Eps. 11: Penjahat Kelas Teri

Dering alarm di ponsel Li Anlan berbunyi sebanyak tiga kali. Suara nyaring dari benda digital itu membahana lewat udara ke seluruh bagian ruangan dalam Istana Xingyue. Tapi, si pemilik ponsel yang menjadi tujuan utama alarm tersebut masih asyik bergelung di dalam mimpinya.

Xie Roulan berkali-kali menggoyang-goyangkan bahu majikannya yang sedang terlelap. Gadis pelayan itu juga sesekali berteriak sambil mencubit pipi Li Anlan. Tapi, Li Anlan tetap tidak memberi respon apapun, bahkan sekadar membuka mata saja tidak.

"Nyonya, Yang Mulia Raja datang!"

Barulah setelah Xie Roulan membisikkan kalimat tersebut, Li Anlan terbangun dengan wajah panik. Mendengar kata raja, Li Anlan seolah bertemu dengan mimpi buruk yang sesungguhnya. Wanita itu masih bermuka bantal, rambutnya kusut seperti gulungan ijuk.

Sebagai bentuk penghiburan atas terkurungnya Li Anlan di dalam Istana Hongwu tiga hari yang lalu, wanita itu memilih menghabiskan hari dengan bermalas-malasan. Saat bangun ia akan berjemur, mandi, sarapan, bermain games, makan camilan, lalu tidur hingga sore hari. Jika malam tiba, Li Anlan kembali berkemah di halaman Istana Xingyue sambil menyalakan api unggun. Begitu dan begitu terus selama tiga hari berturut-turut.

Sungguh, kehidupannya berjalan seolah tanpa beban. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang mencelanya. Paling penting bagi Li Anlan adalah tidak adanya Long Ji Man. Sejak pertemuan terakhirnya di Istana Hongwu, keduanya belum pernah berjumpa lagi.

"Pukul berapa sekarang?" tanya Li Anlan pada Xie Roulan.

"Matahari sudah terbenam. Mungkin sebentar lagi malam. Kau akan mandi, nyonya?"

Li Anlan mengangguk.

"Baik. Aku akan menyiapkan air hangatnya."

Li Anlan melangkahkan kakinya menuju jendela kertas yang terbuka. Riak-riak kemerahan di langit sudah mulai berganti dengan pekatnya kegelapan malam. Bintang-bintang yang biasa ia intip lewat teropongnya sudah mulai bermunculan.

Air hangat yang disiapkan Xie Roulan sudah tersedia. Wanita itu segera menceburkan dirinya, menikmati sensasi harum dan hangat yang lagi-lagi membuatnya terlena dan lupa waktu.

Li Anlan menajamkan telinganya ketika sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki yang terkesan buru-buru. Langkah kaki itu berasal dari bagian belakang Istana Xingyue yang berhadapan langsung dengan kawasan hutan istana yang dipenuhi rimbunan pohon wisteria dan pohon willow. Semakin lama, langkah kaki itu menjadi semakin dekat.

Merasa ada yang tidak beres, alarm tanda bahaya dalam diri Li Anlan berbunyi. Nalurinya mengatakan bahwa suara langkah kaki yang banyak itu memiliki maksud dan tujuan yang tidak baik.

Wanita itu melompat keluar dari bak mandi, menarik pakaian dalam berwarna putihnya. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Li Anlan segera melangkah mengendap-endap setelah ia mengenakan pakaiannya dengan sempurna. Di ruangan depan, Xie Roulan sedang berjalan mondar-mandir sambil menautkan kedua tangannya.

"Roulan, kau juga mendengarnya?"

"Nyonya, aku takut."

Li Anlan menarik pergelangan tangan Xie Roulan, mengajaknya mengintip lewat celah jendela kertas. Entah mengapa, atmosfer ruangan dalam Istana Xingyue tiba-tiba berubah mencekam layaknya sebuah tempat eksekusi yang dikelilingi banyak eksekutor.

