Tini masih berjongkok terpekur menatapi tulisan yang berada di halaman belakang sebuah surat kabar. Ucapan bela sungkawa itu tak hanya satu, tapi memenuhi seluruh halaman belakang. Pak Alie meninggal dunia kemarin sore. Laki-laki tua yang selama ini turut membantunya mengumpulkan pundi-pundi uang, demi kuliah Evi dan sekolah Dayat telah meninggal dunia.
Tini menangis untuk Evi. Ia harus memulai dari nol lagi mencari orang tua yang tak perlu diladeni macam-macam, tapi mau memberinya uang.
Namun, di lain sisi Tini ikut lega. Seperti pembicaraan Pak Alie selama ini. Pria tua itu memang tak sabar untuk pergi meninggalkan dunia, karena yakin akan bertemu dengan istri yang dicintainya.
“Jadi, cemana?” tanya Mak Robin tiba-tiba menepuk pundak Tini dengan lembut menurut versinya.
Dengan kekuatan ‘lembut’ itu wajah Tini hampir mencium wajah Pak Alie yang terpampang di atas koran.
“Ya, mau gimana? Hidup tetap berjalan, kan? Semua pasti mati. Tinggal nunggu giliran,” jawab Tini, melipat koran dan mencampakkannya. “Kurang ajar si Saroh. Kenapa nggak langsung ngomong aja? Mesti aku keluar uang lagi buat beli koran ini,” kata Tini dengan medhoknya yang sangat kentara.
“Sore ini, nggak kerjalah, kau. Udah mati si Alie.” Mak Robin menarik kursi plastik dan duduk di dekat Tini. Robin turun dari pangkuan ibunya dan berjalan mengitari kursi plastik.
“Meninggal, Mak! Wafat, berpulang. Ayam jago bapakku aja, disebut meninggal. Pak Alie kamu sebut mati.” Tini masuk ke dalam kamarnya. Tenggorokannya terasa kering karena pagi itu ia belum sempat meminum teh paginya.
“Sama aja, Tini! Mati juga intinya,” sanggah Mak Robin. “Yang iyanya, udah cinta kau sama si Alie. Kau bela kali, bah.” Mak Robin tertawa terbahak-bahak.
“Matamu!” maki Tini dari dalam kamar. “Aku dikasi uang lumayan sama Pak Alie. Untuk jasaku sekedar ngusap burung sekali-sekali, itu sudah banyak, Mak. Selebihnya, aku cuma bisa membahagiakan Pak Alie di akhir usianya dengan cara paling sederhana. Mendengarkan dia yang sedang cerita soal macem-macem. Cari temen itu mudah, Mak. Tapi yang mau menyisakan waktu untuk mendengarkan cerita kita, itu sangat sedikit. Makanya Pak Alie bayar aku mahal.” Tini kembali keluar dari kamarnya dengan segelas teh di tangan. Ia masih mengenakan daster batik sepanjang betisnya.
Tini kemudian menghenyakkan tubuhnya di kursi plastik. Tangannya mengangkat gelas dan menyesap teh hangat itu perlahan. Matanya menerawang, tak sengaja menatap pintu kamar Bu Nani yang sedang terbuka di seberangnya.
“Almarhum Pak Alie pernah ngomong ke aku. Katanya, kalau seseorang sudah meluangkan waktu untuk mendengar kita bercerita, itu artinya dia menghargai keberadaan kita. Maka, kita juga harus menghargai. Jangan semena-mena pada orang yang baik ke kita. Nanti orang malah kapok, katanya.” Tini lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kotak dan menyulutnya.
“Teros? Pak Alie nggak ada bilang kalo orang merokok bisa cepat mati?” tanya Mak Robin.
“Enggak. Pak Alie merokok, kok. Matinya 78 tahun. Tuh, liat!” Tini menendang surat kabar yang terlipat di dekat kakinya.
Dan hari perjuangan Tini yang baru pun dimulai. Seminggu setelah berpulangnya Pak Alie, Tini sama sekali belum ada menerima tamu di karaoke. Ia benar-benar selektif mencari pelanggan baru.
Seusai melakukan percakapan empat mata bersama Maisaroh di ruang berdandan, Tini menspesialisasikan dirinya untuk tamu-tamu sepuh saja. Dan itu disetujui oleh Maisaroh. Kepulangan Pak Alie, sedikit banyak membawa pengaruh positif pada persahabatan mereka. Mereka lebih rukun dalam berbagi.
“Ibuku sakit, Tin,” ucap Maisaroh suatu malam. “Aku udah kelamaan kerja di sini. Tabunganku belum banyak, tapi kayaknya udah cukup buat modal buka usaha di kampung.”
“Mau buka usaha apa?” tanya Tini.
“Laundry kiloan. Di kampungku belum ada. Rumahku deket pabrik. Banyak pegawainya yang masih single dan nggak sempat nyuci baju. Aku beli satu mesin aja. Selebihnya aku kerjain sendiri. Enggak apa-apa, sebagai permulaan. Yang penting, aku bisa ngabisin waktu sama ibuku di masa tuanya. Aku kuatir nggak sempet berbakti. Sejak suamiku menghilang, ibuku ikut kepikiran. Hatinya susah karena aku,” ucap Maisaroh, lalu mengisap rokoknya dalam-dalam.
