Tini menatap lekat wajah anak laki-laki itu. Ia lalu duduk di tangga, persis di sebelah anak laki-laki Maisaroh. “Nama kamu siapa?” tanya Tini.
“Namaku Ardi, Mbak.” Ardi mengamati wajah wanita yang duduk di sebelahnya.
“Ardi, ibu kamu itu temen saya. Kami sama-sama pelayan di restoran. Yang nganter-nganter makanan. Yang nyatet-nyatet pesanan tamu. Sekarang jam kerja ibu kamu belum berakhir. Sebentar lagi pasti keluar.”
“Enggak boleh liat ke dalem? Aku kepingin ngeliat ibu kerja,” jawab Ardi, memandang wajah Tini.
Tini menggeleng-geleng. “Enggak, nggak boleh. Jangan. Nanti ibu kamu malah ditegur sama atasan. Atasan kami itu galak. Sering ngomel kalau saya dan ibu kamu sedang ngobrol.” Tini meringis mendengar ucapannya.
Ardi mengangguk tanda mengerti. Bocah laki-laki yang sesaat lalu terlihat akan bangkit berlari ke dalam, kemudian kembali duduk mendekap lututnya.
“Sekolah kelas berapa?” tanya Tini.
“Aku kelas empat, Mbak.” Ardi menjawab itu dengan hanya menoleh sekilas pada Tini.
“Badan kamu panas?” tanya Tini seraya memegang dahi Ardi. Tini lalu mengangguk sebelum anak laki-laki itu sempat menjawab. Badannya memang terasa sedikit panas di bawah punggung tangannya. Tini lalu meraih tasnya dan merogoh dompet tempat ia menyimpan uang.
Tini mengambil sepuluh lembar uang pecahan lima puluh ribu, lalu memasukkannya ke dalam genggaman tangan Ardi.
“Buat apa, Mbak?”
“Pegang aja. Jangan dikasih ke siapa-siapa di sini. Kalau ada yang nanya-nanya kamu, bilang ibu kamu sebentar lagi datang. Itu uang buat berobat, buat makan enak. Kamu makan yang banyak, beli buah juga. Ibu kamu lagi kerja di dalem. Sebantar lagi pasti keluar. Ditunggu aja, ya. Jangan ke mana-mana, lho. Saya masuk dulu,” jelas Tini seraya bangkit dari duduknya.
“Ibu namanya siapa? Nanti ibuku pasti nanya, uangnya dari mana.” Ardi kembali memandang segulung uang yang berada di dalam genggamannya.
“Wah, kamu ini. Dikasi duit malah manggil saya, Ibu.” Tini berdecak-decak.
“Jadi, Mbak aja?” tanya Ardi polos.
“Mbak aja. Saya merasa lebih muda.” Tini terkikik sebentar. “Bilang aja ke ibu kamu, dikasi teman ibu yang sering bercanda di kamar mandi. Ibu kamu pasti tau. Ya, udah. Mbak masuk dulu, ya. Hati-hati di sini.” Tini lalu melambai dan masuk ke dalam.
Beberapa hari kemudian, Tini sudah melupakan kejadian soal bertemu dengan anak Maisaroh. Ia bekerja seperti biasa dan masuk seperti biasa. Tetap bertemu Pak Alie dan fokus menambah pundi-pundi uangnya.
Ternyata, Maisaroh tidak masuk selama beberapa hari. Pak Binsar mengatakan kalau Maisaroh izin untuk merawat anaknya yang sedang sakit. Dan dua hari kemudian, saat Tini sedang berdandan di kamar mandi, ia melihat Maisaroh masuk melalui pantulan cermin.
Tini diam, tak mengajak wanita itu bicara. Ia fokus menyelesaikan dandanannya. Saat sedang menggoreskan pensil alis untuk menebalkan alis matanya yang tipis, Maisaroh menoleh pada Tini.
“Bukan gitu cara makenya. Bisa terlalu tebal. Apalagi pensil alisnya warna item. Kenapa nggak beli spidol sekalian?” sungut Maisaroh, mengambil pensil alis dari tangan Tini.
“Ya, aku bisanya kayak gini. Kalau kamu mau ngajarin, ya, ajarin. Jangan ngejek,” tukas Tini.
Maisaroh berdecak, kemudian mengambil tisu basah dari dalam tasnya dan menghapus alis Tini yang hitam tebal seperti lintah yang menempel.
“Biar tingginya rata, kamu harus ukur pakai pensil alismu dulu. Terus dikasi titik.” Maisaroh memiringkan pensil alis dari garis telinga Tini paling atas, hingga ke atas sudut mata.
Tini diam menyimak saat Maisaroh memiringkan kepalanya dan memberi titik di kedua ujung alisnya, kiri dan kanan.
“Kamu bedaknya pakai apa?” tanya Maisaroh.
“Kelly,” jawab Tini. “Aku sudah lama pakai bedak ini,” jawab Tini.
“Tapi kalau keringetan, muka kamu belang-belang kayak zebra. Sudah ada uang, beli kosmetik yang bener. Biar aku ajarin dandan,” kata Maisaroh.
