Episode 4

Perjalanan jauh dan menegangkan pun harus kembali mereka tempuh, demi menemukan teman mereka Bety. Sekaligus untuk mencari petunjuk kemana mereka harus pergi selanjutnya. Kondisi di setiap tempat semakin kacau balau. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh mereka saja, tapi juga setiap orang. Mereka semua harus bertahan hidup di tengah-tengah kekacauan, dan juga bertahan dalam ketidak pastian.

Mereka yang kurang beruntung hanya bisa menjadi seorang pelari. Pergi ke sana sini tanpa arah dan tujuan yang pasti. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Roland dan yang lainnya termasuk orang yang sangat beruntung. Apalagi setelah mereka bertemu dengan Patrick. Keuntungan mereka untuk selamat dari bencana ini semakin jelas terlihat. Meski pun mereka juga harus menghadapi berbagai hal yang mengerikan dalam setiap langkah mereka.

Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat, makan, minum dan juga mempersiapkan senjata dan amunisi. Semakin hari persediaan amunisi semakin sedikit. Sebisa mungkin mereka harus mengunakannya jika memang benar-benar dibutuhkan. Jika mereka bisa melarikan diri, maka mereka akan lebih memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi. Mereka tak harus selalu membunuh para Zombie agar bisa selamat. Apalagi dengan kondisi fisik mereka yang juga semakin memburuk.

Mereka bukan hanya berhadapan dengan Zombie manusia saja, terkadang juga ada binatang buas yang sudah berubah. Binatang jauh lebih ganas, karena kebanyak dari binatang yang sudah berubah pasti akan jauh lebih cepat, lebih liar, dan mereka lebih tangkas dalam segala medan. Saat dalam situasi mendesak, mau tidak mau harus membrendel binatang buas itu dengan sisa-sisa peluru yang mereka miliki. Mereka juga lebih mengutamakan Shotgun untuk mereka gunakan, karena Shotgun memiliki daya tembak yang jauh lebih besar dari pada senjata yang lain.

Entah sudah berapa ratus amunisi yang telah mereka gunakan selama perjalanan menuju tempat suku itu. Semakin hari medan yang mereka tempuh semakin sulit. Patrick semakin yakin kalau mereka sudah semakin dekat. Karena dulu dia juga mulai kembali ingat dengan jalan menuju ke tempat suku itu. Orang-orang di suku itu sangatlah tertutup dari dunia luar. Tapi mereka memiliki banyak sekali tempat yang indah dan juga banyak bangunan megah khas orang-orang suku disana.

...****************...

Sampai sekarang suku itu masih dipimpin oleh Mahraba. Entah kenapa, Marahba tidak pernah menua sedikit pun. Bahkan ada beberapa keturunannya yang sudah mendahuluinya. Juga entah berapa banyak orang yang telah diperistri oleh Marahba dan menghasilkan banyak sekali keturunan. Sampai sekarang Marahba masih tetap hidup, tetap muda, dan Marahba bahkan tidak pernah sakit satu kali pun seumur hidupnya.

Namun, kelebihan ini bukan dimiliki oleh Marahba saja. Tapi kepala suku lain juga memilikinya. Dan beberapa kepala suku adalah keturunan Marahba sendiri. Marahba hanya memilih sembilan orang dari keturunannya yang akan menjadi seorang kepala suku. Banyak juga dari mereka yang telah lama hidup memutuskan untuk menghilangkan kekuatan yang mereka miliki, agar mereka bisa mati.

Meski menyakitkan, mereka tetap akan melakukannya. Karena kebanyakan orang tidak tahan jika harus terus menerus melihat orang-orang yang mereka cintai mati di hadapan mereka sendiri. Terkadang mereka juga lelah, karena menjadi seorang kepala suku tidaklah mudah. Mereka memegang tanggung jawab besar dalam mengatur kehidupan semua orang. Mereka akan dianggap gagal jika warga mereka tidak sejahtera.

