Ternyata benar apa yang dikatakan Warni, Pak Alie hanya naafsu besar tenaga kurang. Jangankan untuk tegang, menggeliat saja burungnya sulit. Tapi pria tua itu cukup senang saat Tini mulai mengusap-usap benda kecil yang sepertinya akan ia banggakan hingga akhir hayat. Wajar saja, bagi seorang laki-laki, itu adalah mahkotanya.
Sebelum melakukan hal itu, Tini merasa jijik pada dirinya sendiri. Dan setelah melakukan hal itu, ia lebih jijik pada dirinya. Namun, ia merasa lebih lega. Bukan lega karena berhasil memegang burung Pak Alie. Ia hanya lega karena ternyata Pak Alie tidak terlalu menakutkan. Malah dibanding coki, Pak Alie jauh lebih baik memperlakukannya, meski ia wanita asing dan bisa disebut sebagai wanita penghibur. Pria tua itu setidaknya bermodal uang. Sedangkan Coki, hanya bermodal janji.
Pak Alie hanya meminta Tini untuk sering-sering bernyanyi, lalu beristirahat untuk mendengarkan cerita soal almarhum istrinya.
Pak Alie ternyata punya cerita melankolis juga soal hidupnya. Dalam satu percakapan di menit terakhir pria itu sebelum pulang, Pak Alie mengatakan, “Dulu, ada yang mengatakan bahwa saya harus merawat dan mendidik anak-anak saya dengan baik. Karena, mereka adalah investasi saya di masa tua. Tapi, saya tidak sepenuhnya setuju. Bagi saya, istri saya adalah investasi paling berharga dalam hidup saya. Saya membahagiakannya, maka hidup saya di rumah juga bahagia. Anak-anak sehat terawat, dan dia banyak tersenyum. Rumah jadi lebih ceria.”
“Anak-anak dengan cepat tumbuh besar dan pergi meninggalkan orang tuanya. Di rumah hanya tinggal saya dan istri. Lalu, istri saya meninggal dan saya sendiri. Anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing. Saya nggak mau ganggu. Enggak mau jadi beban. Saya ada asisten dan perawat di rumah. Untungnya uang saya banyak. Sewaktu muda saya kerja keras, kehilangan banyak waktu untuk keluarga. Setelah tua dan mengumpulkan banyak harta, ternyata saya juga tidak bersama keluarga. Tapi ... setidaknya untuk itulah uang dicari. Ya, tidak? Uang ada untuk memudahkan hidup manusia.”
“Jadi—anak-anak Bapak sekarang di mana?” tanya Tini mulai penasaran. Ia sudah kepalang basah. Selain harus memetik hasil dari pekerjaan buruknya, apa lagi yang bisa ia lakukan. Lagi pula, ia tak pernah berbicara dengan orang kaya di kota. Tini menyetujui buah pikiran Pak Alie. Pria itu dinilainya sangat realistis.
“Anak sulung saya, perempuan, di luar negeri ikut suaminya. Yang tiga laki-laki, tersebar di seluruh Indonesia. Jadi pengusaha. Cuma satu yang di Jakarta. Yang bungsu. Sekarang saya tidak ada lagi memikirkan apa-apa. Anak saya sudah hidup bahagia dengan keluarganya masing-masing. Cucu saya bahkan sudah ada yang berkuliah di luar negeri. Semuanya happy. Kehidupan tercukupi. Lalu, saya mau apa lagi? Saya hanya tinggal menunggu mati. Menunggu kapan Tuhan mengambil saya, biar saya bisa bertemu dengan kekasih hati yang selalu saya rindukan. Istri saya.” Pak Alie setengah melamun saat menyebutkan soal istrinya. Sorot matanya meredup dan rautnya muram.
“Istri Bapak pasti orang baik,” kata Tini. Ia ingat pesan Warni soal mengambil hati pria itu. Teori sebanyak apa pun, tak akan berguna tanpa disertai praktek.
