Li Anlan meminta Xie Roulan membawa seember air dingin. Pelayan itu segera mematuhi perintah majikannya tanpa bertanya lagi. Li Anlan lalu menutup kembali pintu kamarnya dengan rapat.
"Ck.. Apa orang ini sedang berlatih mati?"
Li Anlan memandangi pria berbaju serba putih yang terbaring di atas ranjangnya. Saat ia mendengar suara aneh dari atapnya, Li Anlan langsung bergegas keluar untuk melihat benda apa yang berani merusak atap istana kecilnya. Ia terkejut ketika tubuh seseorang tiba-tiba terjatuh sebelum Li Anlan mencapai tangga keluar.
Beberapa saat kemudian, Li Anlan mendengar Xie Roulan berteriak memberitahunya bahwa air yang ia minta sudah siap. Wanita itu lalu meminta Xie Roulan untuk menyimpan ember berisi air dingin itu di depan pintu.
Setelah memastikan Xie Roulan pergi, Li Anlan mengambil ember air itu. Tanpa berpikir apapun lagi, dia langsung menyiramkannya pada pria putih yang sudah berbaring cukup lama di tempat tidurnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Pria itu tiba-tiba terbangun ketika seember air dingin menyiram tubuhnya. Dia menatap tidak percaya pada wanita di hadapannya yang tidak menampilkan wajah berdosa sedikitpun.
"Kau sudah menyelesaikan mimpimu?"
"Mei-mei kenapa kau melakukan ini?"
Tunggu, mei-mei? Apa pria putih ini sedang bertanya padanya?
Li Anlan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada siapapun di ruangan ini selain dirinya dan pria itu. Jika pria itu tidak bertanya padanya, lalu pada siapa lagi?
"Nyonya, mengapa kau menyiram kakakmu?"
Li Anlan melihat Xie Roulan menerobos masuk sambil membawa nampan berisi kue kering. Mendengar pertanyaan pelayannya, Li Anlan semakin kebingungan. Siapa sebenarnya yang disebut adik dan kakak oleh pria itu dan pelayannya?
"Anlan, ini aku, Afan. Li Afan," ujar pria putih itu.
"Li Afan? Ppfftt.... Hahahaa...."
Tawa Li Anlan yang meledak membuat Li Afan dan Xie Roulan melongo. Mereka tidak tahu apa yang sedang ditertawakan oleh Li Anlan hingga wanita itu terbahak-bahak.
"Mengapa namamu seperti perempuan?"
Raut wajah Li Afan berubah masam. Telinganya sudah berjamur akibat sering mendengar pertanyaan itu. Jangan salahkan dia, salahkan saja orang tuanya yang memberinya nama itu saat bayi.
"Kakak, kenapa kau berguling dari atap?" tanya Li Anlan kemudian. Dia tidak tahan melihat wajah masam kakaknya di dunia ini.
"Aku kehilangan keseimbangan."
"Aku tahu. Yang aku maksud, penyebab kau kehilangan keseimbangan."
"Tentu saja arak!"
Maniak, batin Li Anlan.
Karena orang tuanya di dunia ini sudah mati, maka Li Afan adalah satu-satunya keluarganya. Li Anlan harus menerima Li Afan agar kakaknya itu bisa berguna di masa depan. Jika dia punya kakak, setidaknya ia masih punya seorang manusia yang bisa dijadikan tempat pulang jika suatu saat terjadi hal buruk padanya di istana ini.
Li Anlan tidak mengenal baik dunia barunya karena ia baru saja sampai. Li Anlan tidak tahu seperti apa lingkungan pergaulan di istana yang luas tapi sepi ini. Dia butuh seseorang selain pelayannya yang bisa ia jadikan sandaran dan tempat perlindungan. Li Anlan tidak mengharapkan perlindungan raja atau ibu raja, karena baginya itu sangat berbahaya. Lebih baik mencari perlindungan kepada keluarganya sendiri.
"Baiklah. Kakak, kau punya uang?"
"Aku memang datang untuk itu."
Mata Li Anlan berbinar cerah saat Li Afan mengeluarkan sekantong uang dari dalam celah bajunya. Li Afan memberikan semua uang dalam kantong itu kepada adiknya. Jika Li Anlan tahu kakaknya membawa banyak uang dalam bajunya, dia sudah pasti mengambilnya sebelum pria itu sadar.
"Aku akan segera pergi sebelum para penjaga istanamu menemukanmu."
"Pergilah."
"Aku tidak bisa pergi dengan pakaian basah seperti ini!"
"Tapi, tidak ada pakaian pria di sini!"
