Episode 10

"Lukas, pasang ranjau darat. Bambang, kau awasi dari atap rumah itu. Jangan biarkan ada satu pun yang melewati jalan ini. Martin, kau bersama Lukas. Sisanya ikut masuk denganku." perintah Komandan Jigan kepada pasukannya.

"Siap komandan!"

Dengan letak bangunan yang terhimpit dari bangunan lain, membuat Komandan Jigan mulai merasa tidak tenang. Karena lokasinya sangat dekat dengan markas para bandit. Mereka juga sudah melalui berbagai jalur untuk bisa sampai ke tempat ini. Mereka sempat ketahuan oleh para bandit yang sedang melakukan operasi seperti biasa.

"Komandan, tempat ini begitu mengerikan. Aku tidak yakin kalau dia masih baik-baik saja." ucap Ismail.

"Ssstt! Jangan bicara sembarangan. Kita harus memastikan kalau dia baik-baik saja."

"Baiklah."

Semuanya terlihat baik-baik saja saat awal mereka masuk ke bangunan tersebut. Namun saat mereka sampai di lantai kedua, barulah mereka mulai menghadapi kesulitan. Ternyata tempat itu sudah di penuhi dengan para Zombie. Jumlah mereka sangat banyak. Hal itu pun menimbulkan kebisingan yang sangat keras, hingga terdengar oleh para bandit.

Kala itu Varas juga belum tidur. Dia sedang berpesta minuman bersama anak buahnya yang lain. Setelah mendengar kebisingan itu, dia dan beberapa anak buahnya mengambil senjata mereka masing-masing. Mereka berhamburan keluar dari gedung, dan langsung menuju ke gedung dimana keributan itu tengah terjadi.

"Komandan Jigan! Lapor komandan! Varas dan kelompoknya sedang menuju ke tempat ini. Jumlah mereka puluhan." ucap Bambang pada saluran komunikasi.

"Halau sampai aku keluar!"

"Siap!"

Bambang mulai menembaki Varas dan anak buahnya dari jarak yang cukup jauh. Tapi dengan jumlah mereka yang terlihat semakin banyak, Bambang mulai kewalahan. Sedangkan Lukas dan Martin tidak bisa membantunya karena jarak pandang mereka terlalu jauh. Apalagi banyak sekali bangunan berukuran besar di tempat ini.

"Bambang! Turun dari rumah itu cepat!" teriak Lukas yang ada di bawah.

Bambang langsung melompat saat dengan cepat sebuah roket meluncur ke arahnya. Varas dan anak buahnya sampai ke tempat itu jauh lebih cepat. Martin mulai menggunakan senapan mesin yang ia bawa untuk melawan Varas dan kelompoknya. Suara desingan peluru yang keras telah membuat para Zombie datang ke tempat itu.

"Martin! Bambang! Cepat masuk ke mobil! kita terdesak!" perintah Lukas kepada dua temannya.

"Komandan! Lapor! Kita harus mundur! Ini sangat buruk!"

"Bertahanlah sepuluh menit saja Lukas!"

"Negatif Komandan! Banyak sekali para Zombie yang berkerumun! Varas dan anak buahnya semakin gencar menyerang kita!"

"Tetap bertahan! Kita tidak boleh mundur!" perintah Komandan Jigan yang saat itu juga sedang menghadapi desakan para Zombie.

"Sial!" ucap Lukas kesal.

Martin terus menyerang ke arah depan untuk menghalau para Zombie yang datang. Begitu juga dengan kelompok Varas yang sudah sangat sulit untuk ia lihat. Sepertinya Varas memanfaatkan keadaan ini untuk memancing para Zombie datang, agar ia bisa membantai Komandan Jigan dan semua anggota timnya.

"Lukas! Aku kehabisan amunisi!" ucap Martin.

"Cepat masuk saja bodoh!"

"Bagaimana sekarang? kita bertemu jalan buntu!" ucap Bambang.

"Tidak ada yang namanya jalan buntu!" ucap Lukas.

Lukas langsung menyalakan mobil itu dan dengan cepat mobil itu pun menabrak kawanan Zombie yang mengerumuni mereka. Sekarang keadaan mulai berubah. Varas dan kelompoknya juga menghadapi masalah yang sama, yaitu para Zombie. Mereka sama-sama dibuat kocar-kacir. Apalagi semua anak buah Varas tidak begitu terlatih dalam menembak. Sehingga banyak dari mereka yang pada akhirnya harus tumbang.

"Yeah! Matilah kalian semua! Haha!" teriak Lukas kegirangan, setelah ia melihat Varas dan kelompoknya berhamburan pergi meninggalkan tempat itu.