Dari balik jendela, Li Anlan dan Xie Roulan melihat sekelebat bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Sekumpulan orang tampak sedang berdiskusi di bawah pohon persik yang berdiri congkak menantang langit. Mereka membawa pedang yang sangat tajam. Cahaya remang-remang dari dalam ruangan Istana Xingyue membuat Li Anlan dapat melihat mata mereka yang menyala.

Sekelompok orang itu tiba-tiba melompat ke teras Istana Xingyue dan mendobrak pintu masuk. Li Anlan dan Xie Roulan terpekik, antara terkejut dan takut bercampur menjadi satu. Di balik tirai bambu yang memisahkan ruangan depan dengan kamar utama, sekelompok orang itu tampak mengedarkan pandangan, mencari si penghuni istana.

Li Anlan dan Xie Roulan mundur ke sudut ruangan. Sekelompok orang-orang itu masih mencari keduanya. Tubuh Li Anlan mulai bergetar. Baru kali ini Li Anlan dihadapkan pada situasi berbahaya seperti ini. Para penjahat itu nyata, bukan settingan belaka.

"Mereka di sana!"

Celaka! Orang-orang itu menemukan mereka berdua!

"Nyonya, Anda ingin keluar sendiri atau kami yang memaksamu?"

Bulu kuduk Li Anlan langsung berdiri. Salah seorang diantara para penjahat itu perlahan mendekat. Otak Li Anlan berputar keras, mencari cara untuk melarikan diri. Jika ia berteriak, orang-orang itu pasti akan segera menerjangnya.

"Roulan, pergi cari bantuan! Aku akan mengalihkan perhatian mereka," bisik Li Anlan pada pelayannya.

"Jika aku pergi, bagaimana denganmu? Nyonya, apa kau berani menghadapi mereka seorang diri?"

"Tentu saja tidak berani. Tapi, aku akan berusaha bertahan. Cepat, waktu kita tidak banyak!"

Li Anlan melemparkan sebuah vas bunga kecil yang baru ia beli ke sudut depan ruangan. Suara pecahan vas bunga itu membuat sekelompok orang-orang yang sedang mengepungnya menoleh ke asal suara. Saat itulah, Li Anlan mendorong Xie Roulan keluar dari jendela. Kini, hanya tinggal ia sendiri.

"Nyonya, jika Anda tidak keluar, kami akan merobek tirai ini sekarang juga!"

"Tunggu! Kakak penjahat, aku sedang mandi. Kalian tidak akan mengintip seorang wanita yang sedang telanjang, bukan?"

Perkataan Li Anlan memang aneh. Tapi, pernyataan aneh itu berhasil membuat para penjahat itu mengurungkan langkahnya. Mereka tampak saling berpandangan satu sama lain.

"Baiklah. Karena kami bermoral, kami tidak akan masuk. Cepat, selesaikan mandimu!"

Bermoral? Yang benar saja! Orang bermoral tidak akan menjadi penjahat dan menerobos masuk ke dalam istana seorang selir raja sambil membawa senjata!

Pernyataan para penjahat itu membuat Li Anlan mendapat sebuah pencerahan. Para penjahat ini ternyata sedikit bodoh. Jika mereka pintar, mereka tidak akan meladeni semua omong kosongnya. Jika Li Anlan bisa menipu mereka, peluangnya untuk melarikan diri mungkin jauh lebih besar.

Li Anlan perlahan melangkah keluar. Di depan para penjahat itu, Li Anlan memasang wajah konyolnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari balik bajunya.

"Kakak penjahat, sebelum aku mati, bolehkah aku melihat wajah kalian? Aku ingin menitipkan salam pada raja neraka untuk kalian. Kalian pasti akan sangat terkenal saat mati nanti."

Para penjahat itu kembali saling pandang. Salah seorang diantara mereka tampak ragu, lalu mulai berdiskusi dengan yang lainnya.

"Perkataan wanita itu masuk akal. Kita bisa terkenal jika raja neraka mengenali kita."

