Eps. 20: Li Bersaudara

Akibat perbuatannya menjatuhkan Long Ji Man dari hammock, Li Anlan dikunci kembali di Istana Xingyue selama berhari-hari. Wanita itu bahkan tidak dibiarkan mendekat dengan gerbang istana. Pihak penjaga kerajaan kembali menambah dua orang tenaga tambahan, hingga total penjaga Istana Xingyue sekarang berjumlah enam orang.

Dengan penjaga sebanyak itu, Li Anlan tidak akan mudah melarikan diri. Bahkan untuk sekadar mendekat pun, dia harus berpikir dua kali. Akses keluar masuk itu sekarang hanya bisa dilewati kasim dan Xie Roulan sebanyak dua kali. Semakin hari, ruang gerak Li Anlan semakin dibatasi.

Li Anlan tidak punya sesuatu yang harus dikerjakan. Sehari-hari dia hanya bisa bersantai menikmati hari, makan, tidur, makan, tidur, menjadi rutiniasnya. Sekarang, jika ia tidak diperbolehkan keluar dari istananya sendiri, dia bisa mati bosan karena pengangguran!

Wanita itu sudah bosan bermain-main dengan seluruh peralatan modernnya. Kameranya sudah mati kehabisan baterai, dan dia tidak akan mengisinya lagi. Ponselnya hanya berisi permainan yang itu-itu saja. Semua snack makanan ringannya sudah habis. Li Anlan sudah mirip seperti seorang tahanan.

Li Anlan menggeram kesal. Kakinya menendang meja hingga bergeser beberapa sentimeter. Kursi yang didudukinya terjungkal. Sesaat kemudian, Li Anlan memegangi kakinya. Ternyata, menendang meja sekeras itu sakit juga.

"Aku ingin keluar! Long Ji Man sialan! Bisanya hanya mengurungku saja!"

Li Anlan berjalan mondar-mandir di dalam ruang utama istananya. Ruangan yang tidak cukup besar itu hanya diisi satu set kursi kecil yang pendek dan satu buah meja. Dinding-dindingnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi dan dihiasi ukiran serta lukisan. Catnya berwarna cokelat keemasan. Di sisi kiri dan kanannya, terdapat dua buah lemari kecil berisi benda-benda berkilauan seperti guci emas, vas bunga, botol minuman, dan lain-lain. Jika dibandingkan dengan Istana Hongwu, keadaan di sini jauh lebih mengerikan. Untung saja, Li Anlan sudah memberikan pengajaran pada Xie Roulan tentang cara merawat semua barang-barang di sini dengan benar.

Langkahnya terhenti di depan sebuah cermin besar yang diletakkan secara vertikal. Matanya terfokus pada satu titik: perubahan bentuk tubuhnya. Pinggangnya yang semula ramping sekarang sedikit berisi. Wajahnya orientalnya sedikit lebih bulat. Pipinya juga agak kembung. Di bagian perutnya, ada selapis lipatan kecil.

"Oh tidak! Aku harus berdiet!"

Mungkin, karena dia sering bermalas-malasan dan selalu makan, berat badannya naik dan tubuhnya jadi sedikit gendut. Lipatan kecil di perutnya itu pastilah lipatan lemak. Tidak, Li Anlan tidak bisa membiarkan ini. Jika ia menjadi gemuk, stamina tubuhnya akan terganggu dan fisiknya yang kuat akan melemah. Dia harus mencegah kenaikan berat badannya.

Li Anlan mendengar suara berisik seperti sebuah benda yang berjatuhan di atas genteng istananya. Li Anlan tidak mempedulikan dan tidak mencari tahu suara apa itu, karena tubuhnya sekarang yang lebih penting.

"Ke mana perginya pinggangku?"

Pintu depan tiba-tiba terbuka. Li Anlan terpekik kaget. Refleks, dia meraih sebuah vas bunga untuk berjaga-jaga. Pengalaman dikepung dan dikejar pembunuh tempo hari membuat Li Anlan sadar bahwa ia harus selalu waspada.

