Sebenarnya Pak Paijo bingung dengan apa yang akan dilakukan Tini. Tapi, melihat wanita itu kesulitan, tak mungkin ia diam saja. Pak Paijo mulai ikut menyeret batang pisang yang baru ditebas Tini.
“Kemarin, katanya aku cuma diminta nganter kamu aja ke terminal. Sekarang malah panen pisang. Enggak ngerti aku,” sungut Pak Paijo.
“Bisa diem dulu, nggak? Aku nggak tenang kerjanya. Ini mau buru-buru. Nanti keburu ada yang dateng. Evi juga bisa sadar kalau aku pergi bawa parang.” Setelah meletakkan satu batang pisang ke tepi jalan, Tini kembali masuk ke pepohonan dan menebas batang pisang yang lain. Lagi-lagi Pak Paijo membantunya dengan pertanyaan tak henti-henti.
Tini sudah bermandi peluh. Ia terengah-engah menatap lima batang pohon pisang besar yang tergeletak di tepi jalan menuju gang-gang kecil ke tempat tinggal para warga.
“Ayo, Pak. Sekali lagi bantu aku,” pinta Tini. “Letakkan semua batang pisang ini ke tengah jalan. Aku mau ambil batang kayu itu,” kata Tini, menunjuk batang kayu kering yang tergeletak di antara semak belukar.
Pak Paijo menyerah untuk bertanya. Untuk mempersingkat waktu, ia menyeret semua batang pisang itu ke tengah jalan. Setelah ia selesai membuat jalanan tak bisa dilewati, Tini datang dengan batang pohon cukup besar. Pak Paijo belum tersadar dengan apa yang dilakukan Tini. Pikirannya masih soal menyelesaikan pekerjaan itu agar bisa cepat mengantarkan Tini. Namun, saat Tini mengambil triplek besar dengan tulisan besar. Pak Paijo membelalakkan matanya.
“Dari sini suara hiburan organ tunggalnya hampir nggak kedengeran. Aman. Aku nggak perlu ribut-ribut. Cukup yang begini aja. Tapi, aku yakin ini pasti mengecewakan banyak orang. Terutama Coki yang berharap ngitung isi amplop malam nanti.” Tini berdecak puas menyeka keringatnya.
Menyadari kekacauan yang akan menggemparkan seluruh penghuni jalan, Pak Paijo berlari menuju motornya.
“Ayo pergi, Tin!” Pak Paijo menyalakan motornya dan menunggu Tini.
Tini tertawa sinis menatap tulisan yang dibuatnya kemarin malam. “Selamat menempuh hidup baru, Coki .... Janjimu akan kulupakan, tapi rasa sakit hatiku, mungkin akan tetap kuingat.”
Tini melangkah meninggalkan tumpukan batang pisang dan batang kayu besar yang menutupi jalan. Triplek lebar bertuliskan, ‘JEMBATAN KALI ROBOH. JALAN DITUTUP KARENA PERBAIKAN. SILAKAN JALAN MEMUTAR.’
Mau memutar ke mana? Ujung dari setiap gang dan jalan itu adalah tepian sungai. Jembatan kecil yang berada di atas aliran sungai, memang menjadi sarana penghubung vital di jalan itu. Setiap jembatan kecil itu ambruk, semua orang tak ada yang bisa membawa kendaraan keluar rumah.
Tak hanya di jalan menuju gang rumah Tini, jalan di sejajaran sana pun sama. Sama-sama dialiri sungai kecil yang di atasnya ada jembatan. Tadinya Tini hanya berkeinginan menutup jalan itu dengan batang pohon pisang. Tapi, menyesap sebatang rokok murah membuat Tini berpikir lebih kreatif.
Para tamu undangan pasti akan berbalik arah, untuk kembali pulang. Dengan senyuman jahat penuh rasa kepuasan dan sakit hati, Tini naik ke boncengan motor dan menepuk pundak Pak Paijo.
