Orang bilang, menjadi pemalas adalah sesuatu yang buruk. Orang pemalas hanya akan menjadi orang tak berguna yang dicela orang lain dan menjadi sampah masyarakat. Tapi, bagi seorang wanita bebas yang tersesat ke masa lalu dan menjadi selir rendah seperti Li Anlan, menjadi pemalas adalah suatu keharusan dan pekerjaan yang harus disyukuri.
Saat selir lain berlomba-lomba merebut perhatian dan kasih sayang raja, Li Anlan hanya bisa berleha-leha dengan berbaring di tempat tidur, berayun di hammock, berkemah, dan bermain di istananya sendiri. Sejak awal, dia memang tidak memiliki niat untuk bersaing, juga tidak berminat menjadi licik seperti rubah.
Suasana hatinya sangat baik karena selama beberapa hari ini, istananya diperbaiki sedemikian rupa hingga tampak lebih bagus dari sebelumnya. Pintunya yang rusak sudah diganti, dan barang-barangnya yang pecah juga sudah disingkirkan. Untung saja, Long Ji Man memberinya kompensasi dengan mengirim beberapa barang dan hiasan baru. Pria itu selalu menyuruh orang untuk datang membawa perabotan.
Li Anlan sangat bersyukur karena Long Ji Man tidak mengunjunginya dan tidak menyuruhnya untuk datang ke Istana Hongwu. Dia pikir, pria itu sudah kembali tidak mempedulikan kehadiran dirinya. Asalkan pria itu memenuhi seluruh kebutuhan materinya, tidak apa-apa bagi Li Anlan jika tidak bertemu juga. Long Ji Man hanya perlu memberinya gaji dan tunjangan tetap, makanan, dan kebutuhan seperti selir pada umumnya, kecuali kebutuhan batin dan biologis.
Ada sedikit perbedaan yang tampak di depan mata Li Anlan sejak kejadian pengejaran oleh penjahat beberapa hari lalu. Istana Xingyue yang sekarang tidak hanya dijaga oleh dua orang, tetapi bertambah menjadi empat orang. Kasim istana yang semula hanya satu orang juga bertambah satu orang lagi. Jika dihitung, maka Istana Xingyue kedatangan tiga orang baru.
Li Anlan sempat bertanya mengapa orang di istananya bertambah kepada dua penjaga sebelumnya. Mereka menjawab bahwa raja memerintahkan untuk memperketat pengamanan dan penjagaan di seluruh istana tanpa terkecuali. Jadi, Istana Xingyue yang kecil dan terpencil ini juga tidak lepas dari pengamanan. Meskipun Istana Xingyue menjadi sedikit ramai dari biasanya, tapi tidak mengurangi ruang gerak Li Anlan. Wanita itu tetap bebas bersuka ria, bermain dan keluar Istana Xingyue sesuka hatinya.
Wanita itu sedang duduk santai di pendopo taman sambil menikmati pemandangan senja hari di Danau Houchi. Cahaya keemasan sang surya memantul di atas permukaan danau, hingga seluruh permukaan Danau Houchi tampak bersinar.
Semilir angin musim semi berhembus membelai lembut rambutnya yang terurai sebagian. Kakinya bersilang, pakaiannya yang panjang menjuntai. Wajah cantik Li Anlan menampilkan ekspresi santai, menikmati ketenangan yang diberikan dari keadaan di sekitarnya. Sekilas, wanita itu tampak seperti arca seorang dewi.
Dari kejauhan, Li Anlan dapat melihat atap-atap bangunan istana yang tersusun simetris membentuk sebuah formasi unik yang hanya dapat dilihat dan digambarkan dalam sebuah kertas. Ujung-ujung atap setiap bangunan itu juga bersinar memantulkan cahaya senja.
“Roulan, apa nama bangunan di sebelah sana?” tanyanya pada Xie Roulan, yang kebetulan sedang menyiapkan makan malam dari dalam kotak. Jari telunjuknya mengarah pada sebuah bangunan dengan atap tertinggi, yang di belakangnya ditumbuhi pohon wisteria. Sepertinya, bagian belakang istana itu adalah kawasan hutan lindung.
“Itu adalah Istana Taiji, tempat pengadilan berlangsung, Nyonya.”
“Kau pernah ke sana?”
Xie Roulan menggelengkan kepala.
“Selama dua tahun ini kita tidak pernah pergi dari kawasan Istana Xingyue.”
Wah, Li Anlan merasa seperti seekor katak dalam tempurung. Dirinya di dunia ini sungguh wanita yang tidak mempedulikan apapun.