Langkah kaki dari luar itu perlahan masuk, mendekat ke tempat Li Anlan berada. Dalam pikirannya, Li Anlan bertanya pembunuh macam apakah yang datang secara terang-terang di siang hari seperti ini. Keberanian macam apa yang dimiliki pembunuh itu hingga berani memasuki istana selir raja (lagi).

Saat kepala orang itu menyembul di balik dinding pembatas, Li Anlan berteriak sambil mengayunkan vas bunga di tangannya. Orang itu juga sama terkejutnya.

"Anlan, ini aku!"

Li Anlan membuka kedua kelopak matanya. Vas bunganya menggantung di udara. Dia menghembuskan napas.

"Kakak! Kukira pembunuh!"

"Apa? Apa istanamu pernah dimasuki pembunuh?"

"Tidak, tidak. Kakak, kenapa kau datang kemari?"

"Bukankah kau yang memintaku menjemputmu?"

Ah, surat dengan tulisan jelek itu rupanya sudah sampai kepada Li Afan. Baguslah, Xie Roulan menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan begini, Li Anlan bisa menyelinap keluar istana sebentar untuk menghirup udara segar.

"Beri aku waktu untuk berganti baju!"

Li Anlan masuk ke dalam kamarnya. Di meja belajarnya sudah ada satu set pakaian kasim yang ia dapatkan dari kasim pekerjanya. Li Anlan tidak bisa keluar dengan setelan pakaian selir jika ia tidak ingin identitasnya terbongkar. Jika ada yang mengenalinya lalu melaporkannya pada raja, kepalanya bisa terancam.

Rambut panjangnya digulung ke atas, lalu diikat. Untuk menjaganya agar tidak terlepas, Li Anlan memasangkan sebuah tusuk rambut sederhana dari kayu, kemudian menutupnya dengan topi kasim. Untung saja pakaian kasim ini pas dengan ukuran tubuhnya.

"Wah... Anlan, kau terlihat lebih tampan dariku!"

Ungkapan yang entah bermakna pujian atau ledekkan itu tidak dipedulikan Li Anlan. Yang paling penting, penampilannya saat ini bisa menyamarkan identitasnya sebagai seorang selir raja. Li Anlan juga memakai sebuah kumis tipis agar penampilannya tampak lebih nyata.

"Ayo!"

Dua bersaudara itu keluar dari Istana Xingyue melalui pintu belakang. Sebelum Li Afan membawa terbang adiknya menggunakan ilmu meringankan tubuh, Xie Roulan yang baru selesai mencuci berteriak bahwa Li Anlan harus kembali sebelum matahari terbenam jika tidak ingin ketahuan.

"Nyonya, Tuan Muda, jangan lupa bawakan aku oleh-oleh!"

Li Afan meloncat sambil memegang erat pinggang adiknya. Dalam sekejap, mereka sudah ada di balik tembok pembatas istana dengan dunia luar. Senyum bahagia tersungging di bibir Li Anlan. Akhirnya, dia bisa keluar dari sangkar perak itu.

Li bersaudara menyusuri jalan sekitar yang mengarah langsung ke pusat kota. Jarak dari tanah belakang istana menuju pusat kota memakan waktu empat puluh lima menit dalam hitungan waktu modern. Li Anlan sama sekali tidak mengeluh walau harus berjalan kaki. Sebaliknya, dia justru sangat senang.

Mata Li Anlan memandang takjub seluruh pemandangan di depan matanya. Jalan ini, bangunan ini, orang ini, dan suasana ramai khas masyarakat zaman kuno ini benar-benar terpampang di hadapannya. Di sini, Li Anlan menyaksikan sendiri proses jual beli orang zaman dulu yang sering ia dengar dari gurunya saat belajar sejarah.

Li Anlan bahkan dapat menciup aroma bakpau panas yang sedang dikukus secara nyata. Juga, bau uap dari penggorengan tahu busuk dan rebusan mie ala zaman kuno.

