Setelah Robin berada di tangan ibunya, Tini mengambil teh yang tadi ia letakkan di dekat dinding yang ia punggungi. Tini menghirup aroma teh bunga yang diseduh dengan saringan, lalu menyesapnya. Gerakannya begitu santai. Setelah meletakkan cangkir seng bermotif blirik hijau, Tini menggerakkan lehernya.
Mak Robin berdiri menghadap seorang wanita yang berusia hampir paruh baya di depan Tini. Wanita itu lebih lama beberapa bulan tinggal di kos-kosan kandang ayam, ketimbang Mak Robin. Dan selama mereka bertetangga, Mak Robin jarang sekali bercakap-cakap dengan wanita itu. Ia memang tak menyukai wanita yang bernama Bu Nani itu. Bu Nani selalu nyinyir dan repot dengan pertanyaan-pertanyaan ala wartawan ke setiap tetangganya. Bu Nani juga kerap memberi nasehat-nasehat tanpa diminta.
“Anak jaman sekarang, dikasi tau jawabannya ada aja. Sesama perempuan, saya itu cuma mengingatkan. Berpakaian seksi aja, udah bikin orang berpikiran macem-macem ke kita. Meski kita nggak ada ngapa-ngapain. Apalagi yang bener-bener dilakukan. Saya ngasi tau soal akhirat, maksudnya baik.”
“Aku nggak bilang kalau kerjaanku itu terpuji. Terima kasih sudah mengkhawatirkan soal akhiratku. Tapi, gimana kalau ibu ikut mengkhawatirkan soal duniaku juga? Mau?” tanya Tini.
“Saya cuma menasehati, lho, Mbak. Neraka itu penuh, karena orang nggak mau dinasehati.” Bu Nani terlihat kesal akan jawaban Tini. Bocah laki-laki yang berada di dalam gandengan tangannya, berlari memungut batu dan menunduk mengetuk-ngetuk ke tanah. Bu Nani hanya menoleh bocah itu sekilas kemudian menatap Tini dengan pandangan mencemooh.
Tini mulai panas dengan kata-kata Bu Nani. Ia merasa tak pernah mengganggu wanita itu sedikit pun. Kenal saja tidak. Ia lalu berdiri dari kursi plastiknya.
“Ibu kira isi neraka itu, semuanya perempuan yang melonte?” tanya Tini. “Isinya banyak, bervariasi tergantung dosa. Juga berlaku akumulasi. Yang mencuri sekali, dosanya sekali. Ngomongin orang, nggak keliatan kayak dosa, ya? Tapi dibikin setiap hari. Itu dosanya akumulasi. Dan kalau ngerti dosa, yang ibu lakukan ini menyakiti saya. Memberi nasehat itu, bukan melecehkan. Ada tempatnya. Enggak harus di depan orang ramai kayak gini,” ujar Tini, menoleh ke sekelilingnya tempat di mana penghuni kos lain yang melintas, berhenti untuk mendengar keributan.
“Saya cuma kasian. Keinget sama saudara saya sekampung. Makanya saya nasehati yang benar,” tukas Bu Nani dengan tatapan tajam.
“Kita nggak kenal. Ibu menasehati orang asing, jatuhnya malah usil. Nyinyir! Lagian ibu nggak ngerti kerjaanku apa. Tiba-tiba dateng cuma untuk merusak suasana pagi orang lain. Apa karena saya pulang malem setiap hari makanya ibu mengira saya melonte?” todong Tini.
Bu Nani terlihat gelisah. Ia mulai merasa bersalah karena benar-benar mengira Tini adalah seorang pelacur karena pulang lewat tengah malam setiap harinya.
“Maaf, jadi—Mbak ini, bukan—”
“Ya, iya. Aku memang melonte. Bagi rokokmu satu!” pinta Tini, menunjuk salah seorang mahasiswa yang baru saja melintas sambil mengisap sebatang rokok.
Mahasiswa itu berhenti dan mengeluarkan kotak rokoknya dengan santai. “Ambil aja, Mbak.” Mahasiswa itu menyodorkan kotak rokok pada Tini.
“Untukku semua?” tanya Tini. Mahasiswa itu mengangguk dan menyerahkan sebuah pemantik Aladin berwarna merah. “Kamu baiknya nggak setengah-setengah. Bikin aku bahagia,” ujar Tini terkikik.
Mahasiswa itu melambai kemudian meneruskan langkahnya menuju tangga ulir yang terletak di sisi belakang.
“Malah merokok,” kata Bu Nani.
Tini menyulut sebatang rokoknya kemudian kembali duduk.