“Sudah lega, Tin?” tanya Pak Paijo saat motor sudah melaju.
“Untuk lega, sih, belum.” Tini merasakan angin sejuk mengeringkan keringat di dahinya.
“Nanti semua orang pasti tau, kalau itu kerjaan kamu. Cuma kamu yang sakit hati karena pernikahan si Coki. Orang-orang bakal bilang kamu bodoh.” Suara Pak Paijo sedikit teredam terbawa angin.
“Semua orang pasti pernah bodoh untuk menjadi pintar. Biarin aja, Pak. Kulitku nggak lecet cuma karena ejekan orang.” Tini menarik napas panjang.
“Oh, iya. Nanti titip parang anter ke Evi ya,” sambung Tini. Pak Paijo menjawab dengan mengangkat ibu jari tangan kirinya ke atas.
Sementara itu, di kediaman keluarga Pak Joko. Evi sedang termangu-mangu di ranjang bawah. Dayat yang masih bersedih dan ngambek karena ditinggalkan kakaknya, tak pergi kelayapan di hari Sabtu. Biasanya remaja laki-laki itu sudah raib dari rumah sejak pagi.
“Mbak Tini sakit hati,” gumam Evi. “Harusnya dia jangan pergi. Tapi kacaukan dulu pesta si Coki.” Evi berbicara seperti bersajak.
Menyadari ucapannya barusan, Evi terdiam. Apa mungkin kakaknya yang terkenal keras dan ketus itu menyerah begitu saja?
“Kemarin Mbak Tini nanya parang ...,” gumam Evi
“Ha? Nanya parang?” Dayat menjulurkan kepalanya ke ranjang bawah.
“Iya. Untuk apa? Enggak mungkin Mbak Tini bunuh orang. Pasti desa sudah geger,” gumam Evi lagi.
Tiba-tiba Dayat melompat turun. “Ayo cari parangnya,” ajak Dayat. Evi yang baru kepikiran untuk melihat apakah tempat persembunyian parang bapaknya aman dari jangkauan Tini, seketika ikut terlonjak.
Sejurus kemudian, dua bersaudara itu sudah saling pandang saat berjongkok di dekat lemari dapur. Parang yang disembunyikan Pak Joko telah raib.
“Ayo, kita boncengan ke depan. Pura-pura lewat aja. Kita liat pestanya Coki.” Dayat yang sekarang ikut penasaran di mana parang besar bapaknya, segera menyambar kunci motor dari sebelah televisi.
Lewat pukul lima sore, matahari sudah menghilang ke arah barat. Di depan gang rumah Siti Kusmini terjadi keributan. Bapak Siti Kusmini berkacak pinggang dan marah-marah.
“Dasar kurang ajar! Kerjaan siapa itu? Pantes dari pagi nggak ada tamu. Tak suruh cek ke depan. Tapi nggak ada yang mau. Ngomongnya tunggu aja-tunggu aja. Sekarang bagaimana? Pestanya sebentar lagi selesai. Makanan masih banyak!” Suara umpatan bapak Siti Kusmini terdengar oleh Evi dan Dayat.
“Jalan terus, Yat! Sampai depan,” pinta Evi pada adiknya. Ia ingin melihat apa yang dilakukan kakaknya.
Saat hampir tiba di depan jalan, Evi melihat dua orang pemuda sedang menyingkirkan batang pohon pisang dan batang kayu. Juga selembar triplek besar yang sangat ia kenali tulisannya.
“Yat! Ternyata parangnya untuk ngambil gedebog pisang,” ujar Evi terkikik-kikik. Sepeda motor yang mereka kendarai tak berhenti di lokasi kejadian. Mereka hanya berniat melintas. Namun, saat sepeda motor Dayat hampir mencapai mulut jalan, seorang pemuda berteriak.