Di depan sebuah gedung, Li Anlan dan Li Afan berhenti sejenak. Dari papan nama di atas pintu masuk, Li Anlan dapat mengetahui bahwa gedung di depan mereka benama Paviliun Lanxin. Bangunannya besar bertingkat tiga. Cat-catnya berkilauan. Di area pintu masuk, dua orang berbadan besar sedang berjaga. Mata mereka awas, memperhatikan setiap orang yang masuk ke kedung itu.

Li Afan membawa Li Anlan masuk ke gedung itu. Aneh, tatapan mata dua penjaga berbadan besar itu tidak setajam seperti tatapannya pada orang-orang yang masuk lebih awal dari Li Afan dan Li Anlan. Malahan, kedua penjaga itu justru menunduk seperti sedang memberi hormat.

"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Li Anlan.

"Seragam kasim yang kau kenakan akan mengundang perhatian banyak orang. Aku juga akan berganti baju, sudah dua hari ini aku tidak mandi."

Li Anlan sedikit menjauh sambil menutup hidungnya.

"Tenanglah, aku tidak bau badan!"

Li bersaudara lalu naik ke lantai atas. Li Anlan baru tahu kalau lantai dua adalah kamar tamu. Dia mendengar banyak suara pria dan wanita bercampur menjadi satu. Penasaran dengan suara-suara aneh itu, Li Anlan memberanikan diri mendekati salah satu kamar. Dia mengintip lewat celah-celah pintu, tapi bayangan penghuni kamar terlihat samar-samar.

Seorang pekerja yang sedang lewat tanpa sadar menyenggolnya, hingga tubuh Li Anlan terdorong ke depan. Pintu kamar itu terbuka, menampilkan seorang wanita yang sedang duduk di pangkuan seorang pria dengan pakaian atas yang terbuka.

Penghuni kamar itu terkejut. Si Wanita langsung menutupi wajahnya karena malu. Si Pria memelototi Li Anlan yang tersenyum canggung.

"Ups... Maaf mengganggu kalian."

Li Anlan menutup kembali pintu, lalu berlari menjauh. Pemandangan tidak senonoh tadi merusak matanya yang suci. Orang-orang ini tidak tahu malu. Sudah tahu sedang berada di tempat ramai, masih juga tidak mengunci pintu. Jika pejabat setempat yang membuka pintunya, mereka pasti akan ditangkap karena perzinahan. Li Anlan yakin dua orang di dalam kamar itu bukan suami istri. Jika mereka suami istri, mereka tidak mungkin pergi ke tempat ini. Seharusnya mereka melakukannya di rumah saja.

"Anlan, pakaianmu ada di dalam," terang Li Afan saat adiknya berada di belakangnya. Li Anlan membalas ucapan kakaknya dengan anggukan kepala.

Wanita itu masuk ke dalam kamar yang dimaksud. Harum aroma terapi menguar melalui pembakar dupa yang terletak di atas meja. Tidak jauh dari sana, satu set pakaian wanita yang indah teronggok dengan rapi.

"Dia menyuruhku memakai pakaian wanita?"

Walau agak keberatan, Li Anlan mulai menanggalkan satu persatu seragam kasimnya, lalu menggantinya dengan pakaian yang disediakan Li Afan. Beberapa saat kemudian, Li Anlan sudah berubah menjadi seorang wanita kembali.

Wanita itu keluar dari kamarnya. Li Afan sudah menunggunya di lantai bawah. Saat Li Anlan turun, Li Afan sedikit terkesima. Baju yang dikenakan Li Anlan benar-benar cocok dengannya.

"Adikku ternyata sangat cantik!"

"Kenapa tidak konsisten dengan kata-katamu? Tadi kau bilang aku tampan, sekarang kau bilang aku cantik."

"Aku hanya membalasmu atas perbuatanmu tempo hari. Kau tahu? Aku bahkan digoda beberapa pria karena mengira aku ini adalah seorang wanita."

