“Setidaknya kalau mau begini, ngomong aja. Jadi, kamu nggak perlu nyari-nyari kesalahan aku,” kata Tini dari ambang pintu.
Bukannya malah berpakaian, kedua pelaku itu hanya menarik seprai batik untuk menutup tubuh mereka. Siti Kusmini menutup bagian atas tubuhnya dengan bantal.
“Ya, sudah. Kamu mau apa? Aku juga nggak mau mutusin kamu. Tapi Mini sudah hamil. Kalau kamu mau dimadu?” Ternyata, kali ini Coki bangkit dan mengambil pakaiannya.
“Hah? Bunting?” tanya Tini memandang Coki, lalu pandangannya berpindah pada Siti Kusmini. “Bunting, kamu? Makanya nanya aku mau nikah kapan? Kamu yang bunting, tapi nanya aku mau nikah kapan?”
“Tin, maaf, Tin .... Aku—”
“Sudah sejak kapan kita mencicipi batang yang sama? Kenapa kamu nggak bilang?” Tini memotong ucapan Siti. Ia dikhianati Coki, tak apa. Laki-laki itu memang bajingan podium tiga teratas di desa mereka. Tapi dikhianati sahabat yang sering makan satu piring dengannya, terasa sangat menusuk.
“Aku bisa nikahin kalian berdua,” tukas Coki.
“Nikahin dua wanita? Matamu!” maki Tini. “Kalau nggak tinggal di rumah orang tuamu dan makan dari mereka, mungkin batu nisanmu sudah berlumut di kuburan!” Napas Tini tersengal-sengal. Tak ada air mata di depan Coki. Yang ada, dia ingin menjejalkan semangkok cabai ke mulut laki-laki itu.
“Jadi? Mau gimana? Apa masih ada yang mau sama kamu selain aku?” Coki sudah selesai mengenakan pakaiannya. Ia lalu memunguti pakaian Siti Kusmini dan mencampakkannya ke pangkuan wanita itu.
“Iya, Tin! Aku nggak apa-apa, kok.” Siti menatap Tini dengan pakaian di tangannya.
“Hah? Batang pas-pasan kayak gitu juga harus dibagi-bagi? Emoh!” Tini nyaris meludah di lantai mendengar ucapan sahabatnya.
“Jadi? Kata Coki kamu juga udah nggak gadis lagi. Apa ada lagi yang mau sama kamu?” tanya Siti Kusmini.
Dada Tini terasa diremaas. Sanggup sekali Siti Kusmini mengatakan hal itu padanya.
“Pikiran kalian itu pendek banget! Sependek jarak otak kalian dan selanggkangan. Jangan panggil aku Tini Suketi kalau aku nggak bisa bawa laki-laki lebih dari si paku tembok ini!” maki Tini menunjuk Coki.
“Ngomongmu kayak yang bener aja,” kata Coki. “Kamu juga masih setengah mati cari duit, Tin—bapakmu aja masih kayak gitu. Setidaknya orang tuaku tanggung jawab sama anaknya!” balas Coki.
“Matur nuwun, Cok! Liat aja nanti. Aku nggak akan pulang sampe aku bisa beli bukit di belakang rumahmu! Bukit yang katanya paling subur dan mahal. Yang pemiliknya nggak tau entah siapa. Nanti aku minta suamiku beli itu. Buat gusur kalian!”
“Halah! Yang penting, aku sudah menawarkan. Bukan aku yang nggak mau tanggung jawab sama kamu. Kamu yang nggak mau dimadu.” Coki duduk di tepi ranjang menggaruk-garuk kepalanya.
“Mending aku diracun, ketimbang aku dimadu! Kayak nggak ada batang lain aja,” umpat Tini.
“Udah—udah. Sana! Ini rumah kami! Kami patungan ngontrak rumah ini. Kamu masuk rumah orang nggak pake acara ngetuk pintu!” sergah Coki.
“Ya, aku nggak ngetuk. Namanya mau nangkep basah! Kalau ngetuk pintu, namanya silaturahmi. Sudah sesak banget, sampe nggak inget ngunci pintu?”
BRAKK!!
Tini menendang pintu kayu tipis yang sejak tadi dipeganginya. Dengan kekuatannya yang disponsori emosi luar biasa, daun pintu lapuk itu jebol. Dua papan kayunya melesak ke dalam.
“Kamu ngerusak rumah orang!” pekik Coki.
“Kalian patungan gantinya!” balas Tini, kemudian pergi meninggalkan pintu kamar.
BRAKK!
Tini keluar rumah dengan kembali membanting pintu. Pak Paijo yang sedang melamun menumpukan kedua sikunya pada setang motor, terlonjak kaget. Tangannya merosot jatuh dan ia langsung memutar kepalanya.
“Sudah, Tin? Memang ada sapi melahirkan?” tanya Pak Paijo.
“Bukan. Tikus kawin. Anter aku pulang, Pak.” Tini langsung naik ke boncengan. Pak Paijo hanya mengangguk sok mengerti dengan apa yang dilihat Tini di dalam rumah.
“Coki lagi nyabu, ya, Tin?” tanya Pak Paijo saat di perjalanan. Ia penasaran dengan raut wajah Tini yang sangat kacau saat keluar dari rumah itu.
