Pulang dari pabrik, Tini belum berani langsung menuju rumahnya. Coki berjanji menjemput Tini sore itu. Kulit wajahnya yang mulai berminyak, kembali ia tepukkan bedak. Lipstik berminyak berwarna terang pun, ia poleskan sekali lagi. Tini sudah bersiap bermalam mingguan bersama kekasihnya.
Hampir setengah jam Tini duduk di bawah pohon seri, ketika suara knalpot motor yang bisa memecahkan gendang telinga bayi terdengar perlahan mendekat. Sejurus kemudian, Coki muncul dari jalan yang berada di sebelah pabrik mendekatinya.
Motor Coki terlihat sangat kurus. Persis seperti pemiliknya. Awalnya motor itu datang dari showroom dengan badan yang gemuk. Namun, beberapa hari di bawah perawatan Coki, motornya itu seperti tertekan. Tubuhnya dipreteli sampai hanya tersisa batang penyambung dua rodanya.
“Ayo, pulang. Abis nganter kamu aku masih ada keperluan. Enggak bisa lama-lama. Mau ngeliat ternak di desa sebelah.” Coki tidak turun dari motornya. Pria kurus itu hanya duduk di atas motor membenarkan letak topinya. Celana jeans biru yang warnanya sudah memudar sengaja dirobek di bagian lututnya untuk menambah kesan sangar. Tapi, kesan sangar itu gagal. Yang ada, Coki malah terlihat seperti gembel.
“Belum apa-apa udah ngomong nggak bisa lama. Memangnya kenapa ternak di desa sebelah sampe harus diliatin? Apa ada yang aneh? Aku juga mau sekali-sekali diajak ikut ngeliat. Ayo!” Tini langsung merentangkan kakinya naik ke boncengan. Perasaannya sudah tak enak beberapa hari ini. Coki selalu saja terburu-buru tiap mereka sedang bersama.
“Ini serius mau ikut?” tanya Coki dari depan, ia mulai melajukan motornya.
“Ya, iya. Aku mau ikut.” Tini melingkarkan tangannya dengan erat di sekeliling pinggang Coki yang tipis.
Coki melajukan motornya yang bersuara mirip traktor melaju menuju jalan besar, dan terus menuju desa sebelah yang tadi dikatakannya. Dari atas boncengan, kepala Tini sudah celingukan mencari rumah atau perkebunan yang dimaksud oleh kekasihnya. Di mana hewan ternak yang dimaksud oleh Coki. Motor melaju selama sepuluh menit menembus pepohonan. Keluar-masuk ke area perumahan warga desa yang terletak jarang-jarang, namun Coki tidak juga berhenti.
Tini gelisah. Desa itu sepertinya memang bukan tempat tujuan pria yang memboncengnya. Coki terkesan asal mengajaknya berputar-putar.
“Di depan ada rumah, kita berenti dulu.” Tini menepuk pelan pundak Coki, lalu menunjuk sebuah rumah yang halamannya luas.
“Mau ngapain?” tanya Coki.
“Ya, ini, mau ke mana? Enggak jelas!” sergah Tini. “Mau liat ternak di mana? Dari tadi aku nggak ada liat ternak sapi. Semuanya unggas. Kamu bilang selama ini bantu ternak lahiran di desa ini. Apa ayam dan itik sudah melahirkan? Enggak nelur lagi?” Tini mengomel dari balik punggung Coki.
“Kamu ini selalu bawel. Ya, udah. Kita pulang aja. Makin lama kayaknya kita makin nggak cocok,” kata Coki, menghentikan sepeda motornya.
Tini langsung terdiam. Inilah perasaan tak enaknya sejak kemarin. Ia seperti tahu bahwa Coki akan mengatakan hal itu sewaktu-waktu padanya. Kesibukan-kesibukan Coki yang sebenarnya tak pernah sibuk, membuat Tini curiga.
“Maksud kamu apa?” tanya Tini, turun dari boncengan dan berjalan ke depan Coki.
