17. Perang Dingin

Kehadiran Gatot Sayuti dalam kehidupan Tini membuat hari-hari wanita itu terasa selalu dipenuhi oleh pelangi. Terutama saat ia sedang berada ada di karaoke. Namun kehadiran tetangga barunya sedikit mengganggu.

Dijah nama tetangga barunya itu memang tak pernah banyak bicara. Wanita itu bangun pagi-pagi sekali, membuat gaduh di waktu subuh, menghilang, lalu kembali terlihat saat matahari tenggelam. Tini penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu, tapi ia tak berani bertanya.

Saat itu musim penghujan. Tiada hari tanpa hujan. Dan Tini sedikit bermalas-malasan saat harus berangkat kerja karena cuaca sangat mendukung untuk bergulung di bawah selimut. Apalagi jika Gatot mendapat giliran hari libur dari hotel. Libur pegawai biasanya jatuh pada hari biasa. Bukan di akhir Minggu. Makanya jika Gatot mendapat hari libur di akhir pekan, Tini merasa seperti sedang berhari raya.

Seperti malam ini.

“Aku nggak kerja, ah. Males. Aku masih mau bareng-bareng,” ucap Tini, bergelayut manja di lengan Gatot yang sedang duduk di teras kos.

“Nanti Pak Binsar marah, lho. Kamu keseringan nggak masuk,” kata Gatot.

“Tapi aku masih kangen,” cebik Tini dengan manjanya. “Atau nginep di sini aja?” tanya Tini.

BRAKK!

“Aduh setan!” maki Tini terkejut. Ia memegangi dadanya memandang pintu kamar Mak Robin yang tertutup rapat.

“Itu tetangga kamu mulai marah, lho. Ibu itu kayaknya nggak suka sama aku,” kata Gatot ikut memandang pintu kamar yang baru saja dipukul dari dalam.

“Coro kurang ajar!” maki Mak Robin dari dalam kamarnya.

“Nah, denger, kan? Bukan ngomongin kamu, Mas. Coro kata Mak Robin,” jelas Tini pada kekasihnya. Ia masih mau berlama-lama bersama pria itu.

“Memangnya itu apa?” tanya Gatot.

“Kecoa. Mak Robin nyebut kecoa itu coro,” jawab Tini.

“Jadi, nggak apa-apa kalo aku nginep di sini?” tanya Gatot. Pertanyaan itu lebih mirip dengan sebuah tawaran.

BRAKK!

“Bapakmu setan!” umpat Tini lagi. Ia lalu menutup mulutnya dan melirik Gatot. Pria itu cemberut menatap Tini. Untuk menghilangkan kekesalan Gatot, Tini mengelus paha kekasihnya.

“Memang coro kurang ajar kau!” Mak Robin kembali memaki dari dalam kamar.

“Memang orang tua gemblung,” gumam Tini, kembali memandang pintu kamar Mak Robin. “Enggak apa-apa. Siapa yang bisa marah? Kamarku juga bayar sendiri.” Tini sudah membayangkan akan tidur di pelukan Gatot malam itu. Dingin-dingin sehabis hujan. Apa lagi yang paling asyik dilakukan selain berpelukan dalam satu selimut dengan orang yang dicintai. Tini sudah menari-nari di dalam pikirannya.

“Ya, udah. Aku duduk ke dalem, boleh, kan?” tanya Gatot, memegang ujung dagu Tini dan mengusapnya.

“Ya, boleh. Semua-semuanya kalau mau ke dalem, boleh.” Tini terkikik genit saat mengatakan hal itu.

Usai mengatakan hal itu, tetangga misterius Tini tiba di halaman. Dengan sebuah tas tersampir di bahu, Dijah berjalan melintasi mereka tanpa menoleh. Wajahnya terlihat lelah, namun langkahnya masih tegak.

Gatot lagi-lagi menatap Dijah terang-terangan. Kepalanya sampai memutar ke kiri demi memandang wanita yang seakan menganggap mereka transparan saat itu.

