Akibat perbuatannya menjatuhkan Long Ji Man dari hammock, Li Anlan dikunci kembali di Istana Xingyue selama berhari-hari. Wanita itu bahkan tidak dibiarkan mendekat dengan gerbang istana. Pihak penjaga kerajaan kembali menambah dua orang tenaga tambahan, hingga total penjaga Istana Xingyue sekarang berjumlah enam orang.
Dengan penjaga sebanyak itu, Li Anlan tidak akan mudah melarikan diri. Bahkan untuk sekadar mendekat pun, dia harus berpikir dua kali. Akses keluar masuk itu sekarang hanya bisa dilewati kasim dan Xie Roulan sebanyak dua kali. Semakin hari, ruang gerak Li Anlan semakin dibatasi.
Li Anlan tidak punya sesuatu yang harus dikerjakan. Sehari-hari dia hanya bisa bersantai menikmati hari, makan, tidur, makan, tidur, menjadi rutiniasnya. Sekarang, jika ia tidak diperbolehkan keluar dari istananya sendiri, dia bisa mati bosan karena pengangguran!
Wanita itu sudah bosan bermain-main dengan seluruh peralatan modernnya. Kameranya sudah mati kehabisan baterai, dan dia tidak akan mengisinya lagi. Ponselnya hanya berisi permainan yang itu-itu saja. Semua snack makanan ringannya sudah habis. Li Anlan sudah mirip seperti seorang tahanan.
Li Anlan menggeram kesal. Kakinya menendang meja hingga bergeser beberapa sentimeter. Kursi yang didudukinya terjungkal. Sesaat kemudian, Li Anlan memegangi kakinya. Ternyata, menendang meja sekeras itu sakit juga.
"Aku ingin keluar! Long Ji Man sialan! Bisanya hanya mengurungku saja!"
Li Anlan berjalan mondar-mandir di dalam ruang utama istananya. Ruangan yang tidak cukup besar itu hanya diisi satu set kursi kecil yang pendek dan satu buah meja. Dinding-dindingnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi dan dihiasi ukiran serta lukisan. Catnya berwarna cokelat keemasan. Di sisi kiri dan kanannya, terdapat dua buah lemari kecil berisi benda-benda berkilauan seperti guci emas, vas bunga, botol minuman, dan lain-lain. Jika dibandingkan dengan Istana Hongwu, keadaan di sini jauh lebih mengerikan. Untung saja, Li Anlan sudah memberikan pengajaran pada Xie Roulan tentang cara merawat semua barang-barang di sini dengan benar.
Langkahnya terhenti di depan sebuah cermin besar yang diletakkan secara vertikal. Matanya terfokus pada satu titik: perubahan bentuk tubuhnya. Pinggangnya yang semula ramping sekarang sedikit berisi. Wajahnya orientalnya sedikit lebih bulat. Pipinya juga agak kembung. Di bagian perutnya, ada selapis lipatan kecil.
"Oh tidak! Aku harus berdiet!"
Mungkin, karena dia sering bermalas-malasan dan selalu makan, berat badannya naik dan tubuhnya jadi sedikit gendut. Lipatan kecil di perutnya itu pastilah lipatan lemak. Tidak, Li Anlan tidak bisa membiarkan ini. Jika ia menjadi gemuk, stamina tubuhnya akan terganggu dan fisiknya yang kuat akan melemah. Dia harus mencegah kenaikan berat badannya.
Li Anlan mendengar suara berisik seperti sebuah benda yang berjatuhan di atas genteng istananya. Li Anlan tidak mempedulikan dan tidak mencari tahu suara apa itu, karena tubuhnya sekarang yang lebih penting.
"Ke mana perginya pinggangku?"
Pintu depan tiba-tiba terbuka. Li Anlan terpekik kaget. Refleks, dia meraih sebuah vas bunga untuk berjaga-jaga. Pengalaman dikepung dan dikejar pembunuh tempo hari membuat Li Anlan sadar bahwa ia harus selalu waspada.
Langkah kaki dari luar itu perlahan masuk, mendekat ke tempat Li Anlan berada. Dalam pikirannya, Li Anlan bertanya pembunuh macam apakah yang datang secara terang-terang di siang hari seperti ini. Keberanian macam apa yang dimiliki pembunuh itu hingga berani memasuki istana selir raja (lagi).
Saat kepala orang itu menyembul di balik dinding pembatas, Li Anlan berteriak sambil mengayunkan vas bunga di tangannya. Orang itu juga sama terkejutnya.