“Aku bilang makin lama kita makin nggak cocok. Kamu nuntutnya terlalu banyak. Ini-itu. Bikin aku pusing,” ketus Coki.
“Tuntutan menikahi perempuan yang sudah kamu kangkangi itu wajar. Sekarang kamu bilang aku nuntut. Kemarin-kemarin tiap liat sapi beranak, kamu datengi aku, karena kepingin kawin juga. Kepalamu itu makin nggak ada isinya karena kebanyakan ngisep sabu-sabu.” Napas Tini tersengal-sengal menahan emosinya.
Dua tahun menjalani hubungan dengan Coki, hanya berhasil membuat keperawanannya terenggut tanpa lamaran pernikahan.
“Kenapa? Kamu nyesel? Aku nggak pernah maksa-maksa kamu. Mau nyalahin aku?” sergah Coki.
“Aku nggak mau nyalahin kamu karena aku yang ngangkang suka rela. Aku juga ikut enak-enak. Aku tau kamu nggak maksa. Tapi, kamu juga sadar kalau harusnya bertanggung jawab. Aku nggak pernah minta apa-apa sama kamu, karena aku memang cinta. Masih mending ngelonte, aku dapet uang. Nyatanya, aku nggak minta apa-apa dari kamu, kan?” tanya Tini. Matanya sudah memanas. Laki-laki yang beberapa waktu lalu siang-malam mengatakan cinta dan sayang padanya kini berada di depannya bagai seorang pria asing tak dikenal.
“Aku mau pulang!” kata Coki.
“Di mana kandang ternak yang mau kamu liat? Sapi betina mana?” paksa Tini. “Aku tau kamu berusaha menghindari aku terus. Alesan mau liat ternak. Bolak-balik pake alesan sapi beranak. Memangnya sapi buntingnya berapa bulan? Setiap hari ada aja yang beranak!” pekik Tini.
“Aku tinggalin kamu di sini,” ancam Coki.
“Kamu anter aku. Jalan ke depan sana jauh,” kata Tini. Ia lalu kembali naik ke atas boncengan sepeda motor.
Wajahnya menekuk dengan hati yang terasa ditusuk sembilu bertubi-tubi. Habislah sudah, pikirnya. Masa depan apa lagi yang dimilikinya di kampung itu? Ayah pengangguran yang tak bisa dibanggakan dan tak pernah memikirkan masa depannya. Kebodohan akan cinta yang membutakan matanya.
Motor bebek kurus Coki keluar dari desa sebelah dan menelusuri jalan menuju desa mereka. Sampai tiba di depan jalan menuju rumahnya, Tini menepuk pundak Coki.
“Aku turun di sini aja,” kata Tini.
“Kamu bilang sampai di rumah. Sini aku anter sampe rumah,” tukas Coki, mulai mengendurkan emosinya sesaat yang lalu.
Coki tak punya keahlian apa-apa di kala sedang waras. Namun, memiliki keahlian mekanik luar biasa ketika sedang mabuk sabu. Pria 27 tahun itu sekejab saja bisa menyatukan kipas angin yang tercerai berai dalam jangka waktu singkat jika baru menyesap sabu. Keahliannya meningkat seperti MacGyver. Berbanding terbalik kalau ia dalam keadaan normal. Bodohnya luar biasa.
Coki menghentikan motornya di mulut jalan. Tiga orang ojek pengkolan terlihat di sana memperhatikan sepasang kekasih di ujung tanduk yang sedang melemparkan tatapan kesal satu sama lain. Saat Tini turun, Coki dengan segera menggeber motornya dan meninggalkan asap putih tebal yang menyelimuti tubuh Tini.
Tini berjalan keluar dari asap bak penyanyi dangdut yang baru muncul di atas pentas.
“Ribut terus, Tin!” tukas salah seorang ojek.
Tini menghentikan langkahnya di depan ojek itu. Namanya Pak Paijo. Usianya hampir empat puluh. Pak Paijo adalah tukang ojek langganan yang sering mengantarkan Tini ke mana-mana.