“Baik sekali. Istri saya baik sekali. Usaha pertama saya adalah pemasok sparepart mobil ke bengkel-bengkel. Kebun kelapa sawit berasal dari sparepart. Penghasilan di awal menikah cuma dua belas ribu sehari. Tapi dia menemani saya dengan setia. Saya sudah sering ke dunia malam karena tuntutan pekerjaan. Dia tau saya menghabiskan malam bernyanyi bersama perempuan berdada besar.” Pak Alie mengedikkan bahunya.
Seketika Tini menunduk melihat dadanya. Ternyata laki-laki tua di sebelahnya ini sudah menyukai dada jumbo sejak dulu.
“Malah istri saya kadang bercanda. ‘Jangan lupa cari yang besar, Pih.’ Tapi setiap saya pulang dini hari, dia nggak pernah absen buatin saya teh herbal.”
“Benar-benar baik ternyata,” ucap Tini dengan suara dikeraskan. Ia ingin Pak Alie mendengar pujiannya barusan. “Bapak benar-benar beruntung.” Tini mengangguk-angguk dengan wajah serius.
Pak Alie mengangguk membenarkan ucapan Tini. “Terkadang saya tidak sabar. Rasanya, kok, umur saya terlalu panjang. Apa karena saya memang terlalu bajingan untuk diambil cepat-cepat? Soalnya istri saya baik sekali tapi malah dia yang duluan meninggalkan saya.” Pak Ali menggeleng dengan raut menyesal.
Tini sudah mematikan mic sejak tadi. Ia sudah menghabiskan dua botol kecil air mineral dan pergi sekali ke toilet dalam tiga jam menemani Pak Alie. Dan dalam tiga jam di ruangan itu, Pak Alie hanya minta burungnya diusap sesekali. Tindakan itu dianggap Tini sebagai tindakan mengasihani burung Pak Alie yang tak berdaya. Dan pria itu kembali meremat dadanya dua kali.
Ternyata tiga jam itu membuat perubahan sudut pandang Tini cukup tajam. Rematan singkat Pak Alie di dadanya tak membuatnya lecet atau terluka. Selain itu, jika burung Pak Alie ditenangkan, pria itu akan terlihat lebih anteng. Satu kunci yang didapatnya malam itu. Disentuh atau menyentuh. Tini lebih memilih menyentuh, mengusap atau membelai, ketimbang sebaliknya.
Puncaknya, pria itu mengakhiri acara berkaraoke. Pak Alie meminta Tini untuk merogoh saku kanan celananya. Ternyata berisi amplop cokelat. Tini memaki dalam hati. Padahal pria itu tinggal merogoh saku sendiri. Tapi, untuk menerima uang bayaran, ia tetap harus menyenggol gantungan kunci di dalam celana Pak Alie.
Tini melepaskan Pak Alie di depan ruang karaoke. Demi kesopanan, ia menunggui pria itu menghilang di simpang lorong. Tapi, ternyata benar-benar lama sekali. Lagi-lagi benar apa yang dikatakan Warni.
Ketika tengah mengancingkan tasnya, seorang pria berjas datang. Tini mengingat pesan Warni, bahwa pria itu adalah Pak Binsar. Manager operasional karaoke itu.
“Anak baru, ya? Temennya Warni?” tanya Pak Binsar.
“Iya, bener, Pak.” Tini mengangguk.
“Pak Alie pelanggan setia di sini, enggak rewel. Jadi, kamu jaga, ya.” Pak Binsar menepuk bahu Tini dua kali.
Pesan itu terdengar seperti Pak Binsar sedang menitipkan seorang bocah padanya. Raut Pak Binsar yang datar-datar saja, membuat Tini tenang. Ia tak merasa dihakimi. Pak Binsar tak menanyakan dari mana asalnya, dan kenapa ia berada di tempat itu. Manager itu fokus pada tugasnya di tempat itu. Menjaga pelanggan.
Malam itu ternyata tak begitu menakutkan seperti dugaan Tini. Waktu sudah menunjukkan hampir sebelas malam. Sebelum pulang, ia tak sabar mampir ke toilet untuk mengintip isi amplopnya.
Usai Pak Binsar menepuk bahunya, pintu ruang akuarim terbuka. Seorang wanita berdada besar lainnya keluar dengan pakaian seksi.
“Ini temennya Warni, Pak?” tanya perempuan itu.
