Di negeri yang tidak tercatat dalam sejarah ini, Li Anlan hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup. Karena Li Anlan di dunia ini adalah seorang selir yang tidak dikenali, maka ia memutuskan untuk meneruskan peran itu.
Baginya, menjadi terasing lebih aman dan lebih menyenangkan. Dia hanya perlu menjadi seorang selir pajangan yang setiap bulan menerima gaji dan tunjangan untuk mempertahankan hidupnya.
Li Anlan tidak akan bersaing dengan selir lain. Dia akan berusaha agar ia tak pernah berjumpa apalagi menjadi kesayangan raja. Bagi Li Anlan, menjadi kesayangan adalah sebuah bencana besar. Kebahagiaan Li Anlan bukan berasal dari kasih sayang, tapi dari uang yang ia dapat. Li Anlan tidak akan mengemis cinta pada siapapun, terlebih kepada raja, suami yang belum pernah ditemuinya.
Wanita itu mengeluarkan seluruh isi ranselnya di lantai. Untung saja ranselnya tahan air hingga barang-barangnya tidak basah ketika berada di dasar danau. Ransel mahal itu ia beli dengan uang tabungannya selama setahun. Harganya melebihi harga sebuah ponsel.
Jadi, Li Anlan tidak bisa membiarkan ransel itu hilang begitu saja. Ransel besar itu menjadi kempis saat semua isinya keluar. Semua barang-barangnya masih utuh. Li Anlan mengambil sebuah benda kecil berbentuk bulat yang tertutup. Tutup benda itu lalu dibuka.
“Kemarin benda ini mati. Sekarang kenapa bisa hidup lagi?”
Li Anlan menutup kembali kompasnya. Aneh, kompas itu hidup lagi. Jarumnya bergerak-gerak ketika ia memutar-mutar kompas itu ke segala arah. Saat ia berada di jalur pendakian, kompas itu mati. Sekarang, secara ajaib hidup lagi, bersamaan dengan hidupnya dirinya di dunia aneh ini.
Wanita itu mengambil mie instan yang selalu ia bawa setiap kali mendaki dan menyeduhnya dengan air panas yang ia bawa dalam sebuah termos kecil. Perutnya sudah keroncongan sedari malam kemarin. Pelayan dan kasim di dalam Istana Xingyue ini tidak memberinya makanan apapun selain air teh yang hambar. Mereka bilang, Li Anlan harus berdiet agar tubuhnya menjadi kurus sehingga raja bisa tertarik padanya. Jika raja tertarik, maka Li Anlan akan menjadi beruntung.
Hah! Beruntung? Bukan beruntung, tapi buntung!
Sambil menikmati mie instannya, Li Anlan mengamati setiap bentuk tubuhnya di cermin besar. Meskipun tubuhnya adalah tubuh asli, tapi di sini, ia memang sedikit gemuk. Karakter Li Anlan di dunia ini sepertinya sangat suka makan hingga tidak menyadari perubahan dari bentuk tubuhnya. Pantas saja pelayan dan kasim itu menyuruhnya untuk berdiet. Di dunia modern, Li Anlan selalu bebas menikmati makanan apapun. Ia bisa makan hingga lima kali sehari ketika ia mau. Porsi makannya juga sangat besar, tapi tubuhnya tetap ramping karena ia rajin berolah raga dan melatih fisiknya.
“Nyonya, apa cacing aneh apa yang kau makan?”
Xie Roulan masuk membawa jatah makan Li Anlan.
“Ah kebetulan kau datang. Bawakan aku makanan itu.”
Li Anlan melihat dua buah mangkuk kecil berisi nasi putih dan sayur. Porsi kecil seperti ini hanya mampu mengganjal perutnya selama seperempat jam. Li Anlan memasukkan nasi putih itu ke dalam mie instan yang sudah ia seduh. Sekarang, porsi mie instan itu bertambah menjadi dua kali lipat lebih banyak.
“Nyonya, ada apa dengan keningmu?”
Xie Roulan menunjuk dahi majikannya yang terbungkus kapas dan plester. Saat Li Anlan kembali dari danau tengah malam tadi, darah di keningnya sudah membeku. Wanita itu segera mengeluarkan kotak P3K yang selalu ia bawa setiap kali pergi mendaki, karena ia tahu kecelakaan tidak pernah bisa diprediksi. Li Anlan membersihkan lukanya dengan alkohol, lalu meneteskan cairan betadine dan menutupnya dengan kapas. Teknik pengobatan luka seperti ini sangat mudah dan siapapun bisa melakukannya.
