Kehadiran Gatot Sayuti dalam kehidupan Tini membuat hari-hari wanita itu terasa selalu dipenuhi oleh pelangi. Terutama saat ia sedang berada ada di karaoke. Namun kehadiran tetangga barunya sedikit mengganggu.
Dijah nama tetangga barunya itu memang tak pernah banyak bicara. Wanita itu bangun pagi-pagi sekali, membuat gaduh di waktu subuh, menghilang, lalu kembali terlihat saat matahari tenggelam. Tini penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu, tapi ia tak berani bertanya.
Saat itu musim penghujan. Tiada hari tanpa hujan. Dan Tini sedikit bermalas-malasan saat harus berangkat kerja karena cuaca sangat mendukung untuk bergulung di bawah selimut. Apalagi jika Gatot mendapat giliran hari libur dari hotel. Libur pegawai biasanya jatuh pada hari biasa. Bukan di akhir Minggu. Makanya jika Gatot mendapat hari libur di akhir pekan, Tini merasa seperti sedang berhari raya.
Seperti malam ini.
“Aku nggak kerja, ah. Males. Aku masih mau bareng-bareng,” ucap Tini, bergelayut manja di lengan Gatot yang sedang duduk di teras kos.
“Nanti Pak Binsar marah, lho. Kamu keseringan nggak masuk,” kata Gatot.
“Tapi aku masih kangen,” cebik Tini dengan manjanya. “Atau nginep di sini aja?” tanya Tini.
BRAKK!
“Aduh setan!” maki Tini terkejut. Ia memegangi dadanya memandang pintu kamar Mak Robin yang tertutup rapat.
“Itu tetangga kamu mulai marah, lho. Ibu itu kayaknya nggak suka sama aku,” kata Gatot ikut memandang pintu kamar yang baru saja dipukul dari dalam.
“Coro kurang ajar!” maki Mak Robin dari dalam kamarnya.
“Nah, denger, kan? Bukan ngomongin kamu, Mas. Coro kata Mak Robin,” jelas Tini pada kekasihnya. Ia masih mau berlama-lama bersama pria itu.
“Memangnya itu apa?” tanya Gatot.
“Kecoa. Mak Robin nyebut kecoa itu coro,” jawab Tini.
“Jadi, nggak apa-apa kalo aku nginep di sini?” tanya Gatot. Pertanyaan itu lebih mirip dengan sebuah tawaran.
BRAKK!
“Bapakmu setan!” umpat Tini lagi. Ia lalu menutup mulutnya dan melirik Gatot. Pria itu cemberut menatap Tini. Untuk menghilangkan kekesalan Gatot, Tini mengelus paha kekasihnya.
“Memang coro kurang ajar kau!” Mak Robin kembali memaki dari dalam kamar.
“Memang orang tua gemblung,” gumam Tini, kembali memandang pintu kamar Mak Robin. “Enggak apa-apa. Siapa yang bisa marah? Kamarku juga bayar sendiri.” Tini sudah membayangkan akan tidur di pelukan Gatot malam itu. Dingin-dingin sehabis hujan. Apa lagi yang paling asyik dilakukan selain berpelukan dalam satu selimut dengan orang yang dicintai. Tini sudah menari-nari di dalam pikirannya.
“Ya, udah. Aku duduk ke dalem, boleh, kan?” tanya Gatot, memegang ujung dagu Tini dan mengusapnya.
“Ya, boleh. Semua-semuanya kalau mau ke dalem, boleh.” Tini terkikik genit saat mengatakan hal itu.
Usai mengatakan hal itu, tetangga misterius Tini tiba di halaman. Dengan sebuah tas tersampir di bahu, Dijah berjalan melintasi mereka tanpa menoleh. Wajahnya terlihat lelah, namun langkahnya masih tegak.
Gatot lagi-lagi menatap Dijah terang-terangan. Kepalanya sampai memutar ke kiri demi memandang wanita yang seakan menganggap mereka transparan saat itu.
“Kamu ngeliatin apa, sih? Aku duduk di sini, lho. Aku sudah merasa terganggu dengan kehadiran dia. Ayo, Mas, masuk ke dalam aja.” Tini bangkit dan menyeret lengan Gatot agar ikut berdiri. Ia melihat Dijah sedang memasukkan kuncinya. “Mas Gatot, nginep, ya ...,” bisik Tini.
