Dering alarm di ponsel Li Anlan berbunyi sebanyak tiga kali. Suara nyaring dari benda digital itu membahana lewat udara ke seluruh bagian ruangan dalam Istana Xingyue. Tapi, si pemilik ponsel yang menjadi tujuan utama alarm tersebut masih asyik bergelung di dalam mimpinya.
Xie Roulan berkali-kali menggoyang-goyangkan bahu majikannya yang sedang terlelap. Gadis pelayan itu juga sesekali berteriak sambil mencubit pipi Li Anlan. Tapi, Li Anlan tetap tidak memberi respon apapun, bahkan sekadar membuka mata saja tidak.
"Nyonya, Yang Mulia Raja datang!"
Barulah setelah Xie Roulan membisikkan kalimat tersebut, Li Anlan terbangun dengan wajah panik. Mendengar kata raja, Li Anlan seolah bertemu dengan mimpi buruk yang sesungguhnya. Wanita itu masih bermuka bantal, rambutnya kusut seperti gulungan ijuk.
Sebagai bentuk penghiburan atas terkurungnya Li Anlan di dalam Istana Hongwu tiga hari yang lalu, wanita itu memilih menghabiskan hari dengan bermalas-malasan. Saat bangun ia akan berjemur, mandi, sarapan, bermain games, makan camilan, lalu tidur hingga sore hari. Jika malam tiba, Li Anlan kembali berkemah di halaman Istana Xingyue sambil menyalakan api unggun. Begitu dan begitu terus selama tiga hari berturut-turut.
Sungguh, kehidupannya berjalan seolah tanpa beban. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang mencelanya. Paling penting bagi Li Anlan adalah tidak adanya Long Ji Man. Sejak pertemuan terakhirnya di Istana Hongwu, keduanya belum pernah berjumpa lagi.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Li Anlan pada Xie Roulan.
"Matahari sudah terbenam. Mungkin sebentar lagi malam. Kau akan mandi, nyonya?"
Li Anlan mengangguk.
"Baik. Aku akan menyiapkan air hangatnya."
Li Anlan melangkahkan kakinya menuju jendela kertas yang terbuka. Riak-riak kemerahan di langit sudah mulai berganti dengan pekatnya kegelapan malam. Bintang-bintang yang biasa ia intip lewat teropongnya sudah mulai bermunculan.
Air hangat yang disiapkan Xie Roulan sudah tersedia. Wanita itu segera menceburkan dirinya, menikmati sensasi harum dan hangat yang lagi-lagi membuatnya terlena dan lupa waktu.
Li Anlan menajamkan telinganya ketika sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki yang terkesan buru-buru. Langkah kaki itu berasal dari bagian belakang Istana Xingyue yang berhadapan langsung dengan kawasan hutan istana yang dipenuhi rimbunan pohon wisteria dan pohon willow. Semakin lama, langkah kaki itu menjadi semakin dekat.
Merasa ada yang tidak beres, alarm tanda bahaya dalam diri Li Anlan berbunyi. Nalurinya mengatakan bahwa suara langkah kaki yang banyak itu memiliki maksud dan tujuan yang tidak baik.
Wanita itu melompat keluar dari bak mandi, menarik pakaian dalam berwarna putihnya. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Li Anlan segera melangkah mengendap-endap setelah ia mengenakan pakaiannya dengan sempurna. Di ruangan depan, Xie Roulan sedang berjalan mondar-mandir sambil menautkan kedua tangannya.
"Roulan, kau juga mendengarnya?"
"Nyonya, aku takut."
Li Anlan menarik pergelangan tangan Xie Roulan, mengajaknya mengintip lewat celah jendela kertas. Entah mengapa, atmosfer ruangan dalam Istana Xingyue tiba-tiba berubah mencekam layaknya sebuah tempat eksekusi yang dikelilingi banyak eksekutor.
Dari balik jendela, Li Anlan dan Xie Roulan melihat sekelebat bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Sekumpulan orang tampak sedang berdiskusi di bawah pohon persik yang berdiri congkak menantang langit. Mereka membawa pedang yang sangat tajam. Cahaya remang-remang dari dalam ruangan Istana Xingyue membuat Li Anlan dapat melihat mata mereka yang menyala.