Seorang yang lain, yang bertubuh paling tegap dan paling tinggi, membuka penutup wajahnya. Tidak lama kemudian disusul oleh yang lainnya hingga semua wajah para penjahat itu dapat dilihat Li Anlan dengan jelas.

"Kakak penjahat, ingatanku buruk dalam mengenali wajah seseorang. Bagaimana jika aku lupa dan kalian tidak jadi terkenal? Bolehkah aku mengabadikan wajah kalian bersama denganku?"

Belum sempat para penjahat itu menjawab, Li Anlan mengarahkan kamera ponselnya, memotret mereka. Cahaya flash dari kameranya yang berkilat membuat para penjahat itu terkejut. Cahaya itu seperti sebuah kilat tanpa suara.

"Lihat! Wajah kalian ada di sini! Aku bisa mengingat kalian kembali jika aku lupa suatu saat!" ujar Li Anlan sambil memperlihatkan hasil jepretan kamera ponselnya kepada para penjahat itu. Melihat benda pipih aneh yang membuat wajah mereka terlihat tampak sangat nyata dalam waktu cepat, para penjahat menjadi kagum.

"Wah, alat lukis ini sangat hebat!" celetuk salah seorang dari para penjahat itu.

"Cepat, ambil lebih banyak!" seru seorang yang lain.

Alhasil, Li Anlan terpaksa menggunakan kamera ponselnya untuk menuruti permintaan para penjahat itu. Sesekali Li Anlan mengarahkan mereka untuk berpose dalam beberapa gaya. Otak bisnisnya berputar. Jika suatu saat ia kembali ke masa depan, foto-foto penjahat kuno ini pasti akan masuk museum dan membuatnya mendapat banyak uang. Dalam waktu setengah jam, galeri ponsel Li Anlan dipenuhi lima puluh lima foto para penjahat dalam berbagai gaya.

Namun, salah seorang diantara mereka sepertinya mulai menyadari kalau Li Anlan sedang berusaha mengulur waktu dengan mempermainkan mereka, hingga mereka lupa tujuan utamanya menerobos masuk ke dalam Istana Xingyue.

"Nyonya, apakah sekarang kita sudah bisa memulai permainannya?"

Ah, mereka sudah sadar rupanya, batin Li Anlan bersuara.

Xie Roulan masih belum datang. Li Anlan tidak bisa menipu mereka lagi. Kini, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk lepas dan kabur. Otaknya kembali berputar keras. Para penjahat itu mulai berjalan mendekat. Li Anlan melangkah mundur. Tubuhnya bertubrukan dengan dinding. Ia sudah tersudut!

"Lihat! Yang Mulia Raja datang!"

Li Anlan berteriak sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Saat para penjahat itu mengekori arah jari telunjuknya, dia segera melompat keluar dari jendela. Tubuhnya jatuh di atas rerumputan halaman Istana Xingyue yang hijau. Dia segera bangkit, lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan Istana Xingyue.

Saat ia tiba di gerbang depan, dua prajurit penjaga istananya terkapar di tanah dengan mulut berbusa. Li Anlan tidak punya waktu untuk menyelidiki atau melihat lebih jelas keadaan kedua penjaga itu. Dia kembali berlari.

Satu-satunya jalan yang ia kenal adalah jalan ke Danau Houchi. Kaki kecilnya terus membawanya pergi menyusuri jalan yang diterangi cahaya remang-remang. Li Anlan mengutuk tempat yang sangat sepi ini sambil terus berlari. Saat ia menoleh ke belakang, para penjahat itu juga sedang berlari mengejarnya.

"Aku baru saja datang ke tempat ini. Aku tidak pernah menyinggung siapapun. Mengapa mereka terus mengejarku?" Li Anlan bertanya pada dirinya sendiri.

