Li Anlan membawa kasim itu ke Istana Xingyue selagi dua penjaga gerbangnya lengah. Dia menyuruh kasim itu untuk menunggu sebentar di halaman Istana Xingyue. Li Anlan langsung masuk ke dalam istana untuk mengambil beberapa barang.
Di bawah cahaya bulan, pria yang disebut sebagai kakak kasim tampan oleh Li Anlan duduk di bawah pohon persik yang tumbuh congkak menantang langit. Sapuan matanya menyibak habis seluruh pemandangan di istana kecil ini mulai dari gerbang, bentuk bangunan, pendopo, hingga ukuran taman. Istana Xingyue ini termasuk istana terkecil, namun tidak lebih kecil dari Istana Dingin.
Tiang-tiang penyangga istana ini hanya terbuat dari marmer berwarna perak yang polos tanpa ukiran. Jendela-jendela kertasnya tidak terlalu tebal hingga memungkinkan angin dan hawa dingin mudah masuk. Sekilas, Istana Xingyue ini terlihat seperti istana terisolasi. Istana milik para pangeran kecil saja masih jauh lebih baik dari istana ini.
Meskipun begitu, Istana Xingyue terlihat sangat bersih dan terawat. Mata pria itu dapat mengenali sesuatu yang kotor dan bersih dari kejauhan. Ditambah dengan rumpun-rumpun bunga plum dan azalea yang menghiasi taman kecil, istana ini juga masih layak ditempati.
Netranya menangkap sosok Li Anlan yang baru keluar dari dalam ruangan istana. Wanita itu membawa beberapa barang aneh yang sama sekali tidak pernah dilihatnya. Dia lalu membantu Li Anlan membawa barang-barang aneh tersebut karena sepertinya wanita itu kesulitan membawanya.
Barang-barang yang dibawa Li Anlan adalah tenda, matras, teropong, dan beberapa barang kecil lain yang biasa dibawa Li Anlan saat berkemah. Barang-barang itu kemudian diletakkan di dekat pohon persik tempar pria itu duduk.
Li Anlan mengambil tendanya dan mulai memasangnya. Tangannya terampil mencocokkan besi-besi penyusun kerangka tenda. Tidak butuh waktu lama, sebuah tenda berbentuk seperti gunung sudah berdiri kokoh di halaman Istana Xingyue.
Pria yang disebut kasim itu sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan wanita di depannya. Dia sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari semua tindakan Li Anlan. Sejak tangan wanita itu memegang dan mengotak-atik benda bulat kecil panjang berwarna hitam hingga terbentuk sebuah benda aneh seperti gunung, dia sudah tidak menyadari bahwa rasa penasarannya sudah menggulung menjadi berbagai macam pertanyaan yang akan ia lontarkan begitu wanita ini menyelesaikan semua tindakan anehnya pada barang-barang itu.
Li Anlan membentangkan matrasnya di depan tenda. Beberapa barang lain seperti termos, mie instan dalam cup, teropong, dan beberapa camilan ia susun dengan rapi tepat di depan matras. Tidak lupa, Li Anlan juga mengeluarkan ponselnya dari dalam bajunya.
"Duduklah," ujar Li Anlan sambil menepuk sebuah tempat kosong di pinggirnya. Dengan ragu, pria itu duduk di samping Li Anlan.
"Dari mana kau mendapatkan benda-benda aneh ini?"
"Aku membelinya."
Li Anlan tidak bisa menjelaskan di mana ia membeli semua barang-barang mahal ini. Wanita itu memilih untuk membuka snack jagung bakar kesukaannya. Aroma jagung bakar langsung menguar begitu bungkus camilan itu terbuka.
"Kau mau?"
Li Anlan melihat kasim itu tampak ragu.
"Tenanglah, ini tidak beracun."
Setelah mendengar penjelasan Li Anlan, pria itu perlahan memasukkan tangannya ke dalam bungkus snack jagung bakar yang disodorkan Li Anlan. Dia merasakan rasa aneh makanan itu. Lidahnya seperti sedang menari-nari. Rasa manis, asin, gurih, dan sedikit pedas bercampur menjadi satu.
Pria kasim itu mengambil alih snack jagung dari tangan Li Anlan. Mulutnya tidak berhenti mengunyah. Makanan aneh ini sangat enak.
"Kakak kasim, kau pernah bertemu raja?"
"Pernah," jawabnya tanpa berhentu mengunyah.
"Apa dia tampan?"
"Mengapa kau menanyakan itu?"
Li Anlan menatap bintang-bintang yang bertaburan indah di langit. Bintang-bintang di sini jumlahnya lebih banyak karena langitnya sangat jernih, tidak terhalang asap dan polusi seperti di bumi.
"Aku tidak pernah bertemu raja."
"Kau ingin menemuinya?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Hidupku sudah rumit. Kalau aku bertemu raja dan menarik perhatiannya, hidupku akan menjadi lebih sulit lagi."
Kau memang sudah menarik perhatiannya, batin pria kasim itu.
"Apa kau seorang pelayan?"
Li Anlan menggeleng. Pandangan mata pria ini ternyata hanya setajam kepala paku. Pria itu tidak bisa melihat sisi lain dirinya. Li Anlan memang berpakaian sederhana karena hanya itulah pakaian yang ia punya. Li Anlan menertawakan dirinya dan pria kasim yang menganggapnya sebagai pelayan.
"Aku seorang selir."
Mata pria kasim itu membelalak. Jadi, inikah arti dari simbol-simbol aneh yang ia lihat siang tadi? Benda persegi panjang di gambar itu, pastilah benda persegi panjang yang ada di tangan Li Anlan. Dia hanya tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengan wanita itu dalam situasi seperti ini.