Sekelompok orang itu tiba-tiba melompat ke teras Istana Xingyue dan mendobrak pintu masuk. Li Anlan dan Xie Roulan terpekik, antara terkejut dan takut bercampur menjadi satu. Di balik tirai bambu yang memisahkan ruangan depan dengan kamar utama, sekelompok orang itu tampak mengedarkan pandangan, mencari si penghuni istana.
Li Anlan dan Xie Roulan mundur ke sudut ruangan. Sekelompok orang-orang itu masih mencari keduanya. Tubuh Li Anlan mulai bergetar. Baru kali ini Li Anlan dihadapkan pada situasi berbahaya seperti ini. Para penjahat itu nyata, bukan settingan belaka.
"Mereka di sana!"
Celaka! Orang-orang itu menemukan mereka berdua!
"Nyonya, Anda ingin keluar sendiri atau kami yang memaksamu?"
Bulu kuduk Li Anlan langsung berdiri. Salah seorang diantara para penjahat itu perlahan mendekat. Otak Li Anlan berputar keras, mencari cara untuk melarikan diri. Jika ia berteriak, orang-orang itu pasti akan segera menerjangnya.
"Roulan, pergi cari bantuan! Aku akan mengalihkan perhatian mereka," bisik Li Anlan pada pelayannya.
"Jika aku pergi, bagaimana denganmu? Nyonya, apa kau berani menghadapi mereka seorang diri?"
"Tentu saja tidak berani. Tapi, aku akan berusaha bertahan. Cepat, waktu kita tidak banyak!"
Li Anlan melemparkan sebuah vas bunga kecil yang baru ia beli ke sudut depan ruangan. Suara pecahan vas bunga itu membuat sekelompok orang-orang yang sedang mengepungnya menoleh ke asal suara. Saat itulah, Li Anlan mendorong Xie Roulan keluar dari jendela. Kini, hanya tinggal ia sendiri.
"Nyonya, jika Anda tidak keluar, kami akan merobek tirai ini sekarang juga!"
"Tunggu! Kakak penjahat, aku sedang mandi. Kalian tidak akan mengintip seorang wanita yang sedang telanjang, bukan?"
Perkataan Li Anlan memang aneh. Tapi, pernyataan aneh itu berhasil membuat para penjahat itu mengurungkan langkahnya. Mereka tampak saling berpandangan satu sama lain.
"Baiklah. Karena kami bermoral, kami tidak akan masuk. Cepat, selesaikan mandimu!"
Bermoral? Yang benar saja! Orang bermoral tidak akan menjadi penjahat dan menerobos masuk ke dalam istana seorang selir raja sambil membawa senjata!
Pernyataan para penjahat itu membuat Li Anlan mendapat sebuah pencerahan. Para penjahat ini ternyata sedikit bodoh. Jika mereka pintar, mereka tidak akan meladeni semua omong kosongnya. Jika Li Anlan bisa menipu mereka, peluangnya untuk melarikan diri mungkin jauh lebih besar.
Li Anlan perlahan melangkah keluar. Di depan para penjahat itu, Li Anlan memasang wajah konyolnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari balik bajunya.
"Kakak penjahat, sebelum aku mati, bolehkah aku melihat wajah kalian? Aku ingin menitipkan salam pada raja neraka untuk kalian. Kalian pasti akan sangat terkenal saat mati nanti."
Para penjahat itu kembali saling pandang. Salah seorang diantara mereka tampak ragu, lalu mulai berdiskusi dengan yang lainnya.
"Perkataan wanita itu masuk akal. Kita bisa terkenal jika raja neraka mengenali kita."
Seorang yang lain, yang bertubuh paling tegap dan paling tinggi, membuka penutup wajahnya. Tidak lama kemudian disusul oleh yang lainnya hingga semua wajah para penjahat itu dapat dilihat Li Anlan dengan jelas.
"Kakak penjahat, ingatanku buruk dalam mengenali wajah seseorang. Bagaimana jika aku lupa dan kalian tidak jadi terkenal? Bolehkah aku mengabadikan wajah kalian bersama denganku?"