Wanita yang sedang berada dalam bahaya itu tidak menyadari bahwa kecepatannya kian melambat. Sedikit lagi, para penjahat itu menggapai ujung baju belakangnya. Dia berteriak minta tolong, tapi tidak ada siapapun yang mendengarnya.

Li Anlan berlari di atas jembatan Danau Houchi. Di ujung jembatan, Li Anlan berbelok ke kiri. Ia berlari ke arah Istana Hongwu yang para penjaganya kebetulan sedang terlelap sambil berdiri. Tanpa pikir panjang, Li Anlan langsung masuk ke dalam Istana Hongwu.

Long Ji Man yang kebetulan masih terjaga terpekik kaget ketika pintu kamar istana mewahnya tiba-tiba terbuka. Ia yang sedang berbaring tidak sempat memastikan siapa yang begitu berani menerobos kamarnya di tengah malam karena Li Anlan langsung melompat ke tempat tidurnya. Ia hendak berkata, namun Li Anlan menahannya dengan menutup mulut Long Ji Man dengan telapak tangannya.

Keringat yang mengucur di sekujur tubuh Li Anlan membuat Long Ji Man berpikir wanita ini pasti habis berlari. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki dari teras luar istananya sambil berbisik-bisik.

"Cepat! Wanita itu pasti masih ada di sekitar sini!"

"Tapi, ini adalah istana Raja. Bagaimana jika kita ketahuan?"

"Kita akan ketahuan jika kau terus berbicara!"

Li Anlan memejamkan matanya. Rasa takut mulai menjalari seluruh tubuhnya. Dia takut para penjahat itu menyadari kalau ia berada di dalam Istana Hongwu. Dia khawatir para penjahat itu bernyali besar dan berani menerobos masuk ke dalam kamar raja.

Lama kelamaan, suara bisik-bisik dan langkah para penjahat itu menghilang. Setelah semuanya dirasa aman, Li Anlan bangkit dan turun dari tempat tidur Long Ji Man. Wanita itu menegakkan badannya sambil berusaha menenangkan detak jantungnya.

"Mengapa mereka mengejarmu?" Long Ji Man ikut bangkit.

"Mana aku tahu! Aku tidak pernah menyinggung siapapun!"

Li Anlan masih berusaha menormalkan napas. Wanita itu meneguk air dingin di meja Long Ji Man tanpa permisi pada pemiliknya.

"Yang Mulia, Anda baik-baik saja? Beberapa penyusup masuk ke istana beberapa saat lalu," teriak Xiao Biqi dari luar. Kasim itu baru saja kembali dari tandas.

"Ya."

Long Ji Man duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, Li Anlan juga sedang duduk. Napas dan detak jantungnya mulai kembali normal. Keringat di dahi, wajah, kaki, dan tangannya mulai berkurang.

"Jangan kembali ke Istana Xingyue. Mereka mungkin masih ada di sana."

"Tapi, pelayanku mungkin sudah kembali, bagaimana jika ia mencariku?"

"Aku akan menyuruh seseorang untuk memberitahunya."

"Sungguh?"

"Apa aku terlihat sedang berbohong?"

"Tidak."

Li Anlan kembali meneguk segelas air dingin.

"Penjahat kelas teri yang bodoh itu hampir membuat jantungku berhenti berdetak. Sialan!"

Umpatan kasar yang keluar dari mulit Li Anlan mau tak mau memancing rasa penasaran Long Ji Man. Raja Dongling itu menegakkan tubuhnya.

"Berapa jumlah mereka?"

"Lima orang."

"Sejak kapan mereka mengejarmu?"

"Sejak aku berada di dalam bak mandi. Suara langkah kaki mereka mengganggu telingaku."

Long Ji Man sedikit terkejut.

"Yang Mulia, aku tidak pernah menyinggung siapapun. Aku juga tidak mengenal banyak orang di sini. Mengapa mereka mengejarku?"

"Apa saat kau keluar dari sini tiga hari lalu, kau berpapasan dengan seorang selir yang lain?"

Li Anlan berusaha mengingat.

"Tidak."