"Komandan! Lapor! Varas dan kelompoknya sudah pergi. Kami akan mengalihkan perhatian para Zombie." ucap Lukas.

"Bagus. Aku sudah berhasil menemukan orang yang kita cari. Jika kalian sudah selesai, cepatlah kembali ke tempat ini!" jawab Komandan Jigan.

"Siap Komandan!"

"Bambang! Kau lindungi aku!" ucap Lukas sembari keluar dari mobil itu.

"Hey! Apa yang kau lakukan?!" tanya Bambang panik setelah melihat Lukas keluar dari mobil.

Lukas memunguti beberapa senjata dan amunisi. Setelah mendapatkannya, dia langsung menembaki semua Zombie yang datang. Disusul juga dengan Martin yang melihat ada senapan M249 tergeletak disana. Dia pun langsung mengambilnya, dan kembali menembaki para Zombie itu.

Namun sesuatu yang tidak diduga terjadi. Lukas tertembak di kakinya dengan keadaan luka yang sangat parah.

"Sniper!" teriak Martin.

Bambang yang masih berada di dalam mobil pun mendekatkan mobil itu ke arah Lukas dan Martin.

"Ayo kita bawa dia masuk." ucap Bambang.

Lukas berteriak kesakitan, apalagi saat dia melihat kalau lututnya sudah sangat parah. Bahkan lututnya nyaris hancur karena tembakan itu. Ternyata, Varaslah yang menembak Lukas. Tapi tembakannya yang mengarah ke kepala justru meleset ke arah kaki Lukas.

"Bedebah! Ini sakit sekali!" teriak Lukas menahan sakit yang luar biasa di lututnya.

"Lukas! Laporkan apa yang terjadi!" ucap Komandan Jigan.

"Komandan! Lukas tertembak di bagian lututnya! Secepatnya kita harus pergi dari tempat ini Komandan!" jawab Bambang.

"Lima menit! Aku akan segera keluar!"

Bambang dan Martin mencoba menahan darah yang terus mengalir di lutut Lukas. Keduanya bingung karena mereka hanya membawa beberapa obat-obatan sederhana. Tidak tahu kalau semua ini akan terjadi. Benar-benar di luar perhitungan mereka. Sedangkan Komandan Jigan, Burhan, Yugo dan Ismail masih harus bersusah payah membawa orang itu bersama mereka.

Orang itu sudah tergigit, tapi berhasil tertolong karena Burhan dengan sigap langsung menyuntikkan vaksin yang dibawanya. Melihat keadaan bangunan yang sudah sangat mengerikan, Komandan Jigan pun memutuskan untuk menggendong orang itu, agar mereka semua bisa keluar lebih cepat dari tempat itu. Para Zombie juga semakin berdatangan.

Bukan hanya yang ada di dalam gedung, tapi juga yang berada di luar. Mereka semua datang dari berbagai tempat setelah mendengar suara keributan dari pertempuran Komandan Jigan dan Varas. Mereka berbondong-bondong menyergap setiap orang yang mereka lihat. Masalah semakin bertambah saat para tawanan Varas berhasil kabur. Sebagian besar dari mereka tergigit dan berubah menjadi Zombie.

Sebagian yang selamat kemudian dimasukkan ke dalam mobil untuk dievakuasai. Tapi karena mobil sudah penuh, dengan terpaksa sebagian warga sipil harus dikawal menuju markas dengan didampingi oleh Komandan Jigan dan ketiga anggotanya. Hal ini cukup sulit, melihat kalau amunisi mereka juga semakin menipis karena terus menerus digunakan untuk melawan para Zombie.

"Minta bantuan kepada Dennis! Beritahu dia untuk mengirimkan satu mobil lagi. Bawa mereka secepatnya, terutama Lukas. Dia harus segera diobati! Kami bertiga akan mengawal sisanya!" perintah Komandan Jigan kepada Martin.

"Siap Komandan! Segera kami akan meminta bala bantuan!"

"Laksanakan!"

"Siap laksanakan!"

Mobil lapis baja itu pun berlalu. Komandan Jigan membawa para warga sipil yang masih tersisa ke sebuah bangunan bekas markas polisi. Menggunakan kursi, meja, dan berbagai benda lainnya untuk menahan pintu, agar para Zombie tidak menerobos.

"Komandan! Amunisiku semakin tipis. Izinkan aku mencari amunisi di tempat ini." ucap Burhan kepada Komandan Jigan.

"Tidak! Jagalah mereka saja. Aku dan Ismail yang akan mencarinya untuk kita. Aku harus memastikan semuanya baik-baik saja. Kau dan Yugo lebih berpengalaman bertempur di ruangan sempit."