“Setiap puncak musim semi, selalu diadakan perjamuan dan kontes besar-besaran di Istana Lianyu, istana besar tempat dilaksanakan perjamuan-perjamuan penting. Letaknya di samping Istana Taiji.”
“Lalu? Apa kita pernah berpartisipasi dalam acara itu?”
Xie Roulan kembali menggelengkan kepalanya.
“Jangankan pergi, undangan atau kabar burung pun tidak pernah sampai ke istana kita.”
Melihat Xie Roulan mengeluh, hati Li Anlan jadi tercubit. Semua cerita tentang dirinya memang bukan kebohongan. Li Anlan menatap Xie Roulan dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Kita hanya perlu diam dan hidup dengan baik di sini. Hanya itulah satu-satunya cara agar kita tetap aman.”
“Aku hanya kasihan padamu, nyonya. Dulu, saat kau masih seorang nona besar di kediaman Tuan Bangsawan Li, kau adalah gadis ceria yang sangat dimanja. Meskipun kau tidak memiliki bakat apapun dan tidak pandai dalam sastra dan seni, tapi Tuan Bangsawan Li dan Nyonya Bangsawan sangat menyayangimu. Sekarang, di istana yang sepi ini, kau justru hidup seperti orang mati. Nyonya, kau pasti sangat kesepian!”
Li Anlan merangkul Xie Roulan. Gadis pelayan ini sangat lugu dan naif. Dia hanya bisa memikirkan kebahagiaan majikannya dan tidak pernah bisa memikirkan dirinya sendiri. Meskipun Li Anlan baru mengenal Xie Roulan beberapa hari lalu, dia sudah bisa merasakan chemistry yang erat dengan Xie Roulan. Xie Roulan adalah tipe perempuan yang satu frekuensi dengannya, meskipun terkadang menyebalkan karena sikap bodoh dan polosnya.
“Aku punya seseorang yang menemani dan melayaniku. Bagaimana bisa aku merasa kesepian?”
“Nyonya, kau menyanjungku!”
Pasangan majikan-pelayan itu makan malam bersama di pendopo yang sepi itu. Menu yang dibawa Xie Roulan kali ini adalah wonton dengan tumis sayuran asam manis. Juga, dua mangkuk nasi dan sepiring daging ayam bakar. Menu sederhana, seperti biasa. Li Anlan tidak dapat lagi memakan mie instan karena persediaannya sudah habis. Dia juga hampir kehabisan stok snack makanan ringan. Jadi, Li Anlan hanya dapat memakan makanan yang tersedia di sini, meskipun sangat hambar dan membosankan.
Di balik rumpun semak-semak di sebelah barat pendopo tempat Li Anlan dan Xie Roulan makan, seseorang terus menerus memperhatikan mereka. Orang itu sesekali mengusap pantat dan punggungnya yang sakit karena duduk mengintip terlalu lama. Gemerisik dari daun semak yang bergesekan dengan tubuhnya sama sekali tidak mengganggu pasangan majikan-pelayan yang sedang makan malam bersama.
Setelah beberapa lama, orang itu melompat ke semak lain dan pergi meninggalkan taman Danau Houchi.
...***...
“Yang Mulia, sebenarnya benda aneh apa yang kudapatkan dari Istana Xingyue ini?”
Wang Tianshi menatap lekat Long Ji Man yang sedang berkutat dengan sebuah benda persegi panjang tipis di tangannya. Dia baru kembali setelah hampir sehari semalam bertugas.
“Benda ini memang aneh, tapi tidak seaneh gambar yang kau berikan padaku tempo hari!”
Mengingat hari itu, Wang Tianshi tersenyum canggung, memeperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih seperti tepung beras. Ya, dia memang tidak pernah menggambar dan tidak pandai menulis. Jadi, apapun yang ia lihat akan ia gambar meskipun tidak mirip dengan bentuk aslinya.
“Yang Mulia tidak pernah mengajariku menggambar dengan baik.”
“Sudahlah. Apa kau sudah melakukan pekerjaan yang kuberikan padamu?”
Wang Tianshi mengangguk. Pengawal pribadi raja itu menyodorkan sebuah kertas berisi peta Istana Xingyue. Raut wajah Long Ji Man berubah menjadi serius.
“Saat itu, Selir An hanya berpapasan dengan pelayan dari Istana Shu. Sepertinya, dia pelayan pribadi Selir Ling.”
“Xu Lingshu?”