"Besok sebelum fajar, kau sudah harus kembali ke Istana Xingyue!"

Li Anlan merebahkan tubuhnya di tempat tidur Long Ji Man.

"Aku tidak mengatakan kalau kau boleh tidur di ranjangku," ujar Long Ji Man.

"Yang Mulia, menolong orang itu tidak boleh setengah-setengah."

"Tapi, ini adalah tempat tidur raja!"

"Yang Mulia, siapa aku?"

"Seorang selir."

"Apa aku adalah istrimu?"

"Mungkin."

"Jadi, karena aku adalah istrimu, aku boleh tidur di sini."

"Tidak, ranjang ini milikku. Li Anlan, cepat turun!"

"Yang Mulia, aku sudah berbaik hati menyelamatkanmu dan mengobati luka-lukamu. Kali ini, kau juga harus berbaik hati padaku."

...***...

Terpopuler

Comments

Khoerun Nisa

Khoerun Nisa

udh mau tidur aja pdhl wktu mandi Bru bangun tidur dn juga Bru matahari terbenam alias mgrib bukn..

2025-02-16

0

Murni Murniati

Murni Murniati

mgkn yg bertmu itu plyan selirnya, mknya mereka ingin melenyapkan nya

2025-01-30

0

Sri Mulyaningsih

Sri Mulyaningsih

penjahat yang sopan dan beretika 🤣

2025-02-23

0

lihat semua
Episodes
1 Eps. 1: Li Anlan di Negeri Ajaib
2 Eps. 2: Identitas Selir
3 Eps. 3: Selir Miskin
4 Eps. 4: Raja Dongling
5 Eps. 5: Mencari Sistem
6 Eps. 6: Berkemah
7 Eps. 7: Hadiah Kematian
8 Eps. 8: Menjahit Luka
9 Eps. 9: Bertemu Raja Tampan
10 Eps. 10: Terjebak di Bawah Kaki Raja
11 Eps. 11: Penjahat Kelas Teri
12 Eps. 12: Pemain Payah
13 Eps. 13: Pemalas Berkelas
14 Eps. 14: Bertemu Pengganggu
15 Eps. 15: Drama
16 Eps. 16: Mencari Cara
17 Eps. 17: Surat untuk Kakak Tercinta
18 Eps. 18: Long Ji Man Menjadi Juara Pertama
19 Eps. 19: Lelucon
20 Eps. 20: Li Bersaudara
21 Eps. 21: Saudara Kaya
22 Eps. 22: Pencuri
23 Eps. 23: Menanti Hari Baik
24 Eps. 24: Berani Coba-Coba
25 Eps. 25: Merasa Kecewa
26 Eps. 26: Hukuman untuk Li Anlan
27 Eps. 27: Salah Paham
28 Eps. 28: Panahan
29 Eps. 29: Surat Rahasia
30 Eps. 30: Merancang Tujuan
31 Eps. 31: Teringat Kembali
32 Eps. 32: BBQ
33 Eps. 33: Tidak Sengaja
34 Eps. 34: Ganti Rugi
35 Eps. 35: Perampokan Legal
36 Eps. 36: Bertemu Pangeran Kecil
37 Eps. 37: Berkunjung ke Akademi Kerajaan
38 Eps. 38: Mengajarkan Hal Baru
39 Eps. 39: Long Ji Man Si Wajah Batu
40 Eps. 40: Elang Itu Adalah Milikku!
41 Eps. 41: Disalahpahami
42 Eps. 42: Tuan Muda
43 Eps. 43: Persalinan Menegangkan
44 Eps. 44: Panti Asuhan
45 Eps. 45: Pertarungan Sengit
46 Eps. 46: Tangan yang Ternoda
47 Eps. 47: Perjamuan Ibu Suri