Di malam itu, Marahba mengumpulkan seluruh kepala suku yang ada untuk membicarakan sebuah hal penting. Yang sudah pasti, Marahba membicarakan tentang bencana besar yang saat ini sedang dihadapi oleh umat manusia di seluruh dunia. Sekaligus Marahba juga ingin memberitahukan tentang kedatangan sekelompok orang yang membawa sebuah kayu yang terbakar api ditangan mereka. Dalam kata lain, itu adalah sebuah obor.

Dan orang-orang yang membawa obor ditangan mereka diartikan dengan manusia yang membawa sebuah pencerahan atau pun perubahan bagi umat manusia yang lainnya.

"He aha enei Kaumatua?"

(Seperti apakah mereka ini Tetua?)

tanya salah satu kepala kepada Marahba.

"Kaore au e kite he pehea te ahua o o ratau kanohi. Engari i kite ahau i te wuruhi i arahi i a ratau kia haere mai ki tenei waahi. Ehara te wuruhi i te tangata ke ki ahau. Kei te penei ahau he hononga tino kaha ki a ia. He maha nga ra e tarai ana ahau ki te rapu i te whakautu, engari kaore e kitea. Inoi kia tiakina ratou e nga atua. Na te mea ka ea nga mea katoa ka tae ana ki tenei waahi."

(Aku tak dapat melihat bagaimana wajah mereka. Namun aku melihat ada seekor serigala yang menuntun mereka untuk datang ke tempat ini. Serigala itu tidaklah asing untukku. Aku seperti memiliki ikatan batin yang amat sangat kuat dengannya. Aku berusaha mencari jawaban itu berhari-hari, tapi aku tidak sanggup menemukannya. Berdoalah, semoga para dewa melindungi mereka. Karena semuanya akan terjawab setelah mereka sampai ke tempat ini.)

"E hia nga Kaumatua? Kei kona tetahi ahuatanga o era e taea ai e taatau te tohu?"

(Berapa jumlah mereka Tetua? Adakah ciri-ciri mereka yang bisa kami kenali?)

"Āe! Kei kona! I roto i te tohu i kii mai ki ahau, tokoono ratou. Ana ko tetahi ko te wuruhi i arahi i a raatau. Ko tetahi o nga tangata nana i kawe te ahi he tohu whanau ki tona nikau. I tino tukinotia ia i te ao o waho. Heoi, ka kitea e ia tana mutunga hei knita."

(Ya! Ada! Dalam petunjuk yang memberitahuku, jumlah mereka ada enam. Dan salah satunya adalah serigala yang menuntun mereka. Salah satu dari orang yang membawa api itu memiliki sebuah tanda lahir di telapak tangannya. Dia begitu tertindas di dunia luar. Tapi, dia akan menemukan takdirnya sebagai seorang kesatria.)

"Kei te tata ratou ki te Kaumatua?"

(Apakah mereka sudah dekat Tetua?)

"He tino tata ratou ki a maatau. Akuanei ka puta mai ki o maatau aroaro. Ana koira teera, ka huri katoa era parekura nui. Engari e ruarua ana au, na te mea tae noa ki tenei wa, kaore te Knight e mohio ko wai ia."

(Mereka sangat-sangatlah dekat dengan kita. Tidak lama lagi mereka akan muncul di hadapan kita. Dan saat itulah, semuanya bencana besar itu akan berubah. Namun aku ragu, karena sampai saat ini, Sang Kesatria belum mengetahui jati dirinya.)

"Ka awhina matou i te Kaumatua ki te whakawhirinaki i a ia. Mena he pono kua whakatauhia ia e nga atua, kaore tetahi e ahei te whakahee i a ia Kaumatua."

(Kami akan membantu Tetua untuk meyakinkannya. Jika dia memang ditakdirkan oleh para dewa, maka tidak ada yang bisa membantahnya Tetua.)

