itu langsung diam membekap mulutnya.
"Jangan ngomongin yang nggak enak, Mbak. Mbak Tini kalau lagi serius suka serem," kata Evi.
"Aku mau bilang ke kalian berdua. Kayaknya aku ada rencana pergi ke kota. Mau merantau. Aku sumpek di sini. Sekarang kalian sudah besar-besar. Sudah bisa aku tinggal untuk hidup mandiri. Dayat sebentar lagi SMA. Dan kamu ...." Tini menatap Evi. "Kamu pasti capek keliling desa terus jadi tukang kredit. Berdebat dengan orang yang terlambat bayar hampir setiap hari."
"Mbak Tini mau ninggalin kami?" Evi memandang wajah kakaknya yang berkilap dengan raut kecewa.
"Kamu kepingin kuliah, toh?" Tini balik bertanya. Evi mengangguk lemah. "Tabunganmu nanti kutambah. Pergi ke kota dekat sini dan daftar kuliah. Cari kos-kosan murah. Aku nanti kerja di kota buat bantu biayanya. Kamu harus bisa lebih baik, Vi. Aku malu sama ibu kalau kalian nggak jadi apa-apa. Ibu meninggalkan kita dengan banyak pesan-pesan ke aku. Aku kepingin tinggal sama kalian di sini. Tapi kayaknya aku nggak sanggup," tutur Tini.
"Mbak Tini bikin sedih aja," kata Evi. "Kamu, kan, mau nikah sama Coki. Ngapain ke kota?" Mata Evi bersitatap dengan kakaknya.
Tini bangkit. "Ya, sudah. Aku pergi dulu. Pak Paijo biasa jam segini masih mangkal di simpang." Ia berjalan meninggalkan kamarnya.
"Serius mau pergi sama Pak Paijo?" teriak Evi.
"Apa Mbak Tini nggak pacaran sama Coki lagi? Sama Pak Paijo?" Dayat kembali berbaring menarik bantal.
"Mulutmu," bisik Evi.
"Hidayaaat ... mandi!!" teriak Tini dari luar.
"Iya--iya," sahut Dayat, melompat dari tempat tidur dan lari ke kamar mandi.
Sudah mandi, sudah rapi, sudah wangi. Biasanya Tini sudah siap untuk dijemput Coki. Tapi, kali itu pesawat teleponnya sepi. Biasanya, bertengkar sehebat apa pun, pria itu tetap datang.
"Pak, gimana?" Tini tiba di simpang jalan rumahnya, menghampiri Pak Paijo.
"Ada, Tin! Setengah jam yang lalu baru lewat. Katanya ada mau ngeliat sapi mau lahiran." Pak Paijo langsung menyelah motornya.
"Lahiran di mana? Di tempat yang kemarin?" tanya Tini saat sudah berada di boncengan motor.
"Iya. Kamu liat aja dulu, tak anter sekarang. Ayo!" Pak Paijo tidak membenci Coki. Urusan pria itu adalah urusan pribadinya. Tapi, melihat Tini selalu tertipu oleh Coki, Pak Paijo ikut merasa kesal.
Pak Paijo dan almarhumah ibu Tini adalah teman bermain sejak remaja. Sampai ibu Tini meninggal di usia muda dan meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil-kecil, Pak Paijo masih mengamati keluarga itu.
Pak Paijo geram. Coki selalu berlagak paling tampan dengan memboncengi semua gadis desa, dengan mengaku sebagai dokter hewan. Sering tak sopan dengan orang tua, tapi entah kenapa pria itu dipuji oleh gadis muda.
Seperti janjinya pada Tini, Pak Paijo membawa Tini ke salah satu rumah yang katanya adalah teman Coki.
"Tin! Aku nggak bisa memastikan Coki ada di sana, ya." Namanya juga usaha, pikirnya. Usaha menunjukkan pada Tini bagaimana perilaku Coki sebenarnya. Pak Paijo membawa motor sedikit kencang.
"Iya, nggak apa-apa. Namanya juga mau nyari tau. Belum pasti," ucap Tini dengan suara mengambang.
Jantung Tini berdebar kencang. Harapannya terhadap Coki sudah berceceran sepanjang jalan. Dan ketika tiba di rumah dengan teras remang-remang, dengan motor Coki di depannya, harapan Tini sudah habis.
"Tunggu di sini aja, Pak. Aku masuk sendiri aja," kata Tini.
"Aku tunggu di atas motor aja. Jangan lama-lama," pesan Pak Paijo.
Tini melangkah pelan-pelan ke teras berlampu kuning. Rumah terletak paling sudut dan kanan kirinya dirimbuni pepohonan. Ia menunduk melihat dua pasang sandal. Sepasang sandal Coki dan sepasang lagi sandal yang sepertinya tak asing lagi.
Tini mencoba menekan handle pintu dan mendorongnya. Ternyata tak terkunci. Rumah siapa ini, pikirnya. Tanpa melepaskan sandal, Tini melangkahkan kaki memasuki ruang tamu lusuh yang lampunya padam. Hanya ada cahaya kecil dari dapur.
Langkah kakinya mengendap-endap. Jantungnya serasa akan berhenti kapan saja saking gugupnya. Ia tak tahan. Sebenarnya ia tak kuat. Tapi, ini harus. Demi kepuasan hatinya.
"Kamu udah? Sini, kamu nungging. Aku sebentar lagi!" Suara Coki yang tak asing lagi terdengar dari kamar yang pintunya sedikit renggang.
Tini mendekati pintu dan mendorongnya. Pemandangan yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya. Saat kekasihnya tengah menunggangi sahabatnya sendiri. Ia membuka pintu kamar lebar-lebar.
"Ya, ampun!!" jerit Siti Kusmini. "Tin!" Perempuan yang sedang telanjang bulat itu menjerit dan mendorong tubuh Coki.
"Ngapain kamu masuk ke sini?" tanya Coki.
"Kok, berenti? Aku mau liat. Apa bentuk anuku beda sama anu si tikus? Anu dia bentuknya melintang? Ayo terusin!" Tini semakin melebarkan pintu kamar.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
buahahahahahahahahahaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Herlina Lina
alhamdulillah pak paijo baik ternyata k tini
2024-12-07
1
Herlina Lina
sedih😭
2024-12-07
0