Tini berdiri di depan pintu kamarnya masih menggendong bayi yang matanya belum ada tanda-tanda mengantuk malam itu. Merasa wanita yang menitipkan bayi itu cukup lama kembali, Tini menduduki kursi plastik di teras kamar.
Pandangan Tini menyapu tiap sudut pekarangan kos-kosan yang sepi. Beberapa pintu tertutup tanpa cahaya sama sekali. Beberapa pintu lainnya, tertutup, namun dari dalamnya berpendar cahaya.
Bayi di tangannya kemudian menggeliat. “Mam-mak!” kata bayi itu saat memandang Tini.
“Bukan—bukan! Aku bukan mamak kamu. Ibu kamu kerja, ya? Di sini dititipi ke ibu tadi? Manggilnya apa? Oma? Atau Nenek?” tanya Tini pada bayi di pangkuannya.
Baru saja Tini selesai bicara, terdengar suara langkah kaki dengan sandal jepit dari dua sisi. Satunya adalah suara sandal Mak Robin, dan satunya dari seorang wanita yang berjalan mendekati teras. Saat jaraknya dengan wanita itu hanya dua langkah, Tini melihat perut wanita itu sedikit besar. Dengan cepat Tini mengambil kesimpulan bahwa wanita itu pastilah salah satu penghuni kos-kosan.
“Enggak nangis dia, kan?” Mak Robin mengangkat anaknya dari pangkuan Tini dan mengangkat bayi 1,5 tahun itu di depan wajahnya.
“Enggak nangis, lho, Oma ... cucunya baik hati,” kata Tini ramah. Ia ingin mengawali hari pertamanya di kos-kosan itu dengan berteman.
“Iya. Makasilah udah kau bilang dia baik hati. Tapi ini anakku,” jawab Mak Robin dengan wajah gusar.
“Ya, ampun. Aku nggak tau. Maaf,” kata Tini serba salah.
“Kau bukan orang pertama yang bilang gitu. Udah biasa aku,” kata Mak Robin. “Kau mau apa, Warni?” tanya Mak Robin pada wanita yang sedang berdiri di dekat mereka.
“Mau nanya kamar itu. Apa masih kosong?” tanya Warni, menunjuk kamar yang letaknya di sebelah kamar Tini.
Tini hanya diam memperhatikan dua orang yang baru ditemuinya di kos-kosan itu.
“Aku duduk, ya.” Warni menarik kursi plastik dan duduk di depan Mak Robin. Blusnya yang sedikit ketat menampakkan perutnya yang membesar.
“Sudah berapa bulan, Mbak? Anak pertama, ya?” tanya Tini pada Warni.
“Bukan hamil, Mbak. Penyakit asites, penumpukan cairan di rongga perut. Sering mual, muntah, begah, cepat kenyang. Tapi, aku sedang dalam tahap pengobatan. Diet dan minum obat,” tutur Warni.
“Maaf, Mbak. Saya nggak tau,” ucap Tini. Lagi-lagi ia salah mengeluarkan kata-kata. Ia langsung merasa tak enak dan melirik Mak Robin yang sedang menatapnya.
“Enggak apa-apa. Udah sering,” sahut Warni. Jawaban wanita itu membuat Tini semakin tak enak.
Tini heran karena Warni terlihat santai saja. Apa penduduk kota sudah tak aneh melihat sesuatu yang aneh?
“Aku nggak akan ngomong apa-apa lagi selama seminggu ke depan. Aku belajar dalam diam untuk sementara ini,” ujar Tini pada Mak Robin. Mendengar hal itu, Mak Robin mengangguk-angguk setuju.
“Penghuni baru, ya?” tanya Warni.
“Iya, baru nyampe, Mbak.” Tini tersenyum sopan.
“Sudah dapet kerja di sini?” tanya Warni lagi. Tini menggeleng. “Mau kerjaan?” Warni langsung menanyakan hal itu tanpa basa-basi.
“Jangan kau kasi kerja entah hapa-hapa, Warni .... Kayaknya dia dari desa. Masih gadis perawan. Jangan kau rusak dia,” tukas Mak Robin, menggoyang-goyangkan kaki untuk menidurkan anaknya.
Tini tersenyum getir saat Mak Robin mengatakan hal itu.
“Aku cuma menawarkan. Siapa tau Mbak—siapa namanya?” tanya Warni.
“Oh, iya. Siapa nama kau?” tanya Mak Robin.
“Tini, Mbak. Tini Suketi,” jawab Tini.
“Nah, siapa tau Mbak Tini butuh pekerjaan. Bisa cari aku. Soalnya tampilan Mbak Tini—” Warni menatap Tini dari atas ke bawah. “Mbak Tini ini semok. Gede.” Warni tersenyum sumringah saat mengatakan hal itu.
“Memangnya Mbak Warni ini ... kerjaannya apa? Bukannya sakit?” tanya Tini.
“Aku germo. Mucikari,” jawab Warni santai. “Yang kerja, kan, mulutku. Bukan anu-anuku. Aku cuma semacam penghubung dan pencari tenaga kerja. Tapi, kamu jangan salah sangka. Yang aku tawarkan ini, bukan melacur. Ini namanya lady escort. Wanita pendamping. Kalau di karaoke, tugasnya nemenin minum. Selanjutnya mau ngapain di luar jam kerja, itu bukan urusan pihak karaoke.” Warni terlihat puas setelah menjelaskan hal itu.
“Kau ke sini cuma mau nyari perempuan aja?” tanya Mak Robin.