"Baiklah Komandan."

"Ismail! Kau ikuti aku!"

"Siap komandan!"

...****************...

Perlahan Komandan Jigan dan Ismail pun memasuki ruangan demi ruangan bekas kantor polisi itu. Mereka akhirnya menemukan beberapa senjata api dan juga masih banyak sekali amunisi tersimpan disana.

"Komandan. Panggilan dari Dennis! Dia terhubung dengan kita." ucap Ismail.

"Kenapa tidak tersambung di jaringanku?"

Komandan Jigan melihat kabel teleponnya telah rusak. Dia lalu menggunakan alat milik Ismail yang masih berfungsi.

"Dennis?! Alat komunimasiku rusak. Bisakah kau mendengarku?"

"Ya! Aku bisa mendengarmu Komandan Jigan. Aku sudah mengirimkan dua mobil lapis baja untuk penjemputan. Bambang dan Martin juga memutuskan untuk kembali ke pertempuran. Maafkan aku sahabatku, semua diluar dugaan kami semua. Ternyata jumlah Zombie jauh lebih banyak dari pada yang kita perkirakan."

"Jangan bahas sekarang. Katakan kalau dua mobil itu harus sampai secepatnya Dennis! Kau paham?!"

"Siap! Paham Komandan!"

Komandan Jigan langsung memutuskan panggilan itu. Dan dia menyuruh Ismail membawa semua amunisi dan senjata keluar. Karena diluar, Burhan dan Yugo sudah mulai menghadapi para Zombie yang kembali berdatangan.

"Yugo! Burhan! Amunisi dan senjata!"

"Yugo! Isi ulang!"

Tiba-tiba, beberapa anak muda yang berkulit hitam mengambil beberapa senjata. Ismail pun kaget dan langsung menodongkan senjatanya ke arah mereka.

"Tenang tentara! Kami ingin membantumu! Kami dulu gangster! Kami ahli menggunakan senjata!" ucap salah satu dari mereka.

"Baiklah! Cepat bantai semua makhluk sialan itu!"

"Yeah! Teman-teman, ayo kita habisi mereka semua!"

Burhan dan kedua temannya merasa sangat terbantu karena pada pemuda itu memang ahli dalam menembak. Salah satu dari mereka yang membawa korek bahkan bisa membuat bom sederhana dengan bubuk mesiu yang mereka keluarkan dari amunisi yang Ismail bawa.

"Ledakkan!"

BLlllaaaarrrRrrrrRRRRR!!!

Seketika ledakkan pun terjadi. Walaupun efeknya tak mampu membuat para Zombie mati, tetapi Zombie itu seakan menjadi lumpuh dan kehilangan daya. Ismail dan yang lainnya dengan mudah bisa membunuh para Zombie itu.

"Bagus Nak! Buat lebih banyak lagi!" ucap Burhan.

"Aku tidak punya korek lagi!" jawab anak itu.

Kemudian salah satu gadis kecil dari mereka menyerahkan sebuah tas yang berisi banyak sekali rokok dan korek.

"Pakailah ini! Barangkali masih berfungsi!" ucap gadis kecil yang menyerahkan tas itu.

"Oh! Gadis pencuri! Kau ada untungnya juga!" ucap anak laki-laki berkulit hitam itu.

"Cepatlah! Mereka semakin banyak!" teriak Burhan.

"Oke! Oke! Baiklah komandan! Aku akan membuatnya!"

"Cepat bodoh! Mereka semakin dekat!" teriak Burhan lagi, yang membuat anak itu mulai panik.

Dibantu teman-temannya, dia dengan sigap membuat beberapa bom. Setiap satu bom sederhana itu telah selesai dibuat, anak langsung melemparkannya. Karena panik, salah satu lemparannya malah mengenai Burhan. Burhan seketika menutup matanya karena efek ledakannya membuat mata Burhan sakit.

"Oh Sial! Apa yang kau pikirkan?! Kenapa kau melemparkan bom itu kepadaku?!"

"Maaf! Maaf! aku benar-benar tidak sengaja!"

"Hati-hati! Kau buatlah sebanyak mungkin, biar kami yang melemparnya." ucap Yugo.

"Baik komandan!"

Burhan masih menahan perih dimatanya. Dia mengambil sebotol air ditasnya, lalu ia gunakan untuk membasuh kedua matanya.

"Dasar bocah bodoh!" ucap Burhan kesal.

"Maafkan aku komandan! Aku panik! Aku tidak sengaja! Sama sekali tidak sengaja!"

"Berhentilah bertengkar! Kau membuat anak ini tidak fokus Burhan!" ucap Yugo.

