"Roulan, ambilkan aku camilan!"
"Ya, Nyonya."
Li Anlan berbaring di atas karpet yang ia gelarkan di halaman Istana Xingyue. Kakinya kirinya menekuk, sebelah kanannya lagi bertumpu di atas tekukan kaki kirinya. Tangan kirinya ia jadikan bantal, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar kompas.
Jarum benda bulat yang kecil itu bergerak-gerak menunjuk arah utara. Netra Li Anlan menatap arah yang ditunjukkan jarum kompas, melihat sejauh mana jarum itu akan membawa pandangannya. Objek yang ia lihat setelah mengikuti arah jarum kompas itu adalah sebuah gunung berbatu yang terletak persis di belakang istana Kerajaan Dongling.
Li Anlan teringat kembali saat sebelum dirinya jatuh dari atas gunung. Kompas ini mati, dan matahari terhalang awan hitam hingga Li Anlan tidak bisa menemukan di arah mana ia berada. Namun, di dunia ini, tidak disangka kompas kecil itu kembali berfungsi. Bahkan gerakan jarumnya sangat cepat dan akurat.
"Apa nama gunung di belakang istana ini?" tanya Li Anlan sambil menunjuk gunung batu yang dilihatnya.
"Itu Gunung Feiyun."
Gunung Feiyun? Li Anlan sepertinya pernah mendengar nama itu. Sesaat kemudia ia baru teringat bahwa Long Ji Man pernah mengatakan bahwa tenda yang dibangun Li Anlan mirip dengan Gunung Feiyun saat mereka berkemah tempo waktu lalu. Karena saat itu malam hari, Li Anlan tidak bisa melihat dengan jelas. Dia hanya melihat kegelapan yang hitam pekat.
Sekilas, gunung berbatu itu berbentuk seperti sebuah busur. Puncaknya berwarna perak tertimpa sinar matahari pagi. Tingginya mungkin sekitar 14500 meter di bawah permukaan laut. Tinggi gunung itu hampir melebihi tinggi gunung yang ia taklukan terakhir kali.
Jiwa-jiwa pendaki dalam diri Li Anlan meronta-ronta. Jika gunung ini setinggi seperti perkiraannya, maka Li Anlan akan segera menaklukannya untuk memuaskan dendamnya yang tertunda akibat perjalanan waktu yang tidak disangka-sangka. Dia mungkin akan menjadi orang pertama dalam sejarah yang mendaki gunung tinggi.
"Tapi, Yang Mulia Raja melarang siapapun untuk pergi ke Gunung Feiyun."
"Mengapa?"
"Aku dengar, di sana banyak terdapat tumbuhan dan hewan langka."
Ah, kawasan hutan lindung rupanya, ujar Li Anlan dalam hati.
Li Anlan menaruh setitik kekaguman pada Long Ji Man. Meskipun masih berada di era kuno, pemikiran mengenai cara melindungi satwa langka ternyata sudah ada. Konservasi in situ yang diterapkan Long Ji Man untuk melindungi tumbuhan dan satwa langka di Gunung Feiyun termasuk cara paling modern untuk mencegah kepunahan.
"Apa hewan-hewan di sana adalah satwa asli dari daerah ini?"
"Ya, Nyonya. Semuanya asli dari tanah Dongling kita."
Mengetahui ada banyak hewan endemik di Gunung Feiyun, minat dan keinginan Li Anlan untuk mendaki gunung tersebut semakin besar. Apalagi, di Gunung Feiyun tidak hanya terdapat hewan endemik, tapi juga spesies tumbuhan langka yang tidak akan dijumpai di tempat lain.
Mengeksplorasi kekayaan alam yang ada di gunung adalah sebuah hobi yang mendarah daging dalam dirinya. Bisa melihat sesuatu yang langka yang tidak bisa dilihat orang lain adalah sebuah keberuntungan besar. Li Anan semakin ingin pergi, menapaki batu-batu Gunung Feiyun, menyesap oksigen bersih dan aroma embun, dan menikmati perjalanan yang memacu adrenalin.
Li Anlan bangkit dari posisi berbaringnya. Tangan halusnya mencomot kue kering yang dibawa Xie Roulan. Setelah tubuhnya tegak, Li Anlan langsung berdiri. Dia mengepuk-ngepuk pakaiannya yang sedikit kotor oleh debu halaman Istana Xingyue.
"Nyonya, kau mau ke mana?"
"Menemui raja."
"Tapi-"
"Tetaplah di sini!"
Li Anlan ingin bertanya apakah Long Ji Man dapat membuat pengecualian untuknya, agar ia bisa diberikan izin untuk mendaki Gunung Feiyun. Memasuki kawasan hutan lindung adalah perbuatan yang melanggar hukum. Li Anlan tidak ingin mengorbankan nyawa kecilnya untuk menerobos masuk ke Gunung Feiyun tanpa izin.
