"Kakak Kasim tampan!"
Kasim? Batin Wang Tianshi berteriak keras. Benar-benar luar biasa. Ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita menganggap rajanya sebagai seorang kasim istana. Kebanyakan wanita di sini selalu memujanya, menganggapnya seperti dewa. Tapi di sini, di sudut Istana Xingyue yang jarang terjamah orang lain, wanita ini malah bertingkah tidak sopan bahkan menurunkan derajat rajanya ke tingkat seorang kasim. Benar-benar wanita yang berani!
Li Anlan membantu mengangkat tubuh Long Ji Man yang dipenuhi luka sayatan di bagian lengan atas dan bahunya ke Istana Xingyue. Berhubung hari sudah sangat gelap dan para penjaga sudah dibius dan diikat di halaman belakang, ketiga orang itu dapat leluasa masuk tanpa diawasi siapapun.
Long Ji Man dibaringkan di ranjang Li Anlan. Li Anlan mengambil kotak P3K miliknya dari dalam laci. Wang Tianshi menatap wanita itu seolah bertanya benda apa yang ada di tangan Li Anlan. Li Anlan memberi isyarat bahwa benda di tangannya bukanlah sesuatu yang penting untuk dibahas pada situasi darurat seperti ini. Menyelamatkan nyawa Long Ji Man lebih utama.
Wanita itu lalu menyuruh Wang Tianshi untuk membantunya membuka baju Long Ji Man agar pertolongan pertama bisa dilakukan dengan leluasa. Karena panik, Wang Tianshi langsung merobek baju yang dikenakan Long Ji Man tanpa memikirkan konsekuensinya.
"Jaga dia, buatlah dia tetap sadar!"
Long Ji Man menjerit tertahan ketika cairan bening dan dingin menyentuh lukanya. Perih, cairan itu membuat lukanya semakin terasa perih. Seluruh lukanya yang terbuka seperti disiram air garam.
Li Anlan membersihkan luka di lengan atas dan bahu Long Ji Man dengan teliti. Dia tahu Long Ji Man sedang menahan diri untuk tidak berteriak dengan keras. Laki-laki memang terlalu tinggi harga dirinya. Mereka selalu menolak mengeluarkan suara ketika diobati seperti ini karena citra dirinya akan turun seperti seorang wanita.
Selesai membersihkan luka, Li Anlan mengeluarkan sebuah jarum dan benang. Ia memberitahu bahwa ini mungkin akan sedikit sakit, jadi Li Anlan mempersilahkan Long Ji Man untuk berteriak sekeras mungkin.
Li Anlan menjahit luka robekan di bahu Long Ji Man. Pria itu menggelinjang sesaat setiap kali jarum dan benang di tangan Li Anlan menusuk dan menggesek kulitnya. Long Ji Man memilih untuk tetap tidak berteriak hingga ia hanya mengeluarkan suara erangan yang tertahan.
Sekitar setengah jam kemudian, semua robekan di bahu Long Ji Man sudah selesai dijahit. Li Anlan kembali membersihkan darah yang menetes dari tubuh Long Ji Man dengan lap bersih. Setelah itu, ia membalut luka dan jahitan Long Ji Man dengan kapas yang sudah diolesi cairan betadine, dan menempelkannya dengan plester. Luka-luka yang tertutup kapas itu lalu dibungkus dengan kain kasa.
"Air apa yang kau gunakan untuk membersihkan luka-luka itu?"
"Alhkohol."
"Kalau ini?"
Wang Tianshi memegang botol betadine yang baru saja digunakan Li Anlan.
"Betadine."
Wang Tianshi tidak tahu teknik apa yang digunakan Li Anlan untuk mengobati Long Ji Man. Sejak wanita itu membersihkan luka Long Ji Man dengan sebuah cairan bening yang aneh, Wang Tianshi sudah tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada hal lain lagi. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri setiap tindakan yang dilakukan Li Anlan.
"Untung saja dia tidak kehilangan banyak darah," ujar Li Anlan sambil membereskan barang-barangnya dan memasukannya kembali ke dalam kotak P3K miliknya. Wanita itu menyusut peluh di keningnya dengan punggung tangan.
"Kenapa dia belum sadar?"
"Lukanya baru saja selesai dijahit. Dia hanya tertidur karena kelelahan."
Li Anlan meletakkan kotak P3K-nya kembali ke dalam laci meja. Wanita itu lalu mengambil sapu jerami yang ia buat sendiri untuk membersihkan kapas-kapas merah bekas luka yang tercecer di lantai kamarnya. Dia juga membersihkan darah-darah yang tercecer dengan kain pel.
Melihat Li Anlan melakukan semuanya seorang diri, Wang Tianshi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Wanita milik rajanya yang satu ini begitu mandiri. Dia bahkan tidak memanggil pelayan untuk membantunya, padahal statusnya adalah seorang selir raja.
Wanita itu juga tidak mengeluh ketika ia melihat begitu banyak darah tercecer mengotori lantai kamarnya. Sebaliknya, Li Anlan justru menganggap semua itu seperti hal yang sudah biasa.
"Aku akan mengambil pakaian ganti untuknya," ujar Wang Tianshi setelah puas mengagumi Li Anlan. Li Anlan membalasnya dengan anggukan kecil. Dalam sekejap, Wang Tianshi sudah hilang ditelan gelapnya malam.