"Siapa namamu?"
"Long Ji Man."
"Kasim Long? Namamu bagus."
"Anggap saja begitu."
Tidak ada yang tahu perubahan suasana hati Long Ji Man saat ini selain dirinya sendiri. Wanita aneh yang menyembul dari dalam danau dan wanita yang tidak mengucapkan terima kasih serta berhasil membuatnya penasaran hingga ia menganggapnya sebagai pelayan itu tidak lain dan tidak bukan adalah selirnya sendiri, selir yang tidak pernah ia tahu dan tidak pernah ia lihat sejak wanita itu masuk istana.
Long Ji Man tidak ingin merusak suasana. Dia memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya agar wanita itu tetap bersamanya. Long Ji Man ingin tahu seberapa aneh selirnya ini dan sampai mana Li Anlan dapat bertindak sembrono. Dia juga sangat penasaran dengan benda-benda aneh yang dimiliki selirnya ini.
"Kau tahu berapa banyak bintang yang ada di sana?"
Long Ji Man menggeleng.
"Lebih dari seratus juta."
"Lebih dari seratus juta? Seberapa banyak lebih dari seratus juta itu?"
Ah, Li Anlan baru teringat kalau sistem hitungan di sini berbeda dengan sistem hitungan di masa modern.
"Lebih banyak dari seratus peti tael emas."
Long Ji Man hanya mengangguk. Jumlah lebih dari seratus juta itu pastilah sangat banyak. Long Ji Man menatap bintang-bintang yang mengedip kepadanya. Kedipan itu seperti kedipan mata seorang wanita.
"Kau ingin melihatnya?"
Li Anlan menyodorkan teropong bintangnya. Long Ji Man ragu apakah benda hitam yang disodorkan Li Anlan ini berbahaya atau tidak. Tapi, tatapan mata meyakinkan dari Li Anlan membuatnya merasa sedikit tenang. Wanita ini pasti tidak akan membahayakan atau mencelakai dirinya dengan benda ini.
Long Ji Man tanpa sadar melontarkan kata-kata takjub ketika matanya mengintip bintang-bintang lewat teropong Li Anlan. Jarak antara matanya dengan bintang-bintang itu terasa lebih dekat berkat bantuan benda panjang ini. Mata Long Ji Man begitu dimanjakan dengan melihat pemandangan yang sangat indah ini.
"Apa nama benda aneh ini?"
"Teropong bintang."
"Kalau ini?"
Long Ji Man menunjuk tenda yang dibangun Li Anlan.
"Tenda."
"Kenapa bentuknya seperti Gunung Feiyun?"
"Gunung Feiyun?"
Long Ji Man menunjuk sebuah gunung yang gelap di sebelah timur Istana Xingyue dengan jari telunjuknya.
"Oh. Bentuknya memang seperti itu."
"Kalau alas yang kita duduki?"
"Matras."
Li Anlan mendengar bunyi kriyuk-kriyuk dari perut Long Ji Man. Wajah pria itu memerah menahan malu. Li Anlan menyunggingkan senyum kecil. Wanita itu meraih mie instan cup lalu menyeduhnya.
Setiap gerakan Li Anlan tidak luput dari pandangan Long Ji Man. Pria itu bahkan mengerutkan dahi ketika Li Anlan menuangkan air panas dari dalam benda panjang kecil ke dalam sebuah wadah aneh. Alat ajaib itu bisa mengeluarkan air panas tanpa harus mendidihkannya dulu.
"Kau menyuruhku memakan cacing aneh ini?"
Sekali lagi, Li Anlan tertawa.
"Ini bukan cacing. Ini mie instan."
Mie instan cup itu habis dalam waktu kurang dari lima menit. Long Ji Man benar-benar menikmati rasa sedap dari makanan instan itu. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia merasa bahwa sebuah makanan benar-benar terasa nikmat.
"Kasim Long, sebaiknya kau segera kembali. Jangan sampai kau membuatku dimarahi petugas karena menyembunyikan seorang kasim di istanaku."
Aku yang akan memarahi mereka jika mereka melakukan itu, kata Long Ji Man dalam hatinya, lagi.
"Apa aku boleh menemuimu lagi?"
"Tentu saja. Datanglah ke Danau Houchi saat sore hari. Aku pasti akan menjemputmu."
Li Anlan melambaikan tangannya ketika Long Ji Man berjalan menjauh dari Istana Xingyue. Tidak disangka, di dunia yang baru ini, ada seorang pria yang langsung akrab seolah sudah berteman lama dengannya. Li Anlan senang, setidaknya ia masih mempunyai teman bicara untuk mengusir kebosanan saat malam hari selain Xie Roulan, meskipun ia hanya seorang kasim.
Wanita itu kembali ke tendanya. Rencananya adalah tidur di dalam tenda ini sebagai bentuk pengganti karena ia tidak berhasil berkemah di gunung yang ia naiki dan malah membuatnya terlempar ke dunia yang tidak tercatat dalam sejarah ini.
Meskipun tidak menemukan sistem, suasana hati Li Anlan begitu baik malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-01-26
0
RS
tanda sadar perubahan masa depan sedang berproses dr selir rendah JD Ratu,sabar Li anlan aku bersamamu menemani hari harimu🤗🥰
2023-11-09
0
Sulati Cus
othor knp jd ak yg ngeri2 sedap krn anakku hobi nanjak gunung dan panjat tebing takut klu ngalamin kyk lianlan😂
2022-11-12
1