Seandainya pria itu mengizinkannya, Li Anlan akan dengan senang hati berterima kasih. Jika Long Ji Man menolak, Li Anlan akan tetap memaksanya hingga ia diberikan izin untuk keluar istana dan mendaki. Urusan paksa-memaksa, Li Anlan adalah ahlinya. Dulu, saat ia tidak diberikan izin keluar oleh rektor kampusnya, Li Anlan tetap memaksa hingga rektornya tidak berdaya.
Wanita itu berjalan sendirian keluar dari Istana Xingyue. Matahari mulai terik. Jika tidak salah, sekarang mungkin sudah pukul sepuluh dalam hitungan waktu modern. Kaki kecilnya melangkah ringan menapaki batu-batu pipih yang mengalasi jalan sepanjang taman.
Tepat di atas jembatan Danau Houchi, Li Anlan dihadang sekelompok wanita berpakaian mewah dan aksesoris indah yang datang bersama para pelayannya. Dagu mereka terangkat dan mata mereka menatap sinis pada Li Anlan.
Keangkuhan sekelompok wanita di hadapannya membuat Li Anlan sedikit bergidik. Atmosfer Danau Houchi tiba-tiba berubah, seolah sedang menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Jadi, inikah selir rendah yang menggoda Yang Mulia?" Si Pakaian hijau bertanya pada pelayan di sampingnya. Li Anlan tahu, sebutan 'selir rendah menggoda Yang Mulia' ditujukan pada dirinya.
"Apa kita saling mengenal? Maaf, Nona, kau menghalangi jalanku."
"Yo. Sudah menggoda, tidak tahu adat pula. Memang benar-benar wanita tidak beretika. Menjijikan." Si Pakaian Merah di samping Si Pakaian Hijau menimpali.
Li Anlan tidak ingin membuang tenaga untuk berdebat dengan wanita-wanita asing ini. Beradu mulut dengan mereka sama saja berdebat dengan tong kosong yang nyaring bunyinya. Saat Li Anlan hendak melangkah, seorang pelayan di samping Si Pakaian Hijau mencekal lengannya.
Plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Li Anlan yang mulus. Bekas tamparan itu memerah membentuk tapak jari yang seukuran dengan telapak tangan Si Pakaian Hijau. Otak Li Anlan loading, memproses apa yang baru saja terjadi.
"Kau menamparku?"
"Ya. Itu adalah ganjaran yang pas untuk perbuatanmu menggoda Yang Mulia Raja." Si Pakaian Hijau berkata tanpa rasa bersalah.
Sudah ia duga, hidup damainya akan berakhir saat Long Ji Man mengetahui keberadaannya. Wanita-wanita yang menghadang jalannya ini pastilah wanita-wanita milik Long Ji Man. Li Anlan mengenali wajah salah satu pelayan di belakang Si Pakaian Hijau dan Si Pakaian Merah. Pelayan itu pernah berpapasan dengannya saat keluar dari Istana Hongwu.
"Oh jadi itu masalahnya."
Li Anlan menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam kepada Si Pakaian Hijau dan Si Pakaian Merah. Wajah seriusnya yang dingin membekukan darah siapapun yang melihatnya. Aura mengerikan yang terkumpul di diri Li Anlan membuat kedua wanita itu bergidik.
"Kau ingin tahu, apa saja yang sudah kulakukan bersama raja?"
Li Anlan sengaja memprovokasi wanita-wanita di hadapannya. Dia marah. Li Anlan marah karena pipinya yang mulus harus memiliki bekas luka. Li Anlan marah seseorang yang tidak dikenalnya menampar dan menghinanya sembarangan.
Si Pakaian Merah dan Si Pakaian Hijau sedikit gugup. Tubuh mereka mulai bergetar ketakutan. Tapi, karena tidak ingin dianggap pengecut, mereka tetap membusungkan dada dan menengadahkan wajah mereka.
"Apa yang sudah kau lakukan?"
Li Anlan menatap dua wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ya, tubuh mereka lumayan bagus, hanya saja sedikit kurus dan tidak berisi. Gumpalan daging yang membungkus tulang mereka pasti sangat lembek.
"Sayang sekali, aku sedang terburu-buru. Lain kali, aku akan menceritakannya pada kalian."
Wajah Si Pakaian Merah dan Si Pakaian Hijau memerah hingga ke telinga. Mereka terpengaruh hanya dengan beberapa kata. Sungguh, wanita lemah yang sangat mudah terprovokasi. Dalam hatinya, Li Anlan puas menertawai mereka.