“Iya, kenapa?” tanya Pak Binsar. “Mau berisik lagi? Padahal udah diomongin kemarin. Saya capek. Kalo nggak ada tamu lagi, pulang aja.” Pak Binsar mengibaskan tangannya mengusir perempuan itu.
“Pak Binsar gimana, sih? Kan, aku udah bilang kalo Warni pensiun, yang gantiin nemenin Pak Alie itu aku. Bukan anak baru. Aku lebih lama di sini,” tukas wanita itu.
“Saya nggak tau. Enggak ikut-ikutan. Pak Alie nggak ada komplain apa-apa ke saya. Malah nitip pesan, lusa dia dateng lagi. Mbak ini yang harus nemenin.” Pak Binsar menunjuk Tini.
Tini mulai mengerti duduk persoalan. Ternyata, kakek tua pun menjadi rebutan kalau uangnya banyak dan royal. Sekali lagi, sebelum pulang, Tini mengingat pesan Warni. Jangan terlihat seperti anak kemarin sore yang baru terjun ke dunia esek-esek. Artinya ia harus bertahan dengan kemampuan lidahnya, jika tak ingin kehilangan pelanggan royal seperti Pak Alie.
Ibarat sebuah aset berharga, Tini merasa harus mempertahankan Pak Alie demi kemudahannya di tempat itu.
“Anak baru! Siapa nama kamu?” tanya perempuan itu di hadapan Pak Binsar.
“Tini,” jawab Tini tanpa mengalihkan tatapannya dari lawan bicara.
“Denger, ya. Kayaknya kamu harus mengalah sama yang lebih senior. Aku lebih lama di sini. Sudah lebih dari empat tahun. Lusa kamu bisa pura-pura sakit. Biar aku aja yang nemenin Pak Alie. Ngerti, ya?” tanya perempuan dengan dress hitam yang berdiri menyilangkan tangannya di depan dada.
Tini tak menyahut. Ia menarik napas panjang. Lalu, ia ikut menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Anak lama! Siapa nama kamu?” Tini balik bertanya.
Wanita itu terperanjat mendengar hardikan Tini. Ia tak menjawab pertanyaan soal namanya.
“Mei—mei, panggilannya. Lengkapnya Maisaroh.” Pak Binsar tampaknya ingin perseteruan itu cepat selesai. Ia membantu Tini melengkapi biodata lawannya.
“Oke, Mbak Saroh. Saya anak baru. Memangnya kenapa dengan anak lama? Bangga? Harusnya malu. Sudah kerja lama tapi nggak naik jabatan. Masih kerja begini. Soal Pak Alie, nggak usah ikut campur. Cari lahan sendiri. Saya nggak ngambil bapak itu dari Mbak Saroh.” Tini melepaskan dekapan tangannya dan membenarkan letak tas di bahu.
“Kerja lama di sini, kok, bangga. Makin lama di sini, makin lama di neraka. Ngerti, ya?” ketus Tini. Ia lalu mengangguk pada Pak Binsar dan memutar tubuhnya.
Tini menegakkan kepala berjalan menyusuri lorong untuk keluar dari pintu samping hotel. Pekerjaannya sudah rendah. Dan ... hina. Tini tak mengharapkan orang membelanya atas pilihan itu. Baginya, hidupnya adalah miliknya. Orang-orang nyinyir di luar sana tak ikut menanggung pengeluarannya. Jadi, apa yang ia beratkan?
Dalam hidup ini, memang selalu ada hitam dan putih. Tapi, di antara kedua warna itu masih ada abu-abu yang jarang disadari orang lain. Tini memilih berada di antara warna itu. Selama mengusap burung Pak Alie tak membuatnya terluka, ia tak keberatan. Evi dan Dayat tak perlu tahu akan hal itu.
To Be Continued
Jangan lupa likenya, Mbeeebs :*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
lewatin si Maysaroh sambil busungkan dada'mu Tin.. sambil ngomong...
BESARAN DADA'KU TOH...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Yulay Yuli
Realistis y tin intinya
2025-01-12
1
Herlina Lina
go tini go....
2024-12-10
0