“Kamu ngeliatin apa, sih? Aku duduk di sini, lho. Aku sudah merasa terganggu dengan kehadiran dia. Ayo, Mas, masuk ke dalam aja.” Tini bangkit dan menyeret lengan Gatot agar ikut berdiri. Ia melihat Dijah sedang memasukkan kuncinya. “Mas Gatot, nginep, ya ...,” bisik Tini.

BRAKK!

“Mas Gatot, setan!” pekik Tini kembali terkejut. Lagi-lagi ia memegang dadanya. Selama Gatot berada di sana, dua orang tetangganya sudah membanting pintu yang ia tahu bahwa itu adalah hal yang disengaja.

Namun, malam itu Tini berhasil memasukkan Gatot ke kamarnya. Pukulan-pukulan Mak Robin yang ditujukan pada kecoa, mulai senyap. Tini tahu kantuk Mak Robin pasti menang mengalahkan kecoa. Dijah tetangganya yang misterius pun, sudah tak mengeluarkan suara lagi dari dalam kamarnya.

Merasa aman dengan semuanya, Tini dengan cepat terlena dengan suasana. Bukannya hanya tidur di dalam dekapan, Tini melanjutkan kegiatannya dengan bercumbu bersama Gatot. Ciuman-ciuman kecil berubah menjadi ciuman panjang dan lama. Tarikan napas Tini mengisi kesunyian malam itu.

Usia yang matang dan pengalaman pacarannya yang kelewat batas, membuat Tini merindukan belaian tak biasa dari seorang pria. Ditambah dengan kelihaiannya menurunkan resleting celana, Tini dengan cepat menuntaskan rasa ingin tahunya yang paling utama dari Gatot.

“Ya, ampun!" pekik Tini "Mana?” tanya Tini tak sadar. Tangannya meraba-raba ke dalam celana Gatot. Jauh merogoh ke dalam baru ia bisa menemukan yang dicarinya.

“Ya, itu,” sahut Gatot meringis. Tangan kirinya dijadikan bantal oleh kepala Tini.

Ternyata, ekspektasi Tini dengan tubuh tinggi Gatot terlalu besar. Tadinya ia berharap bisa menemukan sesuatu yang luar biasa di balik langkah kaki jenjang seorang satpam yang terlihat begitu jantan. Tini hanya menghela napas setengah hati.

Batin Tini mencari pembenaran dengan kata-kata ‘yang penting cinta’. Tapi, walau batinnya berkata seperti itu, pikirannya merembet ke hal pernikahan dan hidup selamanya bersama Gatot. Hingga saat sedang mengusap milik Gatot dengan setengah hati, Tini berpikir untuk melakukan uji coba.

“Mas, buka semua, ya. Aku juga buka semua,” pinta Tini.

“Kamu yakin?” tanya Gatot. “Aku memang udah nerima kamu apa adanya. Tapi, aku nggak maksa kamu untuk melakukan hal kayak gini.” Gatot membelai perut Tini dengan lembut.

“Masa sih ...,” jawab Tini dengan lembut, lalu tertawa kecil.

“Tapi, kalo kamu maksa, aku nggak apa-apa juga. Aku nggak pernah seserius ini menjalin hubungan. Kamu itu wanita yang beda. Unik.” Gatot ikut tertawa kecil. Tangannya mulai naik untuk memijat dada Tini yang luar biasa.

"Bantuin buka, Mas," pinta Tini bangkit dari berbaringnya. Ia duduk di tepi ranjang memunggungi Gatot. Sejak tadi ia tak sabar merasakan Gatot meraba punggungnya.

Gatot yang sudah penasaran dengan isi dada yang dari luar terlihat spektakuler, buru-buru bangkit dan mencoba melepaskan pengait bra kekasihnya.

"Susah, Tin. Kok nggak bisa? Nyangkut ini," kata Gatot.

"Masa gitu aja nggak bisa," sungut Tini, mulai meraba-raba punggungnya.

"Sini aku coba lagi," ujar Gatot, kembali mencoba melepaskan pengait bra Tini.

Tiba-tiba,

Tok tok tok

Tini dan Gatot serentak menoleh pintu.

"Sini aku yang bantu bukain!" seru Dijah dari luar.