Belum sempat para penjahat itu menjawab, Li Anlan mengarahkan kamera ponselnya, memotret mereka. Cahaya flash dari kameranya yang berkilat membuat para penjahat itu terkejut. Cahaya itu seperti sebuah kilat tanpa suara.
"Lihat! Wajah kalian ada di sini! Aku bisa mengingat kalian kembali jika aku lupa suatu saat!" ujar Li Anlan sambil memperlihatkan hasil jepretan kamera ponselnya kepada para penjahat itu. Melihat benda pipih aneh yang membuat wajah mereka terlihat tampak sangat nyata dalam waktu cepat, para penjahat menjadi kagum.
"Wah, alat lukis ini sangat hebat!" celetuk salah seorang dari para penjahat itu.
"Cepat, ambil lebih banyak!" seru seorang yang lain.
Alhasil, Li Anlan terpaksa menggunakan kamera ponselnya untuk menuruti permintaan para penjahat itu. Sesekali Li Anlan mengarahkan mereka untuk berpose dalam beberapa gaya. Otak bisnisnya berputar. Jika suatu saat ia kembali ke masa depan, foto-foto penjahat kuno ini pasti akan masuk museum dan membuatnya mendapat banyak uang. Dalam waktu setengah jam, galeri ponsel Li Anlan dipenuhi lima puluh lima foto para penjahat dalam berbagai gaya.
Namun, salah seorang diantara mereka sepertinya mulai menyadari kalau Li Anlan sedang berusaha mengulur waktu dengan mempermainkan mereka, hingga mereka lupa tujuan utamanya menerobos masuk ke dalam Istana Xingyue.
"Nyonya, apakah sekarang kita sudah bisa memulai permainannya?"
Ah, mereka sudah sadar rupanya, batin Li Anlan bersuara.
Xie Roulan masih belum datang. Li Anlan tidak bisa menipu mereka lagi. Kini, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk lepas dan kabur. Otaknya kembali berputar keras. Para penjahat itu mulai berjalan mendekat. Li Anlan melangkah mundur. Tubuhnya bertubrukan dengan dinding. Ia sudah tersudut!
"Lihat! Yang Mulia Raja datang!"
Li Anlan berteriak sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Saat para penjahat itu mengekori arah jari telunjuknya, dia segera melompat keluar dari jendela. Tubuhnya jatuh di atas rerumputan halaman Istana Xingyue yang hijau. Dia segera bangkit, lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan Istana Xingyue.
Saat ia tiba di gerbang depan, dua prajurit penjaga istananya terkapar di tanah dengan mulut berbusa. Li Anlan tidak punya waktu untuk menyelidiki atau melihat lebih jelas keadaan kedua penjaga itu. Dia kembali berlari.
Satu-satunya jalan yang ia kenal adalah jalan ke Danau Houchi. Kaki kecilnya terus membawanya pergi menyusuri jalan yang diterangi cahaya remang-remang. Li Anlan mengutuk tempat yang sangat sepi ini sambil terus berlari. Saat ia menoleh ke belakang, para penjahat itu juga sedang berlari mengejarnya.
"Aku baru saja datang ke tempat ini. Aku tidak pernah menyinggung siapapun. Mengapa mereka terus mengejarku?" Li Anlan bertanya pada dirinya sendiri.
Wanita yang sedang berada dalam bahaya itu tidak menyadari bahwa kecepatannya kian melambat. Sedikit lagi, para penjahat itu menggapai ujung baju belakangnya. Dia berteriak minta tolong, tapi tidak ada siapapun yang mendengarnya.
Li Anlan berlari di atas jembatan Danau Houchi. Di ujung jembatan, Li Anlan berbelok ke kiri. Ia berlari ke arah Istana Hongwu yang para penjaganya kebetulan sedang terlelap sambil berdiri. Tanpa pikir panjang, Li Anlan langsung masuk ke dalam Istana Hongwu.
Long Ji Man yang kebetulan masih terjaga terpekik kaget ketika pintu kamar istana mewahnya tiba-tiba terbuka. Ia yang sedang berbaring tidak sempat memastikan siapa yang begitu berani menerobos kamarnya di tengah malam karena Li Anlan langsung melompat ke tempat tidurnya. Ia hendak berkata, namun Li Anlan menahannya dengan menutup mulut Long Ji Man dengan telapak tangannya.