“Enggak. Aku mau ngeliat kamar kosong. Nyai bilang kemarin ada tiga kamar kosong. Ternyata satu sudah ditempat Mbak Tini. Buat temenku. Yang sebelah ini letaknya bagus,” tukas Warni melihat kamar di sisi kanannya.
“Saya mau nyari kerja yang waktunya pagi ke sore aja, Mbak.” Tini menolak dengan sopan ajakan Warni.
“Lulusan apa? SMA?” tanya Warni. Lagi-lagi Tini mengangguk. “Oh, ya, sudah. Cari aja dulu. Nanti kalau nggak dapet dan perlu uang cepet, telfon aku, ya. Kamu catet nomorku,” pinta Warni mengeluarkan ponselnya.
Demi kesopanan, Tini mengeluarkan ponselnya dan mencatat sederet nomor yang dibacakan Warni. Lalu, wanita itu berlalu dari sana. Tini tak pernah menganggap nomor telepon itu akan dihubungi suatu hari nanti.
“Pasti kau capek, kan? Tidurlah kau. Anakku pun udah tidur,” ujar Mak Robin, berdiri dari duduknya sembari menggendong anak.
Itu adalah hari pertama Tini tiba di kos-kosan kandang ayam, yang katanya paling murah sejagad Indonesia. Terletak di dalam gang yang tak bisa dilalui mobil, namun berada di belakang mall besar.
Para penghuni kos-kosan itu bermacam-macam. Mulai dari SPG mall, pembantu rumah tangga yang pulang pergi, wanita malam, hingga pegawai-pegawai toko yang berada di sekitar daerah itu.
Sudah seminggu Tini berada di sana dan mencoba mempelajari tempat tinggalnya. Ia membuat lamaran pekerjaan yang dikemasnya dalam amplop cokelat dengan mengisi daftar riwayat hidup yang dibelinya perlembar kemudian ditulis tangan.
Sudah puluhan amplop ia masukkan ke berbagai toko dan supermarket. Tapi sepertinya nasib baik belum berpihak pada Tini. Belum ada satu pun panggilan yang ia terima. Sementara, uangnya semakin menipis meski ia sudah berhemat.
Evi dan Dayat sudah menelepon Tini beberapa kali. Yang pertama, mereka menceritakan soal pesta Coki yang gagal ramai karena sebagian besar tamu berbalik arah. Saat itu Tini benar-benar senang. Ia membayangkan wajah Mini yang berharap mendapat keuntungan amplop seusai pesta, namun gagal.
Sesudah telepon itu, adik-adik Tini menanyakan soal pekerjaan. Apa kakaknya sudah bekerja. Apa kota besar enak. Bagaimana suasana tempat tinggal dan tetangganya. Dan semua pertanyaan itu dijawab Tini dengan kebohongan.
Tini berbohong bahwa ia sudah memiliki banyak teman. Padahal, seharian ia hanya mendengarkan Mak Robin yang menceritakan soal rasa rindu akan tanah kelahirannya di Sipiongot. Menjaga Robin yang sedang aktif-aktifnya ingin melangkah selama ibunya memasak atau ke kamar mandi.
Tini berbohong soal mendapat pekerjaan bagus di mall dekat kos-kosannya. Ia mengatakan kalau saat ini ia bekerja sebagai SPG kosmetik yang berwajah licin dengan stocking hitam seksi. Tini bukan mau bermulut besar. Ia hanya ingin adik-adiknya tenang. Tak usah terlalu mengkhawatirkan dirinya selama merantau.
Sebagai akibat kebohongannya itu, Dayat sudah meminta diisikan pulsa buat paket datanya yang habis. Tini langsung bergegas mencari warung untuk membelikan Dayat pulsa. Lagi-lagi, Tini harus menarik selembar uang simpanannya.
Bukan soal kebohongan apa yang ia ucapkan. Tapi, bagi Tini, ada hal yang tak perlu ia kuak pada orang lain. Ia merasa terkadang harus berbohong untuk menghargai atau membahagiakan orang lain. Terutama adik-adiknya. Itu saja.
Apa yang dirasakannya saat itu tak penting. Bagian terdalam dirinya sudah lebur berkeping-keping. Yang bisa ia lakukan adalah menyelamatkan masa depan adik-adiknya.
Malam itu, Tini sudah membulatkan tekad. Jika pekerjaan yang ditawarkan Warni bukan pelacuran seperti yang dikatakan wanita itu, tak ada salahnya ia mencoba. Hatinya tak terima. Tapi, perutnya pasti akan lapar.
Dengan satu ketukan, Tini menghubungi nomor telepon Warni di ponselnya.
“Halo? Mbak Warni? Saya tertarik dengan pekerjaan yang Mbak tawarkan kemarin. Syarat-syaratnya apa saja?” tanya Tini. Ia sudah mengira bakal diminta membawa perlengkapan ini dan itu.
“Besok saya jemput. Kenakan pakaian kamu yang paling bagus. Syaratnya cuma semok aja. Susunya gede, dan kemampuan bicara akan jadi nilai tambah. Jam lima sore, ya.”
Tini mengakhiri pembicaraan di telepon dengan termangu-mangu. Syarat kerja apa itu? Perlunya cuma susu yang besar dan kemampuan bicara.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Herlina Lina
begitu udh kenal bs d tunjang kau tini wkwkwk
2024-12-10
1
Herlina Lina
mamak manggilny tin wkwkwk
2024-12-10
0
Suharnani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-09
0