To Be Continued

Terpopuler

Comments

Fitriyazahra

Fitriyazahra

plislah aq brp kali ngulang baca tini tp msh z ngakak😂😂😂😂

2025-02-25

1

jumirah slavina

jumirah slavina

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

threesome ya

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-01-24

3

cici cici

cici cici

hahahaaa...

2025-01-09

1

lihat semua
Episodes
1 1. Calon Legenda
2 2. Terpincang-pincang
3 3. Kutangkap Kau Dengan Desah
4 4. Harusnya Tanpa Air Mata
5 5. Pak Paijo
6 6. Terciptanya Legenda Desa Cokro
7 7. Perkenalan Kandang Ayam
8 8. Awal Dunia Malam
9 9. Ratapan Berbalut Senyum
10 10. Hidup Di Antara Hitam Dan Putih
11 11. Pembuktian Diri
12 12. Musuh Baru
13 13. Namaku Tini Suketi
14 14. Berita Dari Posyandu
15 15. Awal Mula Terlena
16 16. Awal Kisah Itu
17 17. Perang Dingin
18 18. Mengusik Hati
19 19. Penghuni Satunya
20 20. Tentang Asti
21 21. Penghuni Baru Dengan Speaker
22 22. Calon Legenda Kos-kosan
23 23. Percakapan Tini dan Boy
24 24. Mengukuhkan Sejarah
25 25. Awalnya Persahabatan
26 26. Pengalaman Pertama Dan Terakhir
27 27. Pelajaran Hari Itu
28 28. Titik Balik Kandang Ayam
29 29. Refleksi Hidup
30 30. Kunjungan Sahabat
31 31. Tentang Agus Soang
32 32. Ternyata, Laki-laki itu.
33 33. Pilihan Pertama
34 34. Pilihan Kedua
35 35. Pilihan Ketiga (1)
36 36. Pilihan Ketiga (2)
37 37. Ngalor-Ngidul Pertemuan
38 38. Peran Budhe Tini
39 39. Persekutuan
40 40. Minggu Pagi
41 41. Tak Perlu Taktik
42 42. Kebiasaan Baru Tini
43 43. Efek Puasa Rokok (1)
44 44. Efek Puasa Rokok (2)
45 45. Sore Pertama
46 46. Tini Sebenarnya
47 47. Kebimbangan Tini
48 48. Usaha Untuk Bertahan
49 49. Tini Baik-baik Saja
50 50. Hari Melelahkan
51 51. Hati Nurani Tini (1)
52 52. Hati Nurani Tini (2)
53 53. Obrolan Pria
54 54. Gombal Halus Tini
55 55. Harinya Tini
56 56. Ujian Mental Tini
57 57. Hari Mengeluh
58 58. Kebimbangan Tini
59 59. Mulai Serius
60 60. Dugaan Tini
61 61. Ternyata Wibi
62 62. Melangkah Maju
63 63. Perpisahan
64 64. Katanya Rahasia
65 65. Training Hari Pertama
66 66. Menyerap Ilmu
67 67. Dari Yang Paling Ahli
68 68. Idola Pertama Tini
69 69. Rangkuman Tini
70 70. Penghilang Lelah Tini
71 71. Kumpul Keluarga Kandang Ayam
