Saking paginya Evi bangun setiap hari, Puput II saja masih tertidur. Ayam jantan itu seringnya malah terkejut karena Evi membuka pintu dapur tiba-tiba. Entah kenapa sepertinya Puput II menuruni sikap tuannya. Selalu bangun siang.
Usai memasak dan membereskan rumahnya Evi bergegas memanaskan motor seperti biasa. Ia akan pergi berkeliling dari satu desa ke desa lainnya untuk menagih cicilan pelanggan.
Tini sudah beberapa kali mengirimkan uang. Tahun pembelajaran berikutnya Evi sudah diminta kakaknya untuk segera mendaftar. Karena hal itu Evi lebih gigih menagih. Ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya sebelum berangkat ke kota terdekat. Evi memutuskan untuk berkuliah tidak terlalu jauh, agar seminggu sekali bisa tetap pulang menjenguk Dayat dan Pak Joko.
Selama kepergian Tini ke kota, Evi harus menanggung bisikan-bisikan para tetangga. Tetangga mereka seakan tak lelah-lelahnya bercerita soal Tini yang menyabotase resepsi pernikahan mantan kekasihnya. Tapi, seperti pesan Tini padanya, Evi tak mau ambil pusing. Hidup tetap berjalan seperti biasa. Cerita-cerita pasti akan menguap seiring lelahnya lidah manusia mengucap yang itu-itu saja.
Namun, pukul sepuluh saat Evi berkeliling, dan tiba di dekat posyandu. Pandangannya terfokus pada Coki dan Siti Kusmini yang berdebat di depan banner besar berisi kampanye ASI.
Posyandu sedang dipenuhi ibu muda yang membawa bayi-bayi mereka. Juga ibu-ibu hamil yang sedang memeriksakan kandungan, terlihat ikut memperhatikan pasangan muda itu.
Penasaran akan hal yang sedang didebatkan oleh pasangan itu, Evi memberanikan diri menghentikan motornya dan berjalan mendekat. Keributan kecil itu dengan cepat memancing orang-orang yang datang karena rasa penasaran.
Setelah gosip bahwa Siti Kusmini menunggak tagihan daging sapi di pasar, karena tak balik modal saat resepsi. Wanita itu sepertinya bakal membuat gosip panas terbaru.
Evi berdiri di balik tubuh seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Ia menajamkan telinga untuk mendengarkan percakapan Coki dan Siti. Tapi setelah berada di dekat banner kampanye ASI itu, Evi segera menyadari topik perdebatan di depannya.
“Mata kamu dari tadi ngelihatnya ke situ aja,” sergah Siti. “Kamu kira aku nggak merhatiin?”
“Nggak ada! Aku cuma mandang jalanan. Mandangin pepohonan. Kamu jangan nuduh sembarangan. Ngapain aku liat gambar iklan ini?” Coki menunjuk banner.
“Lain kali, kalau aku periksa kandungan, kamu nggak perlu ikut. Nunggu giliran aku dipanggil periksa, kamu malah betah mandangin susunya si Tini.” Siti Kusmini menunjuk banner.
“Nggak ada ngapain aku ngelihat ke banner itu?” sanggah Coki. Matanya kembali melirik banner yang menampilkan Tini Suketi yang sedang tersenyum berakting menyusui ‘bayinya’.
Evi tak sanggup menahan tawanya. Ia segera membekap mulut dan berjongkok untuk terkikik-kikik sendirian. Foto di banner itu memang benar menunjukkan Tini yang sedang menyusui bayi.
Beberapa bulan yang lalu, jauh sebelum kejadian cekcok antara Coki dan Tini, wanita itu memang ditawari oleh Kepala Puskesmas untuk menjadi bintang iklan kampanye ASI di desa mereka. Di desa itu tak ada yang bersedia menjadi model. Padahal sudah dikatakan, fotonya tidak akan terbuka. Bagian dada akan tertutup oleh kepala bayi. Tetap saja para ibu muda di sana, tak ada yang mau. Semuanya dilarang suami. Mereka hanya bersedia meminjamkan bayi mereka sebagai model.
Karena Kepala Puskesmas yang cukup dekat dengan Tini suatu hari menyampaikan keluhan itu, akhirnya Tini iba. Ia menyanggupi membantu Kepala Puskesmas mengkampanyekan pentingnya ASI Eksklusif pada bayi.
Banner besar itu berada di posyandu. Dengan wajah Tini tersenyum manis sambil menyusui ‘bayinya’. Dalam banner itu juga dikatakan pentingnya para ayah mendukung gerakan menyusui istri mereka.
Tini yang sedang dijadikan bahan bertengkar mungkin sudah lupa akan foto itu. Setelah puas tertawa Evi kembali berdiri untuk mengintip wajah kesal Siti Kusmini.