Tini tertegun mendengar ucapan Maisaroh yang lebih senior darinya. Jam kerja mereka sudah berakhir. Tapi, hujan deras membuat mereka duduk menunggu reda di basement hotel.
“Kamu juga udah lama di sini. Udah setahun, Tin. Jangan lama-lama. Setidaknya statusmu masih single. Kalau ketemu pria baik-baik, jangan di sini lagi. Image-nya jelek,” sambung Maisaroh.
“Kamu mau pergi ninggalin aku di sini sendirian? Kamu sudah tau aku nggak gampang akrab dengan sembarang orang.” Raut Tini terlihat muram saat mendengar sahabatnya juga akan pensiun sebentar lagi.
“Mulutmu juga harus disetel. Enggak semua orang bisa ngerti candaanmu,” sahut Maisaroh. “Kalau belum bener-bener tau soal orang lain, kamu jangan asal nebak. Kayak kemarin, kamu bilang ibu-ibu kompak banget sama anak laki-lakinya. Padahal, itu pacarnya. Laki-laki itu giigolo.” Maisaroh tertawa.
“Iya. Tapi bener, kok. Tak kira anaknya. Taunya double L,” ujar Tini.
“Apa itu?” tanya Maisaroh.
“Lon-te lanang,” jawab Tini. Kemudian kedua wanita itu tergelak bersama.
Itu adalah malam terakhir saat Tini dan Maisaroh bisa berbincang lama di luar jam kerja. Sebulan kemudian, Tini kembali menangisi kepergian seseorang.
“Kamu jangan nangis kayak gini. Aku, kan, nggak meninggal kayak Pak Alie. Kamu bisa dateng ke kampungku. Jangan lupa denganku, kalau kamu udah menikah. Nomor hapeku nggak akan aku ganti, Tin. Nomor hapemu juga udah aku catet di tempat lain. Biar kalau ada apa-apa, nggak hilang. Udah—udah, jangan nangis.” Maisaroh masih memeluk Tini di undakan tangga pintu samping hotel. Malam itu ia sengaja datang untuk pamit, dengan membawa Ardi, anaknya.
Tini melepaskan pelukannya, “Naik bis malem? Jam berapa?” tanya Tini, dengan maskara belepotan yang membentuk lingkaran di sekeliling matanya.
“Kamu udah kayak sundel bolong,” ucap Maisaroh, mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan menyeka sekeliling mata Tini.
“Kamu? Enggak salim, Mbak?” Tini menyodorkan tangannya pada Ardi.
“Mbak Tini nangis terus. Aku mau salim jadi bingung,” kata Ardi, menyambut uluran tangan Tini dan menyentuhkannya ke dahi.
“Kamu sekolah yang rajin, ya. Ibumu sudah capek cari uang. Dia sayang kamu, makanya kerja banting tulang. Jangan marah karena sering ditinggal sendiri. Nanti, kalau kamu dewasa, kamu pasti berterima kasih punya ibu kayak gini,” kata Tini, mengusap punggung Maisaroh yang sekarang gantian mengusap air matanya.
“Hati-hati di jalan, ya, Mbak. Maafin aku, kalau selama ini sering salah ngomong. Aku nggak pernah punya temen di kampung. Kerjaanku ngurus adik-adik sepanjang waktu. Ngeluh ke mereka juga nggak mungkin. Ke bapakku apalagi. Paling ke ayam jagonya aja. Itu yang paling aman, karena nggak bisa ngadu ke mana-mana.” Tini kembali menangis.
Tangisan itu bergantian. Nyaris tak usai, kalau saja waktu tak berjalan. Mereka kembali berpelukan beberapa saat lamanya saling mengusap dan menepuk punggung satu sama lain.
Di kala suasana haru itu sedang melingkupi, seorang satpam yang biasa tugas di basement melintas dari dalam hotel.
“Eh, Mbak Saroh mau ke mana? Enggak kerja lagi?” tanya Satpam itu, menghentikan langkahnya di dekat dua wanita yang baru saja melepaskan pelukan.
“Mau pulang kampung. Ibuku sakit,” jawab Maisaroh, membersihkan sisa air matanya.
“Ini temennya siapa? Kok, aku nggak pernah ngeliat?” tanya Satpam itu memandang Tini.
“Ini temenku, namanya Tini. Kenalin, Tin—” Maisaroh mencolek lengan Tini dan menunjuk ke arah satpam muda di depan mereka.
“Mbak Tini, kenalin ... aku Gatot Sayuti, satpam basement.” Satpam itu melontarkan senyumnya yang paling manis pada Tini. Senyuman yang membuat hati Tini terasa sejuk bak dipasangi AC 1 PK.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Yeti Kosasih
hoalah jdi bermula disini Tini ketemu Gatot yg akhirnya Gatot di persuntingbtini karena Gatot *tersepona" cewek lain..aah tot gatooot...
2025-03-06
1
Herlina Lina
ini gatot setan itu bkn😅😅
2024-12-10
0
Herlina Lina
apa maisaroh ini anak ibu nani ya🤔
2024-12-10
1