“Jadi, aku adalah seorang selir?”
Pelayan wanita bernama Xie Roulan menganggukkan kepalanya. Li Anlan menatap Xie Roulan dengan tajam. Wanita itu masih tidak bisa mempercayai siapapun di sini. Tidak ada satu orang pun yang dia kenal. Meskipun Li Anlan bukan seorang psikolog, dia tahu bahwa Xie Roulan tidak berbohong. Gadis pelayan itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Li Anlan mengibur dirinya sendiri dengan gagasan bahwa ia melakukan perjalanan waktu dan terlahir kembali. Tapi, mengapa ia harus terlahir menjadi seorang selir? Apalagi ia adalah seorang selir yang tidak pernah dipandang. Bahkan, menurut cerita Xie Roulan, dirinya tidak pernah bertemu dengan raja sejak kedatangannya ke istana ini dua tahun lalu. Ia benar-benar berada dalam situasi abandonemen!
Wanita itu selalu berpikir jika dirinya terlahir kembali, ia akan menjadi seorang presiden direktur sebuah perusahaan atau anak kesayangan konglomerat hingga dirinya tidak perlu bersusah payah bekerja dan dapat bermalas-malasan sepanjang waktu. Tampaknya, harapan itu sudah pupus.
“Ckck… Selir ini benar-benar hidup kesepian.”
“Nyonya, apa Nyonya mengatai diri sendiri?”
Pelayan ini terlalu banyak berbicara. Li Anlan belum dapat menerima kenyataan bahwa ia terdampar di sebuah negeri antah berantah di zaman kuno. Li Anlan tidak dapat membayangkan betapa sulitnya hidup di zaman seperti ini. Apalagi statusnya adalah seorang selir tingkat rendah yang tidak pernah dipandang. Bahkan mungkin keberadaannya pun tidak banyak diketahui.
Li Anlan sering membaca novel fiksi sejarah dan drama zaman kerajaan. Alur yang hampir sama dengan setting yang berbeda sudah dihafal Li Anlan di luar kepala. Jika seorang selir tidak mati di tangan selir lain, maka ia mati di tangan rajanya sendiri. Segala tindak-tanduknya selalu berada dalam pengawasan mata orang lain. Li Anlan khawatir nasib buruk selir-selir dalam novel dan drama itu menimpa dirinya. Li Anlan tidak mau mati lagi
“Katakan, kenapa aku sudah mati?”
“Nyonya tenggelam di Danau Houchi ketika sedang memetik bunga lotus.”
Jatuh tenggelam karena kesalahan sendiri adalah cara kematian paling konyol di dunia. Li Anlan di masa lalu benar-benar bodoh! Bagaimana bisa seorang gadis modern pemberani yang sudah menaklukan puluhan gunung dan perbukitan menjadi seorang selir yang bahkan tidak bisa berhati-hati pada keselamatan dirinya sendiri.
“Siapa yang menemukanku?”
“Para penjaga istana yang kebetulan sedang lewat, Nyonya. Mereka langsung mengangkatmu keluar dari danau itu.”
“Apa aku membawa sesuatu?”
Xie Roulan menggelengkan kepalanya.
“Tabib Tao berkata bahwa denyut nadimu hilang dan kau dinyatakan meninggal. Tapi secara ajaib kau bangun kembali. Aku benar-benar senang!”
Li Anlan menahan tubuh Xie Roulan yang hendak memeluknya. Li Anlan lalu menyuruhnya keluar dari dalam kamarnya. Pelayan itu menurut tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah Xie Roulan tidak ada, Li Anlan membaringkan tubuhnya di ranjang yang ditutupi kelambu berwarna biru muda.
Otaknya berputar keras. Jika ia datang dari danau, maka seharusnya ransel gunungnya juga masih ada di sana. Xie Roulan berkata bahwa saat itu dirinya ditemukan sudah mengapung di permukaan air dengan bibir membiru dan wajah pias. Li Anlan yakin bahwa jiwanya tidak merasuki atau bertukar tubuh dengan Li Anlan di dunia ini. Ia yakin dirinya datang dengan tubuh utuh bersama barang bawaannya.
Li Anlan menyelinap keluar dari Istana Xingyue. Halaman istana yang tidak cukup luas ini menjadi sepi di malam hari. Li Anlan mengendap-endap menuju pintu gerbang. Di sana, ia melihat dua orang prajurit sedang berjaga. Nyalinya menciut melihat tombak yang dipegang dua penjaga itu.