"Pinjami aku pakaian suamimu!"
Li Anlan melirik tajam Li Afan. Suami? Suami apanya! Li Anlan bahkan tidak tahu seperti apa wajah suaminya itu. Jadi, tidak mungkin pakaian pria itu sampai ada di sini.
Wanita itu membisikkan sesuatu pada Xie Roulan. Xie Roulan kemudian mengambil sesuatu dari dalam lemari Li Anlan. Pelayan itu kembali ke tempat Li Anlan sambil menyerahkan tumpukan kain berwarna hijau muda.
"Kau menyuruhku memakai pakaian wanita?"
"Ya!"
"Tidak. Bagaimana aku bisa memakai pakaian aneh itu?"
"Kakak, wajahmu cantik. Tidak akan ada yang tahu jika kau adalah laki-laki."
Li Afan terpaksa menerima pakaian Li Anlan dengan ragu. Hatinya mengutuk keras Li Anlan karena telah menyiramnya dan mempermainkannya. Jika dia bukan adiknya dan bukan satu-satunya keluarganya yang tersisa, Li Afan tidak perlu repot-repot datang ke istana yang sepi ini hanya untuk mengetahui dan memastikan keadaan Li Anlan baik-baik saja.
Lima belas menit dalam waktu bumi, Li Afan berubah menjadi seorang wanita yang tidak kalah cantik dari Li Anlan. Tangan Li Anlan sangat terampil mendandani kakak laki-lakinya hingga Li Afan benar-benar seperti seorang perempuan tulen. Li Anlan bahkan menambahkan pemerah pipi dan bibir agar penampilan Li Afan menjadi sempurna.
"Anlan, sepertinya kau lebih cocok menjadi perias dibandingkan menjadi seorang selir."
"Diamlah."
Li Afan keluar dari Istana Xingyue bersama Li Anlan. Kedua penjaga gerbang depan tidak menaruh curiga apapun karena mereka berpikir wanita di samping Li Anlan adalah selir atau temannya.
Keduanya berpisah di sebuah taman yang sepi. Li Afan melompati pagar pembatas setelah memeluk adiknya. Dia juga berkata bahwa dia akan sering berkunjung untuk melihat keadaan Li Anlan dan menemaninya bermain. Li Anlan melepas kepergian kakaknya dengan senyuman. Dia merasa memiliki keluarga yang begitu menyayanginya.
Berhubung ia sedang berada di luar Istana Xingyue, Li Anlan memutuskan untuk mengelilingi taman sekitar Danau Houchi. Dalam novel-novel penjelajah waktu yang pernah ia baca, tokoh utamanya sering dibarengi dengan sebuah sistem yang memandunya untuk bertahan hidup atau menyelesaikan misi. Li Anlan ingin tahu apakah kedatangannya ke dunia ini juga dibarengi dengan sistem semacam itu atau tidak.
Danau Houchi adalah tempat pertama kali ia ditemukan. Jadi, tempat pertama yang akan ia telusuri adalah Danau Houchi dan taman di sekitarnya. Li Anlan mencari sistem di taman sekitar terlebih dahulu karena wanita itu akan menciptakan masalah jika ia melompat ke Danau Houchi di hari yang masih terang seperti ini.
Li Anlan sudah berputar-putar hampir tiga jam lamanya. Tapi, sistem yang ia cari tidak ia temukan. Li Anlan menelusuri setiap rumpun bunga, bawah meja, batang pohon, bahkan kolong penyangga jembatan dan ujung tiang pendopo taman. Li Anlan juga mengobok-obok permukaan danau hingga menimbulkan gelombang-gelombang kecil. Tapi, sistem yang dimaksud juga tidak ditemukan.
Hari mulai gelap. Beberapa kasim yang sedang bertugas lewat di hadapan Li Anlan dengan acuh tak acuh. Kasim-kasim itu datang menyalakan lampu-lampu hias di sekitar taman dan Danau Houchi. Setelah mereka menyelesaikan tugasnya, kasim-kasim itu kembali pergi dan taman Danau Houchi kembali sepi.
Li Anlan sengaja menunggu malam larut agar ia bisa leluasa bergerak. Wanita itu duduk di pendopo taman seorang diri. Rasa lapar, lelah, dan kesal sama sekali tidak membuatnya menyerah. Meskipun mencari sistem seperti mencari jarum di tumpukan jerami, Li Anlan tetap harus memastikannya.
Li Anlan berencana menyelam kembali ke dalam danau untuk mencari sistem.