Mengingat hari ketika dia merubah Li Afan menjadi seorang wanita, Li Anlan tertawa. Kakaknya di dunia ini memang lebih cocok menjadi seorang wanita. Wajahnya terlalu cantik untuk wajah seorang pria. Wajah seorang pria itu seharusnya memiliki rahang yang tegas, bukan seperti rahang Li Afan. Dan juga, bibir Li Afan sama tipisnya dengan bibirnya. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk mata, alis, dan leher saja. Sekilas, Li Anlan dan Li Afan tampak seperti kembar seiras.

"Sudahlah. Kakak, aku lapar."

Li Anlan menyantap hidangan hangat yang tersaji di depannya dengan lahap. Li Afan menggelengkan kepalanya. Napsu makan adik semata wayangnya masih sama seperti dulu. Syukurlah, Li Anlan tidak berubah banyak sejak masuk istana. Dia masihlah adiknya yang manja dan menyebalkan. Li Afan harus tetap mengawasinya, mengunjunginya diam-diam untuk memastikan bahwa Li Anlan baik-baik saja.

...***...

Halo, para pembaca tercinta. Bagaimana perkembangan cerita ini menurut kalian? Jika berkenan, berikan komentar yang membangun di kolom yang sudah tersedia ya! (Boleh sekalian merekomendasikan cerita ini ke teman atau sahabat). Sampai jumpa di episode berikutnya!