48 Eps. 48: Li Anlan Juara Bertahan
49 Eps. 49: Antara Bencana dan Berita Bahagia
50 Eps. 50: Negosiasi
51 Eps. 51: Hari Penobatan
52 Eps. 52: Tugas Pertama
53 Eps. 53: Seseorang yang Belum Dapat Diterima
54 Eps. 54: Fotografer Zaman Kuno
55 Eps. 55: Tertawa dalam Derita
56 Eps. 56: Tertinggal
57 Eps. 57: Kartu Nama
58 Eps. 58: Penculikan
59 Eps. 59: Pencarian
60 Eps. 60: Misi Menyelamatkan Istri
61 Eps. 61: Pecah Telur
62 Eps. 62: Menantuku!
63 Eps. 63: Bercerita
64 Eps. 64: Hukuman untuk Orang Jahat
65 Eps. 65: Buku
66 Eps. 66: Surat Nikah
67 Eps. 67: Malam Pengantin
68 Eps. 68: Sebuah Pernyataan
69 Eps. 69: Bencana Tidak Terduga
70 Eps. 70: Mengembalikan Teror
71 Eps. 71: Datang Satu Gugur Empat
72 Eps. 72: Ujian Akademi Kerajaan
73 Eps. 73: Tempat Aneh
74 Eps. 74: Wisma Gunung Feiyun
75 Eps. 75: Keinginan Ibu Suri
76 Eps. 76: Ular Berbisa
77 Eps. 77: Jati Diri
78 Eps. 78: Jebakan
79 Eps. 79: Kau Tidak Boleh Pergi!
80 Eps. 80: Mencari Jiwa
81 Eps. 81: Dunia Lain
82 Eps. 82: Mencoba Segala Cara
83 Eps. 83: Terlalu Lama Pergi
84 Eps. 84: Berdamai dengan Masa Depan
85 Eps. 85: Menyusun Strategi
86 Eps. 86: Orang Gila yang Sesungguhnya
87 Eps. 87: Kisah Pilu Sang Permaisuri
88 Eps. 88: Topeng
89 Eps. 89: Kebingungan
90 Eps. 90: Orang Tidak Bertanggung Jawab
91 Eps. 91: Buronan
92 Eps. 92: Perburuan Seru
93 Eps. 93: Kemenangan Mutlak
94 Eps. 94: Hukuman Untuk Orang Jahat
95 Eps. 95: MoU
96 Eps. 96: Penobatan
97 Eps. 97: Malam Pernikahan
98 Eps. 98: Pembebasan
99 Eps. 99: Kelahiran Putra
100 Eps. 100: Episode Akhir
101 PEMBERITAHUAN
102 PEMBERITAHUAN 2
103 PENGUMUMAN
104 PENGUMUMAN BARU
105 EXTRA PART
106 Halo!
107 PERMISIII!!!
108 Mampir, Yuk!
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Eps. 1: Li Anlan di Negeri Ajaib
2
Eps. 2: Identitas Selir
3
Eps. 3: Selir Miskin
4
Eps. 4: Raja Dongling
5
Eps. 5: Mencari Sistem
6
Eps. 6: Berkemah
7
Eps. 7: Hadiah Kematian
8
Eps. 8: Menjahit Luka
9
Eps. 9: Bertemu Raja Tampan
10
Eps. 10: Terjebak di Bawah Kaki Raja
11
Eps. 11: Penjahat Kelas Teri
12
Eps. 12: Pemain Payah
13
Eps. 13: Pemalas Berkelas
14
Eps. 14: Bertemu Pengganggu
15
Eps. 15: Drama
16
Eps. 16: Mencari Cara
17
Eps. 17: Surat untuk Kakak Tercinta
18
Eps. 18: Long Ji Man Menjadi Juara Pertama
19
Eps. 19: Lelucon
20
Eps. 20: Li Bersaudara
21
Eps. 21: Saudara Kaya
22
Eps. 22: Pencuri
23
Eps. 23: Menanti Hari Baik
24
Eps. 24: Berani Coba-Coba
25