Li Anlan berteriak kaget ketika seseorang menepuk bahunya. Saat ia menoleh, Xie Roulan berdiri sambil menggesek matanya dengan jari tangan.
“Nyonya mau ke mana?”
“Aku… Aku ingin jalan-jalan ke danau istana.”
“Oh. Mari aku antar.”
Tanpa diperintah atau menunggu persetujuan, Xie Roulan berjalan mendahului Li Anlan. Ketika dua penjaga gerbang itu bertanya, Xie Roulan berkata bahwa nyonyanya ingin berjalan-jalan. Kedua penjaga itu lalu mempersilahkan Li Anlan dan Xie Roulan pergi.
Li Anlan menyusuri pelataran istana yang dihiasi bunga-bunga dan batu-batu kecil. Li Anlan tidak tahu ia berjalan ke arah mana sekarang. Li Anlan hanya harus mengikuti Xie Roulan jika ia tidak ingin tersesat. Li Anlan sekilas seperti seorang budak yang mengikuti majikannya. Jika ada orang lain yang melihatnya, Li Anlan mungkin sudah menjadi bahan tertawaan.
Sebuah danau yang indah ditumbuhi teratai menyapu pandangan mata Li Anlan. Di seberang danau ini, sebuah bangunan yang lebih megah dari istananya berdiri dengan koko di bawah cahaya bulan. Bangunan itu begitu bersinar dengan gemerlap keemasan yang terpantul dari atas permukaan air.
“Itu apa?” tanyanya sambil menunjuk bangunan megah itu.
“Nyonya, Anda lupa? Itu adalah Istana Hongwu, kediaman pribadi Yang Mulia Raja.”
Li Anlan hendak bertanya siapakah nama rajanya. Tapi, pertanyaan itu urung ia lontarkan karena ia tahu di zaman kerajaan seperti ini, menyebutkan nama raja adalah hal terlarang dan siapapun yang berani melanggar akan dihukum. Larangan tersebut berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali keluarga kerajaan sendiri, termasuk ibu dan ayah kandung raja sendiri.
Lupakan soal siapa rajanya. Li Anlan perlu menyelam ke dalam air untuk menemukan barang-barangnya yang hilang. Melihat danau yang begitu luas ini, nyali Li Anlan sedikit menciut. Dengan pakaian yang dikenakannya sekarang, dia akan sulit bergerak di dalam air. Terlebih lagi, Xie Roulan terus menerus mengawasinya dari samping. Pelayan itu pasti tidak akan membiarkannya jatuh ke air.
Untuk mengusir Xie Roulan, Li Anlan memerlukan sebuah alasan. Wanita itu lalu menyuruhnya pergi dengan alasan bahwa dirinya ingin menikmati waktu seorang diri. Xie Roulan tampak keberatan. Li Anlan meyakinkan gadis pelayan itu sekali lagi. Akhirnya, Xie Roulan meninggalkan Li Anlan sendirian
Li Anlan melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada siapapun yang lewat atau mengawasinya. Ia melepaskan pakaiannya hingga tersisa pakaian pembungkus tubuh berwarna putih yang tipis. Li Anlan dapat merasakan hawa dingin menembus kulitnya. Tapi, itu tidaklah penting. Sebagai seorang pendaki, ia tidak perlu khawatir akan sakit hanya karena pakaian tipis seperti itu.
Byurr….
Di dalam danau, Li Anlan menyelam semakin ke dalam. Dia tidak bisa melihat dengan jelas semua objek di sekitarnya karena sangat gelap. Tanpa sengaja, kepalanya terantuk batu di dasar danau dan berdarah. Darah segar itu berbaur dengan air hingga Li Anlan tidak menyadari jika dirinya terluka.
Mata Li Anlan mengerjap ketika melihat kedipan cahaya kecil di sebuah sudut yang terhimpit batu-batu. Li Anlan segera menghampiri kedipan cahaya kecil itu karena ia yakin ransel gunungnya ada di sana. Benar saja! Ranselnya terselip di antara himpitan batu. Li Anlan bekerja keras menarik ranselnya dengan sekuat tenaga. Setelah berjuang cukup lama, ransel itu akhirnya berhasil ia tarik. Li Anlan lalu menggendong ransel itu dan segera berenang ke atas karena ia mulai kehabisan napas.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang berdiri menatapnya dari atas jembatan penghubung ketika kepalanya menyembul ke permukaan air. Melihat pakaian yang dikenakan orang itu persis sama seperti orang yang mengejarnya sore tadi, Li Anlan menebak orang itu adalah seorang kasim.