Xu Lingshu adalah selir pertama Long Ji Man setelah dirinya naik tahta. Dia adalah putri dari Menteri Ritus, Xu Lingyan. Statusnya adalah seorang guifei. Xu Lingshu gadis yang lemah lembut, hanya saja tempramennya sering berubah dalam waktu singkat. Kakaknya adalah Xu Lingkuan, jenderal muda kesayangan raja yang sangat berprestasi. Sejak dia masuk ke istana, sifat lemah lembutnya berubah menjadi beringas dan temperamental. Xu Lingsu selalu berusaha tampil secantik mungkin untuk memikat Long Ji Man.
“Apa sekarang rubah gatal itu sudah mulai menampakkan ekornya?”
“Jika melihat dari temperamennya, aku rasa itu tidak mungkin. Yang Mulia, Selir Ling tidak mempunyai banyak kuasa dan koneksi untuk memburu Selir An.”
Perkataan Wang Tianshi masuk di akal Long Ji Man. Xu Lingshu, meskipun anak seorang menteri dan adik dari seorang jenderal, otaknya sedikit bermasalah. Dia tidak pintar tapi juga tidak bodoh. Ya, kecerdasannya mungkin berada di level rata-rata. Wanita manja itu tergila-gila pada Long Ji Man dan hanya fokus pada bagaimana cara agar terlihat menarik, tidak pernah memiliki pemikiran lain. Sekalipun pelayannya memprovokasi, Xu Lingshu biasanya hanya terpengaruh sesaat. Wanita itu akan kembali pada kebodohannya dalam mencintai Long Ji Man.
“Jika bukan Xu Lingshu, apakah mungkin?” Wang Tianshi menggantung pertanyaannya.
“Para pembunuh itu menargetkan Li Anlan karena mereka tahu kalau Li Anlan menyelamatkan nyawaku.”
“Yang Mulia, apakah mereka tidak benar-benar pergi saat itu?”
“Itu mungkin saja. Salah seorang diantara mereka pasti ada yang tinggal, atau di istana ini ada seekor tikus kecil yang membelokkan pandangannya.”
Ah, penyerangan di Danau Houchi ternyata berbuntut panjang. Tuan dari para pembunuh itu sekarang tidak hanya menargetkan Long Ji Man, tapi juga menargetkan Li Anlan yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Para pembunuh kelas teri itu pasti sudah melaporkan semua yang mereka lihat dan mereka alami pada penjahat kelas kakap yang menjadi tuan besar mereka, hingga mengharuskan penjahat kelas kakap itu mengambil tindakan.
Long Ji Man memang sudah berkali-kali mengalami penyerangan dan percobaan pembunuhan. Para pembunuh sialan itu tidak hanya beraksi di luar istana saat dirinya sedang berpatroli dan menyamar, tapi sudah berani membuat kekacauan di dalam istana dan melibatkan orang lain yang tidak tahu apa-apa. Tampaknya, kesabaran tuan besar di balik semua ini sudah mulai menipis.
“Apa yang dia lakukan selama beberapa hari ini?”
“Lapor, Yang Mulia. Selir An hanya bermalas-malasan dan tidak melakukan kegiatan yang mencurigakan.”
Long Ji Man menghembuskan napas. Wajah seriusnya sudah kembali ke ekspresi normal. Dia teringat kembali pada tingkah tidak sopan Li Anlan kepadanya. Long Ji Man teringat kembali binar mata cerah seperti kejora yang menatapnya tanpa ada rasa takut setiap kali wanita itu berbicara kepadanya.
Tiba-tiba, sebuah suara aneh muncul dari dalam benda persegi panjang yang tadi dipegang Long Ji Man. Benda itu memang ponsel Li Anlan. Layar ponsel itu bergerak-gerak menampilkan sebuah tanda bulat berisi angka dan terus bergetar.
Klik.
Long Ji Man menekan simbol bulat itu ke bawah. Dering ponsel itu langsung berhenti.
“Yang Mulia, sebenarnya benda apa ini?”
“Po-Ponsel.”
“Po-Pon-Pon-S-Se-Sel?”
Long Ji Man mengangguk.
“Tetap awasi Li Anlan. Dia mungkin berada dalam bahaya.”
...***...
Guifei: selir utama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusberksrya
2024-01-26
0
Lee Fay
Wkwkwk ngakak sma selir yg suka rebahan
2022-03-26
0
Ida Blado
hoooo yg nyolong ponsel rajanya sendiri to
2021-11-15
2