Terpopuler

Comments

zee_

zee_

pingin punya kakak jugaa

2024-08-17

0

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trusceria

2024-01-26

0

luho uroe

luho uroe

kisah hdp li anfal sama dgn kisah hdp wei linglong ya tor

2022-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Eps. 1: Li Anlan di Negeri Ajaib
2 Eps. 2: Identitas Selir
3 Eps. 3: Selir Miskin
4 Eps. 4: Raja Dongling
5 Eps. 5: Mencari Sistem
6 Eps. 6: Berkemah
7 Eps. 7: Hadiah Kematian
8 Eps. 8: Menjahit Luka
9 Eps. 9: Bertemu Raja Tampan
10 Eps. 10: Terjebak di Bawah Kaki Raja
11 Eps. 11: Penjahat Kelas Teri
12 Eps. 12: Pemain Payah
13 Eps. 13: Pemalas Berkelas
14 Eps. 14: Bertemu Pengganggu
15 Eps. 15: Drama
16 Eps. 16: Mencari Cara
17 Eps. 17: Surat untuk Kakak Tercinta
18 Eps. 18: Long Ji Man Menjadi Juara Pertama
19 Eps. 19: Lelucon
20 Eps. 20: Li Bersaudara
21 Eps. 21: Saudara Kaya
22 Eps. 22: Pencuri
23 Eps. 23: Menanti Hari Baik
24 Eps. 24: Berani Coba-Coba
25 Eps. 25: Merasa Kecewa
26 Eps. 26: Hukuman untuk Li Anlan
27 Eps. 27: Salah Paham
28 Eps. 28: Panahan
29 Eps. 29: Surat Rahasia
30 Eps. 30: Merancang Tujuan
31 Eps. 31: Teringat Kembali
32 Eps. 32: BBQ
33 Eps. 33: Tidak Sengaja
34 Eps. 34: Ganti Rugi
35 Eps. 35: Perampokan Legal
36 Eps. 36: Bertemu Pangeran Kecil
37 Eps. 37: Berkunjung ke Akademi Kerajaan
38 Eps. 38: Mengajarkan Hal Baru
39 Eps. 39: Long Ji Man Si Wajah Batu
40 Eps. 40: Elang Itu Adalah Milikku!
41 Eps. 41: Disalahpahami
42 Eps. 42: Tuan Muda
43 Eps. 43: Persalinan Menegangkan
44 Eps. 44: Panti Asuhan
45 Eps. 45: Pertarungan Sengit
46 Eps. 46: Tangan yang Ternoda
47 Eps. 47: Perjamuan Ibu Suri
48 Eps. 48: Li Anlan Juara Bertahan
49 Eps. 49: Antara Bencana dan Berita Bahagia
50 Eps. 50: Negosiasi
51 Eps. 51: Hari Penobatan
52 Eps. 52: Tugas Pertama
53 Eps. 53: Seseorang yang Belum Dapat Diterima
54 Eps. 54: Fotografer Zaman Kuno
55 Eps. 55: Tertawa dalam Derita
56 Eps. 56: Tertinggal
57 Eps. 57: Kartu Nama
58 Eps. 58: Penculikan
59 Eps. 59: Pencarian
60 Eps. 60: Misi Menyelamatkan Istri
61 Eps. 61: Pecah Telur
62 Eps. 62: Menantuku!
63 Eps. 63: Bercerita
64 Eps. 64: Hukuman untuk Orang Jahat
65 Eps. 65: Buku
66 Eps. 66: Surat Nikah
67 Eps. 67: Malam Pengantin
68 Eps. 68: Sebuah Pernyataan
69 Eps. 69: Bencana Tidak Terduga
70 Eps. 70: Mengembalikan Teror
71 Eps. 71: Datang Satu Gugur Empat
72 Eps. 72: Ujian Akademi Kerajaan
73 Eps. 73: Tempat Aneh
74 Eps. 74: Wisma Gunung Feiyun
75 Eps. 75: Keinginan Ibu Suri
76 Eps. 76: Ular Berbisa
77 Eps. 77: Jati Diri
78 Eps. 78: Jebakan
79 Eps. 79: Kau Tidak Boleh Pergi!
80 Eps. 80: Mencari Jiwa
81 Eps. 81: Dunia Lain
82 Eps. 82: Mencoba Segala Cara
83 Eps. 83: Terlalu Lama Pergi
84 Eps. 84: Berdamai dengan Masa Depan
85 Eps. 85: Menyusun Strategi
86 Eps. 86: Orang Gila yang Sesungguhnya
87 Eps. 87: Kisah Pilu Sang Permaisuri
88 Eps. 88: Topeng
89 Eps. 89: Kebingungan
90 Eps. 90: Orang Tidak Bertanggung Jawab
91 Eps. 91: Buronan
92 Eps. 92: Perburuan Seru
93 Eps. 93: Kemenangan Mutlak
94 Eps. 94: Hukuman Untuk Orang Jahat
95 Eps. 95: MoU
96 Eps. 96: Penobatan
97 Eps. 97: Malam Pernikahan
98 Eps. 98: Pembebasan
99 Eps. 99: Kelahiran Putra
100 Eps. 100: Episode Akhir
101 PEMBERITAHUAN
102 PEMBERITAHUAN 2