“Iya, Pak.” Tini hanya menjawab singkat. Ia tak mau menimbulkan kegegeran di kalangan pengemudi ojek dengan jawaban sembarangan yang dilontarkannya. Meski yang dilihatnya fakta, ia tak mau melecehkan dirinya sendiri karena dinilai kalah dari Siti Kusmini, lalu menyebar aib.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Tini berulang kali mengusap air mata. Ia tak mau tiba di rumah dengan muka sembab, mata memerah dan hidung tersumbat.
Tini turun di depan rumahnya, lalu merogoh kantong celana mencari pecahan dua puluh ribu.
“Enggak usah, Tin. Gratis,” kata Pak Paijo.
“Bener, nih? Ya, diambil aja nggak apa-apa, toh?” Tini menyodorkan selembar dua puluh ribuan yang terlipat.
“Enggak usah. Simpen aja,” sahut Pak Paijo menggeleng.
“Pak, ada kenalan di kota? Aku mau kerja ke kota. Mau cari tempat tinggal. Kos-kosan paling murah,” ujar Tini. Ia berdiri memegangi batok kepala motor Pak Paijo yang masih menyalakan lampu redup.
“Di gang sebelah, si Atun yang baru kembali dari kota. Denger-denger Atun tinggal di kos-kosan. Dia pernah kerja di rumah makan. Nanti aku tanya alamatnya di mana. Jangan cari-cari si Coki lagi, Tin. Itu saranku. Tapi semuanya terserah kamu. Aku pergi. Bel aja hapeku kalau ada apa-apa,” kata Pak Paijo, meletakkan tangannya di telinga sebagai isyarat Tini bisa meneleponnya.
Tini mengangguk, lalu memandang Pak Paijo yang menghilang di kegelapan. Tini tidak masuk melalui pintu depan. Ia memutari rumah dan duduk di atas tumpukan kayu kering. Kayu itu berasal dari pepohonan tumbang di lembah, lalu dibelah-belah untuk dipakai memasak. Lumayan menghemat minyak tanah kalau untuk memasak banyak dan lama.
Di kegelapan halaman belakang rumahnya, Tini menangis tanpa suara. Menggigit bibir agar tangisnya tak terdengar. Membenamkan kepala pada lipatan tangan, dengan bahu berguncang. Kisah kebodohan yang tak mungkin ia ceritakan pada siapa pun.
Berpacaran dengan Coki bukan dilakukannya sehari dua hari. Namun, ternyata populasi perempuan di desa itu berkembang pesat ketimbang laki-laki. Sampai-sampai sahabatnya sendiri tak mampu menemukan sosok laki-laki lain untuk ditiduri.
Seminggu kemudian, Tini benar-benar menjalankan aksi diam. Di rumah, Tini perang dingin dengan bapaknya. Di pabrik, Tini menghindari Siti Kusmini yang berusaha kembali mendekatinya. Dan dua hari berikutnya, Tini mendengar kabar soal Siti Kusmini yang mengundurkan diri karena akan menikah. Ternyata, semuanya benar.
Pesta pernikahan Coki dan Siti Kusmini akan dilangsungkan hari Sabtu berikutnya. Selembar undangan tipis dipandangi Evi dengan mata membelalak. Undangan itu ia dapatkan dari ibu Siti Kusmini saat ia mampir di warung.
“Kamu diundang, Mbak! Kamu diundang!” jerit Evi dari depan pintu. “Mbak Tini ...! Mbak Tini! Pacarmu nikah sama sahabatmu! Apa kamu nggak tau? Mbak Tini!” Evi yang baru pulang mengutip cicilan sore itu, berteriak-teriak histeris. Ia seperti orang gila mencari kakaknya. Bagaimana mungkin Coki yang sudah memacari kakaknya begitu lama, namun berakhir menikah dengan wanita yang sering makan tidur di rumah mereka.
Tini sedang membereskan pakaiannya di kamar. Memasukkan pakaian yang dirasanya paling penting dan dinilainya memiliki model lebih modern.
“Mbak Tiniii!” teriak Evi di ambang pintu kamar. “Bagaimana mungkin?!” jerit Evi lagi menghambur ke dekat Tini, dan mengguncang tubuh kakaknya.
Tini mengambil selembar undangan dari tangan Evi. Menolehnya sebentar, kemudian ia campakkan. Ia lalu meraih lengan Evi dan menyeretnya ke ranjang. Tini mengambil sebuah guling, lalu ia jejalkan ke dalam dekapan Evi.
“Aku yang ditinggal kawin, kok, kamu yang kesurupan? Istirahat dulu. Mungkin kepalamu terlalu lama kena panas. Hari Sabtu, aku berangkat ke kota. Pak Paijo sudah ngasi rekomendasi tempat tinggal di sana dari Mbak Atun. Namanya kos-kosan kandang ayam. Aku jadi inget Puput. Apa ini pertanda aku harus mengenang Puput selama tinggal di sana?” Tini tertawa sumbang.
Evi hanya diam. “Pestanya di rumah Mbak Mini, Mbak.”
Tini mengabaikan ucapan adiknya. “Oh, iya. Hari Sabtu sebelum berangkat, aku perlu parang besar. Kamu ngeliat parang besar punya bapak? Di mana disembunyikannya?”
“Parang besar untuk apa? Mungkin bapak trauma kamu nyembelih Puput, makanya dia sembunyikan. Kamu mau nyembelih siapa kali ini?”
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
jumirah slavina
mo nyembelih batang kecil'y Coki-Coki🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Istiqomah Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
seru kali kisah ini....
2025-01-26
0
Herlina Lina
ooo iya jg wkwkwk
2024-12-07
0