Li Anlan memandangi tubuh tertidur Long Ji Man dengan tatapan yang tidak diketahui artinya. Satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan sekarang adalah dari mana luka-luka itu berasal. Li Anlan sudah melihat banyak jenis luka dalam karirnya sebagai pendaki gunung professional, tapi tidak pernah menjumpai luka sayatan kecil yang dalam seperti pada Long Ji Man. Jumlah sayatannya juga lumayan banyak. Jika pria ini terlambat mendapat pertolongan pertama, nyawanya bisa saja terancam karena darah dari luka-luka itu terus merembes keluar.
Li Anlan berpikir, mengapa seorang kasim seperti Long Ji Man bisa mendapatkan luka itu? Apakah ia telah menyinggung seseorang hingga orang itu mengirimkan penjahat untuk menyerangnya? Tapi, apa keuntungan yang ia dapat setelah membunuh seorang kasim?
Dalam hitungan satu jam kemudian, Wang Tianshi kembali dengan satu set pakaian tidur. Pria itu mengerti situasi bahwa Li Anlan belum mengetahui identitas asli Long Ji Man. Jadi, ia hanya membawa pakaian tidur biasa, bukan pakaian tidur seorang raja yang biasa digunakan oleh Long Ji Man.
Li Anlan membalikkan tubuhnya ketika Wang Tianshi membantu Long Ji Man mengganti baju. Selama dua puluh tiga tahun masa hidupnya di dunia modern dan di dunia ini, dia belum terbiasa melihat tubuh utuh seorang laki-laki. Li Anlan baru berani melihat Long Ji Man setelah Wang Tianshi memberitahunya kalau ia sudah selesai mengganti pakaian Long Ji Man.
"Aku akan menitipkan temanku di sini."
"Apa kasim ini sangat penting bagimu?"
Dan bagimu juga, Wang Tianshi mengangguk diiringi suara hatinya.
"Tunggu sebentar!"
"Apa lagi?"
Li Anlan menyerahkan beberapa kaplet obat sariawan pada Wang Tianshi.
"Minumlah dua kali sehari. Penyakit di mulutmu pasti akan segera hilang."
Setelah itu, Wang Tianshi melompat melalui jendela. Untung saja jendelanya sedang terbuka, jadi Li Anlan tidak perlu memperbaikinya karena jendela itu tidak robek diterobos Wang Tianshi.
Tengah malam, kesadaran Long Ji Man perlahan pulih. Matanya yang terbuka menatap kelambu asing yang belum pernah ia lihat. Untuk sesaat, ia termemung mencerna semua yang telah terjadi kepada dirinya. Kilatan memori tentang perkelahiannya dengan tiga orang penyusup di pinggir Danau Houchi kembali melintas dalam otaknya.
Long Ji Man mengepalkan tangannya karena marah. Rasa ngilu menjalar ke seluruh tubuhnya begitu syaraf-syarafnya menegang. Long Ji Man menyentuh bahu kanannya dengan tangan kiri lalu menatap seluruh tubuhnya yang sedang berbaring. Pakaiannya bukan lagi pakaian kasim yang ia gunakan saat dalam pertarungan tadi.
Long Ji Man merasakan sesuatu yang berat menindih tangan kanannya. Begitu ia menoleh, ia mendapati kepala seorang wanita sedang tertidur dalam posisi duduk di sisi ranjang tempatnya berbaring.
Wajah wanita itu adalah wajah yang sering ia temui dalam penyamarannya sebagai seorang kasim beberapa malam yang lalu. Jika wanita itu ada di sini, berarti Long Ji Man sedang berada dalam Istana Xingyue, istana kediaman Li Anlan.
Perlahan, Long Ji Man mulai mengingat saat-saat ketika dirinya berada dalam kondisi setengah sadar. Saat ia menahan rasa sakit yang ditimbulkan luka-luka itu, ia mendengar suara Li Anlan dan Wang Tianshi. Ia juga mendengar Li Anlan mengucapkan beberapa kata aneh yang belum pernah didengarnya. Sudah dipastikan bahwa Li Anlan yang memberinya pertolongan dan mengobati luka-lukanya.
Long Ji Man tidak berniat mengganggu tidur Li Anlan. Wajah lelah Li Anlan yang sedang tertidur membuat Long Ji Man memiliki keinginan yang belum pernah ia miliki. Ia ingin menyentuh wajah wanita itu. Ia ingin menyentuh wajah yang menyembul dari dalam Danau Houchi dengan kening berdarah. Long Ji Man ingin menyentuh wajah wanita yang pertama kali dijumpainya dalam kondisi yang tidak biasa itu.
Tangan kiri Long Ji Man perlahan teruluh menggapai kepala Li Anlan. Pria itu menyentuh wajah Li Anlan dengan ragu-ragu. Menyadari sesuatu yang berada di luar kebiasaannya, Long Ji Man segera menarik tangannya kembali.
"Iga bakar asam manis...."
Sudut bibir Long Ji Man terangkat. Di saat seperti itu, wanita ini masih sempat memimpikan makanan enak dan mengigaukannya. Long Ji Man memejamkan matanya. Ia berharap malam ini segera berlalu agar ia bisa pulang ke Istana Hongwu sesegera mungkin sebelum seluruh orang-orang di istana ini terbangun.
...***...
Surat cinta dari penulis:
Halo, buat kalian yang punya waktu senggang, jangan lupa tinggalkan 'oke' kalian dan komentar, kritik serta sarannya di bawah ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Luchi Chipoedanz Sihite
bagus👍👍👍
2024-09-18
0
Ni Ketut Patmiari
bagus cerita nya... semangat thor💪
2024-04-06
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-01-26
0