“Kemarin Coki ke mana? Ada ngeliat, Pak?” tanya Tini, menatap Pak Paijo yang kulitnya nyaris seperti warna gula merah.
“Ke kebun desa ujung. Ada rumah temennya di sana. Kemarin aku nganter langgananku, dan ngeliat ada motornya parkir,” jawab Pak Paijo.
“Kurang ajar itu. Besok temenin aku nguntit dia. Bisa?" tanya Tini.
Pak Paijo mengangguk. "Bisa," katanya.
"Ya, udah. Aku pulang dulu,” tukas Tini kemudian.
“Tinggalin aja. Ngapain sama laki-laki kayak dia. Masih banyak jejaka sini nyari perawan. Jangan takut nggak ada yang mau,” nasihat Pak Paijo.
Tini hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya. Andai semudah itu, ia pasti tak akan akan sesedih sekarang, pikirnya. Hatinya galau bukan kepalang. Kerja pun ia tak konsentrasi. Hubungannya dengan Coki mungkin hanya tinggal menghitung hari.
Tini mau Coki bersikap jantan dengan memutuskannya secara langsung. Tini mau Coki mengakui soal penyebabnya menjauh. Tapi sepertinya, Tini memang harus mencari tahu sendiri dan menangkap basah kekasihnya itu.
Sebelum tiba di gang rumahnya, Tini melewati simpang empat jalan yang di semua sisinya terdapat kebun dan pepohonan yang tumbuh jarang.
Saat melintasi simpang itu, Tini tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kakinya terasa menginjak sesuatu. Ia menunduk, lalu mengumpat. Dengan wajah kesal, ia melanjutkan jalannya terpincang-pincang.
Dari arah kanan Tini, seorang kakek pincang datang menjajari langkahnya. Sepertinya tujuan mereka sama. Kakek itu terkenal pikun. Seisi desa sudah tahu kalau ia sering sesumbar soal menjadi pahlawan kemerdekaan atau tentara yang sering ikut perang di seluruh belahan dunia. Padahal, cucunya mengatakan kalau kaki kakeknya pincang karena pernah kecelakaan. Terinjak seekor sapi yang mengamuk.
Melihat Tini terpincang-pincang, kakek itu mengernyit memandang kaki Tini. Lalu, ia juga memandang kakinya sendiri. Merasa senasib, kakek tersebut memulai pembicaraan.
“Perang Vietnam tahun 1955,” cetus kakek pikun menunjuk kakinya.
Tini memandang kaki kakek pikun yang pincang, lalu memandang kakinya yang juga sedang pincang.
“Tai sapi sepuluh meter di belakang,” balas Tini, menunjuk kakinya.
Kakek pikun mengangguk-angguk mendengar jawaban Tini. Mereka berdua lalu melanjutkan langkah dalam diam.
To Be Continued
Dukung TINI SUKETI ya ....
Karena juskelapa bakal ada Giveaway untuk 3 podium teratas pemberi hadiah terbanyak. Dan beberapa Giveaway untuk fans berlabel gold atau silver yang akan juskelapa acak seadil-adilnya. Semua pasti ada gilirannya.
*Buat yang udah lama nunggu TINI SUKETI dukung enjuss terus ya .... ada Giveaway untuk pembaca lewat jalur amalan yang nggak diliat dari poin.
Ini hanya souvenir kenang-kenangan dari juskelapa selama menulis di Noveltoon. Belum banyak, yang penting ada*.
Jangan lupa follow juskelapa karena bakal njuss sendiri yang PC untuk tanya alamat.
Semoga Tini Suketi bisa bersaing di jagat Noveltoon.
Salam sayang dari juskelapa.
Penulis Platinum jalur amal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Herlina Lina
lg ikut alur sedij ny tini welah dalah malah suasana ny bikin ngekek😅
2024-12-07
0
Herlina Lina
ini analogi ny baguzz bgt wkwkwkk
2024-12-07
0
Herlina Lina
alis kocak obrolanny inih😅
2024-12-07
2