72 72. Riuh Makan Malam
73 73. Tini Melayang
74 74. Bagi-bagi Rejeki
75 75. Dandanan Tini
76 76. Percakapan Serius
77 77. Calon-calon Ipar
78 78. Terbacanya Taktik Tini
79 79. Hebohnya Hari Tini
80 80. Awal Perjalanan Dimulai
81 81. Renungan Perjalanan
82 82. Keluarga Calon Mertua (1)
83 83. Keluarga Calon Mertua (2)
84 84. Pesona Surabaya dan Kamu
85 85. Jatuh Cinta Yang Sebenarnya
86 86. Pamitan
87 87. Desa Cokro (1)
88 88. Desa Cokro (2)
89 89. Desa Cokro (3)
90 90. Desa Cokro (4)
91 91. Bersama Keluarga Baru
92 92. Menjamu Tamu
93 93. Rencana Pamer
94 94. Mendampingi Bapak
95 95. Saatnya Serius
96 96. Obrolan Tengah Malam
97 97. Perpisahan Sementara
98 98. Obrolan Dalam Perjalanan
99 99. Mematangkan Rencana
100 100. Banyak Rencana
101 101. Tugas yang Sesungguhnya
102 102. Meningkatkan Kualitas Diri
103 103. Kunjungan Profesional Tini
104 104. Nostalgia Versi Tini
105 105. Keberhasilan Pertama
106 106. Rapat Darurat
107 107. Hasil Keputusan Rapat
108 108. Ide Brilian Tini
109 109. Harap-harap Cemas
110 110. Akhirnya Milik Tini
111 111. Kartu Undangan
112 112. Keterkejutan
113 113. Orang-orang Penting Bagi Tini
114 114. Pengobat Rindu
115 115. Hari Halal Tini Wibi (1)
116 116. Hari Halal Tini Wibi (2)
117 117. Hari Halal Tini Wibi (3)
118 118. Tamu Yang Ditunggu
119 119. Dayat Unjuk Gigi
120 120. Pertemuan Para Tamu
121 121. Akhir Pesta Tini
122 122. Tak Sabar
123 123. Setelah Senampan Hidangan
124 124. Teman Saling Mengisi
125 125. Pagi Pertama
126 126. Tetangga Misterius
127 127. Kesan Pesan Tini
128 128. Rangkuman Obrolan
129 129. Hidup Tini Sekarang
130 130. Perpisahan Selalu Ada
131 131. Melangkah Bersama
132 132. Makan Layaknya Keluarga Besar
133 133. Wisuda Evi
134 134. Makan Siang Kelulusan
135 135. Bapak Mengantar Dayat
136 136. Sekilas Kehidupan Baru Dayat
137 137. Keresahan Hidup Lainnya
138 138. Asti Mengantarkan Kartu Undangan
139 139. Masih Dengan Kekhawatiran
140 140. Sebuah Kabar
141 141. Di Balik Cerita
142 142. Pelukan Bahagia
143 143. Kebahagiaan Pada Waktunya
144 144. Sempurna Buat Masing-masing
145 145. Rangkuman Kebahagiaan
146 146. Sekilas Masa Depan
147 147. Akhir Kisah Tini Suketi
Episodes