BRAKK!
“Mas Gatot, setan!” pekik Tini kembali terkejut. Lagi-lagi ia memegang dadanya. Selama Gatot berada di sana, dua orang tetangganya sudah membanting pintu yang ia tahu bahwa itu adalah hal yang disengaja.
Namun, malam itu Tini berhasil memasukkan Gatot ke kamarnya. Pukulan-pukulan Mak Robin yang ditujukan pada kecoa, mulai senyap. Tini tahu kantuk Mak Robin pasti menang mengalahkan kecoa. Dijah tetangganya yang misterius pun, sudah tak mengeluarkan suara lagi dari dalam kamarnya.
Merasa aman dengan semuanya, Tini dengan cepat terlena dengan suasana. Bukannya hanya tidur di dalam dekapan, Tini melanjutkan kegiatannya dengan bercumbu bersama Gatot. Ciuman-ciuman kecil berubah menjadi ciuman panjang dan lama. Tarikan napas Tini mengisi kesunyian malam itu.
Usia yang matang dan pengalaman pacarannya yang kelewat batas, membuat Tini merindukan belaian tak biasa dari seorang pria. Ditambah dengan kelihaiannya menurunkan resleting celana, Tini dengan cepat menuntaskan rasa ingin tahunya yang paling utama dari Gatot.
“Ya, ampun!" pekik Tini "Mana?” tanya Tini tak sadar. Tangannya meraba-raba ke dalam celana Gatot. Jauh merogoh ke dalam baru ia bisa menemukan yang dicarinya.
“Ya, itu,” sahut Gatot meringis. Tangan kirinya dijadikan bantal oleh kepala Tini.
Ternyata, ekspektasi Tini dengan tubuh tinggi Gatot terlalu besar. Tadinya ia berharap bisa menemukan sesuatu yang luar biasa di balik langkah kaki jenjang seorang satpam yang terlihat begitu jantan. Tini hanya menghela napas setengah hati.
Batin Tini mencari pembenaran dengan kata-kata ‘yang penting cinta’. Tapi, walau batinnya berkata seperti itu, pikirannya merembet ke hal pernikahan dan hidup selamanya bersama Gatot. Hingga saat sedang mengusap milik Gatot dengan setengah hati, Tini berpikir untuk melakukan uji coba.
“Mas, buka semua, ya. Aku juga buka semua,” pinta Tini.
“Kamu yakin?” tanya Gatot. “Aku memang udah nerima kamu apa adanya. Tapi, aku nggak maksa kamu untuk melakukan hal kayak gini.” Gatot membelai perut Tini dengan lembut.
“Masa sih ...,” jawab Tini dengan lembut, lalu tertawa kecil.
“Tapi, kalo kamu maksa, aku nggak apa-apa juga. Aku nggak pernah seserius ini menjalin hubungan. Kamu itu wanita yang beda. Unik.” Gatot ikut tertawa kecil. Tangannya mulai naik untuk memijat dada Tini yang luar biasa.
"Bantuin buka, Mas," pinta Tini bangkit dari berbaringnya. Ia duduk di tepi ranjang memunggungi Gatot. Sejak tadi ia tak sabar merasakan Gatot meraba punggungnya.
Gatot yang sudah penasaran dengan isi dada yang dari luar terlihat spektakuler, buru-buru bangkit dan mencoba melepaskan pengait bra kekasihnya.
"Susah, Tin. Kok nggak bisa? Nyangkut ini," kata Gatot.
"Masa gitu aja nggak bisa," sungut Tini, mulai meraba-raba punggungnya.
"Sini aku coba lagi," ujar Gatot, kembali mencoba melepaskan pengait bra Tini.
Tiba-tiba,
Tok tok tok
Tini dan Gatot serentak menoleh pintu.
"Sini aku yang bantu bukain!" seru Dijah dari luar.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Fitriyazahra
plislah aq brp kali ngulang baca tini tp msh z ngakak😂😂😂😂
2025-02-25
1
jumirah slavina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
threesome ya
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
3
cici cici
hahahaaa...
2025-01-09
1