Kasim yang tampan, bisiknya dalam hati.
Li Anlan lupa bahwa dia hanya mengenakan pakaian dalam. Seluruh lekuk tubuhnya tercetak karena basah. Tatapan mata orang itu semakin tajam seolah hendak membunuh. Orang itu menautkan kedua alisnya ketika melihat darah yang mengucur dari kening Li Anlan.
“Kau.. terluka?” tanya orang itu. Orang itu lalu menunjuk kening dengan jarinya. Li Anlan menyentuh keningnya dan mendapati cairan merah itu mengalir dengan deras.
“Kakak tampan, bisa kau lemparkan baju itu?”
Orang itu melirik kain merah muda yang teronggok di atas batu pijakan jembatan. Ketika pakaian itu hendak ia lemparkan ke danau, Li Anlan berteriak mencegahnya.
“Letakkan di pinggir danau saja.”
Li Anlan mengutuk orang itu. Apa dia benar-benar bodoh? Jika pakaiannya dilempar ke danau, bukankah sama saja dengan telanjang? Tidak ada gunanya memakai pakaian basah karena seluruh lekuk tubuhnya tetap akan terlihat.
“Lukamu?”
“Aku puya betadine. Nanti kuobati sendiri.”
“Betadine?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kata ini baru pertama kali ia dengar.
“Ah, itu semacam obat untuk luka.”
Wanita itu menyampirkan pakaian luarnya untuk menutupi tubuhnya yang basah. Malam sepertinya semakin larut. Dia tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Dia harus segera pergi sebelum para penjaga itu mencarinya.
Li Anlan mengutuk dirinya sendiri ketika ia lupa jalan mana yang ia lalui tadi. Pelataran ini terlalu luas hingga Li Anlan tidak tahu jalan mana yang bisa membawanya kembali ke Istana Xingyue. Wanita itu melirik seseorang di seberangnya. Ide cemerlang muncul di kepalanya.
“Kakak tampan, bisakah kau membantuku menunjukkan jalan ke Istana Xingyue? Kepalaku terluka, ingatanku hilang sebagian.”
Li Anlan membiarkan orang itu memimpin jalan di depannya. Keduanya melangkah tanpa suara. Angin berhembus kembali. Li Anlan memeluk tubuhnya yang basah. Wanita itu belum bisa beradaptasi dengan udara di sini. Keasingan di negeri ini terlalu besar hingga membuatnya sulit menyesuaikan diri.
Ketika sampai di depan Istana Xingyue, dua penjaga menunduk memberi hormat. Li Anlan berlari masuk ke dalam Istana Xingyue tanpa mengucapkan terima kasih pada orang itu. Dia tidak peduli ke mana perginya kasim yang ‘membantunya’ tadi. Wanita itu langsung menghilang di balik pintu istana.
Orang itu mengerutkan dahi. Pada malam yang sangat larut ini, mengapa seorang wanita istana berada di luar? Peraturan di sini mengatakan bahwa wanita tidak boleh meninggalkan istana tempat tinggalnya setelah jam malam lewat, kecuali jika wanita itu dipanggil keluar oleh raja atau ibu raja. Wanita itu, tanpa pengawasan dan tanpa ditemani pelayan berkeliaran seorang diri di danau, bahkan muncul dari dalam air dengan kepala terluka.
“Perketat penjagaan kalian. Jika sampai Yang Mulia tahu wanitanya keluar seorang diri seperti itu lagi, dia tidak akan mengampuni kalian!”
Dua penjaga yang merasakan aura kemarahan dari seorang kasim di depannya hanya mengangguk. Sungguh, dua penjaga itu tidak tahu jika selir raja yang mereka jaga akan kembali seorang diri dalam keadaan kacau dan terluka. Jika sampai raja tahu salah satu selirnya dalam bahaya, kepala mereka memang benar-benar tidak akan aman.
Orang itu berjalan pergi meninggalkan Istana Xingyue dengan wajah kesal.
...***...
Abandonemen: keadaan tertinggal.
Surat cinta dari Author: Berikan kritik & saran kalian di bawah untuk kualitas karya yang lebih baik lagi! :) Terima kasih, salam hangat dari pejuang kata!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Bzaa
hadirrrrr
2024-03-26
0
Fifid Dwi Ariyani
trysceria
2024-01-26
0
Oi Min
Disini g ada kultivasi gtu??trs Li An g bsa bela diri gtu?? Apa keahlian nya??
2021-12-23
3