"E tika ana te Kaumatua. Ma te whakakotahi, maarama tatou ka maarama ai ka kitea tana tino tangata."

(Benar Tetua. Bersama-sama, kita akan membuatnya memahami dan menemukan jati dirinya.)

"Ae. Ko ia anake te tumanako a te tangata. Ana kia maumahara! Me hihiko taatau ki te aata patunga tapu maana."

(Ya. Dia adalah satu-satunya harapan umat manusia. Dan ingatlah! Kita harus rela berkorban untuknya.)

Suasana begitu hening untuk sesaat, mereka tidak diperbolehkan untuk beristirahat malam ini, sampai esok hari. Dan tiba-tiba salah seorang penjaga melaporkan adanya keributan antara warga suku dan beberapa orang asing yang datang ke wilayah mereka. Marahba pun langsung memerintah para penjaga wilayah untuk menangkap mereka, dan membawanya kemari.

Tak disangka, itu adalah Patrick, Jason, Roland, Lory, Sam, dan juga Laska. Marahba langsung mendekati mereka dan memeluk Patrick dengan sangat erat. Marahba begitu merindukan anak kesayangannya yang kini telah tumbuh dan menjadi orang tua.

"Matua? Ko koe mau?"

(Ayah? Benarkah ini kau?)

tanya Patrick keheranan karena melihat Marahba masih tetap sama, seperti pertama kali ia melihatnya.

"Ae taku tama! Ko au tena to papa! Kei te riri. Ko koe? Kei te koroheke koe i taku tama?"

(Iya anakku! Ini aku ayahmu! Marahba. Kau? kau menua anakku?)

"Ae pa. Kaore au i te rite ki a koe. A kei te maumahara koe ki a ia? Na Laska, papa."

(Iya ayah. Aku tidak seperti dirimu. Dan ayah ingat dia? Dia adalah Laska, ayah.)

"Laska? Kare au i whakaaro ka hoki mai ano koe. Kei te mihi ahau ki a korua. Kei te maumahara tonu ahau ki o kanohi i to tamarikitanga. E kore ahau e wareware i a koe taku tama."

(Laska? Aku tidak menyangka kalau kau benar-benar akan kembali. Aku merindukan kalian berdua. Aku selalu mengingat wajahmu saat masih muda. Aku tidak pernah melupakanmu anakku.)

"Kare ano au i wareware i taku papa. Ko te mea ke e kore e taea e au te hikoi roa. Mena kaore mo raatau, kaore au e tae ki tenei waahi."

(Aku juga tidak pernah lupa dengan ayah. Hanya saja, aku sudah tidak sanggup lagi jika berjalan jauh sekarang. Jika bukan karena mereka, aku tidak akan sampai ke tempat ini.)

Ucap Patrick sembari menunjuk Roland dan teman-temannya.

...****************...

Semua warga suku disana menyambut mereka dengan sangat baik, meski sebelumnya sempat ada perdebatan saat mereka baru memasuki wilayah ini. Patrick dibuat heran saat mengetahui kalau Marahba sama sekali tidak menua. Bahkan Marahba jauh lebih muda dari Patrick. Marahba pun menjelaskan kepada mereka semua, kalau setiap kepala suku wajib memiliki kekuatan itu, jika mereka masih layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Karena tidak mudah menemukan orang yang mau menjadi pengganti. Banyak juga sekarang anak-anak muda dari suku ini yang memutuskan untuk pergi ke dunia luar. Sampai sekarang mereka tidak pernah kembali, karena sudah merasakan kesenangan dan kemakmuran yang ada di kota. Mereka enggan untuk kembali ke tempat asal mereka yang mereka anggap terlalu kuno. Mereka tidak sadar kalau tempat inilah yang telah mendidik mereka.