Eps. 25: Merasa Kecewa
26
Eps. 26: Hukuman untuk Li Anlan
27
Eps. 27: Salah Paham
28
Eps. 28: Panahan
29
Eps. 29: Surat Rahasia
30
Eps. 30: Merancang Tujuan
31
Eps. 31: Teringat Kembali
32
Eps. 32: BBQ
33
Eps. 33: Tidak Sengaja
34
Eps. 34: Ganti Rugi
35
Eps. 35: Perampokan Legal
36
Eps. 36: Bertemu Pangeran Kecil
37
Eps. 37: Berkunjung ke Akademi Kerajaan
38
Eps. 38: Mengajarkan Hal Baru
39
Eps. 39: Long Ji Man Si Wajah Batu
40
Eps. 40: Elang Itu Adalah Milikku!
41
Eps. 41: Disalahpahami
42
Eps. 42: Tuan Muda
43
Eps. 43: Persalinan Menegangkan
44
Eps. 44: Panti Asuhan
45
Eps. 45: Pertarungan Sengit
46
Eps. 46: Tangan yang Ternoda
47
Eps. 47: Perjamuan Ibu Suri
48
Eps. 48: Li Anlan Juara Bertahan
49
Eps. 49: Antara Bencana dan Berita Bahagia
50
Eps. 50: Negosiasi
51
Eps. 51: Hari Penobatan
52
Eps. 52: Tugas Pertama
53
Eps. 53: Seseorang yang Belum Dapat Diterima
54
Eps. 54: Fotografer Zaman Kuno
55
Eps. 55: Tertawa dalam Derita
56
Eps. 56: Tertinggal
57
Eps. 57: Kartu Nama
58
Eps. 58: Penculikan
59
Eps. 59: Pencarian
60
Eps. 60: Misi Menyelamatkan Istri
61
Eps. 61: Pecah Telur
62
Eps. 62: Menantuku!
63
Eps. 63: Bercerita
64
Eps. 64: Hukuman untuk Orang Jahat
65
Eps. 65: Buku
66
Eps. 66: Surat Nikah
67
Eps. 67: Malam Pengantin
68
Eps. 68: Sebuah Pernyataan
69
Eps. 69: Bencana Tidak Terduga
70
Eps. 70: Mengembalikan Teror
71
Eps. 71: Datang Satu Gugur Empat
72
Eps. 72: Ujian Akademi Kerajaan
73
Eps. 73: Tempat Aneh
74
Eps. 74: Wisma Gunung Feiyun
75
Eps. 75: Keinginan Ibu Suri
76
Eps. 76: Ular Berbisa
77
Eps. 77: Jati Diri
78
Eps. 78: Jebakan
79
Eps. 79: Kau Tidak Boleh Pergi!
80
Eps. 80: Mencari Jiwa
81
Eps. 81: Dunia Lain
82
Eps. 82: Mencoba Segala Cara
83
Eps. 83: Terlalu Lama Pergi
84
Eps. 84: Berdamai dengan Masa Depan
85
Eps. 85: Menyusun Strategi
86
Eps. 86: Orang Gila yang Sesungguhnya
87
Eps. 87: Kisah Pilu Sang Permaisuri
88
Eps. 88: Topeng
89
Eps. 89: Kebingungan
90
Eps. 90: Orang Tidak Bertanggung Jawab
91
Eps. 91: Buronan
92
Eps. 92: Perburuan Seru
93
Eps. 93: Kemenangan Mutlak
94
Eps. 94: Hukuman Untuk Orang Jahat
95
Eps. 95: MoU
96
Eps. 96: Penobatan
97
Eps. 97: Malam Pernikahan
98
Eps. 98: Pembebasan
99
Eps. 99: Kelahiran Putra
100
Eps. 100: Episode Akhir
101
PEMBERITAHUAN
102
PEMBERITAHUAN 2
103
PENGUMUMAN
104
PENGUMUMAN BARU
105
EXTRA PART
106
Halo!
107
PERMISIII!!!
108
Mampir, Yuk!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!