Maisaroh sudah kembali ke kampung halamannya. Sedangkan Tini, sekarang lebih memilih masuk ke tempat karaoke melalui basement. Wanita itu rela memutar jauh-jauh hanya untuk melewati meja tempat di mana Gatot Sayuti berada.
Perawakan Gatot cukup tinggi. Karena tinggi badannya itu, ia terlihat lebih menonjol dari teman-temannya. Wajahnya pun terbilang lumayan untuk ukuran kota. Sednagkan kalau di kampungnya, Tini yakin kalau Gatot akan menjadi pujaan tiap gadis.
Rambutnya Gatot selalu berkilap dan parfumnya selalu tercium dari jarak beberapa meter. Lorong-lorong yang dilalui Gatot selalu meninggalkan aroma bibit parfum yang memang menjadi ciri khas pria itu.
Sejak perkenalan Tini bersama Gatot, Tini tak henti-hentinya memuji pria itu siang dan malam. Semua-semua yang dilakukan Gatot terlihat sangat estetis di matanya.
“Badannya itu memang bagus, Mak. Tinggi semampai. Kalau jalan kayak model. Baju apa aja kelihatan bagus kalau Mas Gatot yang pakai.” Tini mengatakan itu dengan kilatan cahaya di matanya.
“Masa, sih?” tanya Mak Robin tak percaya. Ia tahu Tini sedang dilanda asmara. Tini sudah mengulangi ucapannya itu, selama puluhan kali dalam waktu seminggu terakhir
“Kamu karena nggak lihat langsung aja, Mak. Lagian, kamu ini udah tua. Selera kamu, tuh, beda sama aku. Rambutnya itu, lho, rapi terus. Aku suka dengan cowok-cowok rapi. Geli sama cowok yang berantakan gayanya.” Seketika Tini lupa akan penampilan Coki di kampungnya. Coki yang kurus dan doyan memakai celana rombeng dengan benang bergelantungan di sana-sini.
“Aku curiga kalo udah perempuan terlalu muji-muji jantan kek kau ini. Jelek pun nampaknya, pasti enggak akan mau, kau mengakuinya. Aku pun pernah muda, Tini. Yang kau kira, aku lahir dari bawah mamakku langsung beruban?” Mak Robin mendengus kesal memandang Tini. Namun, lawan bicaranya itu bergeming.
“Warna kulitnya gimana? Warna kulitnya?” tanya Mak Robin. Ia bersikeras mencari kelemahan Gatot di mata Tini.
“Ya, warna kulitnya kecokelatan. Warna kulit laki-laki yang jantan. Kamu jangan lupa, Mak. Cokelat itu lebih manis dari pada tepung.” Tini terkikik-kikik menutup mulutnya.
“Udah ada rupanya kau ditembak?” tanya Mak Robin.
“Belum. Masih jalan aja. Apa aku harus nembak duluan? Tapi aku takut, Mak.” Tini memandang Mak Robin dengan sorot yang tiba-tiba gelisah. Ia sebenarnya juga pernah berpikiran akan hal itu. Tapi kejadian di masa lampau, mengurungkan niatnya.
“Kenapa pula kau takut?” tanya Mak Robin lagi. Menghabiskan waktu siangnya dengan meladeni ucapan Tini sambil menidurkan Robin di pangkuannya, sedikit menghibur Mak Robin. Walau sering kesal, setidaknya ia tak termangu-mangu sendirian.
“Dulu ada cowok ganteng, yang tinggal di desa sebelah. Kerjanya bagus. Mandor di pabrik. Aku dandan dari pagi sampai siang, cuma buat jumpain dia ladang tebu. Tapi, jawabannya malah, 'Maafin aku. Aku nggak bisa sama cewek yang biasa-biasa aja.’ Kurang ajar!” kesal Tini. Rautnya masih terlihat kesal meski kejadian yang diceritakannya itu sudah lama berlalu.
Mak Robin tertawa terbahak-bahak. “Terus apa kau bilang?” Mak Robin penasaran dengan jawaban Tini.
“Ya, aku bilang, kalau aku luar biasa seleraku bukan dia.” Tini kemudian menunduk meraba kotak rokoknya.
“Ya, udahlah. Janganlah kau tembak dia. Kau tunggu aja sampe kau yang ditembak. Nanti jadi kau pula yang cinta kali sama dia,” saran Mak Robin. “Biasanya, kalo ceweknya yang nembak, hubungannya pasti nggak akan tahan lama itu. Karena, si cowok pasti menilai, cinta kali perempuan sama dia.”
