Sejak Dijah menggagalkan Tini bermesraan dengan Gatot, kekesalan Tini pada Dijah memuncak. Ia mengamati gerak-gerik Dijah setiap hari. Karena kecintaannya pada Gatot sedang meluap tak terbendung, Tini berencana membalas tetangganya.
Pagi yang mendung, Tini biasa bangun lebih lama. Tetes air masih terlihat memercik genangan di halaman, saat Tini baru saja selesai mandi dan menenteng ember berisi air ke depan pintu kamar Dijah. Ia merasa jahat, tapi hatinya kesal. Dijah adalah penghuni baru yang lancang kepadanya. Karena Dijah, Gatot tak jadi menginap karena segan mendengar seruan Dijah.
Seraya terkikik geli dan tersenyum jahat, Tini meletakkan ember tepat di depan pintu kamar Dijah. Ia lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Ia membayangkan wanita yang melirik Gatot akan jatuh tersungkur atau setidaknya tersandung ember itu.
Dengan telinga ditajamkan, Tini berdiam di kamarnya. Dan yang ditunggunya pun tiba. Ia mendengar pintu kamar tetangganya mengayun terbuka. Beberapa saat lamanya, Tini tak mendengar apa pun. Ia penasaran, tapi masih menahan diri untuk keluar.
“Tin! Tin!” panggil Mak Robin.
Merasa memang perlu keluar, Tini langsung membuka pintu dan menjengukkan kepalanya ke pintu kamar Mak Robin, “Manggil aku?” Ekor matanya melirik depan pintu kamar Dijah. Ia mencari-cari embernya. Ember itu hilang.
“Kau jagalah dulu si Robin. Aku mau mandi,” pinta Mak Robin, berjalan ke arah Tini dan menyerahkan anaknya.
Pakaian Tini pagi itu sangat seksi. Ia keluar dan duduk di depan kursi teras sambil memangku Robin. Walau rautnya penasaran akan keberadaan embernya, Tini duduk di kursi plastik sambil menepuk-nepuk paha Robin yang kembali terlelap.
Anak perempuan Bu Nani keluar kamar. Tak sengaja, Tini langsung bersitatap dengan wanita itu.
“Setiap hari kalo ngeliatin orang nggak ada sopannya,” ujar anak Bu Nani.
Bu Nani melongokkan kepalanya keluar kamar dan menatap Tini. “Bukan cuma ngeliat orang aja yang nggak sopan. Pakaiannya juga kayak gitu. Orang sekali ngeliat aja, pasti udah tau siapa yang nggak bener.” Bu Nani tak mengatakan itu pada Tini. Tapi, berbicara pada anaknya dengan suara keras.
Merasa tak senang dengan yang dikatakan tetangganya, Tini mulai mengeraskan rahang. Ibu dan anak ternyata sama saja, pikirnya.
“Kalian ngomong sama siapa? Aku? Ngomongnya ngeliat ke sini! Jangan nggak jelas gitu. Beraninya, kok, nyindir-nyindir. Aku nggak ada ganggu kalian, tapi setiap hari kayaknya nggak puas cari masalah. Kalau nggak suka liat muka aku, jangan tinggal di sini.” Kemurkaan Tini yang bertumpuk-tumpuk kepada para tetangganya akhirnya tumpah ruah. Ia menggendong Robin dan berdiri mendatangi pintu kamar Bu Nani.
“Kamu yang pindah dari sini. Kamu, kan, termasuk penghuni baru. Harusnya lebih tau diri. Kerjaan kamu itu udah nggak bener. Pakai acara bawa laki-laki ke kamar. Bikin kos-kosan ini namanya jadi jelek. Cari aja sana tempat tinggal yang lebih bebas. Jadi nggak bikin seluruh penghuni dapet cap yang sama!” sergah Bu Nani.
Wajah Tini merah padam. Ia berdiri menggendong Robin dan menghadapi ibu-anak yang sedang mencercanya.
“Urusannya sama kamu apa? Hinaan kamu itu, sudah berapa lama dipendam? Kayaknya dendam banget. Apa pun kerjaanku, urusannya sama kamu apa? Kenapa ngeributin urusan satu kos-kosan? Kenapa nggak nyalon jadi presiden aja? Biar bisa ngurus satu negara. Nanggung!” umpat Tini. Karena umpatannya barusan, Robin menggeliat di gendongan, lalu membuka mata.
Tini mulai berkeringat, karena menggendong Robin yang tubuhnya lumayan tegap. Karena bocah laki-laki itu terbangun, ia mengubah posisi gendongannya. Namun, ia belum beranjak dari depan pintu kamar.
“Carikan dia kerja yang bener. Coba tanya restoran di tempat kamu. Siapa tau ada lowongan.” Bu Nani berbicara pada anak perempuannya. “Mungkin aja dia nggak bisa nyari sendiri kerjaan yang lebih baik.” Saat mengucapkan kata ‘dia’ Bu Nani menunjuk Tini dengan mulutnya.
“Restoran tempatku lagi nggak ada lowongan. Kayaknya juga nggak cocok untuk dia,” sahut anak Bu Nani.