Lalu, saat keributan itu semakin menyedot perhatian, seorang perawat keluar untuk melerai.
“Pak, Bu! Ya, sudah. Malu diliatin orang ramai. Ayo, pulang saja. Periksanya bisa lain kali. Masalahnya diselesaikan dulu di rumah. Pasien yang lain bisa kembali duduk, ya.” Perawat tadi menunjuk bangku-bangku panjang yang kosong. Penghuninya semua berpindah mengelilingi Coki dan istrinya.
“Kapan banner iklan ini diturunkan?” Bukannya malah menghentikan keributan, Siti Kusmini menunjuk banner itu dengan wajah kesal.
“Kok, nanya kapan diturunkan? Banner-nya aja baru naik kemarin. Masalah pribadi ibu nggak ada hubungannya dengan kesuksesan program puskesmas. Sudah! Sana—sana!” perawat perempuan itu mengusir Coki dan Siti dengan raut yang tak kalah kesalnya.
Mendengar hal itu, Evi cepat-cepat menjauhi kerumunan dan segera menyalakan motornya. Ia tak sabar untuk segera tiba di rumah dan menelepon Tini.
***
Tini masih terus tertawa meski percakapannya bersama Evi sudah berakhir.
“Hei, gila! Gak siap-siap kau ketawa dari tadi,” sergah Mak Robin dari kursi plastik.
“Tunggu, Mak! Masih lucu. Aku harus menuntaskan ketawaku,” balas Tini, terkekeh-kekeh.
“Apa rupanya yang kau ketawakan?” tanya Mak Robin. “Sini dulu kau! Cakap dulu,” pinta Mak Robin.
Tini menarik bangku plastik dan duduk di sebelah Mak Robin. Beberapa saat menceritakan kejadian yang baru saja diceritakan oleh Evi melalui telepon, Mak Robin tertawa terbahak-bahak sampai tersedak.
“Memang pesonglah kau!” tukas Mak Robin.
“Aku nggak bisa membayangkan seberapa lama mereka nggak mau noleh ke posyandu. Periksa kandungan di tempat lain, jauh banget. Si tikus keburu beranak di jalan,” sambung Tini, kemudian kembali tertawa.
“Sok laris kali kau kutengok di kampung itu,” kata Mak Robin.
“Aku memang laris. Banyak yang ke rumah buat nembak aku jadi pacar. Aku sering nolak laki-laki. Ada yang masih parkir motor di halaman rumahku, langsung kutolak!” kata Tini bersemangat.
“Ya, kau tolaklah! Aku pun pasti kutolak kalo ada orang tiba-tiba parkir di depan pintuku. Enggak kenal pulak!” Mak Robin melayangkan botol susu ke arah Tini.
Tini menangkap botol susu itu kemudian melanjutkan tawanya. “Kamu lulus, Mak! Lulus jadi temenku!”
Plakk!
Tini memukulkan botol susu ke lengan Mak Robin.
“Aih, bodat! Sakit!” umpat Mak Robin.
Enam bulan bekerja di karaoke, ternyata tak membuat kebahagiaan dan kelancaran hidup Tini bertahan lama. Suatu pagi Tini terbangun karena telepon dari Maisaroh.
“Tin! Tin! Bangun! Cepat beli koran! Harian Kompos!” pekik Maisaroh dari seberang telepon.
Tini yang belum cuci muka gelagapan. Membaca isi pesan dari temannya saja, ia langsung menuju baris terbawah. Langsung menuju pokok pembicaraan. Dengan mata masih mengantuk ia malah disuruh beli koran.
“Memangnya ada apa?” tanya Tini bangkit dari ranjang dan buru-buru mengecek wajahnya di cermin berbingkai cokelat di dinding.
“Banyak tanya kamu! Sana!” kesal Maisaroh. “Kalau sudah beli, liat halaman paling belakang. Cepat!” pinta Maisaroh lagi.
Semua bagian tubuh Tini berguncang saat ia berlari keluar gang menuju sebuah warung. Letak warung itu agak jauh, tapi di sana juga menjual berbagai surat kabar dan majalah. Usai membayar, Tini menggulung surat kabar itu dan segera kembali ke kos-kosan.
Di atas kursi plastik, ia merentangkan harian Kompos yang dibelinya.
Beberapa saat mencari hal yang dikatakan Maisaroh, mata Tini terbelalak saat menemukannya. Ia membekap mulut dan mulai menangis.
“Maaak!” jerit Tini.
Mak Robin langsung keluar kamar tanpa membawa anaknya.
“Kenapa kau?” pekik Mak Robin terkejut.
“Pohon uangku tumbang! Tumbang, Maaaak,” raung Tini.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
owalah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Yulay Yuli
pak Alie meninggal ya
2025-01-12
0
Herlina Lina
oalah 😄
2024-12-10
0