Marahba juga bercerita tentang sebuah petunjuk yang ia dapat kepada Patrick dan yang lainnya. Dia juga memberitahu Jason tentang siapa dirinya, dan menjadi apa dia di masa depan nanti. Bahkan, Marahba juga mengetahui kalau Jason memiliki tanda lahir di telapak tangannya, sekali pun Jason menutupnya dengan sarung tangan. Jason merasa tidak yakin dengan hal tersebut. Tapi semakin banyak Marahba bercerita, Jason mulai merasa bahwa dirinya memang ditakdirkan untuk datang ke tempat ini.

Dia sudah melihat banyak sekali keajaiban saat pertama kali dia sampai ke tempat ini. Dari mulai Laska yang tidak mau lepas dari pelukan Marahba, dan juga sebuah ramuan yang ia minum. Ramuan itu mampu menyembuhkan luka Jason dengan sangat cepat. Di kota besar sekali pun, obat semacam ini belum pernah ditemukan. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Jason mampu memahami bahasa mereka. Padahal, Jason tak pernah sekali pun datang ke tempat ini.

Jangankan mengetahui tempatnya, dia bahkan sama sekali tidak tahu adanya keberadaan suku ini. Sedangkan yang lainnya hanya bisa bengong mendengarkan mereka bertiga bicara. Bahkan Roland pun hanya bisa memandang Jason dengan penuh tanda tanya, tanpa bisa mengerti hal apa yang sedang adiknya bicarakan dengan Marahba. Roland dan yang lainnya hanya bisa tertawa saat Marahba juga tertawa.

Meski pun mereka sama sekali tidak mengerti apa yang Marahba tertawakan. Yang pasti, hal itu mereka lakukan untuk menghormati Marahba. Roland, Sam, dan juga Lory sudah banyak sekali bertemu dengan suku pedalaman saat mereka menjalankan tugas sebagai tentara. Tapi baru kali ini mereka dibuat sebingung ini. Mereka hanya bisa mendengarkan tanpa mampu memberi jawaban apa pun. Yang terpenting saat ini bagi mereka adalah, mereka bisa aman berada di tempat ini.

Apalagi mereka juga tidak perlu bersusah payah untuk mencari makanan, karena sumber daya di tempat ini begitu melimpah. Rerumputan hijau yang indah, air yang bersih, pepohonan buah-buahan, dan juga perkebunan yang sangat luas. Lelah dan sakit mereka selama beberapa waktu ini, kini telah terobati dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata mereka. Mereka sebetulnya ingin lebih lama lagi berada di tempat ini.

Namun mereka pun tidak bisa terus menerus berada di tempat ini, karena mereka memiliki sebuah tujuan penting yang harus segera menyelesaikan. Yaitu menemukan Bety, dan juga pergi ke markas H.P.C.

"Aroha mai ahau e te Kaumatua, ka taea e koe te rapu kei hea to maatau hoa?"

(Maafkan kami Tetua, bisakah Tetua mengetahui dimana keberadaan teman kami?)

tanya Jason kepada Marahba.

"Kaore au e hiahia ki te korero kino ki a koe e taku tama. Engari mena e rapu ana koe i to hoa, haere ki te awa me etahi atu apopo. Akene ko taua wa ka whakamaarama i nga mea katoa."

(Aku tidak ingin mengatakan hal-hal yang buruk kepadamu anakku. Namun jika kau memang mencari temanmu, pergilah ke sebuah sungai bersama dengan yang lainnya besok pagi. Barang kali itu akan menjelaskan semuanya.)

jawab Marahba.

"Mauruuru e te Kaumatua."

(Terimakasih Tetua.)

"Nau mai taku tama."

(Sama-sama anakku.)

Terpopuler

Comments

Berkah Anak Negeri

Berkah Anak Negeri

hakuna matata 😅

2022-04-16

1

Kue Keju

Kue Keju

kira-kira si Bety selamat gak ya

2022-03-18

1

『Minecraft』

『Minecraft』

Apakah ini bahasa peradaban kuno seperti mesir atau yang lainnya?

2022-01-30

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!