Mata Tini memerah. Sudah berkaca-kaca. Perkataan ibu dan anak di depannya sangat menyakitkan. Terkadang, yang menambah beban memang bukan masalah yang sedang dihadapi, tapi penghakiman dari orang sekeliling. Tak apa kalau merasa dirinya paling benar. Yang aneh itu, merasa semua orang lebih buruk. Air mata Tini meleleh.
“Bu Tini,” panggil Robin, mengusap pipi Tini.
“Aku denger dari tadi berisik banget,” ucap suara perempuan dari balik tubuh Tini.
Tini memutar tubuh, lalu memandang Dijah yang rambutnya digulung handuk. Tangan kiri wanita itu membawa sebuah ember yang berisi peralatan mandi, sabun colek, beserta sikat pakaian. Itu adalah ember yang diletakkannya di depan pintu untuk menjebak Dijah.
“Siapa kamu? Ikut-ikutan. Kamu juga tiap hari pulangnya malem terus. Kerjaan kamu apa? Sama kayak dia? Orang nggak bener yang nggak mau dinasehati. Masih muda, harusnya denger kalau orang tua ngasi nasehat.” Bu Nani beralih untuk mencerca Dijah yang baru tiba di depan pintu kamarnya.
“Iya. Kerjaanku juga belum bener. Masih di café remang-remang, nganter minuman. Ngelewatin meja Mbak ini.” Dijah menunjuk wajah anak Bu Nani. “Mbak ini susunya lagi diremes-remes sama bapak-bapak. Aku nggak mungkin salah liat. Aku udah hapal muka tamu di café itu. Bapak yang ngeremes susu kemarin, tamu negeri Jiran, kan? Orangnya pelit. Jangan mau!” kata Dijah sambil membetulkan handuk di kepalanya.
“Masih sama-sama numpang dan bayar di tempat orang. Enggak usah saling ngusir. Meski Mbak ini—” Dijah menepuk pundak Tini—“bawa cowoknya ke kamar, itu hak dia. Tubuhnya sendiri. Kalau nggak berisik, aku nggak masalah. Walau tingkahnya begini, Mbak Tini ini baik. Aku liat setiap pagi, dia mau jagain anak tetangganya. Hidupnya nggak mikirin diri sendiri aja, kok.”
Tangis Tini terhenti. Ia tak tahu harus senang atau sedih mendengar ucapan tetangganya barusan. Tapi, yang jelas ia tak berani mengakui bahwa ember yang berada di tangan Dijah adalah miliknya. Ia hanya menoleh memandang Dijah yang sedang mengulurkan tangan pada Robin.
Bu Nani memucat dan menatap tajam anaknya. Anak perempuannya terlihat salah tingkah.
“Oh, iya. Baru inget! Nama tamunya Pak Sukdev. Hati-hati, Mbak. Katanya Pak Sukdev suka nyoba dari belakang. Si Mami pernah. Mataharinya sakit sampe seminggu. Jijik aku,” kata Dijah. Wanita itu lalu mengangkat ember ke depan Tini.
“Ini ember kamu, ya? Enggak dipake? Buat aku aja, ya. Lumayan ini, aku nggak ada ember buat bilas pakaian.” Dijah tersenyum-senyum memandang ember oranye di tangannya.
Tini mengangguk. “Iya, buat kamu aja." Tini lalu berbalik dan menggandeng Dijah pergi dari depan pintu kamar Bu Nani.
“Kamu malem kerja di café?” tanya Tini pada Dijah.
“Iya. Di café remang-remang komplek pertokoan seberang mall. Kenapa?” tanya Dijah.
“Itu, kan, malem. Kalau pagi, kamu ke mana?” tanya Tini, penasaran dengan ritme hidup tetangganya.
“Kalau pagi aku mulung di tempat pembuangan sampah. Agak siangan, aku jemput anakku sekolah. Kadang aku langsung ke rumah. Kenapa? Kamu lagi butuh kerjaan? Di café lumayan, dapetnya lima puluh ribu. Tapi kamu bakal kurang tidur,” ujar Dijah.
“Kamu mulung?” tanya Tini. Dijah duduk di kursi plastik, lalu membuka handuk di kepalanya. Wanita itu mengangguk.
“Enggak kerja di tempat lain? Lebih lumayan,” ucap Tini.
“Tapi, harus ngikutin jam kerja, kan? Aku nggak bisa. Kalau pagi aku mau jemput anakku sekolah. Bapakku nggak bisa diharap,” tukas Dijah tertawa kecil.
Tini terdiam. Wanita yang datang dengan wajah babak belur beberapa waktu yang lalu, bisa tertawa menceritakan soal bapaknya yang tak bisa diharapkan. Pekerjaannya memulung sampah, tapi wanita itu mengatakannya dengan sangat santai.
Selama ini, Tini tak pernah merasa terusik hatinya akan kehadiran seseorang. Pagi itu, Dijah menyenggol sisi dirinya yang paling dalam.
Dan ternyata, perkataan Dijah tak hanya mengusik hatinya. Tapi juga keluarga Bu Nani. Terbukti, beberapa hari kemudian, keluarga itu mengosongkan kamar di seberang.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
cici cici
skak mat..mantep Dijah😎
2025-01-09
1
NoRind
skak mat daahhh
2024-08-17
0
dyul
hadeh... bu nani ternyata anaknya lonte🤭
2024-08-13
0