"Diam kau Yugo! Oh! Mataku sakit sekali!"

"Matamu tidak akan sembuh jika kau tidak menutup mulutmu! Dan kau anak pintar, bisakah kau membuat skala ledakannya menjadi besar?"

"Bisa komandan! Tapi membutuhkan waktu yang lama."

"Kalau begitu cepatlah!" perintah Yugo.

Jumlah semakin berkurang. Tapi karena ledakan yang terus menerus terdengar membuat para Zombie yang dekat dengan tempat ini datang memburu mereka. Entah kenapa mereka seperti tidak ada habisnya. Belum lagi dengan kelompok Varas yang juga mulai menyerang mereka kembali. Mereka semua benar-benar dihimpit dari segala arah.

Kelompok bandit lain yang juga memiliki urusan dengan Varas pun ikut andil dalam pertempuran ini. Mereka saling serang satu sama lain. Saling hantam sana sini. Namun mereka beruntung, karena bala bantuan dari Dennis datang dan langsung mengusir kawanan bandit yang sedang saling tempur antara yang satu dan lainnya.

Pasukan H.P.C yang datang diluar perhitungan Komandan Jigan dan anggota timnya. Jumlah bala bantuan datang lebih banyak. Jason juga mengambil kesempatan itu untuk mengambil alih keadaan dan untuk membunuh Varas yang sebelumnya telah membantai beberapa anggota pasukannya. Pertempuran kecil itu akhirnya memancing sebuah pertempuran besar antar kelompok.

Tak seperti biasanya, kali ini Jason hanya pergi bersama sahabatnya, yaitu Billy. Mereka berdua memimpin puluhan orang untuk membantu Komandan Jigan dan pasukannya. Namun na'as, Komandan Jigan yang seharusnya membawa seluruh anggota dan warga sipil keluar, justru mengalami sebuah kendala. Dia terjebak di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan para Zombie.

Para Zombie itu juga memiliki kemampuan diatas rata-rata Zombie pada umumnya. Sehingga beberapa kali Komandan Jigan harus terkena gigitan para Zombie ganas itu. Amunisinya habis. Senjatanya terlempar entah kemana. Dia hanya mengandalkan sebuah sangkur yang ada dirompi anti pelurunya. Dia juga beberapa kali menyuntikkan anti-virus itu ke tubuhnya.

Karena mereka sangatlah ganas, Komandan Jigan tidak bisa fokus menghadapi mereka. Jumlah mereka hanya lima. Tapi kekuatan mereka hampir sama dengan puluhan Zombie yang ada diluar.

"Hey Ismail! Dimana Komandan Jigan?!" tanya Yugo.

"Oh tidak! Dia masih di dalam!"

"Ayo kita masuk!"

Jason ikut masuk ke dalam bersama Yugo dan Ismail. Sedangkan yang lainnya menghadapi para Zombie yang ada diluar.

"Kau yang bernama Jason?" tanya Ismail.

"Ya. Aku Jason. Kita harus cepat menemukan Komandan kalian. Aku khawatir dia sudah tergigit." ucap Jason.

"Baiklah. Ayo cepat. Apa yang kau bawa di dalam tas itu Jason?" tanya Ismail saat melihat tas kecil yang dibawa oleh Jason.

"Ini amunisi dan ramuan. Jika Komandanmu sudah tergigit, dia masih bisa diselamatkan dengan ramuan ini."

"Baguslah kalau begitu. Semoga saja kita tidak terlambat."

"Ya. Semoga saja tidak."

Ketika sudah sampai di sebuah ruangan, betapa terkejutnya mereka saat melihat Komandan Jigan sudah dalam keadaan payah. Kepalanya nyaris putus karena dihantam keras oleh para Zombie itu. Jason reflek mengambil pedang di punggungnya, dan langsung menyerang kelima Zombie itu. Namun yang lebih aneh lagi adalah, para Zombie itu seakan memiliki kendali atas tubuh mereka.

Mereka sama sekali tidak memakan daging dan meminum darah dari tubuh Komandan Jigan. Padahal, mereka semua bisa melakukannya. Karena itulah sifat alami Zombie yang seharusnya. Tapi bagi Jason ini bukanlah hal yang baru, karena dia sering menghadapi masalah yang sama. Dimana para Zombie lebih ganas dan lebih agresif, sekaligus juga memiliki kendali penuh atas diri mereka.

Terpopuler

Comments

𝒆𝑽 ࿐

𝒆𝑽 ࿐

aku mampir bawa like & fav thor!!
salam dari "Aku dan tujuh pangeran tampan"

2021-12-11

3

gyu

gyu

likeny tambah berkurang

2021-12-07

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!