“Aku nggak pinter milihnya. Enggak ngerti,” jawab Tini. Tangan Maisaroh menggambar alis yang ramping dan proporsional untuk membentuk raut wajah Tini.
“Kamu mau aku temenin?” tanya Maisaroh.
“Mau, kalau nggak merepotkan.” Cara jitu menyingkirkan musuh adalah dengan menjadikannya teman.
Tini merasa lebih baik dekat dengan Maisaroh. Seseorang yang tidak dikenalnya, kemudian menjadi musuh, lalu menjadi temannya. Dibanding dengan seorang teman yang begitu dekat, namun hanya dalam waktu semalam menjadi musuhnya.
“Hari Minggu siang, aku temenin kamu beli makeup. Biar aku pilihin yang cocok dan nggak mahal,” ucap Maisaroh.
Tini bersorak dalam hati. Walau kemarin-kemarin ia tak menyukai Maisaroh, tapi Tini memang tidak benar-benar membenci wanita itu.
Bagi Tini, ia tak ada alasan membenci Maisaroh. Ia tak punya urusan pribadi, selain urusan mengusap burung Pak Ali yang fenomenal.
Malam itu, wajah ini terlihat berbeda. Makeup-nya terlihat lebih ‘kota’. Maisaroh memakaikan sedikit bedak dan memoleskan lipstiknya ke bibir Tini.
Tini mematut wajahnya di depan cermin dengan raut terkesima. Ia merasa cantik sekali.
“Itu udah maksimal. Wajah kamu segitu aja jadinya,” ucap Maisaroh.
“Kamu mau bantu orang tapi nggak lupa menghina, ya.” Tini melirik Maisaroh yang langsung tertawa. “Ardi sudah sehat?” tanya Tini.
“Sudah. Dia minta beli mainan dari uang yang kamu kasi. Katanya dari Mbak. Ada yang nggak mau dipanggil ibu.”
Tini dan Maisaroh bertukar pandang melalui cermin. Kedua wanita itu lalu tertawa terbahak-bahak. Mulai malam itu persahabatan antara Tini dan Maisaroh dimulai. Tak ayal, Tini semakin betah bekerja di karaoke itu. Jam kerjanya tak menentu. Ia bisa datang sore dan pulang pukul sembilan malam. Bisa datang pukul sembilan malam dan pulang lewat tengah malam.
Apa yang dilakukan Tini, ternyata menarik perhatian salah satu penghuni kos yang letak kamarnya di seberang kamar Mak Robin.
Kerap pulang malam, jam bangun tidur Tini pun menjadi lebih siang. Ia menggunakan sebagian besar waktu paginya untuk tidur. Pukul sepuluh pagi, Tini baru membuka pintu kamar dengan sebuah cangkir yang berisi teh di tangan. Ia lalu menarik kursi plastik dan duduk di depan jendela kamar Mak Robin.
Pukul sepuluh biasanya Mak Robin akan keluar dan menitipkan anak pada Tini. Wanita itu akan memasak atau mencuci pakaian, sementara Tini seperti keharusan memangku dan memegangi Robin yang sedang aktif-aktifnya.
Wanita yang kira-kira berusia lebih tua dari Mak Robin, keluar dari kamarnya sedang menggandeng anak. Tini baru kali itu melihat, bahwa ternyata Mak Robin ternyata memiliki saingan. Wanita yang sudah tua, tapi memiliki anak kecil.
“Kamu ternyata yang anak baru di sini, ya? Jarang keliatan. Kerjaannya apa? Dunia malam?” Wanita itu tiba-tiba menghampiri Tini dan berkata yang mengejutkan.
“Iya, dunia malam. Kenapa? Ibu di dunia pagi?” Tini balik bertanya.
“Kerjaan nggak bener. Apa nggak sebaiknya nyari kerjaan yang bener? Nanti di akhirat gimana? Hidup bergelimang dosa,” tukas ibu di hadapannya.
Tini yang merasa nyawanya baru saja berkumpul dan teh yang dibuatnya belum sempat diteguk, merasakan emosinya naik ke puncak kepala. Mak Robin melihat gelagat aneh itu dari kejauhan. Ia buru-buru datang menghampiri dan mengambil Robin dari tangan Tini. Ia khawatir kalau Tini menjadikan Robin sebagai senjata untuk melempar wanita itu.
“Semua manusia, ya, bergelimang dosa. Kalau bergelimang wijen, itu onde-onde!” sergah Tini.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
Sarohhhh liat nih perempuan yg setiap kamu liat pen meludah tp sebaik ini sm Anak'mu....
2025-01-24
2
Yeti Kosasih
Tiniiii oooh tiniiiii..dri awal baca novel Dijah udah ngefans sama Tiniii...🤩🤩
2025-03-06
0
jumirah slavina
wwoooiii Tiiinnnn...
jawaban'mu yaa....
bener...benerrr...benerrr....
100 buat Tini Suketi...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
3