“Halah! Siapa bilang? Satu-satunya laki-laki yang nembak aku, ya, Si Coki yang di kampung. Malah selingkuh, sekarang kawin sama temen deketku. Aku juga heran apa yang dipandangnya dari Siti Kusmini. Padahal kalau Si Tikus pipis, suaranya udah kayak numis kangkung. Satu rumah denger. Nggak ada elegan-elegannya jadi perempuan.” Tini mengembuskan asap rokoknya dengan kesal.
Mak Robin tak bisa menahan tawanya. “Sok cantik, kau! Kau kayak apa rupanya kalo terkencing?”
“Kayak nggodog air, Mak!” Tini tertawa terbahak-bahak, kemudian melayangkan pukulannya ke lengan Mak Robin. Karena tak sempat menghindar, Mak Robin memaki-maki Tini sambil mengusap lengannya.
Saat mereka sedang tertawa pintu rumah Bu Nani kemudian terbuka. Anak perempuan yang keluar dan melemparkan tatapan sinis kepada Tini. Tak mau kalah ini pun membalas tatapan itu tak kalah sinisnya.
Dan memang seperti ingin memulai keributan, anak Bu Nani berkata, “Kamu kayaknya lagi dapet, ya? Ngeliat orang sinis terus,” tukas anak perempuan Bu Nani, yang sepertinya masih dendam karena ibunya mendapat perlawanan sengit dari Tini.
“Muka aku kayak gini, bukan karena aku lagi dapet. Tapi aku memang nggak suka aja liat kamu.” Tini lalu menyesap rokoknya dengan santai. Anak Bu Nani memakai sepatunya kemudian berjalan melenggak-lenggok meninggalkan halaman kos-kosan.
Hal yang dinantikan Tini selama hampir tiga bulan akhirnya terwujud juga. Gatot telah memintanya untuk menjadi pacar. Tini senang bukan kepalang. Tiga bulan lamanya ia hanya menjadi wanita pemandu karaoke. Pergi dan pulang kerja bersama Gatot Sayuti. Berboncengan dengan mesra bagai dua buah magnet yang susah dipisahkan. Di mana ada Gatot di situ ada Tini.
Dan dalam waktu tiga bulan berikutnya, di usia Robin yang hampir menginjak empat tahun, Tini mulai berani mengajak Gatot berkunjung ke kos-kosannya.
Pada suatu sore, langit masih tersungkup awan gelap. Sisa air hujan masih menggenang di beberapa ceruk halaman kos-kosan. Pintu kamar Mak Robin terbuka sepenuhnya. Tini dan Gatot sedang bersenda gurau duduk di kursi plastik.
Seorang wanita memasuki halaman kos-kosan dengan sebuah tas kecil di tangannya. Wanita itu dengan mantap langsung menuju kamar yang letaknya di sebelah kamar Tini.
Dahi wanita itu terlihat membengkak dan sudut bibirnya masih memerah karena luka baru. Wajahnya manis, namun tak berekspresi. Rambutnya yang sebahu diikat begitu saja di atas tengkuk.
Tubuh bagus wanita itu, membuat mata Gatot langsung berekspansi. Menatap wanita itu dari atas ke bawah. Tersadar akan seorang pria yang sedang memandanginya. Wanita yang sedang memutar anak kunci menoleh dan menatap tajam pada Gatot.
Beberapa saat lamanya wanita itu memandang Gatot. Tini tak senang. Lalu ....
“Heh! Kamu ngapain liat cowok aku kayak gitu? Enggak pernah liat cowok ganteng?” sergah Tini, langsung mendekap lengan kekasihnya.
“Apa? Ganteng? Matamu!” sahut wanita itu.
Mak Robin tertawa terbahak-bahak dari dalam kamar. Ia lalu keluar menjulurkan kepalanya.
“Hei! Kedan! Anak baru kau, ya? Siapa nama kau?” tanya Mak Robin.
“Dijah!” seru wanita itu. Lalu membuka pintu kamar dan menutupnya dengan bantingan.
Mak Robin kembali tertawa terbahak-bahak. “Mampus kau, Tini! Dapat imbang, kau. Hahaha.” Mak Robin semakin terbahak-bahak.
Tini menatap pintu kamar Dijah dengan wajah kesal.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Yeti Kosasih
akhirnya Dijaah muncuul jugaaa..😉😉
2025-03-06
1
Yulay Yuli
kalah telak tini ama didjah
2025-01-12
2
Nita Ria Nita
Dijah .... jutek nya🥰
2024-11-02
1