Keringat yang mengucur di sekujur tubuh Li Anlan membuat Long Ji Man berpikir wanita ini pasti habis berlari. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki dari teras luar istananya sambil berbisik-bisik.
"Cepat! Wanita itu pasti masih ada di sekitar sini!"
"Tapi, ini adalah istana Raja. Bagaimana jika kita ketahuan?"
"Kita akan ketahuan jika kau terus berbicara!"
Li Anlan memejamkan matanya. Rasa takut mulai menjalari seluruh tubuhnya. Dia takut para penjahat itu menyadari kalau ia berada di dalam Istana Hongwu. Dia khawatir para penjahat itu bernyali besar dan berani menerobos masuk ke dalam kamar raja.
Lama kelamaan, suara bisik-bisik dan langkah para penjahat itu menghilang. Setelah semuanya dirasa aman, Li Anlan bangkit dan turun dari tempat tidur Long Ji Man. Wanita itu menegakkan badannya sambil berusaha menenangkan detak jantungnya.
"Mengapa mereka mengejarmu?" Long Ji Man ikut bangkit.
"Mana aku tahu! Aku tidak pernah menyinggung siapapun!"
Li Anlan masih berusaha menormalkan napas. Wanita itu meneguk air dingin di meja Long Ji Man tanpa permisi pada pemiliknya.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja? Beberapa penyusup masuk ke istana beberapa saat lalu," teriak Xiao Biqi dari luar. Kasim itu baru saja kembali dari tandas.
"Ya."
Long Ji Man duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, Li Anlan juga sedang duduk. Napas dan detak jantungnya mulai kembali normal. Keringat di dahi, wajah, kaki, dan tangannya mulai berkurang.
"Jangan kembali ke Istana Xingyue. Mereka mungkin masih ada di sana."
"Tapi, pelayanku mungkin sudah kembali, bagaimana jika ia mencariku?"
"Aku akan menyuruh seseorang untuk memberitahunya."
"Sungguh?"
"Apa aku terlihat sedang berbohong?"
"Tidak."
Li Anlan kembali meneguk segelas air dingin.
"Penjahat kelas teri yang bodoh itu hampir membuat jantungku berhenti berdetak. Sialan!"
Umpatan kasar yang keluar dari mulit Li Anlan mau tak mau memancing rasa penasaran Long Ji Man. Raja Dongling itu menegakkan tubuhnya.
"Berapa jumlah mereka?"
"Lima orang."
"Sejak kapan mereka mengejarmu?"
"Sejak aku berada di dalam bak mandi. Suara langkah kaki mereka mengganggu telingaku."
Long Ji Man sedikit terkejut.
"Yang Mulia, aku tidak pernah menyinggung siapapun. Aku juga tidak mengenal banyak orang di sini. Mengapa mereka mengejarku?"
"Apa saat kau keluar dari sini tiga hari lalu, kau berpapasan dengan seorang selir yang lain?"
Li Anlan berusaha mengingat.
"Tidak."
"Besok sebelum fajar, kau sudah harus kembali ke Istana Xingyue!"
Li Anlan merebahkan tubuhnya di tempat tidur Long Ji Man.
"Aku tidak mengatakan kalau kau boleh tidur di ranjangku," ujar Long Ji Man.
"Yang Mulia, menolong orang itu tidak boleh setengah-setengah."
"Tapi, ini adalah tempat tidur raja!"
"Yang Mulia, siapa aku?"
"Seorang selir."
"Apa aku adalah istrimu?"
"Mungkin."
"Jadi, karena aku adalah istrimu, aku boleh tidur di sini."
"Tidak, ranjang ini milikku. Li Anlan, cepat turun!"
"Yang Mulia, aku sudah berbaik hati menyelamatkanmu dan mengobati luka-lukamu. Kali ini, kau juga harus berbaik hati padaku."
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
udh mau tidur aja pdhl wktu mandi Bru bangun tidur dn juga Bru matahari terbenam alias mgrib bukn..
2025-02-16
0
Murni Murniati
mgkn yg bertmu itu plyan selirnya, mknya mereka ingin melenyapkan nya
2025-01-30
0
Sri Mulyaningsih
penjahat yang sopan dan beretika 🤣
2025-02-23
0