Sembari menunggu semua orang pergi, Li Anlan menyalakan ponsel yang ia selipkan di bajunya. Jarinya menggeser-geser layar tak seberapa lebar itu ke kanan dan ke kiri, mencari sebuah aplikasi yang sekiranya bisa membantunya menghilangkan kebosanan yang ia rasakan. Jari wanita itu lalu mengklik aplikasi Candy Crush, sebuah aplikasi penukaran permen yang sangat terkenal di dunia modern yang sudah bersarang di ponselnya selama dua tahun.
Level akunnya dalam permainan itu sudah mencapai level lima ribu lima ratus tiga puluh empat. Nyawanya pada permainan itu sudah terisi penuh. Li Anlan berhenti pada level tersebut karena ia kehabisan nyawa dan semua booster pembantunya habis.
Li Anlan sesekali mengumpat ketika langkahnya habis sementara levelnya belum selesai. Satu persatu nyawanya hilang hingga tak tersisa. Li Anlan beralih ke mode tanpa nyawa hingga ia bisa bermain sepuasnya tanpa khawatir langkah atau kesempatannya habis. Selesai dengan permainan Candy Crush, Li Anlan beralih ke permainan Buble Jump. Di permainan ini, level akun miliknya lebih tinggi karena permainan ini lebih mudah.
Wanita itu terlalu larut dalam permainan. Ia melupakan tujuannya berdiam diri di tempat sepi ini. Jika dihitung dalam waktu di bumi, Li Anlan sudah menghabiskan waktu selama empat jam untuk bermain game. Malam sudah benar-benar larut.
Li Anlan tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari atas jembatan penyebrangan Danau Houchi. Pancaran sinar yang terang dari kecerahan ponsel Li Anlan menarik perhatian orang itu. Dalam hatinya, orang itu bertanya cahaya apa yang melebihi terangnya cahaya lilin paling terang di Dongling ini.
"Apa yang sedang kau mainkan?"
"Astaga!"
Pertanyaan itu sontak membuat Li Anlan terkejut. Ponsel di tangannya hampir terlempar. Li Anlan sama sekali tidak menduga akan ada seseorang yang memperhatikan dan datang padanya.
"Kakak kasim tampan?"
Orang itu menatap benda persegi panjang di tangan Li Anlan. Benda asing itu sekilas terlihat mirip dengan kotak hadiah dan batang tinta, hanya saja bisa mengeluarkan cahaya dan makhluk bergerak yang aneh dan belum pernah dilihatnya di dunia manapun. Orang itu lebih terkejut ketika jarinya tak sengaja menyentuh tools pelempar buble hingga peluru buble itu terlepas mengenai buble yang lain.
"Katakan, benda apa itu?" Orang itu bertanya dengan marah. Li Anlan menatap malas orang itu. Orang kuno sepertinya memang sangat menyebalkan.
"Kau mau coba?"
Orang itu mengambil ponsel Li Anlan dan memukul-mukulnya. Dia juga menggigit ujung ponsel yang keras itu hingga muncul bayangan pelangi di sudut layarnya. Li Anlan pasrah ponselnya diperlakukan seperti makanan. Wanita itu tidak khawatir ponselnya rusak karena ponselnya adalah ponsel mahal yang tahan banting dan tahan air.
"Cukup, berikan padaku!"
Li Anlan merebut ponselnya dari tangan kasim yang menolongnya pada malam lalu. Agar tidak menarik perhatian lagi, Li Anlan menekan tombol off dan memasukan ponselnya kembali ke dalam bajunya. Kasim tersebut lalu duduk di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya kasim itu.
"Aku mencari sesuatu."
"Apa?"
"Aku juga tidak tahu apakah yang kucari itu ada atau seperti apa bentuknya."
Kasim itu mengerutkan kening. Mencari sesuatu yang belum pernah dilihat dan tidak diketahui bentuk atau rupanya sama saja dengan mencencang air tak putus. Jikapun memungkinkan, perlu waktu lama untuk menemukannya.
"Sudahlah, jangan pedulikan lagi. Kakak kasim, mau kutunjukkan sesuatu? Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah menolongku kemarin."
Tanpa menunggu persetujuan kasim itu, Li Anlan menarik tangannya dan membawanya ke halaman Istana Xingyue yang sepi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-01-26
0
Lee Fay
Hihihihi jd ingat drakor rofttop prince klo gasalah raja yg terdampar ke dunia modern bgtu liat tv malah dihancurkan dan benda2 lain jd kebakaran krna gatau apa2🤣
2022-03-26
1
Ainun Nizah
tanpa sadar dia udah dket sma rajanya
2021-12-14
5