Sementara itu, di ujung jembatan Danau Houchi, Long Ji Man berdiri menyaksikan perdebatan Li Anlan dan dua selirnya dengan santai. Di sampingnya, Xiao Biqi juga ikut menyaksikan.
"Yang Mulia, kau tidak akan memisahkan mereka?"
"Perkelahian wanita, kita tidak boleh ikut campur."
Long Ji Man kembali menyaksikan perdebatan mereka. Dia dapat mendengar dengan jelas kalau Li Anlan mengumpat dan menyindir dua selir yang menghadangnya dengan sarkas. Kata-kata itu sangat menohok. Tapi, Long Ji Man justru tertawa.
"Sebuah papan yang rata memang tidak akan menarik perhatian tukang ukir. Sayang sekali hanya bisa digunakan sebagai pijakan."
"Kau menghina tubuh kami?"
"Aku anggap begitu."
Long Ji Man menyunggingkan senyum kecil saat ia mendengar kalimat terakhir Li Anlan. Wanita itu benar-benar tahu cara bersikap dan membalas orang yang menindasnya. Bahkan, cara yang digunakannya sepertinya jauh lebih kejam dari biasanya.
"Selir An benar-benar tangguh!" puji Xiao Biqi.
"Dia bahkan berani memanggil namaku dengan lantang."
Kemudian, ekspresi Long Ji Man berubah kesal saat ia teringat bagaimana Li Anlan memanggil namanya tanpa rasa takut dan bersikap tidak sopan kepadanya.
"Dia tipe wanita yang tidak mudah ditindas, Yang Mulia."
Sementara itu, Si Pakaian Merah dan Si Pakaian Hijau merasa harga diri mereka terinjak-injak oleh perkataan selir rendah ini. Siapa Li Anlan? Dia hanya seorang selir rendah yang diterima raja atas rasa terima kasih dan kasihan. Di hari masuk istana pun tidak diketahui siapapun. Bahkan, raja saja tidak pernah bertemu dengannya dan tidak pernah mengingatnya.
Batin Li Anlan tertawa sangat keras. Li Anlan menyembunyikan kesenangan hatinya dalam ekspresi dingin dan tajam seperti tadi. Melihat dua wanita itu semakin marah, Li Anlan semakin tertarik untuk bermain-main.
"Akulah aktris terbaik yang akan memenangkan pernghargaan ini," gumam Li Anlan. Gumaman itu sangat pelan hingga tak didengar siapapun.
"Pelayan! Pegangi kedua tangan wanita ini!" Si Pakaian Merah mulai beraksi.
"Kau berani?"
Pelayan yang hendak mencekal lengan Li Anlan tertunduk takut melihat aura menyeramkan yang menyelimuti Li Anlan. Tatapan tajam yang menusuk itu berhasil menciutkan nyali dan membunuh keangkuhan para pelayan yang lebih rendah dari Li Anlan.
Li Anlan bertepuk tangan.
"Sepertinya aku sudah selesai bermain-main dengan kalian. Kalau begitu, aku permisi." Li Anlan membalikkan tubuhnya. Dia merasa bahwa ia masih perlu bersiaga.
Benar saja. Seseorang tiba-tiba mendorong punggungnya dari belakang hingga tersungkur ke tepi jembatan. Saat tubuhnya hendak terjatuh, Li Anlan menarik pergelangan tangan orang yang mendorongnya sekuat tenaga. Alhasil, dua wanita itu tercebur ke dalam air.
Wanita-wanita yang masih berada di atas jembatan Danau Houchi berteriak melihat majikan mereka jatuh ke dalam air. Kepala Si Pakaian Merah timbul-tenggelam, menandakan bahwa ia tidak bisa berenang. Wanita-wanita di atas jembatan semakin panik.
Lain halnya dengan Li Anlan. Dia justru berenang dengan cepat menuju tepi. Tapi, di tengah perjalanan, dia justru dicegat oleh perkataan seseorang yang ada di atas jembatan. Saat Li Anlan menengadahkan kepalanya, dia melihat Long Ji Man tengah berdiri angkuh.
"Selamatkan dia!"
Meskipun terpaksa, akhirnya Li Anlan berenang kembali ke tempatnya jatuh. Tangannya menarik pinggang Si Pakaian Merah dan menyeretnya ke tepian danau. Para wanita yang melihat majikannya selamat berlari menghampiri Li Anlan dan Si Pakaian Merah yang terbatuk-batuk, memuntahkan air yang masuk ke tenggorokannya.
"Yang Mulia, berilah keadilan untukku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
_cloetffny
ga inget hp lu dicuri?
2024-06-01
0
Bzaa
aihhhh si selir
2024-03-26
0
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-01-26
0