“Kata Pak Paijo, rokok ini bisa mengeluarkan setan-setan di kepala kalau orang emosi. Aku sudah emosi. Tapi rasanya nggak penting buat menjelaskan siapa aku ke orang-orang yang cuma mau denger dan liat yang baik-baik aja. Percuma,” tukas Tini, menyesap rokok kemudian mengembuskan asapnya ke atas.
“Zaman sekarang itu susah. Perempuan merokok dibilang loonte, ngewarnain rambut dibilang loonte, pakai baju seksi, juga dibilang loonte. Terus, aku yang pulang malam setiap hari juga dibilang melonte. Yo, wes loonte kabeh!” Tini kembali menyesap rokoknya.
Bu Nani tak mengatakan apa-apa lagi ia memutar tubuh dan berjalan menuju kamarnya.
“Bu .... Namanya siapa? Itu anaknya masih main tanah. Sudah mandi, kan? Sayang pakaiannya nanti kotor,” ujar Tini.
Mak Robin yang tadi berdiri dua langkah dari Tini, buru-buru mendekat dan menepuk lengan Tini.
“Apa?” sergah Tini, memandang Mak Robin.
“Itu bukan—"
“Anakku? Anakku? Kamu kalau ngomong itu yang bener. Ini cucuku. Anak perempuanku lagi kerja,” sahut Bu Nani dengan raut kesal.
“Lah, menantu ibu mana? Kok anak ibu yang kerja? Kan, kasian anaknya di rumah cuma ketemu neneknya. Aku juga bisa nyinyir, lho. Tapi, nggak mau aja.” Tini terkekeh-kekeh.
Mak Robin tadi baru saja mau memberitahu Tini soal Bu Nani, tapi lagi-lagi Tini salah menduga soal orang lain.
“Bagos—bagos! Kau bante lagi dia. Aku udah lama nggak sor sama dia,” bisik Mak Robin dari sebelah Tini.
“Anakku sudah pisah dari suaminya. Sekarang dia kerja di restoran. Masih bisa ngasih makan yang halal buat anaknya. Asal kamu tau!” Bu Nani langsung berbalik dan menggamit lengan cucunya.
“Lagi, Tin—lagi!” bisik Mak Robin. “Selama ini nggak ada saingan muncung dia. Nani namanya, Nani.”
“Kamu manfaatin aku, Mak?” bisik Tini.
“Udah terlanjur dari tadi kau yang maki-makian sama dia. Kau lanjutkan ajalah! Siapa tau besok dia pindah. Biar jadi raja kita di sini.” Mak Robin menepuk pundak Tini memberi semangat.
Merasa diberi semangat, Tini melanjutkan. “Yakin kerjanya di restoran? Masa, siiiih? Temenku ada yang ngaku kerja jadi pelayan restoran tapi kerjanya nggak itu, lhooo ....” Tini tertawa terbahak-bahak.
BRAKKK
Bu Nani masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Tini semakin tertawa terbahak-bahak.
“Namaku Tini Suketi, ya, Bu ....” Tini kembali berteriak dengan rokok di tangannya. “Gemblung aku, Mak! Edan! Makin sinting! Hahaha.” Tini kembali tertawa.
“Udah—udah. Diam kau. Terheran-heran si Robin nengok babysitter-nya, kok, pesong!” Mak Robin ikut tertawa.
“Apa pesong?” tanya Tini.
“Gila! Naritik! Samalah dengan yang kau bilang tadi,” jawab Mak Robin. “Mantap kali. Kalo sampe si Nani pindah, kubebaskan kau seminggu dari tugas menjaga si Robin,” cetus Mak Robin.
“Wooo ... nggih, Mak! Sak karepmu!” ucap Tini.
Lalu, pembicaraan Tini dan Mak Robin terhenti, karena suara ponsel yang terdengar dari dalam kamar. Tini segera bangkit dari duduknya.
“Halo? Apa Vi?” tanya Tini langsung. Tumben sekali Evi meneleponnya pagi-pagi. Biasanya gadis itu masih berkeliling desa mengutip cicilan.
“Wah, Mbak Tini! Namamu di sini semakin dikukuhkan menjadi legenda. Itu Mbak Siti Kusmini, berantem sama Coki di depan posyandu gara-gara kamu.” Suara Evi terdengar berapi-api dari seberang telepon.
“Di depan posyandu? Karena aku? Hahaha.” Tini kembali tertawa terbahak-bahak. “Kenapa memangnya?” tanya Tini.
To Be Continued
Ini hadiah giveaway untuk PODIUM HADIAH 1, 2 DAN 3. Informasi lainnya menyusul.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
ggaasss 12kg wweesss MakRobinn
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Yulay Yuli
😂😂😂😂😂 ngakak thour. jadiin film laku keras ini
2025-01-12
1
Herlina Lina
woalah tini double job baby sitter ny robin to😁
2024-12-10
1