“Woi! Adiknya Tini, ya?” panggil pemuda yang tak lain adalah adik Siti Kusmini. “Mana kakakmu? Pasti ini kerjaan kakakmu yang cemburu itu,” ujar adik Siti Kusmini.
Dayat menghentikan sepeda motornya di dekat pemuda yang baru saja menuduh dalang kekacauan itu adalah kakaknya.
“Memangnya kenapa?” Dayat ingin mendengar langsung dari penuturan adik Siti Kusmini.
“Mbak Mini nangis-nangis karena nggak ada tamu. Makanan mubazir,” kesal adik Siti Kusmini.
“Ya, dibagiin aja. Bagiin ke tetangga dan orang-orang yang membutuhkan. Enggak akan mubazir. Lagian apa hubungannya sama Mbak Tini? Ayo, Yat!” ajak Evi.
Dayat membawa motor sampai tiba di ujung jalan yang berhadapan dengan jalan raya.
“Kita balik, nih?” tanya Dayat.
“Ya, udah. Balik aja. Kayaknya parang bukti kejahatan sudah dibuang atau dibawa Mbak Tini,” sahut Evi. Namun, saat Dayat memutar motornya, dari arah belakang terdengar klakson sepeda motor.
“Evi! Bawa ini pulang,” kata Pak Paijo saat motornya sudah berada di sebelah Dayat. Pria itu mengangsurkan sebuah benda panjang yang dililit plastik kresek hitam.
“Ini, Pak?” tanya Evi dengan maksud yang sudah pasti diketahui Pak Paijo. Beberapa hari terakhir, Tini lebih banyak berkomunikasi dengan pria tua itu.
“Iya, barbuk. Sana simpan. Jangan lupa kabari Tini kalau dia sudah jadi legenda Desa Cokro. Tini berhasil memulangkan ratusan tamu selama dia tidur di dalam bus,” kata Pak Paijo.
“Wah, Mbak Tini keren.” Dayat bersorak senang. Remaja laki-laki itu lupa akan rasa kesalnya ditinggalkan sang kakak.
Malam harinya di pusat kota yang biasa dikenal dengan kata metropolitan, Tini tiba di depan kamar sebuah kos-kosan yang memiliki sebutan aneh.
Pada waktu menerima kunci dari Nyai beberapa saat yang lalu, Tini sempat bertanya perihal nama itu.
“Kenapa namanya kandang ayam?”
“Karena banyak ‘ayam’ di sana. Tau, kan, ayam? Sebutan lain kupu-kupu malam. Tapi, bukan saya yang ngasi nama, cuma orang-orang yang nyebut kayak gitu. Mau siapa pun isinya, buat saya sama aja. Yang penting nggak pernah telat bayar.”
Tini memasukkan kuncinya ke lubang dan mendorong pintu kamarnya. Sudah pukul sembilan malam, suasana kos-kosan lantai satu sudah sangat sepi. Saat melangkahkan satu kakinya ke dalam kamar ....
“Heh! Psstt!” panggil seseorang dari sebelahnya.
Tini terkejut dan mengernyitkan dahinya memandang seorang wanita menggendong bayi.
“Kenapa?” tanya Tini.
Wanita itu berjalan mendekati Tini. “Kau pegangkan dulu dia.” Wanita itu menyerahkan bayinya pada Tini. “Kau anak baru, kan? Kau pegang dia bagus-bagus, ya .... Dari tadi, mulas kali perutku. Tapi nggak ada yang jaga dia. O, iya. Panggil aja aku Mak Robin.”
Tini memandang Mak Robin yang buru-buru pergi menuju belakang. Ia menatap bayi laki-laki yang menggeliat di gendongannya.
“Suka-suka mbahnya aja ninggalin anaknya sama aku,” omel Tini.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
buahahahahahahahahahaaaaa
keren mah s' Tini Suketi ini
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Siti Aisyah
mak Robin Tin bukan mbah Robin hehehe
2024-12-03
0
Herlina Lina
oalah q malah baru tau
2024-12-08
0