"Anlan, ini aku!"
Li Anlan membuka kedua kelopak matanya. Vas bunganya menggantung di udara. Dia menghembuskan napas.
"Kakak! Kukira pembunuh!"
"Apa? Apa istanamu pernah dimasuki pembunuh?"
"Tidak, tidak. Kakak, kenapa kau datang kemari?"
"Bukankah kau yang memintaku menjemputmu?"
Ah, surat dengan tulisan jelek itu rupanya sudah sampai kepada Li Afan. Baguslah, Xie Roulan menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan begini, Li Anlan bisa menyelinap keluar istana sebentar untuk menghirup udara segar.
"Beri aku waktu untuk berganti baju!"
Li Anlan masuk ke dalam kamarnya. Di meja belajarnya sudah ada satu set pakaian kasim yang ia dapatkan dari kasim pekerjanya. Li Anlan tidak bisa keluar dengan setelan pakaian selir jika ia tidak ingin identitasnya terbongkar. Jika ada yang mengenalinya lalu melaporkannya pada raja, kepalanya bisa terancam.
Rambut panjangnya digulung ke atas, lalu diikat. Untuk menjaganya agar tidak terlepas, Li Anlan memasangkan sebuah tusuk rambut sederhana dari kayu, kemudian menutupnya dengan topi kasim. Untung saja pakaian kasim ini pas dengan ukuran tubuhnya.
"Wah... Anlan, kau terlihat lebih tampan dariku!"
Ungkapan yang entah bermakna pujian atau ledekkan itu tidak dipedulikan Li Anlan. Yang paling penting, penampilannya saat ini bisa menyamarkan identitasnya sebagai seorang selir raja. Li Anlan juga memakai sebuah kumis tipis agar penampilannya tampak lebih nyata.
"Ayo!"
Dua bersaudara itu keluar dari Istana Xingyue melalui pintu belakang. Sebelum Li Afan membawa terbang adiknya menggunakan ilmu meringankan tubuh, Xie Roulan yang baru selesai mencuci berteriak bahwa Li Anlan harus kembali sebelum matahari terbenam jika tidak ingin ketahuan.
"Nyonya, Tuan Muda, jangan lupa bawakan aku oleh-oleh!"
Li Afan meloncat sambil memegang erat pinggang adiknya. Dalam sekejap, mereka sudah ada di balik tembok pembatas istana dengan dunia luar. Senyum bahagia tersungging di bibir Li Anlan. Akhirnya, dia bisa keluar dari sangkar perak itu.
Li bersaudara menyusuri jalan sekitar yang mengarah langsung ke pusat kota. Jarak dari tanah belakang istana menuju pusat kota memakan waktu empat puluh lima menit dalam hitungan waktu modern. Li Anlan sama sekali tidak mengeluh walau harus berjalan kaki. Sebaliknya, dia justru sangat senang.
Mata Li Anlan memandang takjub seluruh pemandangan di depan matanya. Jalan ini, bangunan ini, orang ini, dan suasana ramai khas masyarakat zaman kuno ini benar-benar terpampang di hadapannya. Di sini, Li Anlan menyaksikan sendiri proses jual beli orang zaman dulu yang sering ia dengar dari gurunya saat belajar sejarah.
Li Anlan bahkan dapat menciup aroma bakpau panas yang sedang dikukus secara nyata. Juga, bau uap dari penggorengan tahu busuk dan rebusan mie ala zaman kuno.
Di depan sebuah gedung, Li Anlan dan Li Afan berhenti sejenak. Dari papan nama di atas pintu masuk, Li Anlan dapat mengetahui bahwa gedung di depan mereka benama Paviliun Lanxin. Bangunannya besar bertingkat tiga. Cat-catnya berkilauan. Di area pintu masuk, dua orang berbadan besar sedang berjaga. Mata mereka awas, memperhatikan setiap orang yang masuk ke kedung itu.
Li Afan membawa Li Anlan masuk ke gedung itu. Aneh, tatapan mata dua penjaga berbadan besar itu tidak setajam seperti tatapannya pada orang-orang yang masuk lebih awal dari Li Afan dan Li Anlan. Malahan, kedua penjaga itu justru menunduk seperti sedang memberi hormat.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Li Anlan.
"Seragam kasim yang kau kenakan akan mengundang perhatian banyak orang. Aku juga akan berganti baju, sudah dua hari ini aku tidak mandi."
Li Anlan sedikit menjauh sambil menutup hidungnya.