Updated 147 Episodes

1
1. Calon Legenda
2
2. Terpincang-pincang
3
3. Kutangkap Kau Dengan Desah
4
4. Harusnya Tanpa Air Mata
5
5. Pak Paijo
6
6. Terciptanya Legenda Desa Cokro
7
7. Perkenalan Kandang Ayam
8
8. Awal Dunia Malam
9
9. Ratapan Berbalut Senyum
10
10. Hidup Di Antara Hitam Dan Putih
11
11. Pembuktian Diri
12
12. Musuh Baru
13
13. Namaku Tini Suketi
14
14. Berita Dari Posyandu
15
15. Awal Mula Terlena
16
16. Awal Kisah Itu
17
17. Perang Dingin
18
18. Mengusik Hati
19
19. Penghuni Satunya
20
20. Tentang Asti
21
21. Penghuni Baru Dengan Speaker
22
22. Calon Legenda Kos-kosan
23
23. Percakapan Tini dan Boy
24
24. Mengukuhkan Sejarah
25
25. Awalnya Persahabatan
26
26. Pengalaman Pertama Dan Terakhir
27
27. Pelajaran Hari Itu
28
28. Titik Balik Kandang Ayam
29
29. Refleksi Hidup
30
30. Kunjungan Sahabat
31
31. Tentang Agus Soang
32
32. Ternyata, Laki-laki itu.
33
33. Pilihan Pertama
34
34. Pilihan Kedua
35
35. Pilihan Ketiga (1)
36
36. Pilihan Ketiga (2)
37
37. Ngalor-Ngidul Pertemuan
38
38. Peran Budhe Tini
39
39. Persekutuan
40
40. Minggu Pagi
41
41. Tak Perlu Taktik
42
42. Kebiasaan Baru Tini
43
43. Efek Puasa Rokok (1)
44
44. Efek Puasa Rokok (2)
45
45. Sore Pertama
46
46. Tini Sebenarnya
47
47. Kebimbangan Tini
48
48. Usaha Untuk Bertahan
49
49. Tini Baik-baik Saja
50
50. Hari Melelahkan
51
51. Hati Nurani Tini (1)
52
52. Hati Nurani Tini (2)
53
53. Obrolan Pria
54
54. Gombal Halus Tini
55
55. Harinya Tini
56
56. Ujian Mental Tini
57
57. Hari Mengeluh
58
58. Kebimbangan Tini
59
59. Mulai Serius
60
60. Dugaan Tini
61
61. Ternyata Wibi
62
62. Melangkah Maju
63
63. Perpisahan
64
64. Katanya Rahasia
65
65. Training Hari Pertama
66
66. Menyerap Ilmu
67
67. Dari Yang Paling Ahli
68
68. Idola Pertama Tini
69
69. Rangkuman Tini
70
70. Penghilang Lelah Tini
71
71. Kumpul Keluarga Kandang Ayam
72
72. Riuh Makan Malam
73
73. Tini Melayang
74
74. Bagi-bagi Rejeki
75
75. Dandanan Tini
76
76. Percakapan Serius
77
77. Calon-calon Ipar
78
78. Terbacanya Taktik Tini
79
79. Hebohnya Hari Tini
80
80. Awal Perjalanan Dimulai
81
81. Renungan Perjalanan
82
82. Keluarga Calon Mertua (1)
83
83. Keluarga Calon Mertua (2)
84
84. Pesona Surabaya dan Kamu
85
85. Jatuh Cinta Yang Sebenarnya
86
86. Pamitan
87
87. Desa Cokro (1)
88
88. Desa Cokro (2)
89
89. Desa Cokro (3)
90
90. Desa Cokro (4)
91
91. Bersama Keluarga Baru
92
92. Menjamu Tamu
93
93. Rencana Pamer
94
94. Mendampingi Bapak
95
95. Saatnya Serius
96
96. Obrolan Tengah Malam
97
97. Perpisahan Sementara
98
98. Obrolan Dalam Perjalanan
99
99. Mematangkan Rencana
100
100. Banyak Rencana
101
101. Tugas yang Sesungguhnya
102
102. Meningkatkan Kualitas Diri
103
103. Kunjungan Profesional Tini
104
104. Nostalgia Versi Tini
105
105. Keberhasilan Pertama
106
106. Rapat Darurat
107
107. Hasil Keputusan Rapat
108
108. Ide Brilian Tini
109
109. Harap-harap Cemas
110
110. Akhirnya Milik Tini
111
111. Kartu Undangan
112
112. Keterkejutan
113
113. Orang-orang Penting Bagi Tini
114
114. Pengobat Rindu
115
115. Hari Halal Tini Wibi (1)
116
116. Hari Halal Tini Wibi (2)
117
117. Hari Halal Tini Wibi (3)
118
118. Tamu Yang Ditunggu
119
119. Dayat Unjuk Gigi
120
120. Pertemuan Para Tamu
121
121. Akhir Pesta Tini
122
122. Tak Sabar
123
123. Setelah Senampan Hidangan
124
124. Teman Saling Mengisi
125
125. Pagi Pertama
126
126. Tetangga Misterius
127
127. Kesan Pesan Tini
128
128. Rangkuman Obrolan
129
129. Hidup Tini Sekarang
130
130. Perpisahan Selalu Ada
131
131. Melangkah Bersama
132
132. Makan Layaknya Keluarga Besar
133
133. Wisuda Evi
134
134. Makan Siang Kelulusan
135
135. Bapak Mengantar Dayat
136
136. Sekilas Kehidupan Baru Dayat
137
137. Keresahan Hidup Lainnya
138
138. Asti Mengantarkan Kartu Undangan
139
139. Masih Dengan Kekhawatiran
140
140. Sebuah Kabar
141
141. Di Balik Cerita
142
142. Pelukan Bahagia
143
143. Kebahagiaan Pada Waktunya
144
144. Sempurna Buat Masing-masing
145
145. Rangkuman Kebahagiaan
146
146. Sekilas Masa Depan
147
147. Akhir Kisah Tini Suketi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!