103 PENGUMUMAN
104 PENGUMUMAN BARU
105 EXTRA PART
106 Halo!
107 PERMISIII!!!
108 Mampir, Yuk!
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Eps. 1: Li Anlan di Negeri Ajaib
2
Eps. 2: Identitas Selir
3
Eps. 3: Selir Miskin
4
Eps. 4: Raja Dongling
5
Eps. 5: Mencari Sistem
6
Eps. 6: Berkemah
7
Eps. 7: Hadiah Kematian
8
Eps. 8: Menjahit Luka
9
Eps. 9: Bertemu Raja Tampan
10
Eps. 10: Terjebak di Bawah Kaki Raja
11
Eps. 11: Penjahat Kelas Teri
12
Eps. 12: Pemain Payah
13
Eps. 13: Pemalas Berkelas
14
Eps. 14: Bertemu Pengganggu
15
Eps. 15: Drama
16
Eps. 16: Mencari Cara
17
Eps. 17: Surat untuk Kakak Tercinta
18
Eps. 18: Long Ji Man Menjadi Juara Pertama
19
Eps. 19: Lelucon
20
Eps. 20: Li Bersaudara
21
Eps. 21: Saudara Kaya
22
Eps. 22: Pencuri
23
Eps. 23: Menanti Hari Baik
24
Eps. 24: Berani Coba-Coba
25
Eps. 25: Merasa Kecewa
26
Eps. 26: Hukuman untuk Li Anlan
27
Eps. 27: Salah Paham
28
Eps. 28: Panahan
29
Eps. 29: Surat Rahasia
30
Eps. 30: Merancang Tujuan
31
Eps. 31: Teringat Kembali
32
Eps. 32: BBQ
33
Eps. 33: Tidak Sengaja
34
Eps. 34: Ganti Rugi
35
Eps. 35: Perampokan Legal
36
Eps. 36: Bertemu Pangeran Kecil
37
Eps. 37: Berkunjung ke Akademi Kerajaan
38
Eps. 38: Mengajarkan Hal Baru
39
Eps. 39: Long Ji Man Si Wajah Batu
40
Eps. 40: Elang Itu Adalah Milikku!
41
Eps. 41: Disalahpahami
42
Eps. 42: Tuan Muda
43
Eps. 43: Persalinan Menegangkan
44
Eps. 44: Panti Asuhan
45
Eps. 45: Pertarungan Sengit
46
Eps. 46: Tangan yang Ternoda
47
Eps. 47: Perjamuan Ibu Suri
48
Eps. 48: Li Anlan Juara Bertahan
49
Eps. 49: Antara Bencana dan Berita Bahagia
50
Eps. 50: Negosiasi
51
Eps. 51: Hari Penobatan
52
Eps. 52: Tugas Pertama
53
Eps. 53: Seseorang yang Belum Dapat Diterima
54
Eps. 54: Fotografer Zaman Kuno
55
Eps. 55: Tertawa dalam Derita
56
Eps. 56: Tertinggal
57
Eps. 57: Kartu Nama
58
Eps. 58: Penculikan
59
Eps. 59: Pencarian
60
Eps. 60: Misi Menyelamatkan Istri
61
Eps. 61: Pecah Telur
62
Eps. 62: Menantuku!
63
Eps. 63: Bercerita
64
Eps. 64: Hukuman untuk Orang Jahat
65
Eps. 65: Buku
66
Eps. 66: Surat Nikah
67
Eps. 67: Malam Pengantin
68
Eps. 68: Sebuah Pernyataan
69
Eps. 69: Bencana Tidak Terduga
70
Eps. 70: Mengembalikan Teror
71
Eps. 71: Datang Satu Gugur Empat
72
Eps. 72: Ujian Akademi Kerajaan
73
Eps. 73: Tempat Aneh
74
Eps. 74: Wisma Gunung Feiyun
75
Eps. 75: Keinginan Ibu Suri
76
Eps. 76: Ular Berbisa
77
Eps. 77: Jati Diri
78
Eps. 78: Jebakan
79
Eps. 79: Kau Tidak Boleh Pergi!
80
Eps. 80: Mencari Jiwa
81
Eps. 81: Dunia Lain
82
Eps. 82: Mencoba Segala Cara
83
Eps. 83: Terlalu Lama Pergi
84
Eps. 84: Berdamai dengan Masa Depan
85
Eps. 85: Menyusun Strategi
86
Eps. 86: Orang Gila yang Sesungguhnya
87
Eps. 87: Kisah Pilu Sang Permaisuri
88
Eps. 88: Topeng
89
Eps. 89: Kebingungan
90
Eps. 90: Orang Tidak Bertanggung Jawab
91
Eps. 91: Buronan
92
Eps. 92: Perburuan Seru
93
Eps. 93: Kemenangan Mutlak
94
Eps. 94: Hukuman Untuk Orang Jahat
95
Eps. 95: MoU
96
Eps. 96: Penobatan
97
Eps. 97: Malam Pernikahan
98
Eps. 98: Pembebasan
99
Eps. 99: Kelahiran Putra
100
Eps. 100: Episode Akhir
101
PEMBERITAHUAN
102
PEMBERITAHUAN 2
103
PENGUMUMAN
104
PENGUMUMAN BARU
105
EXTRA PART
106
Halo!
107
PERMISIII!!!
108
Mampir, Yuk!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!