Seharian Tini gelisah di kamarnya. Ia cemas tentang pekerjaan barunya bersama Warni sore nanti. Ia juga cemas soal Mak Robin yang pasti akan menanyainya mau pergi ke mana. Suara Robin yang menangis di kamar sebelah membuat Tini merasa semakin gugup. Dan puncak dari kegugupannya itu adalah ketukan keras di pintu kamarnya. Papan tipis renggang yang bisa memantulkan cahaya matahari jika di luar terlalu terik, terlihat bergetar.
“Mbak Tini ...,” panggil Warni.
Sejenak, Tini terhenyak. Suara Warni terdengar mirip Evi yang sedang memanggilnya. Sebersit rasa rindu, melintas di hatinya. Evi, Dayat, sedang apa kalian? Semoga sampai aku mati, kalian tidak akan pernah tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini. Tini memutar kunci kamarnya dan keluar dengan memasang raut angkuh. Semakin hari ia menyukai reaksi orang-orang saat ia memasang raut menyebalkan itu. Orang-orang, terutama para pria, tak ada yang memanggilnya dengan sebutan-sebutan nakal dan menjijikkan.
“Sudah selesai? Yuk,” ajak Warni. Sore itu Warni terlihat begitu segar dengan makeup yang apik. Terlihat bahwa wanita itu sudah terbiasa memoleskan makeup di wajahnya.
“Mbak Warni, apa nggak sakit?” tanya Tini memandang perut warni.
“Sakit, tapi hidup jalan terus sampe mati. Sudah, cepat tutup pintu kamarmu,” pinta Warni.
“Jadi juga kau ikut dia, Tini?” tanya Mak Robin menggendong anaknya.
“Biarkan dia cek ombak dulu, Mak. Mau lanjut atau enggak, terserah dia. Aku nggak jual Mbak Tini, kok.” Warni berkilah.
“Ya, udah. Hati-hatilah kau, Tini. Jaga diri baik-baik. Jangan sampai diperkosa orang. Jangan sampe kau balik ke kampung bunting pulak,” tambah Mak Robin.
Saat mendengar hal itu, Tini hanya membatin. Kalau tak memikirkan malu seperti Siti Kusmini yang mudah memutuskan untuk hamil di luar nikah lebih dulu, mungkin ia dan Coki akan menikah dengan cara yang sama.
Pukul enam sore, kota besar itu sudah gelap. Pantas ia diminta untuk bersiap-siap lebih cepat. Kepadatan jalan raya, membuat kendaraan mereka merambat. Di dalam taksi yang mereka tumpangi, Tini hanya diam membisu. Semuanya tampak asing. Jajaran gedung pencakar langit, kendaraan-kendaraan yang memadati jalanan, para pedagang di tepi jalan, bahkan Warni yang duduk di sebelahnya memegang ponsel, masih sangat asing.
Baru menjelang pukul tujuh malam, taksi yang Tini dan Warni tumpangi, tiba di depan portal masuk ke sebuah hotel bintang empat. Tini mengetahui hotel itu berbintang empat dari bawah nama hotel yang menampilkan deretan empat bintang.
Hotel itu sangat besar. Dan Warni meminta supir taksi terus melaju hingga mereka tiba di samping hotel. Ternyataz pintu samping hotel itu juga sangat besar.
“Mbak Tini santai aja. Jangan terlalu kaku. Jangan biarkan orang tau kalau Mbak Tini anak baru di sini. Karaoke di hotel ini bukan milik pengusaha lain. Artinya semua manajemen memang berada di bawah hotel. Ayo, kita masuk. Aku kasi tau seluk beluk di sini.” Warni menggelayuti lengan Tini seperti mengajak masuk ke rumahnya.
Warni begitu santai. Mengajak Tini melangkah di atas lantai yang berselubung karpet tebal peredam bunyi ketukan lantai. Tanpa suara tumit kaki mengetuk lantai granit, lorong itu sangat lengang. Warni terus melangkah menggandeng Tini, hingga mereka tiba di penghujung lorong dan berbelok ke kanan.
Malam itu Tini mengenakan celana jeans biru ketat yang di kampungnya menjadi tren. Warna biru kesan luntur dan belel serta serabut benang bagai poni di pergelangan celana itu. Untuk atasannya, Tini mengenakan sweater rajut mesin lengan panjang. Ia belum memiliki sepatu tinggi, seperti yang dikenakan Warni. Wajahnya pun masih berkilap karena bedak Kelly. Tini terlihat sangat kontras. Terutama, saat Warni mengajaknya melewati sebuah ruangan yang sekelilingnya kaca.
“Itu perempuan ngapain duduk rame-rame kayak dalam toples?” Tini melongo, melihat sofa berbentuk L yang mengelilingi isi ruangan kaca dengan perempuan berbagai bentuk di dalamnya.
“Itu namanya gadis akuarium. Kamu juga bakal duduk di sana,” kata Warni. “Sebelum Mbak Tini masuk ke ruangan itu, sini aku briefing dulu.” Warni menyeret Tini ke sebuah ruangan sangat kecil yang hanya berisi kaca besar dan beberapa bangku plastik.
“Jadi kerjanya gimana? Pakaianku kayak gini, nggak apa-apa?” tanya Tini dengan wajah kikuk.
“Enggak apa-apa. Nanti lama-lama kamu pasti bisa ngikutin ritme di sini. Denger aku dulu,” kata Warni.
“Iya, aku denger.” Tini mengangguk. Sepertinya ia berhasil menularkan kegugupannya pada Warni. Karena wanita berusia awal 30-an itu, memegangi kedua tangan Tini.