“Bukan apa-apa. Roulan, berapa banyak gaji yang kupunya setiap bulannya?”
“Gaji setiap selir berbeda tergantung tingkatannya. Karena Nyonya adalah selir tingkat rendah yang hanya memiliki gelar selir, gajimu hanya sekitar seratus lima puluh tael perak perbulan. Tunjangannya sekitar dua puluh lima tael, jadi totalnya seratus tujuh puluh lima tael.”
Li Anlan mengeluh. Di dunia ini, dia berubah menjadi seorang selir yang sangat miskin. Seratus tujuh puluh lima tael perak hanya cukup untuk makan selama dua minggu saja. Meskipun makanan di sini gratis, tapi Li Anlan akan mati kebosanan karena menu yang itu-itu saja. Persediaan makanan di dalam ransel gunungnya hanya sedikit dan ia tidak bisa memberitahu atau membaginya dengan siapapun.
“Bagaimana dengan uang keluargaku?”
“Nyonya benar-benar lupa? Nyonya adalah putri dari Bangsawan Li Han. Semenjak kau masuk istana dan orang tuamu meninggal, tidak ada yang memberimu uang lagi.”
Li Anlan kembali mengeluh. Li Anlan di dalam dunia ini sungguh seorang selir yang sangat malang. Menjadi seorang yatim piatu dan selir termiskin adalah kesialannya di masa hidupnya. Li Anlan menatap barang-barang di dalam ruangannya. Tidak ada barang mewah yang menyilaukan mata, tidak ada barang antik yang berharga.
“Nyonya tidak memiliki bakat apapun hingga tidak ada satu orang pemuda pun yang datang melamarmu. Demi menyelamatkan reputasimu dan reputasi keluarga, Tuan Bangsawan Li Han mengirimmu ke istana sebagai selir raja.”
Apa pelayan ini sedang memuji? Atau menghina? Mengapa Li Anlan merasa bahwa pelayan pribadinya ini sedang mengungkapkan kesialan dan kemalangan yang terjadi pada dirinya?
Li Anlan muak mendengar semua cerita buruk tentang kisah hidupnya di dunia ini. Tidak ada satu bagianpun yang membuatnya merasa terhibur karena ia menjadi seorang Li Anlan. Wanita itu menyuruh Xie Roulan untuk berhenti berbicara. Li Anlan bahkan mendorongnya keluar dan mengusirnya pergi.
Saat tidak ada siapapun yang mengawasinya, Li Anlan membuka sebuah kotak berisi ponsel dan headset. Ponsel itu juga tahan air. Harganya tiga kali lipat dari harga ranselnya. Li Anlan melompat-lompat begitu suara musik kesukaannya terdengar. Seperti ini juga lumayan, katanya dalam hati.
Tanpa ia sadari, seseorang sedang mengawasinya dari atas atap. Orang itu berpakaian serba hitam dengan wajah juga tertutup kain hitam. Kemampuan menyembunyikan diri orang itu sangat hebat hingga tidak seorang pun bisa melihatnya. Keberuntungan orang itu bertambah karena pelayan dan kasim di Istana Xingyue ini sangat sedikit.
Merasa sudah mendapatkan informasi, orang berpakaian serba hitam itu lalu melompat dari atap tanpa suara dan berlari secepat kilat untuk melaporkan sesuatu yang didapatnya pada seseorang yang memerintahnya. Orang itu menghilang di balik rimbunnya pepohonan di belakang Istana Xingyue.
Tidak lama setelah kepergian orang berbaju serba hitam itu, datanglah orang berpakaian serba putih. Saking putihnya, air susu saja kalah warnanya. Orang putih itu juga hinggap di atas atap Istana Xingyue untuk meminum arak sambil mengawasi orang-orang di bawahnya. Botol arak yang sudah kosong dilemparkan orang putih itu ke halaman Istana Xingyue hingga menimbulkan suara.
Meskipun suara itu cukup keras, tetap tidak ada orang yang mendengar atau memperhatikannya. Orang putih itu lalu menggelengkan kepalanya. Wajah orang putih itu memerah karena mabuk. Keseimbangannya hilang hingga ia berguling menyapa genteng-genteng cokelat dari tanah liat yang menutupi Istana Xingyue. Tubuh orang putih itu jatuh tepat di dekat pecahan botol arak yang dilemparkan tadi, disusul sebuah suara teriakan kaget dari seorang wanita.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
zee_
yapp.. uang lebih utama dari cinta /Kiss/
2024-08-16
1
_cloetffny
cacinggg😭🤣
2024-06-01
1
Fifid Dwi Ariyani
tryssukses
2024-01-26
0