"Tenanglah, aku tidak bau badan!"
Li bersaudara lalu naik ke lantai atas. Li Anlan baru tahu kalau lantai dua adalah kamar tamu. Dia mendengar banyak suara pria dan wanita bercampur menjadi satu. Penasaran dengan suara-suara aneh itu, Li Anlan memberanikan diri mendekati salah satu kamar. Dia mengintip lewat celah-celah pintu, tapi bayangan penghuni kamar terlihat samar-samar.
Seorang pekerja yang sedang lewat tanpa sadar menyenggolnya, hingga tubuh Li Anlan terdorong ke depan. Pintu kamar itu terbuka, menampilkan seorang wanita yang sedang duduk di pangkuan seorang pria dengan pakaian atas yang terbuka.
Penghuni kamar itu terkejut. Si Wanita langsung menutupi wajahnya karena malu. Si Pria memelototi Li Anlan yang tersenyum canggung.
"Ups... Maaf mengganggu kalian."
Li Anlan menutup kembali pintu, lalu berlari menjauh. Pemandangan tidak senonoh tadi merusak matanya yang suci. Orang-orang ini tidak tahu malu. Sudah tahu sedang berada di tempat ramai, masih juga tidak mengunci pintu. Jika pejabat setempat yang membuka pintunya, mereka pasti akan ditangkap karena perzinahan. Li Anlan yakin dua orang di dalam kamar itu bukan suami istri. Jika mereka suami istri, mereka tidak mungkin pergi ke tempat ini. Seharusnya mereka melakukannya di rumah saja.
"Anlan, pakaianmu ada di dalam," terang Li Afan saat adiknya berada di belakangnya. Li Anlan membalas ucapan kakaknya dengan anggukan kepala.
Wanita itu masuk ke dalam kamar yang dimaksud. Harum aroma terapi menguar melalui pembakar dupa yang terletak di atas meja. Tidak jauh dari sana, satu set pakaian wanita yang indah teronggok dengan rapi.
"Dia menyuruhku memakai pakaian wanita?"
Walau agak keberatan, Li Anlan mulai menanggalkan satu persatu seragam kasimnya, lalu menggantinya dengan pakaian yang disediakan Li Afan. Beberapa saat kemudian, Li Anlan sudah berubah menjadi seorang wanita kembali.
Wanita itu keluar dari kamarnya. Li Afan sudah menunggunya di lantai bawah. Saat Li Anlan turun, Li Afan sedikit terkesima. Baju yang dikenakan Li Anlan benar-benar cocok dengannya.
"Adikku ternyata sangat cantik!"
"Kenapa tidak konsisten dengan kata-katamu? Tadi kau bilang aku tampan, sekarang kau bilang aku cantik."
"Aku hanya membalasmu atas perbuatanmu tempo hari. Kau tahu? Aku bahkan digoda beberapa pria karena mengira aku ini adalah seorang wanita."
Mengingat hari ketika dia merubah Li Afan menjadi seorang wanita, Li Anlan tertawa. Kakaknya di dunia ini memang lebih cocok menjadi seorang wanita. Wajahnya terlalu cantik untuk wajah seorang pria. Wajah seorang pria itu seharusnya memiliki rahang yang tegas, bukan seperti rahang Li Afan. Dan juga, bibir Li Afan sama tipisnya dengan bibirnya. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk mata, alis, dan leher saja. Sekilas, Li Anlan dan Li Afan tampak seperti kembar seiras.
"Sudahlah. Kakak, aku lapar."
Li Anlan menyantap hidangan hangat yang tersaji di depannya dengan lahap. Li Afan menggelengkan kepalanya. Napsu makan adik semata wayangnya masih sama seperti dulu. Syukurlah, Li Anlan tidak berubah banyak sejak masuk istana. Dia masihlah adiknya yang manja dan menyebalkan. Li Afan harus tetap mengawasinya, mengunjunginya diam-diam untuk memastikan bahwa Li Anlan baik-baik saja.
...***...
Halo, para pembaca tercinta. Bagaimana perkembangan cerita ini menurut kalian? Jika berkenan, berikan komentar yang membangun di kolom yang sudah tersedia ya! (Boleh sekalian merekomendasikan cerita ini ke teman atau sahabat). Sampai jumpa di episode berikutnya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
zee_
pingin punya kakak jugaa
2024-08-17
0
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-01-26
0
luho uroe
kisah hdp li anfal sama dgn kisah hdp wei linglong ya tor
2022-08-02
0