“Usia kamu berapa?” tanya Warni.
“Sebentar lagi dua lima,” jawab Tini.
“Masih perawan?” tanya Warni lagi.
Pertanyaan menohok buat Tini, tapi sepertinya sudah merupakan hal yang biasa ditanyakan di sana. Tini menggeleng lemah.
“Enggak perawan, ya? Pasti hilangnya diambil pacar dengan gratis. Goblok, sih, kamu. Mending dijual, kamu udah bisa beli mobil seken. Apalagi susumu gede,” kata Warni, mencolek dada Tini dengan santai. “Tapi, ya, sudah. Kalau gitu aku nggak perlu khawatir karena menjerumuskan gadis desa polos. Aku mau ngasi tips selama di sini. Kalau kamu bisa ngikutin caraku, kamu nggak akan capek.” Warni terlihat kelelahan. Ia yang tadi berdiri sambil bercermin, seketika menarik bangku dan duduk.
“Caranya apa?” tanya Tini. Ia benar-benar tertarik dengan kata-kata nggak perlu capek. Tini tak mau melacur. Dalam bayangannya, menemani bapak-bapak kaya menyanyi di ruangan dan diberi uang, teknisnya pasti sangat sederhana.
“Ini tempat karaoke sekaligus esek-esek, Tin. Buat pelanggan yang suka dengan wanita yang menemaninya, mereka bisa langsung melakukan kesepakatan. Tapi ada juga yang cuma mesra-mesraan di dalam ruang KTV. Macem-macem. Dari KTV ada gaji perhari, tapi nggak banyak. Tamu yang datang, biasa dibawa melewati ruangan kaca itu, lalu memilih wanita mana yang akan menemaninya. Tips paling besar, biasa dari pelanggan yang puas. Kalau kamu jago ngomong, kamu bisa mengeruk uang para bandot tua itu,” beber Warni. Ia menyeka sedikit peluh di dahinya.
“Mbak Warni sakit,” ucap Tini, memandang wajah Warni yang sedikit pucat.
“Aku memang mau pulang kampung. Ketemu ibuku. Aku di sini termasuk senior. Nah, aku mau kamu ngikut caraku. Temani laki-laki tua aja, Tin.” Setelah mengetahui usia Tini, Warni berubah menanggalkan sebutan ‘Mbak’ pada Tini.
“Biasanya, wanita akuarium yang muda-muda, nggak mau nemenin yang tua. Katanya udah bau minyak angin. Padahal, nemenin yang tua itu lebih santai. Mereka sudah malas buat macam-macam. Dipegang-pegang aja udah seneng. Burungnya juga nggak tegak lama. Dipegang sebentar meleyot. Cepet lembek. Kamu nyanyi sambil usap-usap, pasti dibekalin tips lumayan.” Warni menghela napas, tampak puas dengan penjelasannya.
“Usap-usap apanya?” tanya Tini. Ia belum terlalu paham dengan cara kerja menghadapi bandot tua seperti penuturan Warni barusan.
“Usap-usap apanya? Jidatnya, Tin. Terus kamu doain.” Warni melengos. “Ya, burungnya. Pegang aja, nggak apa-apa. Kamu nggak perlu ditiduri. Nggak perlu capek ngangkang ngeladeni yang muda-muda. Mereka janjinya nggak macem-macem. Tapi tangannya suka ke mana-mana. Percaya aku,” ucap Warni meyakinkan.
Usai memberikan briefing pada Tini, Warni berdiri di depan ruang akuarium seperti menunggu sesuatu.
“Kita nunggu siapa?” tanya Tini.
“Pelangganku, Tin. Bapak tua udah mau mati, tapi nggak pelit. Aku mau mewariskan bapak tua ini ke kamu. Aku mau pulang kampung. Dia ini nggak neko-neko. Saking tuanya, kalau jalan lama banget. Kamu bisa ngerokok sebatang sambil nunggu dia jalan dari kamar mandi ke sofa. Aman pokoknya,” tambah Warni.
Dan seperti ucapan Warni barusan, seorang wanita setengah baya mengenakan jas rapi dan rok sepanjang lutut, berjalan dengan seorang bapak tua berbadan kurus yang semua rambutnya telah memutih.
Tadinya Tini membayangkan bapak tua itu hanya tua di usia, namun penampilannya tidak terlalu tua. Tapi, ternyata, bapak itu benar-benar tua. Kakek-kakek, yang tanah perkuburannya mungkin sudah dipesan oleh anak-cucunya.
“Pak Alie!” seru Warni. “Saya pamit, ya. Seperti yang kemarin saya bilang. Ini Tini, teman saya. Bisa bapak percaya. Dia gadis desa yang baik,” kata Warni tersenyum.
“Hati-hati. Hidup yang bener,” kata Pak Alie, tangannya menengadah pada wanita rapi di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sebuah amplop yang sudah pasti berisi uang, jika dilihat dari bentuknya. “Ambil,” kata Pak Alie, menyodorkan amplop pada Warni.
“Kamu,” ucap Pak Alie memandang Tini. “Ikut saya.” Pak Alie memutar tubuhnya dan tertatih menuju lorong lain.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Teh Mbak Sri
Makjaaaaang !!!!!
"Dipeganng bentar mleyot"
tuh apaan....???
pening aku hi.hi.hi.
2025-01-04
1
jumirah slavina
astogehhhhh... warisan'y itu lo....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-24
2
Haryati Kurniawan
senior lagi ngasi pengarahan 😁
2025-03-16
1